
Zaidan dan Dara segera dibawah ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Hari dimana rencana pernikahan antara Dara Inayah dan Jamal Abdillah menjadi hari bersejarah dan hari berduka yang akan sulit mereka untuk lupakan.
Kedua korban segera dilarikan ke dalam UGD rumah sakit. Semua anggota keluarga yang ada di rumah, segera menyusul ke rumah sakit. Wajah ketakutan, kekhwatiran, kepanikan, kecemasan bercampur menjadi satu bagian di wajah semua yang hadir.
Bisma Attalarik dan istrinya Tasya Ainun pun telah datang. Awalnya mereka semua sudah berpakaian lengkap pakaian pesta dan telah berada di jalan. Setelah mendengar kabar bahwa Zaydan mengalami kecelakaan mereka segera bertolak ke rumah sakit.
Dara dan Zaidan hanya beberapa menit saja di dalam UGD dan segera masing-masing di bawa ke dalam kamar operasi.
"Ya Allah… apa yang terjadi pada putraku, Zaidan kamu kenapa bisa seperti ini nak," ratapnya Bu Livia di depan pintu ruang unit gawat darurat.
"Anakku Dara kamu harus selamat nak, ingatlah kamu akan menikah hari ini," ratapnya Bu Cahyani ibunya Dara.
Bu Cahyani dan suaminya saling menguatkan satu sama lainnya. Mereka sangat sedih dan takut melihat Dara yang tidak sadarkan diri.
Sedangkan Meylani hanya terduduk seperti orang yang kehilangan akal saja. Tubuhnya masih gemetaran dan terbayang-bayang ketika Zaidan dipukuli oleh dua orang penjahat secara bersamaan.
"Tidak… Abang hiks… hiks mereka memukuli suamiku tepat di depan mataku, tidak!! Tidak!!" Teriaknya Meylani.
Apa yang dilakukan oleh Meylani membuat semua orang khawatir. Kondisi mentalnya Meylani benar-benar terguncang hebat.
Bu Livia yang melihat anak menantunya segera memeluk tubuhnya Meylani dengan erat dan penuh kasih sayang.
"Mey, Zaydan suamimu baik-baik saja dia sudah ditangani oleh tim dokter paling hebat di rumah sakit ini, jadi Mama minta kamu jangan seperti ini nak, ingat kamu itu sedang hamil, ingat calon anak kalian," bujuknya Bu Livia yang mengelus punggung anak menantunya itu.
"Mbak Mey, kamu harus sabar Abang Zaidan akan baik-baik saja kok mbak, kami ada disini bersamamu," ucapnya Nayla Latifah.
Semua orang tak henti-hentinya menangis tersedu-sedu dan mengkhawatirkan kondisi Dara dan Zaidan. Sedangkan Bisma berharap agar Zaidan tidak selamat ketika dioperasi.
"Semoga saja dia mati dalam kecelakaan ini agar aku memiliki kesempatan dan peluang besar untuk mendekati Meylani kekasihku,"
__ADS_1
Tasya ikut sedih melihat kesedihan semua orang, Jamal tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa ini. Pagi tadi Dara tidak ingin pergi seorang diri, tapi karena Jamal memiliki urusan mendadak di KUA setempat sebelum akad nikah sehingga Jamal tidak menemani Dara.
"Astaughfirullahaladzim kenapa cobaan seperti ini harus dialami oleh mereka, ya Allah penjahatnya tidak boleh diampuni Papa, kita harus membuat pelakunya menerima ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya, sungguh kejam mereka," geramnya Bu Zaskia mamanya Bisma kakak sulungnya Zaydan.
"Kalau perlu dia dihukum mati, Pak Johan itu terkenal buronan dan mafia yang sudah keluar masuk penjara," timpalnya Bu Zilvia.
"Kita harus sabar dan terus berjaga demi keamanan keduanya, jangan biarkan anak buahnya Johan Budi bebas berkeliaran dan bebas menghirup udara bebas, papa sudah melapor dan membuat daftar nama-nama penjahat itu!" Geramnya pak Rudy.
"Tante sebaiknya kita bawa Meylani ke UGD untuk diperiksa, saya khawatir melihat kondisinya Mey apalagi dia sedang hamil muda," usulnya Kayla.
Satu jam kemudian, ruang operasi terbuka keluarlah seorang dokter dan dua perawat dari dalam. Semua berjalan ke arah tim dokter ahli bedah.
"Dokter apa yang terjadi dengan putraku? Bagaimana dengan kondisinya?" Tanyanya pak Rudiyatmo.
"Kondisi pasien sangat kritis, pasien butuh donor darah dan kebetulan kami tidak memiliki stok darah dengan golongan darah B resus disini," ucapnya dokter itu.
"Silahkan ambil saja darahku sebanyak-banyaknya dokter, golongan darahku sama dengan paman Zai," jelasnya Bisma Attalarik yang muncul sebagai pahlawan.
Sedangkan Meylani sudah dibawa ke dalam ruangan khusus untuk segera mendapatkan penanganan khusus. Meylani ditemani oleh Nayla dan Kayla adik sepupunya Zaydan.
"Saya akan membuat Meylani menjadi sangat berhutang budi padaku sehingga saya dapat menekan dan mengontrol perasaannya Mey terhadapku mengingat saya sudah berjasa besar terhadap penyelamatan nyawa suaminya," seringai licik muncul di sudut bibirnya Bisma.
Sedang Jamal tak henti-hentinya berdiri di depan pintu masuk ruangan operasi, karena dokter dan perawat tak satupun keluar untuk memberikan kabar bagaimana selajutnya keselamatan Dara dan calon bayinya.
Jamal ditemani oleh Gunawan Khaerul, Kamil Pasha, serta kedua orang tuanya Dara dan anak pertamanya Aska. Mereka saling menguatkan satu sama lainnya agar tidak ada yang merasa hanya seorang diri saja.
Hingga pintu ruang operasi terbuka, mimik wajah dari tim dokter sedikit sulit terbaca. Mereka semua menuju ke arah kedatangan dokter.
"Maaf siapa diantara kalian suami dari Nyonya Dara Inayah?" Tanyanya dokter.
__ADS_1
"Sa-ya Pak," ucapnya Jamal yang sedikit gagap saking takutnya.
Dokter menyentuh pundaknya Jamal," maafkan kami pak, kami sudah berusaha keras dan sekuat tenaga tapi, nyawa pasien dan calon bayinya tidak selamat karena terlambat dibawa ke rumah sakit," jelasnya dokter.
Semua orang yang ada di sana terkejut bukan main ketika mereka mendengar perkataan bahwa Dara Inayah meninggal dunia. Terutama Jamal tubuhnya langsung terhuyung ke belakang. Air matanya menetes membasahi pipinya tanpa berucap sepatah katapun.
"Tidak!!" Teriaknya Jamal.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, selamat jalan Dara Inayah," ucap Kamil Pasha.
Bi irjawanti menangis histeris mendengar sahabat rekan kerjanya itu. Kedua orang tuanya Dara. Ibu Cahyani dan pak Fuad sangat terpukul mendengar berita duka itu.
Bu Cahyani terjatuh tak sadarkan diri setelah mengetahui putri tunggalnya itu meninggal dunia.
"Astaughfirullahaladzim anakku Dara," ratapnya pak Fuadi.
Kamil segera membantu menenangkan Jamal, semua orang terpukul mendengar berita duka atas kematian Dara. Sedangkan Zaidan setelah melewati beberapa jam operasi, akhirnya selesai juga. Zaidan selamat dalam musibah itu dan sudah berada di dalam ruang ICU untuk mendapatkan penanganan selanjutnya.
Dokter berkata jika dalam 24 jam Zaidan sadar, berarti kondisi masa kritisnya sudah lewat,tapi dalam waktu itu Zaidan tidak sadarkan diri berarti kondisinya cukup memprihatinkan.
Semua orang segera berdatangan ke arah kamar dimana Dara berada. Semua merasa iba melihat anak kecil berusia tiga tahun itu terus menangis kepergian mamanya. Jamal tak henti-hentinya memeluk dan mencium wajah jenazah calon istrinya itu.
"Dara maafkan mas ini semua gara-gara mas yang tidak menjaga kamu dengan baik, ya Allah apakah ini hukuman yang Engkau berikan padaku atas dosa-dosa dan khilaf yang selama ini aku lakukan," air matanya Jamal tak henti-hentinya menetes.
Jamal sama sekali tidak malu menangis di depan orang lain, bahkan ia memeluk tubuh putra semata wayangnya bersama dengan Dara yang baru diketahuinya dua hari yang lalu. Sedangkan Meylani masih tertidur berkat suntikan penenang yang cukup aman untuk ibu hamil.
"Jamal kamu harus sabar,ingat kamu masih memiliki seorang anak yang harus kamu jaga dan besarkan, jadi kakak mohon jangan seperti ini dek," bujuk Kayla yang sangat perhatian dan prihatin dengan nasib malang Jamal.
Kematian selalu menyisakan luka yang mendalam bagi setiap orang. Terlebih saat keluarga atau orang-orang terdekat telah menemui ajalnya, tentu hal ini menjadi peristiwa yang sangat memilukan. Sebagai manusia yang masih diberi kesempatan untuk hidup, sudah seharusnya selalu mendoakan orang yang sudah meninggal agar diberi tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
__ADS_1
Pembaca sedikit tidak jadi masalah yang paling penting pembaca bisa hargai tulisan orang lain itu lebih bermakna daripada datang dengan komentar pedas dan menjatuhkan.
Bijaklah membaca dan berkomentar.