
Dara kembali hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Jamal diatas tubuhnya. Karena sejujurnya selama kehamilannya ini,ia selalu saja merasakan tidak nyaman jika tidak berada disisinya Jamal. Bahkan terkadang dia yang langsung berinisiatif untuk melakukan hal semacam yang terjadi sekarang.
Keduanya saling membahagiakan masing-masing pasangannya. Hingga suara deee saa haann dan lenguhan kecil meluncur dari bibirnya Dara Inayah. Sedangkan Jamal Abdillah hanya bisa mengatur nafasnya sedemikian rupa saja.
Keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya kedua sejoli pasangan tidak sah itu. Mereka sama sekali tidak peduli dengan kejadian yang baru dalam hitungan menit itu. Mereka kembali melakukan kesalahan yang sama-sama membuat keduanya terbang melayang.
"Sayang pelan-pelan yah ingat saya lagi hamil anakmu," cicitnya Dara yang raut wajahnya memerah menahan rasa malunya ketika berbicara seperti itu.
"Kamu tenang saja, mas lagi bertemu dengan calon anak kita jadi kamu baik-baik saja menikmati apa yang mas perbuat, jika sakit atau kamu tidak nyaman bicara saja tidak perlu sungkan ataupun malu seperti ini," Jamal semakin melakukan berbagai penetrasi ganda.
Hingga adzan subuh berkumandang keduanya baru mengakhiri kegiatan mereka. Awalnya mereka akan melaksanakan shalat berjamaah bersama, tapi karena tubuh mereka cukup lelah sehingga keduanya memutuskan untuk tidur dan beristirahat terlebih dahulu.
Sedangkan di tempat lain, Meylani belum menyadari dan mengetahui, jika Zaidan tidur disebelahnya dalam selimut yang sama. Karena sejak masuk Meylani tidak memeriksa kondisi ranjangnya apalagi ia berbaring menggunakan selimut.
"Abang Zaidan tega banget, seharusnya abang membujukku tapi malah hanya sibuk dengan urusannya Jamal dan Dara!" Kesalnya Meylani sambil menepuk seprei sebelahnya tepat dibawah selimutnya.
Zaidan hanya tersenyum mendengar keluhannya Meylani. Untungnya pukulannya Meylani hanya sebatas pukulan yang ringan saja tidak memakai tenaga yang besar sehingga membuat Zaydan terkekeh sambil menutup mulutnya untuk menahan suara tawanya.
Meylani bolak balik ke sana kemari di atas ranjangnya, ia terus berusaha untuk tidur lelap tapi selalu saja gagal total dan tidak bisa terlelap dalam tidurnya. Saking seriusnya dengan marahnya, sampai-sampai tubuh setinggi, segede dan sebesar Zaidan tidak disadarinya itu.
"Kalau sampai besok subuh Abang tidak datang membujukku jangan namakan aku Meylani perempuan dari Makassar ini jika aku masih akan mengajak Abang berbicara!" Umpatnya Meylani.
Berselang beberapa menit kemudian, tanpa terasa Meylani pun tertidur lelap dalam buaian mimpinya. Sudah terdengar dengkuran halus dari bibir mungil khas suku Bugis Makassar.
Zaidan segera menyibak sedikit demi sedikit bedcover pelindung tubuhnya itu, dan memperhatikan dengan seksama kondisi dari istrinya itu.
"Syukur alhamdulilah akhirnya tidur juga, mungkin sudah kelelahan marah-marah dan ngomel-ngomel sehingga tertidur juga," gumamnya Zaydan yang tersenyum penuh kemenangan.
Zaidan memperbaiki posisi letak kepalanya Meylani kemudian menyelimutinya dengan baik.
"Ternyata kamu juga kesulitan tidur jika tidak ada Abang memelukmu, kita sama sebenarnya intinya kau dan aku tidak akan bisa tertidur tanpa saling berpelukan," cicit Zaidan yang ikut merebahkan tubuhnya di sampingnya Meylani.
__ADS_1
Zaydan pun memeluk tubuhnya Meylani, hingga perlahan tapi pasti kedua kelopak matanya pun terpejam menuju alam buaian mimpi indahnya.
Hingga pagi hari mereka masih dalam kondisi berpelukan. Bahkan suasana ribut di luar kamar tamu tidak membuat keduanya mengakhiri tidurnya.
"Jamal! Sampai kapan kau tidur bersama dengan Dara!? Apakah semalam ultimatum dari bang Zaidan dan kak Mey sama sekali tidak kamu dengarkan!" Teriaknya Gunawarman Haerul yang suaranya cukup menggelegar memenuhi sudut ruangan kamar art dirumah itu.
Suara teriakannya Gunawarman membuat seluruh penghuni rumah mewah itu hingga kedua orang yang baru datang ke dalam rumah tersebut tercengang mendengar keributan dan kebisingan di dalam rumah anak bungsunya.
"Mas apa yang terjadi di dalam sana? Kenapa ada suara ribut seperti itu?" Tanyanya Bu Liviana mamanya Zaidan.
"Iya yah tumben rumah ini ribut, padahal biasanya tenang adem walau penghuni rumahnya bertambah banyak," imbuhnya Pak Rudyatmo papanya Zaidan.
Keduanya segera mempercepat langkah kakinya itu menuju ke arah dalam tepatnya disekitar dapur karena letaknya kamarnya Dara tidak terlalu jauh dari dapur bersih rumah itu.
Ibu Livia dan pak Rudi tercengang melihat apa yang terjadi di dalamt rumah putra semata wayangnya itu. Ia tidak menyangka akan melihat adegan baku hantam dan perkelahian antara kedua adik sepupu anak menantunya itu.
"Astaughfirullahaladzim apa yang terjadi dengan kalian semua?!" Jeritnya Bu Livia.
Gunawarman dan Jamal saling berkelahi guling kanan guling ke kiri seperti bocah sekolah dasar yang berkelahi gara-gara berebut mainan saja.
Sedangkan Dara malah hanya menangis tersedu-sedu melihat kejadian itu yang belum sempat memperbaiki pakaiannya sehingga bi Ijah memakaikan selimut ke atas tubuhnya itu.
Dara dan bibi Ijah menatap nanar ke arah kedatangan kedua orang tuanya majikannya itu. Bi Irjawanti menutup mulutnya saking terkejutnya melihat kedatangan Bu Livia dan suaminya itu.
Kamil yang tadi berada di dalam kamar mandi kembali berlari cepat dan hanya melilitkan handuk sebatas pinggangnya itu. Dia juga melototkan matanya melihat sepupunya itu berkelahi. Ia pun segera berlari kencang ke arah Gunawan dan Jamal untuk memisahkan keduanya.
"Astaughfirullahaladzim apa yang merasuki kalian berdua sehingga berperilaku seperti anak berandalan saja," ketusnya Kamil Pasha yang berusaha untuk melerai keduanya.
"Bu Ijah Mey menantuku dengan suaminya dimana? Kenapa aku tidak melihat mereka pagi ini?" Tanyanya Bu Livia.
Bi Ijah menolehkan kepalanya ke arah Bu Livia," eh itu a-nu Nyonya besar mereka masih belum keluar dari dalam kamarnya, apa saya bangunkan mereka Nyonya?" Ujarnya Bi Ijah.
__ADS_1
"Tidak perlu bibi, biarkanlah saja mereka tidur sepuasnya agar aku segera dapat cucu," cegahnya Bu Livia.
"Ya Allah nyonya besar sempat-sempatnya dia memikirkan masalah cucu dalam keadaan genting seperti ini, tapi bagus juga sih masa mereka kalah dengan pasangan tidak sah yang kedahuluan punya calon baby," umpatnya Bi irjawanti.
Mang Jono pun sudah membantu Kamil dan pak Rudi, tapi mereka masih saja berkelahi hingga wajah keduanya bonyok bersamaan.
Brak..
Bruk…
Bedebug suara tubuh mereka yang bergulung-gulung hingga tidak ada yang berniat untuk berhenti akhirnya tanpa sengaja handuk berwarna merah yang dipakai oleh Kamil terlepas dari pinggangnya bersamaan dengan kedatangan dua orang gadis cantik seusianya.
"Ahh tidak!!" Temannya Nayla reflek menutup matanya dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Sedangkan Nayla Latifah Hanum hanya mampu menganga saking terkejutnya melihat seekor burung kenari yang belum berkicau karena kedinginan.
"Kamil itu burungnya pengen terbang!" Jeritnya Nayla.
Dara dan bibi Ijah segera menundukkan kepalanya saking malunya melihat kejadian itu. Kamil segera memunguti handuknya yang terlepas untungnya Kamil masih memakai underwear sehingga burung beo burung perkutut dan sejenisnya terkurung dalam sangkarnya.
Kamil yang mendengar teriakannya Nayla ikut panik dan malunya setengah mati. saking terkejutnya sampai melupakan kalau dia itu memakai celana boxer pendek.
"Ahh tidak!!" Kamil segera menarik handuknya.
Keramaian dan keributan itu membuat kedua pasutri yang tertidur tenang pun terbangun juga. Zaydan membuka lebar-lebar kedua kelopak matanya itu. kemudian mengucek matanya itu untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea hingga ke iris matanya.
Apa yang dilakukan oleh Zaidan tidak jauh berbeda hingga Meylani memicingkan matanya saking silau cahaya matahari yang mampu masuk dan menerobos hingga mengenai wajahnya.
"Sudah pagi rupanya," cicitnya Meylani yang segera menolehkan wajahnya itu karena ada benda yang menimpa perutnya yang datar itu.
Meylani menutup mulutnya saking kagetnya melihat Zaidan tidur sekamar bahkan seranjang dengannya.
__ADS_1
"Kenapa Abang bisa sekamar denganku," Meylani keheranan dengan yang terjadi di dalam kamarnya.