PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 19. Mencari Pekerjaan Baru


__ADS_3

Kedua temannya Meilani heboh dengan pernyataan dari Meylani sendiri yang mengatakan jika dia sudah sah resmi menjadi istri dari orang.


"Alhamdulillah akhirnya sahabatku nikah juga,tapi ngomong-ngomong dengan Bisma kan kamu nikahnya, selamat yah bestie pasti kamu bahagia banget sudah nikah apalagi dengan kekasih kamu sendiri, pasti bahagianya berlipat ganda," imbuhnya Mia.


Raut wajahnya berubah sendu ketika Mia menyangka jika dia menikah dengan Bisma,tapi Ia segera tersenyum tipis agar apa yang dialaminya tidak ketahuan oleh kedua sahabatnya itu.


"Kalau gitu aku pamit pulang dulu yah, enggak enak kalau harus pulang kemalaman dari pada suami yang lebih duluan sampai di rumah," pamitnya Meylani.


"Iya kamu harus jadi istri sholehah agar suamimu makin sayang dan cinta sama kamu," pungkasnya Metty.


"Apa benar jika aku semakin menuruti semua yang dikatakan oleh Abang Zaidan,dia akan semakin mencintaiku dan menyayangiku,kalau begitu saya tidak boleh jadi istri idaman di depannya, kalau gitu dia akan capek dan menyerah untuk mendapatkan cinta dan kasih sayangku, sepertinya jadi istri pembangkang adalah pilihan yang paling tepat."


Mey tersenyum penuh kegirangan karena mendapatkan cara agar dia dan suaminya dapat bercerai secepatnya.

__ADS_1


"Tapi ngomong-ngomong bagi alamat rumah kamu yah, kapan-kapan kami berdua bisa jalan-jalan ke sana kalau ada waktu," ucapnya Metty.


"Aku akan kirim alamatnya ke grup whatsapp saja, aku belum hafal nama jalannya maklum baru hari kedua aku pindahnya," elaknya Mey yang sebenarnya tidak ingin mengatakan kepada kedua sahabatnya itu agar keduanya tidak mengetahui jika dia menikah dengan pria lain.


"Oke,siap hati-hati yah, sering-seringlah berkabar dengan kami," ucapnya sendu Mia yang sahabat satu kampungnya maksudnya sama-sama dari Sulawesi Selatan tapi beda kabupaten mereka.


Mia enggan untuk melepas pelukannya itu,tapi karena Mey juga tidak mungkin berlama-lama di sana juga. Apalagi rencananya hari ini ia sekalian mau cari kerjaan lain yang tidak jauh dari kompleks perumahannya.


Mey sangat segan untuk meminta tolong ataupun bertanya mengenai lowongan pekerjaan di kantor suaminya itu. Ia tidak mungkin merendahkan harga dirinya hanya untuk hal itu. Karena baginya ia sanggup mencari pekerjaan mengingat nilai ijazahnya yang cukup tinggi cumulaude.


Mey menyeka air matanya itu, sulit dan sangat berat baginya untuk resign dan keluar dari pekerjaannya semula, padahal jabatannya sudah cukup tinggi dan bagus padahal belum lama juga dia bekerja baru sekitar kurang lebih empat tahunan.


"Mungkin ini jalan yang terbaik aku ambil, walau gimanapun aku tidak mungkin hanya gara-gara aku menolak berhenti bekerja sehingga ayah dan ibu di kampung kepikiran lagi dengan kelakuan itu," Mey sesekali menghadap ke arah atas agar air matanya bisa berhenti.

__ADS_1


Berselang beberapa menit kemudian…


Mey sudah sampai di depan komplek gedung perkantoran, ia memperhatikan dengan seksama beberapa gedung pencakar langit siang hari itu. Untungnya dia buru-buru pergi dari Mall sehingga ia masih punya banyak waktu luang untuk memilih gedung yang disukainya.


"Hemm! Sepertinya gedung sebelah kanan dulu aku masuki, bismillahirrahmanirrahim semoga hanya cukup sekali masuk gedung langsung diterima, soalnya dari sekian banyak gedung di sini hanya tiga gedung ini saja yang nerima lowongan pekerjaan sesuai yang aku baca di google dan bebas media elektronik,"


Tapi, entah angin apa yang membawanya masuk ke gedung paling tengah. Hanya karena gara-gara waktu dia berjalan tanpa sengaja dia menabrak tubuh seseorang sehingga tubuhnya oleng dan beberapa barang bawaannya terjatuh ke atas lantai.


"Auhh!!" Keluhnya Mey.


Untungnya Mey sigap bergerak sehingga dia masih sempat terselamatkan dan terbebas dari hantaman langsung dengan lantai keramik.


"Upss, maafkan saya Mbak saya nggak sengaja," ucapnya seorang perempuan yang berpakaian rapi dan elegan mungkin seperti sekretaris kemungkinan besarnya.

__ADS_1


Mey segera memunguti barang-barang yang tercecer di atas lantai bersamaan dengan perempuan yang berbaju kemeja biru muda itu.


"Mbak tidak perlu repot-repot kok, saya bisa mengerjakan semuanya seorang diri," cegahnya Mey yang merasa kejadian tersebut hal lumrah dan biasa terjadi.


__ADS_2