
Jamal hanya tersenyum menanggapi permintaan dari Dara yang tidak mungkin Jamal urungkan niatnya itu. Dia tidak mungkin berhenti dengan apa yang sudah terjadi dan dilakukannya di atas tubuhnya Dara.
Sedangkan Dara yang awalnya menolak keinginannya Jamal lambat laun, malah hanya bisa pasrah dan menikmati setiap seeenn tuuu haann dari belaian tangannya Jamal Abdillah, yang semakin lihai saja dalam mempermainkan setiap inci sudut lekukan tubuhnya Dara Inayah.
"Ya Allah habislah saya jika saya ketahuan menutupi kehamilanku ini, saya tidak mungkin bisa berbohong lagi. Karena mas Jamal kemungkinannya tidak mungkin ingin bertanggung jawab pada diriku yang sudah hamil ini. Mengingat saya perempuan yang punya banyak salah dan dosa,"
Air matanya Dara menetes membasahi pipinya seketika itu disaat tubuhnya Jamal tumbang di sampingnya. Jamal tidak mengetahui sama sekali, jika Dara sedang terisak dalam kebisuannya.
"Aku yakin Dara sedang hamil, aku merasa seperti ini sekitar empat tahun lalu, apa jangan-jangan Dara hamil anakku untuk kedua kalinya,kalau seperti itu aku akan segera menikahi Dara. Cukup sekali aku kehilangan calon anakku dulu. Tapi, untuk kali ini aku tidak akan biarkan dan ijinkan Dara menggugurkannya lagi."
Jamal berpura-pura tertidur di sampingnya Dara dan sangat mengetahui dengan jelas dan jika Dara bersedih.
"Besok aku akan bertanya padanya, tapi kalau enggak mau jujur aku akan bawa langsung ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatannya,"
Berselang beberapa menit kemudian, kedua pasangan tidak resmi itu yang diam-diam menjalin hubungan sudah terlelap dalam tidurnya. Mereka sama-sama capek dan kelelahan setelah aktifitas dan olahraga malam mereka.
Sedangkan orang yang sejak tadi menguntit, mengikuti kemanapun Jamal Abdillah pergi dan mendengar langsung apa yang Jamal sering lakukan sudah ikut bergabung dengan beberapa anggota keluarganya yang lain.
Wajahnya Gunawarman Haerul sedikit pucat pasi. Nafasnya memburu menahan gejolak amarahnya yang sudah menumpuk di dalam dadanya itu. Dia bersusah payah menetralkan perasaannya agar tidak meluapkan segala emosinya dalam jiwa raga dan pikirannya.
Dengan cara membuang nafasnya dengan kasar dan sesekali mendengus tidak jelas. Apa yang dilakukan oleh Gunawan diperhatikan oleh Kamil adik sepupunya yang hanya beda sekitar beberapa bulan saja usia mereka.
"Gun apa yang terjadi padamu? Aku perhatikan sejak dari belakang dapur kamu seperti nampak aneh saja. Apa yang terjadi padamu?" Kamil diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Gunawan hingga sudah tidak menahan rasa ingin tahunya itu.
Gunawarman menengadahkan kepalanya ke arah Kamil," aku tidak apa-apa kok, sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu tapi tidak disini dan tunggu Jamal balik dari luar aku akan mengatakan yang sebenarnya," jelasnya Gunawan panjang lebar.
"Oh gitu its oke lah saja," pungkas Kamil lagi.
Mereka kembali berbincang-bincang mengenai permasalahan yang dihadapi oleh Zaidan Khaizan Rudiyatmo dan juga Meylani Ramadhani Zulkarnain.
Mereka tidak menduga jika gara-gara tespack yang tidak jelas asal usulnya sehingga membuat kedua pasutri itu harus bertengkar, berdebat dan berselisih paham dan paling parahnya sekarang mereka harus tidur terpisah.
Zaidan di dalam kamarnya menunggu dan terus menantikan kedatangan Meylani istrinya itu. Ia tidak kuasa menahan kedinginan sampai subuh tanpa dipeluk oleh Meylani istrinya. Sudah menjadi kebiasaannya, jika tertidur harus dipeluk oleh Meylani.
__ADS_1
Zaidan bolak balik di atas ranjangnya tak tentu arah. Dia semakin gelisah ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
"Ya Allah apa yang sedang dilakukan Meylani, apa dia sanggup tertidur nyenyak tanpa diriku. Sedangkan aku disini kedinginan padahal sudah memakai dua lembar selimut yang cukup tebal juga," keluhnya Zaidan.
Zaidan akhirnya memutuskan untuk mengecek langsung kondisinya Meylani. Untungnya Zaidan memiliki semua kunci serep cadangan semua pintu kamar maupun pintu lainnya yang ada fu dalam rumahnya dan sekitar area lokasi rumah pribadinya itu.
Zaidan pun menyibak selimutnya dan segera berjalan ke arah laci meja nakas meja riasnya Meylani. Kedua pasang matanya berbinar-binar terang seketika melihat kunci yang dicarinya berada dan tersimpan rapi didalam laci mejanya itu.
"Aku tidak ingin malam ini tidur sendirian seperti empat bulan lalu, aku sudah berjuang keras untuk bisa bersama dengan istriku, aku tidak ingin hanya gara-gara benda sialan itu sehingga membuat aku kehilangan mesin penghangatku," gumamnya Zaidan yang segera keluar dari dalam kamarnya dan menuruni satu persatu undakan anak tangga.
Zaidan terus melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap, karena tidak ingin dia ketahuan oleh orang lain penghuni rumah jika melakukan hal ini. Tetapi, tanpa sengaja sudut netra hitamnya mekiht sosok bayangan seseorang yang keluar dari dalam kamar salah satu asisten pembantu rumah tangganya itu.
"Itu siapa? Kenapa dia keluar dari dalam kamarnya Dara, apa aku ikuti saja dan cari tahu siapa orang itu yah," cicitnya Zaidan.
Ia yang segera mempercepat langkahnya dan merubah arah haluan langkah kakinya itu tidak seperti awal sebelum melihat pria itu dengan tujuan awalnya untuk menemui Meylani sang istri yang sedang marahan dengannya.
Zaidan semakin mempercepat langkah kakinya agar tidak ketinggalan apa yang hendak ingin diketahuinya itu.
Hingga kedua bola matanya membulat sempurna,melotot seakan-akan kedua pasang matanya akan melompat keluar dari dalam tempatnya itu.
"Astauhfirullah aladzim, itukan Jamal Abdillah ini tidak mungkin, ya Allah apa yang terjadi sebenarnya. Ada hubungan apa Jamal dengan Dara. Apa jangan-jangan gara-gara Jamal sehingga Dara sudah terlihat tidak seperti wanita penggoda atau sebaiknya aku selidiki diam-diam untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tidak baik kalau hanya menduga-duga saja."
Zaidan bukannya berbalik arah dan kembali ke kamarnya malahan semakin tertantang untuk mengetahui siapa, kenapa dan apa yang terjadi di dalam rumahnya sendiri tanpa sepengetahuannya itu.
Hingga ia cukup terkejut melihat dan mendengar langsung pertengkaran antara Gunawan dan Jamal di dalam kamarnya Jamal. Kamil pun ikut terlibat karena menengahi pertengkaran mereka.
"Stop! Kalian ini sudah dewasa kenapa harus menyelesaikan masalah seperti ini dengan berkelahi!" Pekiknya Kamil Pasha yang memisahkan kedua sepupunya itu.
"Kamil dia ini pria goblok, brengsek yang memanfaatkan keluguan dan ketidak berdayaan seorang wanita, sampai-sampai setiap malam mungkin dia mencicipi indahnya sesuatu hal yang seharusnya tidak diperbuatnya malah melakukan hal yang tidak baik!" Sarkasnya Gunawan.
"Gun! Please jangan seperti ini tolong berbicaralah lebih jelas apa yang terjadi sebenarnya kenapa kakak sampai-sampai datang-datang langsung memukul dan meninju Jamal tanpa alasan jelas," sanggah Kamil.
Gunawan melepas pegangan tangannya di kera baju kemejanya Jamal yang menjadi ciri khasnya Jamal memakai kemeja dalam beraktifitas di luar rumah.
__ADS_1
"Aku tidak perlu menjelaskan secara rinci masalah dan perbuatan bejaknya pria sok suci ini! Kamu langsung saja bertanya kepadanya semoga dia bisa berkata jujur padamu jika kamu bertanya padanya," cibirnya Gunawan yang segera berjalan ke arah kursi ruang tamu.
Tengah malam buta itu menjadi pertengkaran dan perdebatan tiga pria dewasa. Mereka sama-sama sudah tidak ingin mengalah satu sama lainnya. Kamil hanya geleng-geleng kepala melihat saudara sepupunya itu.
"Jamal tolong bicaralah jujur kepada kami semua agar kedepannya tidak terjadi kesalahpahaman lagi," pintanya Kamil sedangkan Gunawarman sudah duduk berpangku tangan dengan melipat kedua tangannya ke depan dadanya.
Jamal pun mau tidak mau harus membuka suara dan berbicara yang sejujurnya.
"Katakan padanya Kamil jika kamu itu punya hubungan spesial dan rahasia dengan pembokapnya kak Meylani, jangan diam saja karena selamanya orang akan salah menilai jika kamu tidak mau jujur dan terbuka," ketusnya Gunawan.
Zaidan yang menguping pembicaraan ketiga pria itu cukup dibuat tercengang dengan perdebatan ketiga Pria itu yang ternyata akar permasalahannya adalah Dara Inayah sang pembantu artnya.
"Baiklah saya dan Dara sedari empat tahun lalu kami adalah pasangan. Saya sangat mencintai Dara hingga detik ini hanya Dara wanita yang aku cintai bukan wanita lain. Siapa pria yang setiap malam keluar masuk kamarnya Dara itu adalah aku," tegasnya Jamal sambil menunjuk ke arah dadanya sendiri.
Kamil, Gunawan dan Zaidan cukup dibuat terkejut, tercengang sehingga mereka membelalakkan matanya itu mendengar pengakuan dari Jamal.
"Astaughfirullahaladzim Jamal, kenapa kamu seperti ini!? Apakah kamu tidak sadar jika apa yang sudah kamu perbuat ini sangat salah dan keliru! Perbuatan kalian ini sudah membuat kalian berdosa besar ini namanya ziii nama Jamal!" Teriaknya Kamil Pasha yang sudah mulai tersulut juga emosionalnya tapi, masih sanggup untuk mengontrolnya tidak seperti Gunawan yang main tangan langsung.
"Ternyata kamu pria yang aku lihat tadi keluar dari dalam kamarnya Dara! Jamal aku minta padamu akhiri hubungan kalian berdua dan segeralah lamar dan nikahi Dara sebelum dosa-dosa kalian semakin bertambah banyak," timpalnya Zaidan yang tidak kuasa bersembunyi lagi.
Kamil dan kedua sepupunya itu kaget melihat kedatangan Zaidan suami dari kakak sepupunya itu. Semuanya terdiam, takut, cemas dan tidak berdaya ingin menentang keputusan dari Zaidan.
"Saya memang sudah berniat untuk melamar Dara,tapi masalahnya Dara tidak ingin aku nikahi, sejak awal kami kembali bertemu dan setelah aku tahu Dara menjadi wanita penggoda suami orang aku sudah memiliki rencana untuk menghalalkannya tapi, selalu saja aku ditolak mentah-mentah," ungkapnya Jamal yang prustasi dengan keadaannya sendiri.
"Tapi Jamal apa tanggapan Paman dan Tante jika mereka mengetahui siapa sebenarnya Dara?" Tanyanya Gunawan.
"Saya minta kepada kalian untuk merahasiakan hubungan kami nantinya jika saya dan Dara telah menikah dari kedua orang tuaku, karena sepertinya Dara sudah hamil anak keduaku," jelas Jamal.
"Apa! hamil anak kedua!" jeritnya Kamil dan Gun bersamaan.
"Apa jangan-jangan tespack itu adalah miliknya Dara yah!" terkanya Zaidan.
"Mungkin saja itu bisa terjadi," sahutnya Kamil lagi.
__ADS_1