
"Makasih banyak atas kerjasamanya, semoga kalian bertiga betah bekerja di sini dan sekedar informasi jika kedua mertuaku dan adik iparku akan datang dari Makassar ke Jakarta, tolong layani mereka dengan baik," imbuhnya Zaydan yang tidak henti-hentinya mengecup punggung tangan istrinya di depan asisten rumah tangga yang baru bekerja bersamanya hari itu.
"Iya saya ucapkan selamat datang dan semoga betah bekerja di rumah kami yang sederhana ini," timpalnya Meylani.
"Insha Allah kami akan bekerja dengan giat Nyonya Muda," timpalnya Mamang Danang Setiaji sedangkan istrinya bi Ijah hanya terdiam dan sesekali tersenyum memang tipe perempuan yang irit bicara.
"Kami pasti akan betah bekerja di sini apalagi memiliki majikan seperti tuan muda Zai dan juga nyonya Mey," sahutnya Dara dengan tatapan menggodanya.
Zaidan yang melihat hal itu segera menajamkan penglihatannya sehingga membuat nyali Dara menciut.
"Oke, bolehlah hari ini kamu menolak pesonaku pak Zaidan Khaizan Rudiyatmo tapi, aku akan buktikan siapa Dara. Selama ini tidak ada majikan pria yang aku dekati menolak pesonaku," tatapannya Dara seperti seseorang yang kelaparan saja.
"Haha silahkan kamu memperlihatkan siapa kamu sebenarnya pada kami, tapi jangan berharap jika saya Zaidan akan mengijinkan kamu berbuat aneh apalagi ingin mengusik ketenangan rumah tanggaku,"
Ketiganya pun bubar setelah berbincang-bincang dengan Mey dan Zaidan. Mereka bersyukur bisa bekerja bersama dengan majikan yang baik.
"Suamiku Nyonya Mey tidak hanya baik tapi juga cantik yah, Tuan Zaidan juga ganteng mereka benar-benar pasangan suami istri yang serasi, semoga selalu sakinah mawadah warahmah," ucapnya Bu Ijah yang baru kali ini berkomentar juga.
"Heleh apanya yang cantik dan baik! Kalau dilihat lebih cantikan aku lah dari pada Meylani!" Ketusnya Dara.
__ADS_1
Mang Danang dan Bi Ijah terkejut mendengar perkataan kasar dari bi Dara.
"Astaughfirullahaladzim, sadar diri kenapa sih, kamu itu cuma pembantu bin jongos tidak bisa dibandingkan dengan majikan kita, kenapa sejak awal kamu datang aku perhatikan kamu itu menatap genit Tuan Zaidan, apa jangan-jangan kamu ada maksud terselubung dan tersembunyi sehingga kamu bersikap seperti itu!" Sanggahnya Mang Danang.
"Iya benar sekali suamiku, saya juga sepaham dengan apa yang mas katakan, saya heran kok baru kali ini bertemu dengan orang yang tingkat kepedeannya tinggi banget padahal hanya seorang pembantu tapi berharap jadi nyonya tuan rumah, haha kalau seperti ini kamu sana cuci muka biar sedikit nyadar diri siapa kamu sebenarnya," cibirnya bi Ijah yang diam-diam tapi ternyata memperhatikan gerak geriknya Dara.
"Hahaha, memang kenapa kalau aku tertarik kepada Tuan Zaydan, dia itu sudah ganteng, punya pekerjaan yang bagus,baik hati lagi cocoknya dengan perempuan seperti saya ini, apa kalian tidak lihat body aku yang lebih aduhai dibandingin dengan tubuhnya nyonya Meylani yang tertutup hijab dan pakaian gamis yang kampungan itu!" Sarkasnya Dara yang percaya dirinya sudah melewati batas ambang.
Bi Ijah berjalan beberapa langkah ke arahnya Dara sambil menunjuk ke arah dadanya Dara yang sedikit menyembul karena pakaiannya yang terlalu ketat yang dipakainya sehingga seolah benda di dalam sana ingin melompat bebas.
"Tapi kami suami istri tidak akan mengijinkan kamu berbuat jahat kepada mereka,kami akan terus mengawasi dan mencegah serta menggagalkan rencana jahatmu itu Dara, jangan harap kamu akan berhasil di sini," tekadnya Bu Ijah.
Untungnya percakapan ketiga orang itu tidak ada yang mendengarnya di pagi hari karena, Meylani sudah masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat sedangkan Zaidan sudah berangkat ke kantornya.
Pak Danang menatap jengah kepergian Dara dari hadapannya, "Astaughfirullahaladzim ibu ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut akibatnya akan membesar jika kita lengah dan tidak mengawasi gerak-geriknya perempuan nakal dan jahat itu, tetaplah waspada dan jika perlu segera ambil bukti dan laporkan kepada Bu Mey atau pak Zaidan langsung," tekadnya Pak Danang.
"Entah kenapa orang seperti dia bisa bekerja di yayasannya pak Deni,apa jangan-jangan dia adalah wanita selingkuhan pak Deni yang membuat pak Deni bercerai dengan istrinya itu yah istriku?" Tebaknya Mang Danang.
Malam harinya, Zaidan sedikit pulang terlambat sedangkan Mey yang dilarang oleh suaminya beraktifitas banyak dan bergerak sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktunya di atas ranjang dengan rebahan dan bed rest saja. Hingga kepulangan suaminya pun tidak diketahuinya dari perusahaan.
__ADS_1
Dara yang sudah berganti pakaian yang lebih rapi dan sedikit seksi tentunya sudah berjaga dan bersiap di sekitar pintu menunggu di depan pintu. Sedangkan Bu Ijah yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya tanpa sengaja melihat apa yang dilakukan oleh Dara.
Diam-diam Ijah memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh Dara," jangan harap kali ini kamu punya kesempatan untuk berdekatan dengan Tuan Zai, apalagi kamu datang kesini bukannya bekerja tapi malah hanya bersolek, berdandan dan merawat diri saja seperti bak tuan putri raja saja, saya belum tidur jadi saya juga akan lihat apa kamu berhasil dengan rencana kau itu atau tidak jika saya ada,"
Bi Ijah segera meraih alat kain pel dan berpura-pura membersihkan beberapa furniture yang ada di sekitar pintu masuk berdaun dua itu.
Dara menatap tajam ke arah Ijah yang baru saja muncul," apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu ngga istirahat atau temani suami kamu berjaga di depan pos satpam," dengusnya Dara.
Bu Ijah tersenyum meremehkan, "Hahaha apa kamu tidak lihat apa yang sedang saya perbuat, ini lemari dan sofa hari ini belum saya bersihkan jadi wajar saja kalau saya bersihkan supaya besok bisa lebih santai, tidak seperti kamu yang seharian hanya di dalam kamar saja seolah kamu ini pemilik rumah," nyinyirnya Bibi Ijah yang to the poin segala.
Dara hendak ingin membuka mulutnya untuk membalas perkataan hinaan dari Bu Ijah tapi, segera terhenti karena pintu sudah terbuka lebar dari arah luar.
"Assalamualaikum," sapanya Zaidan setelah berhasil menginjak kembali rumahnya setelah beraktifitas di luar sana yang cukup padat setelah dua hari libur.
"Waalaikum salam," ucapnya baru Ijah yang segera berjalan terburu-buru untuk berlomba dengan Dara.
Untungnya Zaidan mengerti dengan keadaan sehingga uluran tangannya Dara tak dihiraukan hanya tangannya bi Ijah yang disambutnya memberikan tas kerjanya.
"Makasih banyak Bi Ijah, tapi mulai besok siapapun tidak perlu repot-repot menungguku untuk membawa tasku, karena aku masih punya istri juga yang selalu bisa aku andalkan, jadi kalian berdua cukup kerjakan apa yang seharusnya kalian kerjakan di rumahku, terutama kamu Dara jaga sikapmu jika tidak aku akan melempar kamu ke jalanan bahkan akan aku masukkan ke dalam black list agar kamu tidak punya kesempatan untuk bekerja lagi di Jakarta!" Ancamnya Zaydan yang tidak main-main lagi.
__ADS_1
Dara tidak menyangka akan seperti itu reaksinya Zaidan segera padanya," tumbenan ada pria yang menolak pesonaku padahal biasanya mereka malah akan mengejar-ngejar aku untuk tidur denganku, tapi dengan pak Zaidan Khaizan cukup berbeda kalau seperti ini, bagiku semakin tertantang untuk mendapatkannya,"