PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 65. Perdebatan Kamil dan Nayla


__ADS_3

"Ish dasar perempuan genit masa peluk suami orang di depan istrinya!" Ketusnya Kamil Pasha.


Nayla Latifah yang memang pendengarannya cukup tajam langsung tersenyum penuh arti mendengar cibiran dari Kamil pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu.


"Abang sudah siap berangkat ke kantor?" Tanyanya Nayla yang masih bergelantungan di lengannya Zaidan.


Meylani hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Nayla. Sedangkan Kamil, Gunawarman dan Jamal Abdillah menautkan kedua alisnya mereka yang keheranan dengan apa yang dilihatnya langsung.


"Siapa perempuan ini, kenapa begitu lengket dengan bang Zai?" Jamal memperhatikan dengan seksama apa saja yang diperbuat Nayla.


"Kalau aku jadi kak Meylani mungkin sudah marah-marah dan mengomel melihat kedekatan mereka berdua langsung di depan matanya dan juga orang lain menjadi saksinya," gumam Gunawan.


"Nayla jangan seperti ini lihat kamu diperhatikan oleh ketiga adiknya istriku yang baru datang dari Makassar Sulawesi Selatan," imbuhnya Zaidan.


Nayla spontan mengarahkan tatapan dan jari telunjuknya ke arah Kamil yang menatapnya jengah, "Jadi dia adiknya Mbak Meylani? Tapi kok sifat mereka berdua berbeda yah! Kalau Mbak Meylani ramah,baik hati dan lemah lembut sedangkan pria itu sangat jutek dan kasar! Apa jangan-jangan adiknya Mbak Mey tertukar di rumah sakit lagi," sarkasnya Nayla yang tertawa terpingkal-pingkal melihat ke arah Kamil yang sudah menatapnya tajam.


"Nayla! Stop bagaimanpun juga mereka adalah adiknya Mey istriku jadi aku mohon jangan bersikap seperti ini Du depan mereka enggak baik," pungkas Zaidan.


"Nayla kenalkan dia adalah Kamil Pasha adik keduanya Mbak, kalau dia bernama Jamal Abdillah tidak pakai Mirdad dan kalau yang terakhir namanya Gunawarman Haerul adik sepupu dari kampung," jelasnya Meylani yang memperkenalkan ketiga adiknya itu.


"Kenalkan kalau dia adalah adik sepupunya Abang Zaidan namanya Nayla Latifah Hanum Salsabiela Rais,"ucap Meylani.


"Ya elah itu nama apa jalan tol Cipularang sih, panjang amat!" Dengusnya Kamil.

__ADS_1


"Kamil dan Nayla stop! Kenapa kalian seperti tikus dan kucing segala, baru berjumpa sudah saling menebar permusuhan," ujarnya Meylani yang segera meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan menuju ke arah carport mobilnya itu.


Hahaha semua tertawa terbahak-bahak menyikapi dan mendengar perkataannya langsung Meylani. Mereka sungguh tidak menyangka jika Nayla dan Kamil dihari pertama bersua sudah seperti Tom dan Jerry saja yang tidak pernah akur.


"Cukup menarik juga, adiknya Mbak Mey cukup ganteng. Tapi ngomong-ngomong kalau jadi pacarku pasti teman-teman kampus akan heboh nih, apa kira-kira nanti kalau aku ajak temani aku ke pestanya Santi apakah setuju dengan permintaan aku," Nayla diam-diam tersenyum menanggapi rencananya sendiri.


"Bang Zaidan kami pakai mobilnya yang mana?" Tanyanya Kamil yang sedikit berteriak kencang ke arah kakak iparnya itu.


Mey segera melempar salah satu kunci mobil koleksi suaminya itu ke dalam tangannya Gunawan. Sedangkan Jamal masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Dara Inayah yang sedang membersihkan lantai teras rumahnya Zaydan.


"Nanti malam aku akan meminta kamu kembali menghangatkan ranjangku, kamu tidak akan pernah lepas dari dalam genggaman tanganku apalagi ingin menggoda pria lain yang sudah beristri,"


Dara yang berasa diperhatikan oleh seseorang segera mengarahkan tatapannya ke arah garasi mobil dimana ada sekitar enam orang berdiri. Dia pun melihat Jamal Abdillah yang tersenyum penuh arti melihatnya.


Dua bulan kemudian…


Hubungan diam-diam antara Dara Inayah dan Jamal Abdillah terus berlanjut. Bahkan hubungannya semakin erat dan semakin sulit untuk dipisahkan.


Jamal akhirnya membuat Dara melupakan rencana awalnya yaitu menundukkan Zaydan Khaizan dan Kamil Pasha. Tetapi berkat kehadiran Jamal akhirnya perlahan tapi pasti,Dara sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menggencarkan serangannya.


"Saya sudah tidak bisa menggoda Tuan Muda Zaidan dan juga Tuan Kamil. Mas Jamal kalau ada di rumah selalu mengawasiku, saya semakin kesulitan untuk bertindak, apakah saya harus hidup dibawah bayang-bayang mas Jamal dengan hubungan tersembunyi seperti dahulu ketika saya masih di Makassar,"


Dara yang sedang di dapur melamun memikirkan beberapa hal tentang hidupnya kedepannya. Hingga suara lengkingan yang cukup keras membuat Dara segera membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Dara! Ikan yang kamu goreng sudah gosong!" Pekiknya Bi Ijah yang segera berlari cepat ke arah kompor.


Karena kompor sudah mengeluarkan asap yang menghitam bahkan wajan yang dipakainya untuk menggoreng ikan gurame sudah berubah warna.


Dara segera tersadar dan melihat ke arah bawah tepatnya di atas wajan, dia menutup mulutnya saking terkejutnya melihat ikan gurame sudah berubah berwarna hitam kecokelatan.


"Astaughfirullahaladzim, saya tidak sengaja bi Ijah," sesalnya Dara yang segera mengangkat wajannya ke tempat westafel.


Bu Ijah hanya menggelengkan kepalanya ke arah Dara," kamu kalau banyak pikiran jangan coba-coba berani untuk memasak apapun, ini ketiga kalinya terjadi selama beberapa bulan terakhir sejak kedatangan den Jamal dari Makassar," Ujarnya Bu irjawanti.


Dara menatap tidak percaya ke arah Bu Ijah," mak-sudnya a-pa bi Ijah? Ke-na-pa dengan mas Jamal?" Tanyanya Dara yang mulai panik dan salah tingkah.


"Tidak apa-apa kok hanya bibi perlu mengatakan padamu,kamu itu masih muda Dara pikirkan baik-baik masa depanmu dan ingat dunia ini hanya persinggahan sementara waktu, jika sudah ada pria yang serius sama kamu maka pikirkan baik-baik masa depanmu jangan mau terus menjadi wanita penggoda apalagi menjadi perebut suami wanita lain," nasehatnya Bi Ijah.


Dara hanya terdiam mendengarkan semua apa saja yang dikatakan oleh bi Ijah. Dara terdiam sambil memaknai semua ucapannya Bu Ijah.


"Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh bi Ijah, apakah memang saya harus segera mengakhiri dan membuang jauh-jauh pikiran dan rencanaku untuk membuat Tuan Kamil menjadi milikku," Dara terus menggosok hingga mengkilap wajannya tangannya terus bergerak tetapi tidak sejalan dengan pikirannya.


Bu Ijah menepuk pundaknya rekan kerjanya itu," Dara hidup hanya sekali, jangan disia-siakan kehidupanmu dengan hal yang tidak berarti sama sekali, ingat kamu itu punya anak yang harus kamu biayai jangan karena obsesi jahatmu sehingga menghancurkan segalanya," Bi Ijah berusaha untuk memberikan nasehat-nasehat dan masukan kepada Dara perempuan yang lebih muda darinya sekitar lima tahun lebih.


Dara semakin terdiam tanpa bicara hanya suara panci yang digosok yang terdengar memenuhi seluruh sudut dapur tersebut. Air matanya Dara menetes hingga ia menangis di dalam kebungkamannya. Langkah kakinya Bu Ijah terhenti sejenak ketika mendengar perkataan dari mulutnya Dara.


"Tapi Bi apakah Allah SWT masih membukakan pintu maafnya untukku manusia yang punya banyak salah dan dosa bahkan kesalahanku bagaikan seluruh isi jagad raya dunia ini, saya tidak pantas mungkin dimaafkan atas dosa-dosa yang telah aku perbuat," ratapnya Dara yang air matanya sudah berlinang.

__ADS_1


"Dara semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan hanya saja ada yang kecil dan ada yang besar, tapi alangkah bodohnya dan meruginya seorang hamba jika pernah berbuat salah tapi, tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas segala dosa-dosanya, semua orang berhak untuk bertaubat, dan meminta ampun kepada Allah SWT dan berjanji pada diri sendiri untuk memperbaiki segalanya," ucapnya Bu Ijah panjang lebar.


__ADS_2