
Meylani sebenarnya tidak bisa tidur apalagi memejamkan matanya jika ada yang ingin dimakannya itu. Ia akan penasaran sampai benar-benar menikmati kelezatan makanan yang diinginkannya.
Meylani bolak balik di atas ranjangnya, ia sesekali menatap ke arah pintu kamarnya yang masih saja belum terbuka.
"Ya Allah kemana lagi orang itu, kenapa orangnya gak muncul-muncul juga, apaan sih yang diperbuatnya dibawah sana, kalau seperti ini gimana caranya aku menyantap mie ayam jamur kancing dengan toping bakso sosisnya," gerutunya Meylani yang semakin dibuat tidak tenang.
Berselang beberapa menit kemudian, Mey yang baru saja menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya itu pintu pun terbuka lebar. Mey sangat gembira mengetahui jika suaminya sudah balik dan siap tertidur.
Mey diam-diam mengamati apa yang dilakukan oleh Zaidan,yaitu mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian piyama tidur berwarna putih motif hitam. Mey semakin dibuat gembira setelah Zaidan menggelar karpet bulu tebalnya seperti biasanya serta kasur lipatnya yang disembunyikan di atas kwmaruy.
"Syukur Alhamdulillah akhirnya dia tertidur juga, kenapa tidak sedari tadi sih tidurnya," ketusnya Meylani sambil menyingkap selimut berwarna biru kotak-kotak kesukaannya itu.
Mey segera cabut dari dalam kamarnya setelah sudah memastikan suaminya tertidur lelap dalam buaian mimpinya karena sudah tidak bergerak lagi. Mey mengendap-endap menuju pintu keluar dan dengan penuh lemah lembut memutar knop pintu tersebut agar tidak ketahuan dan tidak menimbulkan bunyi yang menyebabkan keributan.
Zaidan yang mendengar langkah kakinya Mey dan juga merasakan pintu terbuka hanya menyunggingkan senyumnya itu.
"Aku sudah tahu jika kamu pasti masih ingin makan mie, tapi terlalu malu untuk mengatakan dan berterus terang kepadaku,"
Zaidan segera melanjutkan tidurnya dengan memejamkan matanya itu menuju alam mimpi indahnya.
Sedangkan Mei kedua bola matanya berbinar-binar terang saking bahagianya melihat mie ayam yang sejak tadi ingin dimakannya itu. Ia tanpa menunda lebih lama lagi segera menyantap makanannya tersebut yang sudah dituangnya ke dalam mangkok.
"Masya Allah masakannya Abang benar-benar lezat, ini mah mengalahkan rasa masakanku sendiri, andaikan aku yang tadinya masak pasti tidak akan seperti ini," gumamnya Mey yang mulutnya sudah penuh dengan makanan.
Keesokan harinya, keduanya kembali menikmati sarapan mereka bersama. Mey yang terlambat bangun karena tidurnya kemalaman terpaksa harus menyantap masakan hasil buatannya Zaidan lagi.
"Maaf Abang hanya mampu masak nasi goreng ala kadarnya saja, semoga kamu menyukainya," imbuhnya Zaidan yang melihat Mey duduk di hadapannya setelah menarik kursi untuk didudukinya itu.
"Ya Allah ini mah masakan luar biasa Abang,nasi goreng paket komplit sudah pakai ayam suwir, bakso,sosis, udang, cumi-cumi diatasnya telur ceplok apa lagi yang tidak ada coba," pujinya Mey.
Zaidan terkekeh melihat sikapnya Mey yang menjawab pertanyaannya dengan mulutnya yang penuh dengan makanan sehingga kedengaran tidak jelas, "Hahaha selesaikan saja makannya baru kamu berbicara," tukasnya Zaidan.
__ADS_1
"Aku takutnya tidak sempat memuji masakannya Abang, seperti semalam aku lupa mengucapkan makasih banyak karena sudah dimasakin makanan yang sungguh lezat," Mey tak henti-hentinya memuji masakannya Zaidan.
"Kalau gitu Abang duluan yah, karena Abang ada rapat pemegang saham hari ini terus Abang juga diminta hadir ditempat acara, ingat kamu periksa listrik, kompor, pintu dan jendela sebelum pergi, assalamualaikum," perintahnya Zaidan yang bergegas mengambil tas kerjanya dan berjalan tergesa-gesa seraya melihat jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya itu.
Meylani hanya mengangkat jempol kanannya pertanda setuju dengan perkataan dari mulut suaminya itu. Lagian dia masih punya beberapa waktu senggang sebelum berangkat kerja dihari pertamanya.
Zaidan melihat ke arah istrinya itu yang kembali serius menikmati masakannya," semoga kamu menyukai hadiah yang aku belikan untukmu,"
Beberapa menit kemudian, sesuai dengan perintahnya Zaidan, ia mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Zaidan sebelum berangkat ke kantornya.
"Alhamdulillah semuanya sudah aman dan beres, waktunya go to kantor, kalau seperti ini setiap hari dilayani bukannya melayani betapa indahnya hidupku ini karena tidak perlu repot-repot untuk bekerja di dapur, apalagi dapat jatah bulanan yang cukup banyak, nikmat mana lagi yang kamu dustakan," Mey tersenyum penuh kemenangan dengan apa yang dialaminya selama menikah.
Mey menutup pintu rumahnya yang berdaun dua itu, tapi baru saja berbalik badan ia kembali dikejutkan dengan sebuah benda berwarna biru sesuai dengan keinginannya itu.
"Woooo mobil berwarna biru! Tapi ngomong-ngomong siapa mobil ini seingat aku, kemarin mobil ini belum ada di garasi, apa ini mobil barunya Abang Zaidan yah," tebaknya Mey dengan asal.
Mey segera mengelilingi mobil itu, sambil mengangumi keindahan, kecanggihan mobil yang kemungkinannya akan memakan gajinya hampir dua tahun baru bisa kebeli.
Hingga seseorang yang sejak tadi mengamati apa yang dilakukan oleh Mey segera mengacaukan kebahagiaan Mey hari itu juga dengan menyapa Mey yang tiba-tiba muncul.
"Assalamualaikum, maaf apa Anda Nyonya Meylani Ramadhani Zaidan?" Tanyanya seorang pria yang memakai kemeja putih celana kain cinos hitam dengan memegangi berkas di dalam genggaman tangannya itu.
Mey hampir saja terlonjak kaget mendengar dan melihat seseorang yang datang tanpa diketahui sebelumnya.
"Waalaikum salam, ya Allah astaghfirullahaladzim, pak kalau mau muncul itu kasih tanda kek, jangan seperti ini main nyelonong saja," gerutu Mey yang terkejut mendengar perkataan dari pria tersebut.
Pria cekikikan melihat reaksinya Mey, "Hehe maafkan saya Bu Mey saya hanya ingin menyampaikan jika mobil itu ini adalah mobil yang dibeli oleh suaminya Anda, tolong tanda tangan disini sebagai tanda bukti jika ibu sudah menerima kunci mobilnya," tuturnya pria itu.
Mey tanpa ragu segera mengambil kunci mobilnya dari dalam genggaman tangannya pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
"Seriusan pak ini mobil untukku?" Tanyanya Mey yang masih tidak percaya jika ia akhirnya memiliki mobil sendiri.
__ADS_1
Pria itu menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan dari Mey," benar sekali, ini hadiah spesial untuk anda ibu dari pak Zaidan Khaizan Rudiyatmo dan pagi ini kami antarin untuk Anda Bu Meylani," jelas Pria itu.
"Kalau begitu makasih banyak atas informasinya dan tolong minggir sedikit Pak karena saya harus segera berangkat ke kantor, sudah hampir telat soalnya," ketusnya Mey.
Pria tersebut reflek menghindar dari depan pintu mobilnya itu, Mey segera tes drive terlebih dahulu sebelum meninggalkan carport rumahnya itu.
"Pak apa Anda ingin berdiri di rumahku jadi patung Pancoran!? Karena saya mau berangkat kerja," dengusnya Mey.
Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ehh maaf saya akan pamit pulang juga kok Bu," ucapnya pria itu yang segera berjalan cepat ke arah luar, tapi langkah kakinya terhenti ketika dipanggil oleh Mey.
"Pak, tolong pagar besinya ditarik, aku nggak bisa turun lagi," pintanya Meylani.
Pria itu segera menjalankan dan melaksanakan perintahnya Mey tanpa protes sedikitpun karena uang bonus yang diberikan oleh Zaidan cukup banyak sehingga ia segera memenuhi apapun yang dikatakan oleh Meylani.
"Makasih banyak atas bantuannya Pak," teriaknya Meylani sebelum menambah kecepatan mobilnya menuju jalan protokol Ibu kota Jakarta.
Berselang beberapa menit kemudian, Mey sudah sampai di perusahaan tempat ia bekerja. Mey segera menemui HRD perusahaan tersebut untuk menyetor berkas-berkasnya.
"Saya sangat bersyukur punya suami seperti Abang Zaidan, tidak sia-sia aku menerima perjodohan ini, walaupun aku tidak mencintainya tapi setidaknya dalam waktu setahun enam bulan aku masih bisa nikmati kesempatan yang ada mumpung lagi hidup dengan baik kenapa enggak, tapi mas Bisma kerjanya masih bawahan semoga saja kelak balik dari Malaysia Kuala Lumpur bisa lebih tinggi dan bagus jabatannya,"
Mey berjalan menemui ibu Kayla sesuai dengan petunjuk dan perintah yang didapatkan dari Kayla.
"Maaf Mbak Anda cari siapa yah?" Tanyanya seseorang yang kebetulan duduk di depan meja sekretaris.
"Saya cari Ibu Kayla Mbak, karena kemarin saya diperintahkan untuk menemui Bu Kayla untuk menyerahkan cv saya ini Mbak," jawabnya Meylani.
"Maaf Mbak, Bu Kayla masih di dalam ruangan rapat bersama dengan beberapa dewan direksi, jadi sementara waktu Mbak duduk di sana saja dulu sambil menunggu Mbak Kayla balik setelah selesai pertemuannya," usulnya sekretarisnya Kayla.
"Makasih banyak Mbak kalau begitu," balasnya Mey yang segera berjalan ke arah kursi tunggu.
Meylani mengamati seluruh ruangan yang kebetulan ada di sekitar lantai ruangan HRD.
__ADS_1
"Lumayan cukup besar dan mewah ruangannya, tapi wajar saja sih ruangannya bagus karena ini perusahaan yang paling terbesar yang ada di sekitar lokasi area kompleks perusahaan gedung pencakar langit," Meylani memuji kemegahan dari desain interior perusahaan tersebut.