
"Dokter gimana dengan kondisinya istriku?" Tanyanya Zaydan dengan penuh harap cemas menunggu dokter menjelaskan masalah seputar kesehatannya Meylani.
Dokter terlebih dahulu menyimpan perlengkapan kedokterannya itu sambil tersenyum.
"Alhamdulillah Bu Meylani Ramadhani sudah membaik, tapi harus butuh istirahat yang cukup dan kalau bisa harus bedrest sepenuhnya jangan banyak pikiran, istirahat yang cukup serta hindari terkena air hujan langsung, obat dan juga vitaminnya jangan sampai dilupakan untuk diminum," jelasnya Dokter tersebut.
"Syukur alhamdulilah kalau kondisi menantuku baik-baik saja, tapi ngomong-ngomong kapan bisa keluar pak dokter?" Tanyanya Ibu Liviana.
"Siang ini juga boleh pulang Bu karena semuanya sudah kembali membaik seperti semula, hanya jangan karena keasyikan di luar sehingga melupakan dengan kondisinya yang tidak bisa terkena air hujan langsung karena akibatnya fatal seperti ini lagi," jelas pak dokter yang bernama tag Dr. Rizaldi.
"Makasih banyak Dok," ucapnya Bu Livia.
__ADS_1
"Sama-sama nyonya ini sudah menjadi tanggung jawab dan tugas kami sebagai dokter, jadi tidak perlu sungkan untuk berterima kasih," tukasnya Pak Rizaldi dokter yang menangani kesehatannya Meylani.
Mereka segera bersiap dan berkemas untuk pulang segera. Awalnya Bu Livia meminta kepada anak dan menantunya tinggal bersamanya,tetapi Zaidan menolak keras permintaan dan keinginan namanya.
"Maaf Ma, bukannya saya tidak menghargai permintaan Mama, tapi saya merasa terlalu capek jika harus bolak balik kantor rumah dengan jarak yang cukup jauh, kasihan Mey ma kalau harus seperti itu setiap harinya, lagian kedua mertuaku insya Allah besok lusa akan datang ke Jakarta bareng ke dua adik iparku jadi nggak enak kalau tinggalnya bareng mama dan papa serta yang lainnya," ujarnya Zaydan berusaha untuk memberikan pengertian kepada kedua orang tuanya.
Ibu Liviana jelas-jelas kecewa dengan penolakan kedua kalinya dari anaknya itu. Mey yang melihat perubahan raut wajah Mama mertuanya segera menengahi perselisihan kecil keduanya itu.
Mey memegangi punggung tangannya Bu Livia," Mama insha Allah kalau Mey hamil nanti barulah Mey akan tinggal bareng dengan Mama, jadi Mey harap mama untuk saat ini memaklumi pilihannya bang Zai, Abang juga sama sekali tidak bermaksud menentang keras keinginannya Mama,tapi belum saatnya kami menetap bersama Mama," ucapnya Mey yang berusaha membujuk Mama mertuanya itu.
"Ya Allah apa Mey sudah bersedia untuk menjadi istriku seutuhnya yah, kalau seperti itu kenyataannya alhamdulilah ya Allah makasih banyak semoga bukan hanya isapan jempol belaka,"
__ADS_1
"Nak apa yang kamu katakan barusan adalah benar adanya, apa kamu sudah siap menjadi ibu dari anak-anaknya putra tunggal ku?" Tanyanya Bu Livia dengan penuh percaya diri dan semangat serta antusias.
Meylani menganggukkan kepalanya tanpa banyak pikir," insha Allah Ma kalau Allah SWT menghendaki, saya siap untuk jadi ibu dari anak-anaknya Abang Zai, lagian mau tidak mau pasti itu berlaku, dari awal pernikahan kan bertujuan untuk memilki keturunan berarti saya sudah siap untuk menjadi seorang ibu dari anak-anak kami kelak,"
"Masya Allah nak bukan hanya parasmu yang cantik tapi hatimu juga sangat mulia, semoga pernikahan kalian selalu dilimpahi berkah kasih sayang dari Allah SWT, sakinah mawadah warahmah hingga kakek nenek," doanya Bu Livia.
"Amin ya rabbal alamin jawab mereka serentak, semoga saja ditahun ini keinginan baik kita semua diijabah oleh Allah SWT terutama kedua anakku ini diberikan anugerah berupa rezeki anak dan keturunan yang sholeh dan sholehah," ucapnya Pak Rudyatmo.
"Nak lusa nanti jika kalian sudah bertemu dengan besannya Mama, tolong sampaikan padanya jika Mama pengen ketemu dengan Mbak Santi dan pak Zulkarnain ayah dan ibumu Nak," harapnya Bu Livia lagi sebelum berpisah dengan kedua anaknya itu.
"Semoga saja apa yang kalian inginkan dalam hidup kalian segera dikabulkan oleh Allah SWT, papa ingin melihat kalian selalu bahagia dan hidup bahagia hingga maut memisahkan cinta kalian, Zai jadilah suami yang selalu penuh tanggung jawab kepada istrimu, jangan sekali-kali untuk melukai hatinya Meylani Nak," pintanya pak Rudiyatmo.
__ADS_1
Pak Rudi menepuk pundak putra semata wayangnya itu dengan pelan sebelum masuk ke dalam mobilnya itu. Ia tersenyum melihat kebahagiaan dari Mey dan Zaidan yang dilihatnya sesuai dengan kacamata pengamatannya.
"Ingat Nak kalau ayah dan bundamu sudah datang katakan padanya jalan-jalan ke rumah besan jangan hanya rumah anak menantunya yang diingat," ujarnya pak Rudi lagi sebelum deru mesin mobilnya melaju meninggalkan Mey dan Zidan yang belum berangkat untuk pulang ke rumahnya.