
Kedatangan Meylani dan Raina Alifia di dalam dapurnya membuat kepanikan kedua pasangan suami istri itu.
"Apa maksud dari perkataan bi Ijah?" Tanyanya Meylani yang tanpa sengaja mendengar perkataan dari kedua artnya itu.
Bu Ijah dan mang Jono saling bertatapan satu sama lainnya dan kesulitan untuk menelan air liurnya sendiri.
Ya Allah apa yang harus aku lakukan,apa aku jujur saja tapi kalau jujur Nyonya Zaskia akan marah padaku.
Kalau aku diam saja aku sama saja dengan mendukung dan membantu kebohongan mereka.
Aku sangat kebingungan,apa yang harus aku lakukan. Tolonglah aku agar terbebas dari suasana yang sulit ini.
Mang Jono yang memang tipikal dan karakternya jujur dan terbuka,ia akhirnya angkat bicara mengenai apa yang didengar dan dilihatnya langsung tadi pagi.
Mang Jono berdiri dari duduknya itu dan mulai ingin berbicara, bi Ijah menarik ujung celananya diam-diam tanpa dilihat oleh siapapun.
"Kami melihat tuan Bisma…," ucapannya Mang Jono terhenti ketika melihat kedatangan Lisa di dalam dapur itu.
Lisa menatap tajam ke arah Mang Jono, sehingga spontan mang Jono menundukkan kepalanya ke bawah. Mang Jono gemetaran ketakutan, ia sangat tidak ingin berurusan dengan Lisa takut jika terjadi sesuatu padanya kelak.
__ADS_1
"Mang Jono kenapa ucapannya terhenti,apa yang terjadi kepada bapak, apa baik-baik saja atau mungkin kurang sehat?" Tanyanya Meylani penuh dengan selidik.
"Eh a-nu sa-ya sepertinya masih ada pekerjaan yang belum saya selesaikan Nyonya Mey, Ijah benar kan kalau saya banyak kerjaan hari ini yang belum saya selesaikan," kilahnya Mang Jono.
"Iya, tapi apa hubungannya dengan Mas Bisma?" Tanyanya lagi Meylani.
"Itu karena keponakannya suamimu tadi datang katanya ingin bertemu denganmu tapi, aku jawab kamu enggak ada jadi dia langsung balik," sanggahnya Lisa yang menatap ke arah Mang Jono.
Raina menatap ke arah Lisa," ya Allah kenapa aku merasa ada banyak rahasia besar yang disembunyikan olehnya Mbak Lisa, aku heran dengan gelagat mang Jono ketika tadi ingin hendak berbicara kenapa tiba-tiba terdiam padahal Ingin berbicara mengenai Bisma keponakannya bang Zaidan, tapi kedatangannya Mbak Lisa langsung terdiam dan mengalihkan pembicaraan serta aku perhatikan grogi dan panik sangat terlihat jelas,"
"Oh gitu, kalau gitu pak Jono ke depan saja kan masih banyak kerjaan, saya ke kamar dulu kebetulan saya sangat lelah jadi saya ke atas dulu, Meylani menatap ke arah Bu Ijah tolong masakin coto Makasar dengan ketupatnya yah malam ini saya pengen banget makan coto," pintanya Meylani.
"Itu saja bi, kalau aku kepengen makan sesuatu pasti aku akan sampaikan kepada bibi," imbuhnya Meylani segera berjalan meninggalkan area dapur.
Bu Ijah akhirnya baru bisa bernafas lega ketika Meylani dan Raina Alifia pergi dari dapur.
Lisa segera berjalan ke arah lemari pendingin untuk mengambil air mineral dingin, "Mulai detik ini apapun yang bibi lihat tentang saya dan suamiku! Tolong jangan sampaikan kepada yang lain terutama dan khusus Meylani jika tidak aku janji dan pastikan kamu akan dipecat dari sini tanpa gaji sepeserpun!" Ancamnya Lisa yang segera meninggalkan ruangan dapur dengan Bu Ijah yang tidak menyangka jika dia dalam masalah ketika secara tidak sengaja melihat pertengkaran Bu Zaskia dengan Lisa serta Bisma pagi tadi.
Bu Ijah terduduk ke atas kursi dapur, ia menghela nafasnya itu dengan gusar.
__ADS_1
"Astaughfirullahaladzim kenapa seperti ini, padahal saya sama sekali tidak ingin mengetahui rahasia besar mereka berdua, tapi kalau seperti ini sama saja saya ikut tertarik ke dalam pusara masalah mereka, tapi saya berharap semoga saja Nyonya Mey segera mengetahui jika Tuan Muda Bisma Attalarik dan Nona Lisa adalah suami istri,"
Meylani dan Raina segera berjalan ke arah kamar masing-masing, tapi entah kenapa Meylani melewati ruangan pribadi suaminya itu dan tiba-tiba, berhenti tepat depan pintu ruangan yang sering dipakai Zaydan sebagai kantor.
"Ada apa Mbak? Kok berhenti disini?" Tanyanya Raina Alifia.
"Kamu duluan sana istirahat, Mbak mau masuk dulu sudah hampir dua mingguan saya enggak masuk kesini, selama saya sangat sibuk,"
Meylani berjalan ke arah dalam dan memperhatikan sekitarnya. Ruangan yang pernah dipakai mereka berdua untuk melewati malam yang terkadang penuh dengan hangat dan aura yang panas.
Meilani mengelus kursi kebesaran suaminya itu dengan air matanya yang terus menetes. Betapa sedih dan hancurnya hatinya itu.
Abang Zai suamiku apa kamu tidak merindukan kebersamaan kita ini. Apakah Abang melupakan tempat yang sering kita pakai untuk menghabiskan waktu bersama setiap malamnya setiap hari, detik, menit, jam dan minggu kami lewati bersama dengan penuh cinta.
Meylani duduk di kursinya Zaidan sambil melipat kedua tangannya ke atas meja kerjanya Zaidan. Meylani menyentuhkan keningnya dengan lipatan kedua tangannya itu tapi air matanya semakin menetes saja.
Hingga saat tanpa sengaja tangannya menyentuh mouse komputer miliknya Zaidan. Ia segera menghentikan tangisannya. Walau sesekali sesegukan dan tersedu-sedu.
Meylani melihat dengan seksama layar komputer tersebut yang sering dipakai oleh Zaidan untuk mengecek rekaman cctv-nya. Meylani terbelalak ketika melihat apa yang terjadi di dalam layar komputernya. Hingga seolah bola matanya hampir meloncat dari dalam kelopak matanya.
__ADS_1
"Ini tidak mungkin, jadi Lisa dan mas Bisma suami istri sejak delapan tahun yang lalu,"