PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 37. Merajuk


__ADS_3

Apa yang dikatakan oleh Tante dan kakak iparnya cukup mampu menohok hatinya mengenai masalah anak. Untungnya Zaidan segera datang membantunya menangani segala macam pertanyaan tentang masalah keturunan.


Meilani semakin kebingungan karena kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari mereka semua. Zaidan memeluk dengan erat pinggang rampingnya Melani.


"Kalau sudah waktunya kami akan memiliki momongan kok Kak, Tante yang paling penting doakan saja yang terbaik untuk kami berdua, insya Allah tidak lama lagi kami akan segera punya momongan karena setiap malam kami terus berusaha," ungkapnya Zaidan yang membantu Mey.


Mey menatap intens ke arah suaminya yang berbicara membela dan melindungi dirinya.


Ya Allah apakah Abang sangat menginginkan anak yang lahir dari rahimku, sedangkan pernikahan kami akan segera berakhir sesuai kesepakatan kami berdua.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka segera berpamitan karena Mey tidak enak badan. Padahal Mey sengaja mengatasnamakan masalah capek dan kelelahan agar segera cabut dan kabur dari tempatnya sekarang.


"Alhamdulillah akhirnya lolos juga dari banyaknya pertanyaan yang sama sekali aku sulit untuk menjawab pertanyaan mereka padahal pertanyaannya sangat mudah, yang sulit itu jawabannya," cicitnya Melani yang segera melangkahkan kakinya dengan lunglai ke arah mobil suaminya yang terparkir.


Zaidan tersenyum simpul mendengar keluhannya Melani," sebenarnya semuanya akan gampang, bahkan sangat mudah jika kamu memenuhi tanggung jawabmu sebagai istriku," ucapnya Zaidan sambil menutup pintu mobilnya dengan suara yang cukup keras sehingga apa yang dikatakan oleh Zaidan tidak terlalu terdengar dengan jelas di telinganya Mey.


"Hey! Abang tadi ngomong apa aku tidak denger baik!" Teriaknya Mey.


Zaidan yang hendak duduk segera bangkit dari duduknya dan mengeluarkan kepalanya ke arah pintu mobilnya sehingga kepalanya sedikit menyembul keluar dari arah dalam mobil berwarna putih itu.


"Kalau mau tau aku ngomong apa tadi,yuk kita buruan balik ke rumah aku sangat ngantuk," ajaknya Zaidan sambil berpura-pura menguap di depan Mey.


"Zaidan Khaizan Rudiyatno! Aku tidak akan masuk mobil jika tidak jelaskan dan ulangi apa yang tadi Abang katakan!?" Gerutunya Mey sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya itu.


"Kalau kamu nggak mau masuk, terserah saja yang jelasnya aku mau balik ke rumah!" Tegasnya Zaidan yang segera mulai menyalakan stok kontak mesin mobilnya.


Mey semakin jengkel dan merajuk, padahal inginnya agar Zaidan segera membujuknya agar tidak merajuk lagi seperti yang lalu kalau dia sedang marah.


"Iihh sebel!! Bukannya membujuk tapi, malah berniat meninggalkanku disini!" Dengusnya Meilani seraya menghentakkan kakinya ke atas aspal.


Zaidan hanya tersenyum tipis menanggapi sikapnya Mey," aku suka melihat jika kamu marah seperti itu, andaikan baik pasti setiap saat aku akan gangguin kamu,"

__ADS_1


Berselang beberapa menit kemudian, Mey sudah berada di dalam mobil sambil memasangkan sabuk pengaman ketubuhnya.


Keduanya terdiam tanpa ada kata yang tercipta dari keduanya. Hingga hanya suara deru mesin mobil yang mampu kedengaran ke telinga mereka saja.


Tidak ada yang berniat untuk membuka mulut mereka untuk memulai perbincangan santai apapun itu. Hanya tatapan mata mereka yang mengisyaratkan bahwa mereka sedang puasa bicara.


Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan rumah mereka tepat di dalam carport rumahnya. Mey segera ngacir dari dalam rumahnya.


Mey sama sekali tidak menggubris apapun yang dikatakan dan dilakukan oleh suaminya itu. Walau dalam hatinya dia sangat ingin berbicara dengan Zaidan.


Karena entah kenapa Meylani merasakan hal yang aneh jika tidak berbicara dengan suaminya itu, tapi demi gengsinya dia tidak mungkin melakukan hal itu walau dia mengalami hal yang tidak enak jika terus diam padahal hatinya sangat ingin berbicara.


Meylani masuk ke dalam kamarnya tanpa berbicara sepatah katapun dengan suaminya. Mey mengganti gaun pestanya dan juga mengganti pakaiannya dengan piyama tidur setelah membersihkan seluruh tubuhnya.


Meylani mengatur tempat tidur untuk suaminya seperti biasanya, lengkap dengan selimut dan piyama tidur berwarna cokelat yang dipilih oleh Mey untuk Zaidan. Kasur lipat sudah tersedia di atas lantai sebelum Zaidan selesai mandi.


Keduanya beraktifitas seperti biasanya, tapi kali ini tanpa ada yang saling menegur bertutur sapa. Mereka bungkam seribu bahasa hanya dentingan jarum jam yang terdengar dari dalam kamar yang cukup mewah itu.


"Abang kira aku akan tergoda dengan tubuhmu yang sispack itu, oh itu tidak akan terjadi padaku, kali ini aku akan buktikan kalau aku bisa tahan godaan untuk mengamati pemandangan indahnya,"


Mey enggan untuk melihat langsung Zaidan yang sungguh begitu sempurna pahatan bentuk tubuhnya. Sampai-sampai Mey melihat kedatangan Zaidan, ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


Zaidan hanya terkekeh melihat apa yang dilakukan oleh istrinya itu," aku mau lihat sampai sejauh mana kamu bertahan bersikap acuh tak acuh padaku,"


Berselang beberapa menit kemudian, Mey menutupi seluruh tubuhnya dengan badcover hingga ke atas wajahnya. Sehingga Zaidan tidak bisa melihat apakah Mey sudah tertidur atau belum. Tapi,Zai yakin kalau Mey tidak bisa memejamkan matanya pasti akan gelisah malam ini.


Zaidan bukannya tertidur malah asyik bermain gadjetnya, ia sengaja ingin melihat reaksinya Mey apakah cemburu atau tidak.


"Sepertinya telpon nomornya Nayla saja, kan bisa tuh anak diajak bermain apalagi kehadirannya di Jakarta sama sekali tidak diketahui oleh Mey kalau dia adalah adiknya Kayla, semoga berhasil memancingnya untuk menunjukkan sikap aslinya padaku,"


Zaidan menghubungi nomor ponsel adik sepupunya itu, dia menggunakan adik sepupunya untuk memancing kecemburuan dari Mey.

__ADS_1


Aku ingin melihat sampai sejauh mana kamu terdiam tanpa ingin melihat langsung ke arah wajahku.


Senyuman smirk penuh arti itu tersungging di sudut bibirnya Zaidan Khaizan Rudiyatno.


Zaidan pun memulai aktingnya, untungnya adiknya itu enak diajak bermain. Tapi seperti biasanya akan meminta imbalan shopping day.


"Assalamualaikum," sapanya Zai dengan suara yang dibuat sehalus mungkin sehingga terkesan penuh kelembutan dan mendayu-dayu.


"Waalaikum salam Abang," jawabnya gadis berusia 21 tahun itu dari seberang telpon yang terkikik mendengar suara kakak sepupunya itu.


"Adek besok kamu ada waktu dan rencana keluar gak?" Tanyanya Zaidan sambil bersandar ke headboard kasurnya itu dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari sudut bibirnya.


Mey yang sebenarnya sudah hampir tertidur terlelap dalam buaian mimpi, langsung spontan terbangun mendengar suara Zaidan yang begitu lembutnya.


"Idih apa-apaan nih Abang, telponan dengan siapa harus begitu lembutnya berbicara, seolah-olah orang yang ditemaninya telponan sungguh luar biasa cantiknya dan pentingnya dalam hidupnya,"


Mey diam-diam menguping pembicaraan yang dilakukan oleh Zaidan, dia menajamkan pendengarannya serta memperbaiki posisi tidurnya agar tidak ketahuan mencuri dengar dan juga belum tidur sama sekali.


"Tapi ups ngomong-ngomong dia sedang menelpon dengan siapa, kalau dengan sesama pria itu tidak mungkin deh, tunggu aku harus mengetahui dengan siapa dia menelpon selarut ini,"


Mey sudah mulai kepo,rasa cemburunya perlahan muncul ke permukaan, sehingga ia bergerak di dalam selimutnya dan dilihat langsung oleh Zaidan.


"Yes berhasil, apa yang aku lakukan ternyata cukup ampuh juga, kalau seperti ini kayaknya adegan akting dan sandiwaranya bisa diteruskan sampai Mey mengungkapkan perasaannya langsung padaku,"


Zaidan seperti menemukan imun dan tambahan tenaga, kekuatan untuk bersabar menghadapi kerasnya hubungan pernikahannya yang hanya cinta sepihak saja dari dirinya.


"Dek besok gimana kalau kita ke kebun binatang, apa kamu mau ikut ke Zoo? kebetulan aku juga mau ke Zoo bareng istriku kalau kamu minat gabung dengan kami, datang saja besok jam sepuluh atau sembilan yah, kakak tunggu kehadirannya, tapi ingat kamu harus tampil sebagai wanita tercantik yah jangan malu-maluin kakak,"


Nayla Latifah di seberang telpon sungguh ingin tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari kakak sepupunya itu. sampai-sampai Kayla yang masuk ke dalam kamar adiknya tercengang melihat sekaligus mendengar perkataannya Zaidan yang penuh dengan drama.


"Huh... raja drama mulai berakting lagi! sampai kapan mereka hidup dengan hubungan yang sangat tumit," keluhnya Kayla yang sudah duduk di depan adik bungsunya.

__ADS_1


__ADS_2