PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 118. Kekhwatiran Zaidan


__ADS_3

"Baik Sus, tapi gimana dengan istriku kalau saya tinggalkan Sus?" Tanyanya Zaydan yang mengkhawatirkan kondisi istrinya itu.


"Insha Allah ada dokter dan kami yang akan menjaganya," imbuhnya Suster.


Zaidan terkekeh mendengar perkataan dari suster tersebut dan segera berjalan cepat ke arah luar. Zaydan sama sekali tidak menghubungi nomor ponsel salah satu anggota keluarganya, karena ia tidak ingin membebani dan membuat orang khawatir.


Beberapa suster dan dokter itu tersenyum tipis menanggapi sikapnya Zaidan tersebut.


"Betapa beruntungnya istrinya mendapatkan suami seperti dia, semoga aku Juga segera dapat jodoh sebaik pria itu,"


Apalagi mengingat malam ini adalah malam perayaan pesta resepsi pernikahannya Kamil Pasha adik paling tengahnya bersama perempuan yang bernama Berliana Febrianti Chandra.


Zaidan berjalan cepat kebagian administrasi, ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan istrinya seorang diri. Zaidan berdiri di antara beberapa orang yang sejak tadi ikut dalam antrian. Tiba gilirannya, Zaidan tidak mengetahui jika sudah tiba saatnya ia yang dipanggil.


"Malam Pak ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya seorang perempuan yang duduk di depan komputernya yang menatap intens ke Zaidan yang hanya terdiam mematung.


Ya Allah betapa bodohnya aku saking rasa cemburuku yang terlalu besar sehingga membuat aku berperilaku kasar dan egois terhadap istriku sendiri.


Ya Allah maafkanlah aku ya Allah, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada istriku. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika, sesuatu terjadi pada istriku dan calon anakmu.


Seorang wanita paruh baya membantu Zaidan untuk menyadarkannya dari lamunannya itu. Nenek-nenek itu menyenggol tangannya Zaidan.


"Nak muda gilirannya kamu yang antri, ibu sudah selesai mengurus administrasi cucuku," ucapnya nenek itu yang membantu Zaidan untuk segera tersadar dari khayalannya.


Nenek-nenek itu segera menyadarkan Zaidan dengan cara menepuk pelan punggungnya Zaydan.


"Nak muda!"

__ADS_1


Pugh!!


Puk!!


Suara tepukan itu cukup terdengar jelas dan mampu menyadarkan Zaydan yang seolah seperti orang yang terbang tinggi nyawanya tapi raganya masih berpijak di permukaan bumi.


"Ehhh, maaf ada apa Nek?" Tanyanya Zidan yang kebingungan karena tidak mengerti kenapa dirinya ditepuk sekeras itu.


Nenek itu mengarahkan telunjuknya ke arah pegawai administrasi, Zaydan akhirnya baru tersadar.


Zaydan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, "Hehe, Maaf Nek saya tadi banyak pikiran," balasnya Zaydan sambil berjalan ke arah pegawai administrasi.


"Tidak apa-apa tapi silahkan maju ke depan atau kalau mau dapat giliran paling belakang tidak apa-apa," candanya Nenek yang berkacamata tersebut.


Dengan gesit Zaidan segera berjalan ke arah depan," makasih banyak Nek," ucapnya Zaidan.


"Maaf atas nama siapa pasiennya Pak?" Tanyanya perempuan yang berhijab itu.


"Tunggu sebentar yah Pak, kami akan menyelesaikan secepatnya administrasinya, bapak bisa menunggu di kursi ruang tunggu terlebih dahulu," pinta Pegawai itu yang tersenyum ramah.


Zaidan berjalan ke arah kursi tunggu, sesekali ia menghembuskan nafasnya dengan cukup keras. Saking takut, gelisah, cemas dan khawatir nya terhadap kondisi dari Meylani mengingat istrinya itu sedang hamil calon anak pertama mereka.


Ya Allah kenapa aku bisa bertindak sebodoh ini, aku sangat menyesali perbuatanku ini ya Allah.


Jika terjadi sesuatu pada istri dan calon anak kami, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.


Sedangkan di tempat lain yang cukup jauh dari area rumah sakit. Hiruk pikuk keramaian pesta tersebut semakin terlihat ramai padahal sudah hampir jam sembilan malam.

__ADS_1


Bu Santi menitikkan air mata bahagianya dan penuh haru melihat putra semata wayangnya menikah dengan gadis pilihannya itu.


"Ibu yakin kalian akan segera saling mencintai satu sama lain, lihatlah Mey kakakmu,dia juga dulu sangat tidak mencintai suaminya dan menolak mentah-mentah dan menentang keras keputusan kami untuk menikahkan dia dengan calon suaminya, tapi Alhamdulillah akhirnya mereka bahagia juga dengan pernikahannya," ujarnya Bu Santi.


Pak Zulkarnain memeluk tubuh istrinya itu," kenapa mereka bahagia karena, kita sejak dulu mencarikan mereka masing-masing jodohnya bukan melihat dari kekayaan,status pekerjaan atau jabatannya, tetapi mencari pasangan yang benar-benar tulus mencintainya karena ayah yakin jika itu yang terjadi, maka pasti tentulah hidup mereka juga tentram, damai dan bahagia dengan limpahan berkah kasih sayang yang mereka peroleh,"


"Apa yang Ayah katakan benar adanya, banyak yang ngomong kok masih dijodohkan anak-anak kita, ini kan bukan jaman Siti Nurbaya, tapi saya ingin anakku tidak salah jalan dan salah dalam bersikap dan pergaulan, karena banyak diluar sana kaya iyae, karier bagus dan mentereng tetapi hatinya mereka tidak baik," ucap Bu Santi lagi yang menimpali percakapan dari suaminya itu.


Satu persatu dan silih berganti tamu undangan berdatangan untuk mengucapkan selamat kepada kedua calon mempelai pria dan juga perempuannya.


"ibu hanya berharap mereka hidup menjadi pasangan yang saling melengkapi kekurangan masing-masing dan hidup bahagia selalu diberkahi oleh Allah SWT atas rumah tangganya, dan bahagia dunia akhirat dan sakinah mawadah warahmah, amin ya rabbal alamin," tuturnya Bu Santi lagi.


"Amin ya rabbal alamin," ucap beberapa orang yang hadir di tempat itu.


Di tempat duduk di pojok gedung dua pasangan suami istri itu,"Mas Bisma kenapa aku merasa Paman Zaidan itu merasa marah dan jengkel kepadamu mas, padahal kamu sama sekali tidak pernah menyakitinya, apa jangan-jangan mas masih berusaha untuk mendekati Meylani?" tebaknya Lisa Nandini.


Bisma Attalarik menyeruput minuman hangatnya malam itu sebelum menjawab pertanyaan dari istri pertamanya.


"Aku juga merasa begitu, berdasarkan perkataannya pagi tadi terhadapku, tapi aku akan meluruskan kesalahpahaman ini enggak enak kalau orang menganggap saya masih mencintai Meylani, padahal saya sudah melupakannya dan tidak mencintainya lagi," ucapnya dengan serius.


"Iya mas sebaiknya sesekali berbicara lah dengan Paman Zai, enggak enak kalau dia masih menganggap mas masih berharap dan mencintai Meylani yang jelas-jelas mas sudah melupakannya, kecuali kalau mas masih belum move on dan masih berharap aku sudah tak tahu kalau seperti itu," ujarnya Tasya Ainun yang ikut duduk di samping kanannya Bisma.


"Setelah kejadian beberapa minggu lalu, saya sudah berjanji kepada kalian, diriku sendiri dan calon anak-anakku, jika saya tidak akan bermain nakal ataupun bersikap tolos dan egois seperti dulu yang berharap hubungan kami kembali seperti dulu lagi, padahal itu sangat mustahil dan tidak bakal terjadi menjadi kenyataan apa yang saya katakan sebelumnya," jelasnya Bisma.


Sedangkan di kursi lainnya, Jamal Abdillah tak henti-hentinya mengelus perutnya Nayla Latifah Hanum yang masih datar itu karena baru jalan dua bulan.


"sayang aku enggak sabar melihat kandunganmu membesar," ucap Jamal yang perhatiannya tertuju pada Nayla.

__ADS_1


Naila mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari suaminya itu," sabar mas,tapi ngomong-ngomong kenapa mengapa emangnya jika perut ku sudah membesar dan membuncit , apa Mas akan enggan bersamaku atau akan mencari perempuan lain di luar sana yang tubuhnya seksi tidak seperti buntalan kain!" ketusnya Nayla.


Jamal menjadi salah tingkah mendengar perkataan dari istrinya itu. ia tidak menyangka dan menduga jika tanggapannya Nayla akan seperti ini.


__ADS_2