
Mobil yang dikemudikan oleh Kamil Pasha sudah meluncur ke arah jalan protokol ibu kota menuju rumah sakit.
Tapi, baru sekitar lima belas menit mobil mereka menuju rumah sakit, Meylani segera menghubungi nomor ponselnya Kamil. Berliana melihat ke atas dasboard mobilnya ada sebuah gedjet yang berdering.
"Kam! Handphonemu berdering," ucapnya Berlian sembari menyodorkan sebuah hp yang terus berdering.
Kamil menatap tajam ke arah Berlian dan segera mengambil alih hpnya dari dalam genggaman tangannya Berlian tanpa sepatah katapun lagi yang langsung merebut hpnya dari dalam genggaman tangannya Berlian.
"Assalamualaikum, halo kak Mey,"
Berlian menatap intens ke arah Kamil tanpa berniat menganggu kenyamanan Kamil bertelepon dengan saudarinya.
"Oke Kak padahal kami sedang menuju ke rumah sakit loh bareng dengan ayah dan ibu," jelasnya Kamil yang kesusahan memegangi hpnya itu.
Berlian segera membantu Kamil yang kesulitan memegangi hpnya sambil bertelponan. Kamil hanya menatap ke arah Berlian dengan senyuman tipisnya.
Ya Allah ternyata ini orang bisa juga rupanya tersenyum, tapi ngomong-ngomong senyumannya cukup manis walau setipis kertas.
Bu Santi dan Pak Zulkarnain saling bertatapan satu sama lain melihat kedekatan keduanya.
"Ya Allah aku akan melihat bahwa dua orang calon suami istri ini saling memperlihatkan perhatiannya walau hanya lewat pertengkaran kecil," sarkasnya Meysha.
"Kalau gitu kita ketemunya di rumah saja yah kak, tapi ngomong-ngomong kakak enggak masalah kalau enggak kami jemput? Takutnya kakak Mey kerepotan lagi, kebetulan juga saya bawa perawat khusus untuk bang Zaidan," ungkapnya Kamil panjang lebar.
Kamil dan Berlian saling bertatapan satu sama lainnya dan kembali ke mode saling musuhan.
"Ih amit-amit deh menikahi perempuan yang jutek dan kasarnya kebangetan seperti dia! Entah perbuatan apa yang pernah aku lakukan dimasa lalu sehingga aku dijodohkan dengan perempuan macam dia!" Gerutunya Kamil.
"Maaf sepertinya tadi kamu bicara yah?" Tebaknya Berlian.
"Tidak kok mungkin kamu hanya salah dengar saja," ketusnya Kamil.
__ADS_1
"Perawat!" Beonya Meylani yang duduk di di depan pas pangkuannya Zaidan suaminya yang sedang memainkan dua buah benda yang cukup kenyal dan padat.
Meylani menepuk lembut punggung tangan suaminya itu dan memberikan kode agar segera menghentikan apa yang dilakukan oleh Zaidan. Meylani menggemelatukkan gigi-giginya itu melihat ke arah suaminya.
Zaidan hanya tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai istrinya itu, walau sebenarnya sangat disukainya di area yang cukup mengandung sesuatu yang tidak terkontrol akan berakhir dengan main kuda-kudaan.
Zaidan berusaha untuk menahan tawanya ketika melihat tatapan tajam istrinya yang sangat ingin marah tapi, tidak bisa karena sedang bertelponan dengan salah satu adiknya.
Kamil masih fokus pada arah jalan yang dilaluinya itu, "Kak Mey apa kamu masih ada di sana? Hello!" Kamil sedikit mengeraskan suaranya itu.
"Iya saya masih disini, kalau gitu sudah dulu yah, titip salam sama ibu dan ayah, saya dengan Abang Zaydan akan bersiap-siap dulu," sanggahnya Meylani Ramadhani.
"Salam balik dari beliau, assalamualaikum Mbak," ucapnya Kamil segera mematikan sambungan teleponnya itu.
"Waalaikum salam, bye dek hati-hati," balasnya Meylani.
Kamil segera memutar balik kemudi mobilnya dan kembali menuju ke arah jalan ke rumahnya Meylani dengan suaminya.
"Katanya tidak perlu repot-repot menjemput mereka, soalnya mereka akan balik sendiri ke rumah dan kebetulan juga mang Jono ada di rumah sakit Bu," ungkapnya Kamil.
Zaidan segera menghentikan kegiatannya yang telah menganggu kenyamanan istrinya yang sedang mengepak dan mengemasi barang-barang bawaan yang akan mereka bawa pulang.
"Bang saya terkadang heran melihat kesehatan Abang yang sungguh cepat sembuh dan pulihnya loh," ucapnya Meylani.
"Mungkin hal itu terjadi karena Allah SWT sangat menyayangiku sampai-sampai suamimu ini sembuhnya secepat kilat, emangnya kenapa, apa kamu enggak senang dan gembira dengan semua ini?" Zaidan menautkan kedua alisnya itu menatap ke arah istrinya itu.
Mey tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya itu," saya sangat gembira dan bahagia malah, hanya saja kalau masalah anu itu ehh a-nu sangat cepat bereaksi, padahal saya lagi hamil anaknya Abang loh enggak baik juga kalau harus setiap hari lakukan itu," tampiknya Meylani.
Zaidan hanya tersenyum penuh arti menanggapi perkataannya dari Meylani," a-nu apa itu kalau bicara itu yang jelas sedikit kenapa meski ngomongnya anu kan saya maunya anu sama kamu," pungkasnya Zaidan yang sudah duduk di ujung ranjang bangkar rumah sakit yang sudah selesai berganti pakaian sehari-hari bukan lagi pakaian seragam pasien.
"Itu a-nu a-ku ehh lupakan saja, saatnya kita pulang bang, saya akan segera bersiap untuk pulang, tapi ngomong-ngomong Kamil tadi ngomong katanya ada perawat yang bersamanya, tapi apa maksudnya kenapa berkata seperti itu yah?" Tanyanya Meylani.
__ADS_1
Zaidan berusaha untuk berdiri dari duduknya, tapi masih sedikit sempoyongan untuk berjalan. Meylani segera sigap membantu suaminya itu untuk berjalan.
"Sayang kalau belum sanggup untuk berjalan jangan dipaksakan, abang itu masih lemah dan pergerakan tubuhnya Abang masih terbatas, jadi please dengarkan saya untuk kali ini," nasehatnya Meylani Ramadhani sembari memegangi tangannya Zaidan.
Meylani memapah tubuhnya Zaidan ke arah sofa, Meylani dengan baik mengantar suaminya ke arah sofa sedangkan Zai dengan patuh menuruti perintah dan omongannya Meylani.
Aku bersyukur karena istriku sudah tidak seperti dulu, awalnya aku memilihnya aku pikir pernikahan kami hanya sebentar saja sesuai dengan perjanjian kami berdua
Tapi semakin kesini aku lihat dia begitu tulus dicintainya, aku sungguh beruntung mendapatkan seorang istri yang sholehah, tapi siapa sebenarnya pria yang menjadi mantan kekasihnya dulu.
Berbagai pertanyaan muncul di dalam benaknya. Dia tidak habis pikir mencintai perempuan yang dulunya sangat membencinya dan menolak keputusan kedua orang tuanya untuk menikah dengannya, tapi hari ini dia cukup bahagia karena istrinya sudah banyak berubah.
"Tapi ngomong-ngomong kau cerewet banget hari ini, apa kamu salah makan atau kenapa sampai kamu bertingkah seperti ibu-ibu saja," gerutunya Zaidan Khaizan Rudiyatmo.
"Hehehe, Abang bisa saja padahal memang kenyataannya seperti itu, apa adanya karena aku akan selalu cerewet dengan apa yang akan abang lakukan selama itu hal yang tidak baik," ujarnya Meylani.
Zaidan menatap intens ke arah istrinya yang baginya kehadiran istrinya itu sangat lah penting dalam kehidupannya.
Zaidan duduk di atas sofa sambil menggenggam tangan kanannya Meylani kemudian mengecupnya berulang kali, "Kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku, tanpa kamu hidupku akan tidak sempurna dan akan seperti orang yang pincang ketika berjalan," tuturnya Zaidan.
Meylani menatap tak jemu memandangi wajah suaminya itu yang berbicara jujur dan serius. Meylani tersenyum-senyum bahagia mendengar perkataan dari suaminya itu.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di jalan menuju ke rumahnya. Zaidan duduk di jok kursi belakang bersama istrinya. Zaidan tak henti-hentinya mencium punggung tangan istrinya itu.
Mamang Jono sesekali memperhatikan kedua pasutri itu yang tidak hentinya saling memuji kelebihan masing-masing.
Zaidan tanpa sengaja menyenggol perutnya Meylani yang mulai buncit di usia kehamilannya sudah masuk bulan ke lima trisemester kedua, "Hey anak kita menendang loh, ya Allah apa anak kita ini ingin bertemu dengan papanya mungkin, sayang dua kali aku ditendang loh, apa jangan-jangan calon anak kita ini kembar lagi!" Zaidan sangat senang dan antusias ketika tangannya merasakan gerakan pada bayinya.
"Amin ya rabbal alamin semoga mereka terlahir kembar," sahutnya Meylani dengan senyuman sumringahnya.
"Semoga kalian bahagia selamanya hingga kalian Kakek nenek Nyonya dan Tuan Besar,"
__ADS_1