PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 86. Kepergian Dara


__ADS_3

Jamal meninju tembok dinding kamar ICU ketika melihat Dara sudah tidak sadarkan diri lagi. Jamal meratapi nasibnya sendiri yang begitu malang.


Jamal terduduk di atas lantai keramik tepat dibawah bangkar rumah sakit, "Gun, ini semua salahku aku yang terlalu bego sehingga Dara harus mengalami kejadian seperti ini, andaikan aku mengantarnya ini pasti tidak akan terjadi, lihatlah anakku Gunawan ia masih kecil harus menjadi anak piatu, Kenapa Dara harus pergi untuk selamanya dan tak akan kembali dihari penting kami, padahal sejam lagi kami akan menikah hiks… hiks.."


Jamal memukul lantai dengan penuh penyesalan, ia tidak menyangka jika kekasihnya calon istrinya akan meninggal dalam suatu musibah yang tak pernah terpikirkan oleh siapapun.


"Jamal sabarlah, ingatlah jika Allah SWT Maha dari segalanya, semua sudah ditakdirkan dan digariskan dalam kehidupan kai dan Dara,semua manusia di dunia ini tidak akan ada yang bisa menghindar, mengindahkan,atau menangguhkan apa yang sudah menjadi kehendak Allah SWT, kita sebagai manusia hanya bisa pasrah, sabar, tabah, tawakal menjalani kehidupan ini," nasehatnya Gunawarman Haerul yang sangat prihatin melihat kondisi sepupunya itu yang sesekali menyeka air matanya yang sedih melihat Aska yang baru tiga tahun lebih harus kehilangan ibunya itu.


Sedangkan Zaidan dinyatakan koma setelah menjalani operasi dibagian kepalanya sebanyak dua kali. Pak Rudi dan Bu Livia serta anggota keluarganya yang lain tidak menduga dengan musibah ini.


Mereka lebih mengkhawatirkan kondisi kesehatan dan psikisnya serta mentalnya Meylani yang sedang hamil muda harus menjalani hidup yang begitu keras.


Kabar duka itu segera tersiar ke seluruh anggota keluarga besar Rudiyatmo Iskandar. Kepergian Dara Inayah yang sedang mengandung membuat luka mendalam khusus untuk Jamal Abdillah calon suaminya itu.


Suasana berkabung begitu kental terlihat dengan jelas. Orang-orang berpakaian serba hitam sudah berlalu lalang keluar masuk rumahnya Meylani Ramadhani Zulkarnain dan Zaidan Khaizan Rudiyatmo


Maut, jodoh, rezeki tidak ada yang bisa memprediksi kapan datangnya. Rencana akad nikah yang sudah seratus persen berjalan. Harus terhenti dan gagal dengan insiden dan kejadian percobaan penculikan Dara oleh gembong mafia yang menyebabkan Zaidan harus koma dan Dara meninggal dunia.


Kematian selalu menyisakan luka yang mendalam bagi setiap orang. Terlebih saat keluarga atau orang-orang terdekat telah menemui ajalnya, tentu hal ini menjadi peristiwa yang sangat memilukan. Sebagai manusia yang masih diberi kesempatan untuk hidup, sudah seharusnya selalu mendoakan orang yang sudah meninggal agar diberi tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.


Tangis haru mewarnai seluruh ruangan rumahnya Meylani. Rumah yang sudah didekorasi ala pernikahan berubah menjadi rumah duka dengan bendera kuning sebagai penandanya.


Meylani bergantian dengan adik sepupunya yaitu Nayla Latifah dan juga Raina Alifia temannya Nayla untuk menjaga Zaidan di rumah sakit. Karena Meylani ingin memberikan penghormatan yang terakhir kalinya untuk Dara asisten pembantu rumah tangganya yang sungguh berkesan dan baik selama bekerja di rumahnya.


"Dara maafkan kami jika selama kamu berada di rumahku sudah banyak salah padamu, mungkin banyak khilaf yang tanpa sengaja kami lakukan, Dara selamat jalan, alfatihah untukmu," lirihnya Meylani sebelum Dara dimandikan.

__ADS_1


Jamal tak pernah bangkit, berdiri untuk meninggalkan jenazahnya Dara sedetikpun. Ia selalu merasa bersalah karena telah membiarkan Dara pergi seorang diri ke salon pagi-pagi sekali.


"Dara, istriku ini semua kesalahan mas yang telah membiarkan kamu sudah pergi seorang diri, andaikan aku ikut menjaga dan mengantarmu pasti kita sudah resmi menjadi suami istri," ratapnya Jamal.


Bu Livia duduk di sampingnya Jamal sebagai orang yang lebih tua dari yang lainnya. Dia dan suaminya pak Rudi selalu mendampingi Jamal Abdillah sejak jenazah Dara sampai di rumah duka yang akan disemayamkan di TPU terdekat dari rumahnya Mey.


"Nak Jamal,kamu harus sabar yah, semua ini sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa kita sebagai umatnya tidak mungkin bisa menentang kehendak Allah SWT, jadi kamu harus kuat dan tegar untuk menghadapi semua cobaan ini," nasehatnya Bu Livia yang tak henti-hentinya juga ikut meneteskan air matanya.


Jamal berusaha untuk tenang mendengar perkataan dari Bu Liviana ibundanya Zaidan mertua dari kakak sepupunya itu.


Satu persatu orang-orang berdatangan ke rumah Zaydan dan Melani untuk melayak. Semua orang turut berdukacita atas kepergian Dara. Bibi Ijah tak henti-hentinya meratapi kepergian Dara yang sudah seperti adik kandungnya sendiri.


"Ya Allah untungnya Dara Engkau berikan kesempatan beberapa bulan untuk memperbaiki dirinya dan menyadari semua kekeliruan dan kesalahan serta dosa besar yang pernah dilakukannya, semoga Allah SWT memaafkan segala kekhilafan dan kesalahannya selama Dara hidup dan dan menempatkan Dara di tempat yang terindah disisi Allah SWT," cicitnya Bi Irjawanti sambil mengecup keningnya Dara sebagai yang terakhir kalinya.


Semua orang terharu akan kebaikan dan penghargaan yang diberikan oleh seluruh dan segenap warga masyarakat setempat. Yang telah datang berbondong-bondong melayak dan mengantar kepergian Dara.


"Silahkan saja Pak RT kami juga kasihan melihat putriku jika terlalu lama disimpan terkatung-katung seperti ini," pungkasnya pak Fuad sangat menyesali ketidakmampuannya menjadi seorang ayah bagi anak tunggalnya itu.


"Dara maafkanlah ibu Nak, Ibu tidak becus jadi ibumu, Ibu berjanji akan menjaga Aska dengan baik,tapi kalaupun ayahnya yang meminta hak untuk perwalian kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi," cicit Bu Cahyaning.


Berselang beberapa menit kemudian, jenazah telah dimandikan dan dishalati berjamaah bersama-sama. Tangis haru kembali pecah ketika jenazahnya Dara dibawa ke tpu setempat yang tidak terlalu jauh dari kediamannya Meylani.


Rencana awalnya, iringan rombongan dan tandu pengantin yang akan terlihat di rumah itu. Tapi, sore harinya malah berubah menjadi keranda jenazah dari Dara sendiri yang sebelumnya menjadi calon mempelai wanita.


Suara tangisan semakin terdengar jelas terlihat ketika beberapa pria mengangkat keranda jenazah Dara meninggalkan rumah mewah dan besar milik Zaidan. Semua orang masih terpukul dan tidak menduga jika rencana akad nikah dan ijab kabul berubah menjadi suasana suram dan penuh dengan air mata kesedihan dan kehilangan.

__ADS_1


Semua orang turut berduka cita atas meninggalnya Dara Inayah Fuadi. Semua orang sedih dan iba melihat Aska Muhammad Alfikri harus kehilangan ibunya di usianya yang belum genap empat tahun itu.


Jamal terus memeluk tubuhnya Aska dan menggendongnya mengikuti langkah beberapa orang yang tingkat solidaritasnya tinggi. Karena memperlakukan Dara layaknya anggota keluarga mereka sendiri.


"Astaughfirullahaladzim aku tidak seharusnya terus meratapi takdir dan sunatullahNya ALLAH SWT, jika aku terus berlarut-larut meratapinya berarti aku sudah tidak meyakini, jika Allah SWT itu maha kuasa,maha besar,maha adil dan maha pengasih," lirih Jamal sembari menggendong putra semata wayangnya itu.


"Kamil kamu antar kakakmu kembali ke dalam kamarnya, tidak perlu juga ikut mengantar kepergian Dara sampai ke pemakaman, kami ada kok," ucapnya Zaskia kakak pertamanya Zaydan.


"Semoga saja Paman Zaidan lebih lama koma agar kesempatan dan waktu untuk aku mendekati Meylani lebih banyak, Tasya dan Lisa masalah gampang aku kelabui mereka,"


Tiba-tiba suara dari belakangnya Bisma Attalarik membuat semua orang terperangah dan bertanya-tanya siapa kah perempuan yang cukup cantik bersama dengan anak perempuan yang berusia sekitar tujuh tahunan.


"Kamil saya saja yang mengantarkan Meylani beristirahat, saya temannya Mey dari Sulawesi kami sudah saling kenal lama kok," ucapnya Lisa yang tersenyum menyeringai ke arah Bisma.


Sedangkan Bisma tidak menyangka jika anak sulungnya dan istrinya itu datang melayak di rumahnya Meylani.


"Alhamdulillah kalau seperti itu, makasih banyak kak Lisa sudah membantu kami," ucap Kamil Pasha.


Sedangkan Meylani hanya tersenyum tipis menanggapi sikapnya Lisa itu yang memang mereka sudah akrab sejak pertama kali menginjakkan kakinya di ibu kota Jakarta.


Tasya diam-diam memperhatikan apa yang terjadi di sana," ya Allah kenapa perempuan itu sepertinya aku pernah melihatnya, hanya saja lupa dimana, terus aku perhatikan kenapa dia sesekali memperhatikan suamiku mas Bisma yah?" Tasya berusaha keras untuk mengingat siapa wanita yang bernama Lisa itu.


Hingga Tasya Ainun tidak peduli dengan tangisan putranya Hatem. Bisma masih menatap tajam kepergian Lisa dengan Meylani.


Lisa hanya tersenyum penuh arti ke arahnya Bisma," maaf saya tidak akan ijinkan kamu mendekati Meylani yang jelas-jelas sudah punya suami dan keluarga bahkan sudah hamil, saya akan berusaha untuk membujuk Meylani agar saya bisa tinggal di rumah ini untuk berjaga-jaga agar Bisma Attalarik tidak memiliki kesempatan dan keleluasaan untuk mendekati Meylani,"

__ADS_1


__ADS_2