PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 59. Feeling Orang Tua


__ADS_3

Percakapan mereka siang hari itu terganggu dengan kedatangan Dara yang membawa beberapa gelas minuman dengan beberapa toples berisi kue kering nastar dan cemilan berupa keripik pisang dan singkong menjadi teman santai mereka.


"Makasih banyak Dara, kamu sudah menyiapkan minuman dan makanan untuk kami," imbuhnya Meylani.


"Sama-sama Nyonya Muda, ini sudah menjadi tanggung jawab saya bekerja disini," ucapnya Dara Inayah.


Zaidan menatap intens ke arah Dara, "Kalau begitu tolong angkat semua barang-barang milik kedua mertua dan adik iparku, saya ingin semua barang bawaan mereka sudah di dalam kamarnya masing-masing," perintahnya Zaidan dengan tidak ada senyuman sedikitpun dari wajahnya.


Dara tanpa basa-basi lagi segera mengangkat beberapa tas dan koper milik pak Zulkarnain,Bu Santi, Kamil Pasha dan juga Meysha.


"Kenapa aku perhatikan pembantunya Mey seperti kegenitan dan jelalatan melihat ke arah Zaidan menantuku dan juga putra semata wayangku, aku yakin apa yang aku lihat ini benar adanya, bukan hanya perasaan aku yang terlalu sensitif," Bu Santi terus diam-diam memperhatikan gerak geriknya Dara Inayah pembantu rumah tangga yang baru kali ini berpakaian rapi dan tertutup.


"Kenapa ibu terus memandangi Dara pembantunya Mey, apa yang sedang dirasakan oleh istriku, semoga saja hal yang baik yang menjadi pemikiran istriku, tapi ngomong-ngomong aku perhatikan tingkah lakunya art ini seperti perempuan penggoda saja,ya Allah jauhkanlah segala sesuatu yang tidak baik dalam rumah tangga putriku, apalagi selama ini banyak terjadi jika pembantunya yang menjadi pelakor dan penggoda majikannya sendiri, tapi aku berharap semoga saja hanya feeling aku saja yang tidak baik tidak akan pernah menjadi kenyataan," tatapan matanya pak Zul menelisik gerak geriknya Dara yang tidak biasa dimatanya itu.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di hadapan meja makan. Mereka menyantap makanan siang hari itu dengan penuh canda tawa.


"Alhamdulillah kedua mertuanya Tuan Zaidan baik-baik, mereka sangat menyayangi anak-anaknya tanpa membedakan mereka satu dengan yang lainnya, ya Allah semoga saja godaan dari perempuan genit seperti Dara tidak ada lagi sehingga pernikahan Nyonya Mey dan tuan Zai dapat hidup tenang dan tentram, Amin ya rabbal alamin,"


Percakapan terjadi diantara mereka hingga Kamil kembali bertanya lebih detail tentang pekerjaan yang cocok untuknya.


"Bang Zaidan jadi aku bisa datang ke perusahaan tempat Abang kerja besok pagi atau gimana?" Tanyanya Kamil setelah makanannya yang ada di atas piringnya sudah kosong.

__ADS_1


Zaidan menyeka sudut bibirnya itu sebelum memulai menjawab pertanyaan dari adik iparnya.


"Kamu datang saja besok pagi, karena aku lihat CV dan beberapa berkas ijazahmu peluang untuk bekerja di kantor bersamaku terbuka lebar dan masalah Gunawarman dan Jamal Abdillah kamu juga bisa secepatnya menyuruhnya ke Jakarta sebelum hari jumat karena kesempatan khusus tahun ini terbuka lebar jadi manfaatkan kesempatan dan peluang ini yang terjadi selama tiga tahun sekali saja," terangnya Zaidan.


"Alhamdulillah nak kalau seperti itu, Meysha segera hubungi nomor ponselnya kakakmu Gunawan dan Jamal agar segera bersiap ke Jakarta menyusul kita karena hanya tiga hari dari sekarang waktu yang tersisa nak, tolong secepatnya infokan kepada mereka," pinta Bu Santi mamanya Meylani.


Meysha dengan sigap segera menghubungi nomor hp kakak sepupunya itu, Meysa tidak ingin menunda lebih lama lagi hal baik tersebut.


Zaidan sendiri yang langsung berbicara dengan kedua anak muda tersebut. Zaidan yang terkadang tersenyum mendengar perkataan dari kedua pria itu yang sering kali memakai bahasa Makassar dan Bugis asal daerah kedua orang tuanya dari Gunawan dan Jamal.


Untungnya Zaidan masih mengingat dan mampu menjawab perkataan dari kedua anak muda itu yang sengaja membalas perkataan dari Zaidan menggunakan bahasa lokal daerahnya. karena ucapan, dialek bahasa Makassar yang diucapkan oleh Zaidan cukup membuat orang-orang yang mendengar ucapannya Zaidan tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak karena tidak fasih, walaupun mengerti artinya.


Gunawarman dan Jamal Abdillah memutuskan besoknya akan berangkat ke ibu kota Jakarta. Setelah mendengar berita baik dari kakak iparnya itu. Papa dan mama keduanya yang tidak lain adalah adik pak Zulkarnain dan anak dari kakaknya Bu Santi.


"Aku harus mendapatkan Kamil, brondong yang lebih menggoda dari Tuan Zai, karena aku tidak pernah berhasil menundukkan Tuan Zaidan jadi sebaiknya aku berubah haluan saja, semoga saja Kamil tipe pria yang mudah aku taklukkan seperti ketiga majikanku selama ini," harapnya Dara.


Perbincangan mereka terhenti ketika mendengar suara adzan ashar berkumandang dari toa-toa masjid sekitar komplek perumahan elit tersebut.


"Syukur alhamdulilah sudah masuk waktu shalat ashar," ucapnya Pak Zulkarnain ayahnya Meylani yang segera bangkit dari posisi duduknya berjalan ke arah dalam kamar yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu oleh Meylani sendiri.


"Bagaimana kalau kita berenam shalat berjamaah, karena tidak selamanya kita bisa berkumpul keluarga bersama seperti ini juga," ucapnya Zaidan yang mengusulkan agar mereka berkumpul bersama melaksanakan kewajiban mereka.

__ADS_1


"Itu ide yang bagus banget Bang, lagian saya dengan ayah dan ibu hanya tiga hari saja di Jakarta jadi sebaik-baiknya kita manfaatkan kesempatan bagus dan langka ini," sahutnya Meysa dengan tersenyum penuh kegembiraan.


"Kalau gitu apa lagi yang kita tunggu let's go my family," ucapnya Meylani Ramadhani.


Zaidan tersenyum penuh bahagia karena melihat keceriaan, kebahagiaan, kebersamaan dari anggota keluarganya dan sanak saudaranya dari pihak istrinya itu.


"Kebahagiaan terindah dalam hidupku adalah melihat senyuman dari semua orang yang aku sayangi, Alhamdulillah aku akhirnya kembali menemukan kehangatan dalam keluarga sama halnya dengan Mama dan papa mereka selalu bahagia setiap saatnya,"


Kegiatan shalat berjamaah mereka berlangsung begitu khusyu dan hikmahnya. Mereka melaksanakan kewajiban mereka bersama di dalam sebuah ruangan yang khusus diperuntukkan untuk melaksanakan shalat berjamaah.


Keesokan harinya, Meylani dan Zaidan berangkat bersama ke perusahaan tempat ia bekerja. Sedangkan Kamil memilih untuk memakai mobilnya Meilani karena dia tidak ingin dicap bekerja di perusahaan multinasional itu karena adanya campur tangan ataupun koneksi dari orang dalaym


Walau kejadian seperti itu sudah wajar terjadi di dalam sebuah perusahaan. Tetapi, Mey, Zaidan dan Kamil Pasha menginginkan jika mereka diterima bekerja di sana karena kemampuan sendiri bukan karena pendekatan yang mereka lakukan dengan pegawai perusahaan bagian HRD.


"Selamat pagi Pak Zaidan," sapanya para security yang kebetulan berdiri di depan pintu masuk lobi perusahaan.


"pagi juga pak Remon, gimana harinya pak Rei? semoga saja hari ini menjadi hari yang lebih baik dsn lebih bahagia dari hari sebelumnya pak," harapannya Zaidan.


"Amin ya rabbal alamin," timpalnya pak Dion security satunya lagi.


Kedua security yang bertugas berjaga keamanan di pagi senin itu terkejut, tercengang dan kedua pasang mata mereka hampir saja melompat dari kelopak matanya saking melototkan melihat Meylani yang keluar dari dalam mobilnya Kabir yang cukup elit dan bagus itu.

__ADS_1


Mey berjalan dengan senyuman yang selalu merekah di bibirnya itu, " aku perhatikan mereka menatap kami semua dengan tatapan yang sulit diartikan itu, apakah hubungan kami berdua tidak perlu diekspos."


__ADS_2