PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 54. Kedatangan Keluarga Dari Makassar


__ADS_3

Kedua pasangan suami istri itu kembali sama-sama melakukan tugas dan kewajiban masing-masing. Bahkan mereka saking enaknya dan serunya sampai-sampai melupakan jika hari ini akan kedatangan tamu dari Makassar Sulawesi Selatan.


"Aah.. hemph Abang, sa-ya…" racaunya Meylani ketika tangannya Zai semakin liar dan tak terkendalikan menjelajahi seluruh sudut dan inci tiap jengkal tubuhnya Meylani.


"Jujur saja sayang kamu membuatku tergila-gila dan tidak berdaya bahkan aku tak bisa mengontrol diriku sendiri, Meylani Ramadhani Zulkarnain aku sangat mencintaimu," racaunya Zaidan disela kegiatannya yang terus dilakukannya dengan berbagai gaya dan penetrasi yang berbeda-beda.


Yaitu kedua orang tuanya Meylani dan kedua adiknya yaitu Kamil dan Meysha. Keduanya berencana akan menghadiri acara pesta pernikahan salah satu teman seangkatannya pak Zulkarnain selama dulu menjadi anggota TNI.


Sedangkan di luar ponsel keduanya terus berdering tanpa mereka sadari dan ketahui. Karena sang pemilik hp, masih berada di dalam kamar mandi yang menikmati acara mandi bareng dan bersama untuk pertama kalinya.


Zaidan ingin mencoba dan merasakan sensasi yang berbeda jika melaksanakan kegiatannya di dalam kamar mandi dengan tempat tidur tepatnya di atas ranjang king size-nya.


"Ya Allah kabulkan doa-doaku ini, saya juga ingin segera hamil seperti kebanyakan istri-istri di luar sana yang bahagia dengan kehadiran buah hati mereka, saya juga mendambakan kehadiran momongan diantara kami,maka kabulkanlah permintaanku ini,"


Meylani hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum bahagia melihat kemampuan suaminya di atas ranjang yang terkadang membuatnya berteriak-teriak keenakan. Zaidan dan Meylani berkultivasi ganda siang hari itu.


"Ya Allah semoga saja dengan apa yang kami lakukan istriku segera hamil,agar kepulangan kekasihnya nanti semakin menutup kemungkinan besar untuk bersama kembali dengan mantan kekasihnya Mey," harapnya Zaidan.


Sedangkan di tempat lain yang jauh dari kediaman kedua pasangan suami istri yang baru merasakan kebahagiaan yang seutuhnya itu. Tepatnya di dalam terminal kedatangan ada empat orang yang celingak-celinguk mencari keberadaan anak perempuan dan menantunya.


"Ayah kok Mbak Mey dan Abang Zai belum muncul juga? Katanya mereka akan jemput kita," gerutu Mesya.


"Tunggu kakakmu mungkin terkena macet di jalan, sehingga mereka belum datang juga," tampiknya Bu Santi ibunya Meylani.

__ADS_1


"Sya seperti kamu enggak kenal kemacetan di ibu kota Jakarta saja, ini kota terbesar di negara kita jadi wajar saja macet, Makassar saja yang lebih kecil dari Jakarta tetap terjadi macet," tukasnya Kamil.


Untungnya pak Dimang Setiaji segera bertindak menghubungi Bu Livia karena jika terus berlama-lama menunggu pasangan pengantin baru itu keluar dari dalam kamarnya akan membuat pasti pekerjaan terhambat dan terlambat tentunya.


"Ya Allah pengantin baru ini saking enaknya anu ninu ninu sehingga melupakan untuk berangkat ke bandara, untungnya suamiku cepat tanggap, semoga saja mang Danang Setiaji tidak terlambat sampai di bandara." Cicitnya Bi Ijah yang melepas kepergian suaminya itu untuk ke bandara internasional Soekarno Hatta.


Bu Ijah hanya terkekeh menanggapi sikap kedua pasangan majikannya itu dengan senyuman sambil menatap ke arah tangga siapa tau keduanya sudah selesai dengan aktifitas mereka.


"Ada apa Bi Ijah kok senyam senyum seperti itu sih! Seperti orang yang kerasukan saja," cibirnya Dara Inayah.


Irjawanti nama aslinya bi Ijah itu hanya mendelikkan kedua bola matanya melihat sikap Dara dan mendengar perkataan kasarnya itu.


"Dara Inayah yang cantik jelita puji dan katamu sendiri, saya hanya tersenyum menanggapi sikapnya kedua majikan kita yang belum keluar kamar juga sampai-sampai jam sarapan pagi dan makan siangnya mereka lewatkan, saya hanya berharap dan berdoa semoga saja mereka segera dikaruniai seorang anak yang lucu dan juga para bibit pelakor sadar diri untuk menganggu hubungan pernikahan keduanya, itu saja kok," ungkapnya Bi Ijah yang semakin memanas-manasi keadaan.


Padahal biasanya suami-suami majikan terdahulunya hanya ucapan dan melihat pakaiannya yang cukup seksi membuat mereka mabuk kepayang hingga melupakan status dan mempertaruhkan kebahagiaan rumah tangga mereka.


"Kenapa aku sulit sekali untuk melumpuhkan dan menundukkan pak Zaidan, padahal dulu hanya melihat pakaian atasanku saja mereka sudah klepek-klepek tidak sabar untuk mendapatkan pelayananku hingga rela bercerai dengan istri-istri mereka,"


Bu Ijah hanya tersenyum melihat Dara yang tiba-tiba terdiam sesaat," kamu tidak perlu repot-repot buang-buang waktu untuk mencari cara mendapatkan dan menjebak tuan Zaidan karena beliau tidak seperti pria di luar sana setelah kamu buka sebagian pakaianmu mereka akan jatuh cinta dan meninggalkan istrinya, tapi ini pak Zaidan Khaizan Rudiyatmo yang sangat berbeda dengan pria yang kamu kenal itu," tukasnya Bu Ijah.


Bu Ijah yang sedikit menjelaskan dan sekaligus mengingatkan kepada Dara untuk segera membuang pikiran jahatnya segera sebelum ditendang dari dalam rumah itu.


Bukannya kapok dan sadar diri Dara malahan semakin tertantang untuk menaklukkan hatinya Zaidan sang majikan tempat dimana ia bekerja mencari nafkah.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerah begitu saja, kalau memang Tuan Zaidan tidak menyukai dengan apa yang aku lakukan kenapa tidak jujur dan berterus terang saja, bukannya ini malah kamu saja yang berharap aku dipecat iya kan," sarkasnya Dara Inayah.


"Kamu terlalu percaya diri dan tidak pernah tahu diri siapa kamu sebenarnya dan selalu melupakan batasan-batasan kamu sebagai pembantu, Tuan Zaidan itu hanyalah menunggu waktu yang tepat untuk mengusir kau dari sini, jadi bersabar dan bersiap saja untuk melakukan kesalahan pasti kamu akan dilempar juga dari sini kok," ujarnya Ijah yang tidak mau kalah.


"Kenapa meski menunggu waktu tepat untuk menendang ku,kalau memang Tuan Zaidan ingin menendangku dari sini seperti bola kan tidak perlu menunggu waktu lama," balasnya Dara yang tidak ingin mengalah begitu saja selalu mencari perkataan balasan.


Bi Ijah menunjuk ke arah dadanya Dara, "Sudahlah berdebat denganmu sama saja buang-buang waktu, intinya jangan pernah berharap untuk mendapatkan Tuan Zaidan dan juga jika kamu melakukan hal-hal yang tidak-tidak kamu akan berurusan dengan saya terlebih dahulu," ancamnya Bu Ijah sebelum meninggalkan Dara yang berdiri sambil tersenyum penuh maksud.


"Sudah yah berdebat denganmu hanya membuat mulutku kering, intinya jika kaku kamu berani berbuat macam-macam kamu akan mendapatkan ganjaran dan hukuman yang setimpal dari kejahatannya kamu itu," gertaknya Bu Ijah yang sudah semakin tidak menyukai sifatnya Dara wanita genit dan penggoda itu.


Mang Danang Setiaji segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Untungnya jalan alternatif yang dilaluinya itu terbilang jalan yang tidak terlalu ramai sehingga memudahkan ia cepat sampai di bandara.


"Semoga saja pak Zulk dan keluarganya tidak menunggu terlalu lama, kasihan mereka kalau sudah menunggu lama di bandara, ini nih gara-gara Tuan dan nyonya yang belum keluar-keluar dari kamarnya seperti pengantin yang baru nikah dua hari saja," gerutu Mang Danang yang hanya geleng-geleng kepala memaknai kelakuan Zaydan dan Meylani.


Pak Danang melihat beberapa orang sudah berdiri di depan lobi bandara, untungnya ia meminta foto mereka dari Nyonya Liviana mamanya Zaidan, sehingga memudahkannya untuk mengenali mereka ketika proses penjemputan.


Pak Danang segera berjalan tergesa-gesa ke arah Pak Zulkarnain ayahnya Meylani," assalamualaikum Pak Zulk," sapanya Danang.


Keempat orang itu bersama-sama menolehkan kepalanya ke arah Pak Danang.


"Waalaikum salam,maaf Anda siapa?" tanyanya Pak Zul seraya mengerutkan keningnya melihat pak Danang.


"Saya supir pribadinya Pak Zaidan untuk menjemput keluarga dan bapak di bandara," jawab Pak Danang.

__ADS_1


__ADS_2