PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 58. Dara Berubah Haluan


__ADS_3

Meylani menggandeng tangan papanya ke bagian dalam rumahnya. Memang sejak kecil Meylani lebih dekat dengan ayahnya dibandingkan ibunya.


Bu Santi, Kamil Pasha dan Meysha hanya tersenyum melihat kedekatan ayah dan putri sulungnya itu.


Meysha mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumahnya kakak pertamanya itu, "Kak Mey rumahmu besar banget yah, kalau kalian tinggalnya berdua doang apa enggak kebesaran bingits yah," ucapnya Meysha.


"Iya betul sekali Nak gimana caranya kamu mengatur kebersihannya, apalagi kamu itu cukup sibuk di kantor, bisa-bisa rumah ini terbengkalai sebagian kalau enggak ada yang bantuin kamu mengurusnya," imbuhnya Bu Santi yang ikut menimpali perkataan anak bungsunya itu.


Meylani menolehkan kepalanya ke arah belakang," Alhamdulillah sudah beberapa hari ini Abang Zaidan mempekerjakan dua orang asisten rumah tangga Bu, jadi ada sudah yang membersihkan dan menjaga serta membantu mengerjakan pekerjaan lainnya juga," jelasnya Meylani.


"Alhamdulillah kalau seperti ini, Kak Mey Abang Zai belum pulang kerja yah?" Tanyanya Kamil.


"Abang katanya lagi telponan sama temen kerjanya di dalam ruangan pribadinya, kenapa emangnya dek?" Tanyanya balik Mey.


"Saya ke Jakarta pengen cari kerjaan Mbak dan kebetulan kan sudah lulus juga, kalau di Makassar entah kenapa enggak srek saja kerja di kampung sendiri kak," ujarnya Kamil Pasha Zulkarnain.


"Kalau masalah itu sepertinya besok kamu bisa coba-coba lamar kerja di perusahaan tempat Mbak kerja kebetulan bang Zaidan atasannya Mbak di sana," jelasnya Meylani.


Perbincangan mereka terhenti sesaat setelah melihat kedatangan Zaidan yang berjalan seperti orang yang terburu-buru saja.


"Abang, kenapa kok berjalan tergesa-gesa amat seperti itu?" Ucapnya Mey yang mengeraskan volume suara panggilannya itu.


Zaidan hanya tersenyum simpul menanggapi perkataannya Meylani istrinya itu.


"Saya ingin menjemput ayah dan ibu walaupun hanya di depan pintu saja, tapi ternyata ibu sama ayah sudah di dalam rumah," ujar Zaidan yang terkekeh menanggapi sikapnya sendiri.


Zaidan satu persatu mengecup punggung tangan kedua mertuanya itu dengan penuh takjim dan kasih sayang.


"Alhamdulillah ayah perhatikan kalian semakin akrab dan romantis saja, semoga saja kalian cepat diberikan momongan agar kami segera menimang dan menggendong bayi kalian berdua," tuturnya Pak Zulk yang senang melihat kedekatan kedua pasangan suami istri.


Zaidan langsung memeluk pinggang suaminya itu di depan kedua mertuanya tanpa rasa ragu, malu ataupun risih. Ia memang ingin memperlihatkan kepada kedua orang tuanya Meylani, jika mereka adalah pasangan suami istri yang sungguh bahagia dengan kehidupan keduanya itu.


"Amine, makasih banyak Ayah, insha Allah saya akan berusaha untuk membahagiakan Mey apapun yang terjadi, dan berdoalah terus agar kami secepatnya bisa dikaruniai momongan," sahutnya Zaidan dengan penuh kegembiraan.

__ADS_1


"Amin ya rabbal alamin," jawab mereka serentak.


Tapir, mereka tidak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang berdiri dan bersembunyi dibalik tembok mengamati dan memperhatikan apa yang mereka lakukan.


"Pemuda itu siapa? Wajahnya sangat imut malahan mirip dengan Zein Malik lagi, ini masih muda dan brondong dan muda, kalau aku tidak bisa mendapatkan Tuan Zaidan kan masih ada satunya lagi, tapi apa benar itu adiknya Nyonya Meylani yah," senyum menyeringai terbit dari sudut bibirnya Dara yang diam-diam memperhatikan kedatangan tamu-tamunya Zaidan.


Dara segera berjalan ke arah dapur, karena ia ingin membuat minuman khusus untuk tamu tersebut. Ia ingin mencuri perhatian dari Kamil. Dara tergoda dengan penampilan pemuda Makassar tersebut.


Dara berjalan cepat ke arah dapur. Dia tidak ingin ketinggalan kesempatan untuk mendekati Kamil Pasha pemuda suku Bugis Makassar tersebut yang membuatnya mengubah haluan rencana awalnya yaitu merebut dan menggoda Zaydan Khaizan Rudiyatmo.


"Saya harus bersikap baik di depan mereka, agar mereka yakin kalau aku tidak bermaksud dan berniat tidak baik terhadap majikan aku sendiri dan juga adik iparnya," Dara berjalan ke arah kamarnya dan secepatnya mencari sepasang pakaian yang cukup tertutup agar tidak memperlihatkan siapa sebenarnya dia selama ini.


"Saya harus pintar-pintar mencuri perhatian mereka, karena sepertinya kedua orang tuanya cukup baik dan keyakinan mereka tentang agama cukup bagus dan tinggi jadi setidaknya selama mereka berada disini jaga image mungkin salah satu jalan alternatif yang terbaik untuk mendapatkan seorang pria berpura-pura jadi gadis polos,lugu dan sopan seperti itu ide yang cemerlang, tapi sayang yah kenapa nggak sejak awal aku pikirkan hal ini,"


Sesampainya di dalam dapur, Bu Ijah yang melihat Dara hanya menaikkan alisnya melihat apa yang sedang diperbuat oleh Dara Inayah yang tidak seperti biasanya.


Dara segera membuat beberapa gelas minuman hangat dan juga dingin. Dia tidak ingin melepaskan kesempatan yang bagus ini. Karena rencananya terhadap Zaidan gagal sehingga ia mengubah haluan rencananya semula.


"Hemph, entah angin dari mana sehingga hari ini ada seseorang yang biasanya malas berada di depan kompor, tapi sekarang malah sudah berkutat dengan gelas,piring kue serta cerek, semoga saja ini tulus dari dalam hatinya bukan karena punya maksud dan niat jahat yang terselubung," sarkasnya Bu irjawanti.


"Hehehe tumbenan loh nyadar dengan posisi kamu disini, entah apa besok matahari akan terbit kembali dari sebelah timur atau sudah tenggelam juga di sebelah timur ataupun sebaliknya," cibirnya Ijah.


"Ladenin kau sama saja dengan buang-buang waktu yang paling berharga dalam hidupku, sana menyingkir dari hadapanku! kasihan dengan adik dan kedua orang tuanya nyonya Meylani sudah lama menunggu," ketusnya Dara yang segera meninggalkan ruangan dapur tersebut sambil menyenggol lengan kanannya Ijah yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Ya Allah semoga saja ini perubahan baik yang ditunjukkan oleh Dara,saya takut jika Dara hanya berpura-pura baik saja untuk menutupi rencana jahat dan tipu muslihatnya untuk mengelabui kami semua," Bi Ijah terus memandangi kepergiannya Dara dari hadapannya.


Bibi Ijah melanjutkan pekerjaannya di dapur untuk segera memasak beberapa macam masakan khusus yang dipesan oleh Meylani untuk menyambut kedatangan anggota keluarganya.


"Ayah yakin kalian tidak akan lama lagi dikaruniai anak bayi, kami sebagai orang tua kalian berharap tapi menuntut kalian harus punya keturunan itu tidak mungkin kami lakukan Nak," ucapnya Pak Zulkarnain Iskandar papanya Meylani sembari mendudukkan tubuhnya ke atas salah satu sofa.


"Iya Nak,benar sekali apa yang dikatakan oleh ayahmu, kalian punya anak Alhamdulillah, belum diberikan yah tidak masalah yang paling penting kalian terus berusaha untuk mendapatkannya dan berserah diri kepada Allah SWT sang maha pencipta," imbuhnya Bu Santi ibunya Mey yang ikut duduk di samping suaminya itu.


Meylani dan Zaidan pun ikut duduk bersantai di ruang tengah yang dijadikan tempat berkumpul mereka jika waktu senggang. Zaidan menggenggam tangannya Meylani seraya sesekali mengecup punggung tangannya Meylani, istrinya itu di depan kedua mertua dan adik iparnya.

__ADS_1


Zaidan ingin menunjukkan kepada mertuanya jika kekhawatiran dan kecemasan mereka selama beberapa bulan ini yang mengkhawatirkan kondisi pernikahan putrinya, adalah tidak seperti dan sesuai dengan pikiran mereka. Apalagi mereka jelas-jelas mengetahui jika Meylani dengan terang-terangan menentang dan menolak keputusan perjodohan keduanya.


"Alhamdulillah aku perhatikan mereka sangatlah bahagia, berarti ketakutan dan kecemasanku selama ini terlalu berlebih-lebihan, kenyataannya mereka sungguh bahagia, semoga kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan dan berkah dalam pernikahan kalian Nak,"


Pak Zulkarnain akhirnya bisa bernafas lega melihat sendiri langsung kondisi pernikahan putri sulungnya itu. Bu Santi pun gembira, karena keadaan Meylani anak sulungnya itu sungguh di luar dugaannya.


"Semoga semua yang aku lihat ini bukan hanya ilusi, akting atau mereka sedang bersandiwara semata, aku sebagai ibunya sangat berharap agar pernikahan keduanya sebahagia yang kami lihat seperti saat ini,"


"Ibu gimana kabarnya keluarga di kampung apa mereka baik-baik saja?" Tanyanya Mey yang kembali membuka percakapan di antara mereka.


"Alhamdulillah semuanya dalam keadaan sehat walafiat nak, katanya mereka titip salam kangen selalu terutama adik sepupumu Gunawarman dan Jamal Abdillah, serta Tante kamu Mirah juga yang paling heboh ketika dia mengetahui kabar keberangkatan kami ke jakary, awalnya sudah berencana hendak ikut, tapi ternyata banyak pesanan cateringnya masuk sehingga dengan berat hati tantemu harus mengurungkan niatnya dan membatalkan ikut bareng kami ke ibukota Jakarta." Ungkapnya Bu Santi.


"Ya Allah… mereka pasti seru andaikan mereka juga ke Jakarta, kenapa enggak ikut bareng Ibu sama ayah juga ke sini?" sahutnya Meylani yang senang bukan main mendengar adik sepupu paling gokil dan Tante gaulnya itu.


"Mereka katanya akan melamar pekerjaan di Jakarta dan numpang bareng kamu Mey dan Nak Zai tapi katanya mereka lihat Kamil dulu kalau lulus ketika mencari pekerjaan barulah mereka berangkat ke sini," imbuhnya pak Zul yang ikut nimbrung percakapan anak pertamanya dengan istrinya itu.


"saya berharap mereka segera nyusul ke Jakarta biar rame ini rumah," harap Mey.


Kamil menatap intens ke arah kakak iparnya itu yang penuh harap rencananya terkabul sesuai dengan harapannya, "Sehubungan dengan Gunawan dan Jamal Abdillah, saya ingin bertanya sama Abang Zai nih, apa ada lowongan pekerjaan yang terbuka di perusahaan tempat Abang bekerja, karena rencananya saya akan pindah ke Jakarta saja, saya lebih maju mengadu nasib di sini dari pada di Makassar Sulawesi Selatan, sepertinya kesempatan untuk berkembang dan maju lebih enakan di Jakarta,"


"Apa ijazah kamu sudah berer dan lengkap? kalau sudah besok pagi kita ke kantor untuk melamar pekerjaan langsung, gimana menurut kamu dek?" tanyanya Zaydan yang mengusulkan kepada adik iparnya itu.


Zaidan bersyukur karena kondisi kestabilan rumah tangganya semakin membaik ketika mereka berhasil melakukan malam pertama kalinya dalam hidup dan masa pernikahannya.


"Ayah mau Istirahat disini saja atau langsung ke kamar kalian?" tanyanya Mey yang ucapannya belum dijawab karena kedatangan Dara dengan membawa beberapa bekal minuman dan makanan yang sudah dipersiapkan khusus untuk Kamil dan kedua orang tuanya.


"Maaf tuan dan nyonya saya terlambat suguhkan makanan dan minuman untuk tamunya Nyonya Mey," ujarnya Dara yang tersenyum manis tapi tatapan dan lirikan matanya tertuju pada Kamil yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Makasih banyak Dara,kamu sudah menyiapkan untuk ayah,ibu dan kedua adikku," ucap Meylani.


Meilani yang hendak membantu Dara,tapi tangannya ditarik oleh Zaydan agar tidak perlu membantunya Dara yang memang sudah tugasnya sebagai asisten rumah tangganya disini. Mey spontan mengalihkan pandangannya ke arah suaminya yang sudah menggelengkan kepalanya. Pertanda Zai mencegah dan melarang Meylani turun tangan langsung.


"Ini pembantu tumben berpakaian tertutup, biasanya pakaiannya itu seksi banget seolah punyanya dan masa depannya akan melompat saja dari dalam kain penghalangnya, tapi kalau seperti ini ada perubahan lah walau hanya dari segi berpenampilan," Zaidan diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Dara tapi bukan berarti dalam artian tertarik.

__ADS_1


"Ya Allah apa benar yang dikatakan bibi Ijha jika Dara itu tipe pembantu penggoda suami majikannya, katanya sudah tiga orang yang pernah menjadi pria selingkuhannya, tapi aku berharap semoga saja tidak berniat untuk menggoda suamiku, jika berani jangan salahkan saya untuk bertindak tegas bahkan akan terkesan kasar dan disiplin." Meylani menatap intens ke arah Dara Inayah perempuan yang lebih tua sedikit dari usianya.


Met idul Adha untuk semua reader setiaku yang menjalankannya..


__ADS_2