
Setelah shalat magrib dan membersihkan seluruh tubuhnya, Meylani segera turun ke lantai dua menemui adik sepupunya itu. Meylani melihat Jamal Abdillah yang memangku anaknya Aska.
"Masya Allah Jamal kamu sangat mirip dengan putramu loh dek,lucu banget," ucapnya Meylani yang berjalan terburu-buru ke arah dimana Jamal duduk.
Meilani yang berjalan tergesa-gesa segera dihentikan oleh bibi Ijah," Nyonya Muda jalannya hati-hati, Nyonya itu lagi hamil muda," cegahnya bi Ijah.
Meylani yang mendengar teriakannya Bu Ijah segera tersadar dengan apa yang dilakukannya it itu semua orang melihat ke arah kedatangan Meylani.
"Kak Mey tidak perlu berjalan seperti itu juga kali, Jamal dan Azka tidak kemana-mana," sahutnya Gunawan.
"Iya nih Mbak Mey,apa lupa kalau diperutnya ada abang Zaidan Junior, sampai-sampai tidak memikirkan dirinya sendiri," gerutunya Nayla Latifah.
Meylani segera memelankan langkah kakinya menuju ke sofa ruang tengah. Jamal segera berdiri sambil menggendong anak semata wayangnya.
"Kak Mey apa yang mereka katakan tidak ada yang salah, cukup Dara yang meninggalkanku saya tidak ingin ada lagi anggota keluargaku yang mengalami kesedihan, luka lara dan air mata yang berkepanjangan, cukup sudah Dara Inayah yang gara-gara kecerobohan dan kesalahanku sehingga ia pergi meninggalkan aku," imbuhnya Jamal.
"Insha Allah saya akan baik-baik saja kok, kalian tidak perlu mencemaskan kondisiku,tapi Nayla ngomong-ngomong siapa yang jagain suamiku di rumah sakit? Kalau gak Mbak mau ke rumah sakit," ujarnya Meylani.
Nayla segera merangkul lengannya kakak iparnya itu," Mbak tenang saja dan fokus dengan kehamilannya mbak, kami akan silih berganti untuk menjaga Abang Zaydan di rumah sakit, lagian sudah menyewa juga dua perawat yang akan terus standby menjaga Abang Zai," jelasnya Nayla.
Meylani, Nayla dan yang lainnya segera duduk di atas sofa. Azka segera turun dari pangkuan ayahnya. Jamal mencegah putranya itu tapi, percuma saja karena dengan langkah kakinya yang kecil itu segera berlari kecil ke arah Meylani.
__ADS_1
Azka mengelus perutnya Meylani yang sudah agak buncit di usia kehamilannya tiga bulan lebih," Dede kamu hayus cepat besal yah bial kita bermain yah," ucapnya Azka dengan gayanya yang cadel itu gaya bicaranya ciri khas anak-anak.
Semua orang saling bertatapan satu sama lainnya karena ketika Dara sebelum dishalatkan dan dimandikan, Azka berbicara dengan fasih tidak seperti sekarang.
"Ya Allah kamu sungguh manis Azka, insha Allah dede akan keluar kurang lebih enam bulan lagi,kamu sabar menunggu dede lahir yah, tapi Mama Mey minta sama kamu tidak boleh nakal yah," ucap Meylani sambil menaikkan tubuhnya Azka ke atas sofa buludru berwarna cokelat itu.
"Apakah karena ia ingin melepas kepergian bundanya sehingga ia berbicara lancar tadi pagi yah," Sarah berbicara seperti itu karena cukup kaget dengan perubahan yang dialami oleh Azka.
Jamal melirik sekilas ke arah Sarah," kamu belum pulang Sar, apa kedua orang tuamu tidak mencarimu takutnya mereka khawatir," tampiknya Jamal.
"Insha Allah mereka tidak masalah kok Mas, lagian besok pagi aku juga balik tidak mungkin aku meninggalkan mas Jamal dalam keadaan seperti ini juga kasihan Azka mas pasti masih tidak terbiasa tanpa mamanya," sanggahannya Sarah yang penuh dengan kelembutan.
Mereka berbincang-bincang hingga berselang beberapa menit kemudian. Ibunya Dara yaitu Bu Cahyaning dan Pak Fuadi segera mengutarakan keinginannya itu.
"Iya nak Jamal kami meminta kepadamu untuk berpamitan dan menyelenggarakan acara tahlilannya di kampung saja, tidak enak kalau disini mengingat tuan Zaidan masih koma belum sadarkan diri jadi kami lebih memilih untuk mengadakan dan melaksanakan di daerah Sulawesi Selatan saja," jelas Bu Cahyani.
"Kalau begitu saya serahkan kepada bapak dan ibu masalah biayanya kalian tidak perlu khawatir, tapi satu hal yang saya minta pada kalian, tolong Azka jangan dibawa pergi saya meminta perwalian hak asuhnya, insha Allah saya akan menjaganya dengan sepenuh hati," pintanya Jamal.
Bu Cahyani dan pak Fuad saling bertatapan satu sama lainnya," kami sebenarnya sangat berat untuk melepaskan Azka, tapi kamu lebih berhak untuk masa depannya Aska putramu,kami hanya minta jaga, didik dan besarkan dia menurut ajaran agama kita Nak, jangan biarkan ia salah langkah, cukup putriku Dara Inayah yang harus salah jalan sebelum ia taubat dan menyadari semua kesalahannya itu," Bu Cahyani menitikkan air matanya kembali.
Pak Fuad memegangi tangan istrinya itu," ya Allah kami sungguh bahagia mendengarnya jika kau ingin bertanggung jawab atas kehidupan Azka tapi, kami sangat sedih untuk melepaskan Azka dan berpisah jauh dari kami, tapi karena kamu lebih punya hak dan tanggung jawab untuk membesarkan Aska mau tidak mau kami harus merelakan Aska untuk tinggal di Jakarta," imbuhnya pak Fuad yang memeluk Azka dengan air matanya yang berlinang.
__ADS_1
Dua minggu telah berlalu, tapi kondisinya Zaydan Khaizan Rudiyatmo masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera pulih dari komanya.
Meylani hanya sesekali muncul di perusahaan itu pun hanya sebentar saja. Karena mengingat ia masih hamil dan juga kondisinya Zaydan yang belum sadar.
"Bu Mey apa hari akan ke kantor atau ke rumah sakit?" Tanyanya Bu Ijah yang melihat Meylani sedang menyalakan kompor.
Meylani segera menolehkan kepalanya ke arah Bi Ijah," rencananya mau ke rumah sakit bi, tapi entah kenapa saya pengen makan puding cokelat tiramisu jadi mau buat itu dulu sebelum pergi ke rumah sakit," jelas Meylani.
"Ya Allah Nyonya Mey kalau pengen makan apapun itu katakan saja padaku insha Allah saya akan buatkan," cercanya Bu Ijah.
"Ahh bibi saya tidak ingin merepotkan, pekerjaan bibi sudah cukup banyak jadi tidak mungkin saya membebani lagi dengan menambahnya apalagi saya ini masih sanggup jadi santai saja,"
"Iya Nyonya Mey tapi Nyonya itu hamil muda jadi tidak baik terlalu lelah ataupun capek, jadi lebih baik saya yang kerjakan," tukasnya Bibi Ijah.
"Bibi irjawanti yang baik hati dan rajin nabung, saya itu hanya hamil bukan punya penyakit menular ataupun penyakit kronis stadium lanjut jadi tidak perlu seperti ini juga," tampik Meylani yang tidak ingin dicegah untuk suasana rumah juga sudah kembali seperti biasanya.
Satu persatu datang dan pergi silih berganti. seperti halnya ibunya Meylani dan ayahnya pak Zulkarnaen dan Bu Santi sudah balik ke Makassar Sulawesi Selatan sehari yang lalu setelah lebih sepuluh hari di Jakarta.
Kedua orang tuanya Dara pun sudah balik ke Sulawesi tenggara. sedangkan Azka sesekali dibawa pergi oleh Sarah untuk membantu Jamal dan Meylani menjaga anak kecil itu.
Ada bonus dikit untuk pembaca paling setia dan paling rajin yang selalu baca novel aku setiap hari dan selalu meninggalkan komentar setiap babnya.
__ADS_1
insha Allah akhir bulan meluncur bonusnya tapi maaf hanya sedikit. hehehe ini bentuk apresiasiku terhadap kalian yang telah sudi membaca novel recehanku.