
Satu persatu tamu undangan baik itu sanak saudara keluarga sendiri yang datang, maupun dari kalangan tamu undangan sudah memenuhi hampir ke seluruhan ruangan yang sudah disulap dengan berbagai dekorasi dan pernak pernik pernikahan bernuansa pink itu.
Awalnya Meylani protes dengan warna yang dipilih oleh pihak wedding organizer ketika mengetahui warnanya adalah merah muda yang menjadi pilihan adik bungsunya sendiri yaitu Meysa Keysa Zulkarnaen.
Tapi, dengan bujukan dan rayuan gombal yang terus dilayangkan oleh Sya kepada kakak sulungnya, akhirnya Mey setuju dengan permintaan dan keputusan dari Meysa. Semuanya berkat bantuan dari Zai sendiri yang mengatakan jika acaranya yang di Jakarta akan memilih warna gold sesuai pilihannya Meylani sejak dulu.
Katering makanan yang dipilih hari itu adalah sanak famili mereka sendiri yang memasak makanan lauk pauknya, kecuali kuenya semuanya dipesan dari katering dan toko kue langganannya Bu Santi.
Meylani yang sudah dimakeup terus memegangi hpnya. Ia berharap kekasihnya Bisma Aksa Abimanyu menelponnya, setidaknya mengirimkan pesan chat singkat ke dalam nomor hpnya itu. Tetapi, sampai kedatangan rombongan mempelai pengantin pria hingga acara ijab kabul selesai diucapkan dan diikrarkan oleh Zaidan, harapannya semuanya pupus.
Air matanya menetes membasahi pipinya itu, tapi segera ia seka agar kesedihan,rasa kecewa, kehancuran hatinya berkeping-keping itu tertutupi dengan make up tebal yang dipakainya.
"Mas Bisma aku mohon datanglah, aku tidak ingin menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai dan sayangi," ratapnya Mey.
"Assalamualaikum Pak Rudi," sapanya adiknya Pak Zulkarnain pak Zainal menyambut kedatangan semua rombongan keluarga besar calon pengantin mempelai pria.
Pak Rudi yang sedang bercengkrama dengan Pak Zulkarnain dan Bu Santi dengan yang lainnya segera menolehkan pandangannya ke arah Pak Zainal yang datang menyambut mereka bersama istrinya Bu Wina.
"Waalaikum salam, kita bisa bertemu lagi Pak Zainal terakhir sepertinya kita bertemu ketika di Jakarta enam bulan lalu yah," ujarnya Bu Liviana mamanya Zaidan sambil cipika cipiki dengan Bu Wina.
__ADS_1
"Bu Livia masih begitu jelas mengingatnya padahal, saya sudah melupakan kapan terakhir kali kita bertemu," imbuhnya Bu Wina.
"Bagaimana dengan reuniannya mungkin sebaiknya kita berbincang-bincangnya di dalam sana, kasihan Nak Zaidan harus berdiri lama melihat kalian, takutnya nanti ijab kabul tenaganya sudah loyo dan lemah," candanya Pak Zulkifly adik bungsunya Pak Zulkarnain.
"Hahaha keluarga besan ada-ada saja, Putraku ini orangnya kuat loh kalian saja belum buktikan sendiri,coba kalian suruh angkat air dalam cergen pakai motor pasti kuat berapa kali putaran pun," kelakarnya Pak Rudyatmo lagi.
"Hahah itu jaman tempo dua puluh tahun yang lalu Pak Rudi, kami disini sudah tidak kesusahan air bersih lagi jika musim kemarau, jadi Nak Zaidan terbebas dari hal itu, tapi kalau minat boleh bantu saya angkat gabah saja, gimana Nak Zai apa kamu bersedia?" Canda Bu Sinta istrinya Pak Zainal.
"Keponakanku ini orangnya tangguh dan ulet wajahnya saja mirip artis oppa Korea Jhi Chan Wook apalagi kemampuannya saya yakin melebihi dari kemampuan artis itu Iya kan Nak Zai," Bu Silvia ikut menimpali percakapan mereka di depan pintu masuk.
Mereka tertawa bersamaan sambil berjalan ke arah bagian dalam tempat perhelatan pernikahan antara Zaidan dengan Meylani. Berselang beberapa menit kemudian, pak penghulu yang bernama Pak Fuad Bawazier sudah datang bersama dengan beberapa pegawai kua setempat.
Pak Zulkarnain menjabat tangannya Pak Fuad," Alhamdulillah saya juga senang jika bapak yang nikahkan putriku karena, yang aku tahu semua anak yang bapak nikahkan pernikahannya panjang dan langgeng sehingga kehidupan rumah tangganya dipenuhi keberkahan," pujinya pak Zulk.
Pak Fuad tersenyum,"bukan saya yang jago pak, tapi mereka memang pantas bahagia karena mereka saling mencintai dan menghormati satu sama lainnya, sehingga mereka bahagia hingga detik ini, asalkan mendengarkan petuah dan nasehat yang aku berikan insya Allah kehidupan mereka akan tentram dan damai," tuturnya Pak Fuad.
"Makanya saya menyerahkan perwalian kepada Bapak, walaupun saya bisa sendiri menikahkan putriku, tapi saya juga berharap pernikahan anakku berkah, bahagia dan selamat dunia akhirat semoga anakku juga seperti itu, aku hanya seorang ayah yang berharap anakku seperti mereka," tuturnya Pak Zulkarnain.
Berselang beberapa menit kemudian, Zaidan dan pak penghulu sudah duduk saling berhadapan di depan meja altar ijab kabul.
__ADS_1
"Bagaimana Nak Zaidan apa kamu sudah siap untuk menikah?" Tanya Pak Fuad yang menatap intens ke arah Zaidan.
"Insya Allah saya sudah siap nikah lahir batin Pak," ucapnya Zaidan dengan tegas.
"Kalau gitu bagaimana kalau kita mulai saja mumpung sudah masuk waktu baiknya," ujar Pak Fuad.
"Iya Pak kami sudah tidak sabar ingin melihat calon pengantin perempuannya, jadi cepat saja laksanakan ijab kabulnya," timpalnya Bu Susan.
"Betul sekali, saya sudah cukup pengen banget melihat anak menantuku yang cantik itu Pak Fuad," pungkasnya Bu Liviana.
Pak Fuad tersenyum menanggapi perkataan para ibu-ibu yang sudah tidak sabaran.
"Tolong ikuti saya yah Nak, saya nikahkan dan kawinkan engkau Zaidan Khaizan Rudiyatmo binti Mirwan dengan Meylani Aileen Zulkarnain bin Zainul dengan mas kawin emas murni 24 karat,uang sebesar 55 juta dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucapnya Pak Fuad.
"Saya terima nikah dan kawinnya Meylani Aileen Zulkarnain bin Zainul dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" tegasnya Zaidan dengan penuh keyakinan dan sekali tarikan nafas.
Meylani berusaha untuk menahan air matanya ketika mendengar dengan jelas suara lantang dan menggema dari pria yang sudah mengikrarkan janji suci pernikahan untuknya.
"Mas Bisma maafkan Mey, aku terpaksa melakukan semua ini karena aku tidak mungkin terus-menerus menentang keinginan kedua orang tuaku, aku juga tidak ingin menjadi anak durhaka, karena kebahagiaan kedua orang tuaku diatas segala-galanya, tapi aku pastikan cintaku dan kasih sayangku serta tubuhku ini hanya akan aku serahkan padamu seorang bukan pria lain walau Abang Zaidan sudah menikahiku dan menjadikan aku istrinya,"
__ADS_1
"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah akhirnya putra bungsuku sudah resmi menikahi perempuan yang dicintainya sejak pertama kali melihat gadis itu yang memang dari awal kami sudah berencana untuk menjodohkan mereka, saya berharap padaMu ya Allah semoga pernikahan putraku selalu dinaungi kebahagiaan." mamanya Zai Bu Wina menyeka air mata haru penuh kegembiraan.