
"Lebih baik aku turun dari mobil ini daripada harus bersama dengan kalian pasangan tidak tahu diri! Yang satunya sudah punya istri tapi masih berani menggoda perempuan lain di depan mata istrinya sendiri dan perempuannya tidak punya hati nurani tega menggoda suami wanita lain!" Geramnya Meylani yang semakin tersulut emosinya.
Zaidan tanpa ragu menurunkan Meylani di jalan. Ia ingin melihat perempuan yang keras kepala,egois yang sangat enggan untuk mengatakan apa yang dialami dan dirasakan oleh hatinya sendiri.
"Kamu turunlah!" Ucapnya Zaidan.
Zaidan sama sekali tidak tersenyum sedikitpun malah kembali ke wajah datarnya seperti biasanya di tempat kerjanya. Wajah datar, ekspresi datar dan kaku seperti biasanya.
Meylani dan Nayla dibuat cukup tercengang dengan sikapnya Zaidan yang tidak seperti biasanya. Hingga Nayla menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan perkataannya Zaidan.
Meylani menunjuk ke arah dadanya sendiri," aku maksudnya?" Tanyanya Meilani yang masih tidak percaya.
"Siapa lagi kalau bukan kamu! Apa kamu sudah pikun dan melupakan semua perkataanmmu barusan!?" Bentaknya Zaidan yang tidak ingin menatap langsung wajahnya Meylani.
Zaidan tidak mampu melihat kemarahan, kesedihan dan rasa kecewanya Melani, perempuan yang sangat dicintainya setulus hati dan jiwa raganya.
Meylani mau tidak mau harus mengalah dan turun dari mobil di tengah jalan. Rencana liburan yang sudah terpampang jelas di depan matanya harus pupus dan kandas ditengah jalan.
Meylani segera turun dari mobilnya tanpa mengambil apapun saking marah, kesal, dan jengkelnya terhadap sikap suaminya itu. Ia merasa sangat tidak diperlakukan adil oleh suamiya itu.
Zaidan segera menyalakan kembali mesin mobilnya setelah melihat Meylani turun dari mobilnya itu. Dia sama sekali tidak peduli dengan perasaannya Meylani, hanya dia ingin memperlihatkan kepada Mey jika dia tidak menyukai jika Meylani selalu mengutamakan gengsi daripada jujur pada dirinya sendiri.
Nayla menatap tidak percaya ke arah kakak sepupunya satu-satunya cucu laki-laki di dalam keluarganya dari pihak papanya itu.
"Astaauhfirullah aladzim Abang Zai,apa benar ini Abang Zai yang aku kenal, ternyata bisa juga bersikap kejam seperti ini,"
__ADS_1
Meylani hanya berdiri menatap ke arah kepergian mobil berwarna putih dari hadapannya. Dia sama sekali tidak ingin mencegah kepergian dari suaminya bersama wanita yang disangkanya adalah wanita pengganggu dan perebut suami orang saja.
"Abang setega ini rupanya padaku, padahal saya hanya memperjuangkan kepentingan keluarga kami berdua, apa saya salah jika bersikap keras dan tegas terhadap suamiku dan selingkuhannya,"
Air matanya luruh seketika melihat begitu tega Zaidan meninggalkannya di tengah jalan.
"Abang menurunkan aku di tengah jalan karena ingin berduaan di dalam kamar hotel yang sudah mereka sewa sebelumnya, aku yakin itu jika mereka tidak ingin kehadiranku menjadi penghalang mereka,"
Meylani melanjutkan perjalanannya tak tentu arah sambil menyeka air matanya yang sudah membanjiri wajahnya. Ia berjalan tak tentu arah, hanya mengikuti arah ujung jalan yang dilaluinya.
"Bang Zai apa tidak terlalu keterlaluan dan keras terhadap Mbak Mey? Menurut aku itu sudah kelewat batas loh sikapnya Abang, kasihan Mbak Meylani gimana kalau terjadi sesuatu padanya," imbuhnya Nayla yang berusaha membujuk kakak sepupunya.
Zaidan sama sekali tidak menggubris perkataannya Nayla adiknya itu,ia terus mengemudikan mobilnya tanpa berbicara sepatah kata lagi. Tapi, arah matanya terus tertuju pada kaca spion mobilnya hingga berjarak beberapa meter.
Meylani mengarahkan pandangannya ke arah langit," tadi cuacanya cerah banget sekarang kok tiba-tiba mendung, apa akan hujan, enggak payung juga lagi,kalau seperti ini aku harus cari cepat tempat berteduh kalau kehujanan bisa-bisa penyakit asmaku bisa kambuh lagi,"
Meilani memiliki penyakit turunan, jika dia terlalu kedinginan maka akibatnya akan mudah sakit terutama demam. Makanya Meylani tidak menyukai jika hujan, padahal awalnya ia sangat senang jika turun hujan.
Tetapi, setelah pernah mengalami kesakitan gara-gara hujan makanya ia tidak ingin terjebak hujan lagi. Mey mempercepat langkah kakinya menuju salah satu halte busway, ia tidak ingin basah.
Meylani berjibaku dengan masyarakat lainnya yang juga ingin berteduh dari guyuran hujan. Nafasnya ngos-ngosan, keringat membanjiri sekujur tubuhnya. Petir menyambar, halilintar pun tak mau kalah dengan suara gemuruh dari petir.
"Alhamdulillah untungnya tidak terkena hujan, semoga saja hujannya segera reda sebelum sore,"
"Bang Zai lihat sudah hujan, bagaimana dengan Mbak Mey, dia turun tanpa bawa apa-apa gimana kalau dia tersesat dan tidak mungkin bisa pulang tanpa uang sepeserpun dan hpnya juga ketinggalan dengan tasnya," jelasnya Nayla.
__ADS_1
"Aku akan antar kamu sampai rumah kosanmu, sampai di sana aku akan balik untuk jemput istriku," ucapnya Zaidan yang semakin menambah kecepatan laju kendaraannya membelah jalan tol.
Hingga pukul empat sore hujan sepertinya belum berhenti juga. Tubuhnya Mey sudah mulai kedinginan,ia menggigil menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulangnya.
"Ya Allah sepertinya hujannya awet juga, bagaimana caranya aku balik ke rumah kalau seperti ini, handbag dan hpku ketinggalan di mobilnya Abang lagi," gerutunya Mey yang berdiri paling ujung di halte tersebut.
Mobilnya Zaidan kembali melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya.
"Astaauhfirullahaladzim kenapa aku lupa jika tubuhnya Mey tidak tahan dengan cuaca dingin jika terkena hujan langsung, aku terlalu bego dan gegabah kalau seperti ini," kesalnya Zaidan seraya memukul beberapa kali setir mobilnya itu.
Zaidan sangat khawatir, kecewa, sedih, takut, khawatir, menyesal dan mencemaskan keadaan Meylani dalam waktu yang bersamaan.
"Kenapa juga macet, macetnya juga sangat panjang, ya Allah lindungilah istriku, maafkan aku ya Allah ini semua salahku sudah emosi kepada Mey."
Hingga menjelang magrib barulah Zaidan sampai di tempat terakhir kali Meylani diturunkan secara paksa. Zaidan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut. Arah dan batas pandangannya terhalangi oleh hujan yang turun dengan lebatnya.
Zaidan segera melanjutkan perjalanannya kembali dengan kecepatan mobilnya yang sedang saja. Ia terus celingak-celinguk mencari keberadaan istrinya. Hingga beberapa meter perjalanan ydu tempuhnya,ia memutuskan untuk turun dan berjalan kaki mencari Meylani.
Hingga beberapa langkah kakinya melangkah dibawah guyuran air hujan. Untungnya dia memakai payung agar tidak terlalu basah. Karena semakin lama hujan bukannya berhenti tapi malahan semakin deras saja. Zaidan tersenyum melihat Mey terduduk di halte busway, dengan kondisi yang cukup tidak baik-baik saja.
"Mey!" Teriaknya Zaidan.
Meylani yang sudah kesusahan untuk membuka matanya itu tersenyum gembira melihat Zaidan datang menjemputnya. Tapi,ia segera berulang kali menggelengkan kepalanya. Takutnya dia hanya salah lihat saja.
"Mungkin aku salah lihat saja, pasti itu bukan Abang Zai,dia lagi berduaan bersama dengan Nayla," lirihnya Mey sebelum tubuhnya tumbang.
__ADS_1