
Zaidan tersenyum penuh bahagia melihat istrinya yang berdiri paling ujung di halte bis dalam keadaan yang baik-baik saja. Padahal dalam pikirannya ia sudah memikirkan segala sesuatu hal yang tidak baik terjadi pada Meylani Ramadhani Zulkarnain.
Zaidan segera mematikan mesin mobilnya itu dan segera mengambil payung untuk dipakainya karena kondisi hujan yang belum reda sama sekali. Ia pun mempercepat langkah kakinya menuju Meylani yang menyambut kedatangannya dengan senyuman.
Tapi seketika itu juga suasana perasaannya Zaidan berubah menjadi panik, cemas dan ketakutan kala melihat Meylani yang pingsan di depan matanya. Zaidan melempar ke sembarang arah payung dipakainya untuk melindungi tubuhnya dari guyuran air hujan.
Untungnya orang yang dekat dengan Meylani melihat tubuhnya Meylani tumbang sehingga segera bertindak cepat untuk membantu Meylani.
"Mbak bangun!" Teriak perempuan yang kira-kira seumuran dengan Meylani yang memegangi pinggangnya Mey agar tidak terjerembab ke atas lantai halte.
"Mey!" Jeritnya Zaidan yang berlari kencang ke arah Meylani yang sudah tidak sadarkan diri lagi.
Semua orang yang masih berdiri di sekitar halte busway mengelilingi dan mengerumuni Meylani yang sudah ditidurkan oleh ibu-ibu.
"Minggir sedikit, dia itu istriku!" Teriaknya Zaidan agar langkahnya tidak di halangi oleh orang lain.
Semua orang yang mendengar teriakannya Zaydan segera menyingkir dari jalan dan membuka jalan untuk Zaidan lewati.
"Astaughfirullahaladzim Mey bangun sayang, ini Abang sudah datang menjemputmu," ratapnya Zaydan sambil menepuk-nepuk pipinya Mey agar segera tersadar.
"Pak sebaiknya segera dibawa saja ke rumah sakit, takutnya terjadi hal-hal yang tidak baik kepada istrinya bapak," sarannya sang wanita paruh baya yang berdiri di samping kanannya.
"Iya Pak kasihan dengan istrinya bapak lihatlah wajahnya semakin pucat saja dan tadi saya perhatikan seperti memang menggigil kedinginan," imbuhnya seorang bapak-bapak yang memakai jas hujan yang ikut berteduh di bawah atap halte bus.
Zaidan segera menggendong tubuhnya Meylani ke arah dalam mobilnya dibantu oleh seorang pria yang memayungi mereka agar tidak terlalu terkena guyuran air hujan.
Zaidan menidurkan istrinya di jok kursi belakang,ia kemudian berjalan ke arah depan dengan membuka secepatnya pintu mobilnya tersebut.
__ADS_1
"Makasih banyak atas bantuannya," ucapnya Zaidan sebelum meninggalkan area halte tersebut.
Mobil sedan putih itu melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, Zaidan sama sekali tidak peduli lagi dengan rambu-rambu lalu lintas yang diterobos dan dilanggarnya tersebut.
"Ya Allah jaga dan lindungilah istriku,jangan biarkan terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika istriku kenapa-kenapa," lirihnya Zaidan yang sesekali menatap ke arah belakang dimana istrinya berada.
Tubuhnya Meylani rentang sakit dan terserang beberapa penyakit jika harus terkena air hujan ataukah cuaca yang sangat ekstrim dinginnya. Bisa asma, sesak nafas, demam tinggi dan paling parah pernah tidak sadarkan diri selama dua hari dua malam 24 jam nonstop.
Berselang beberapa menit kemudian, Mey dan Zai sudah sampai di rumah sakit. Tubuhnya Meylani segera mendapatkan penanganan medis terbaik dari rumah sakit.
Seorang suster yang memakai hijab mendatangi Zaidan," maaf Pak apa Anda keluarganya pasien yang bernama Meylani Ramadhani Khaizan Zulkarnain?" Tanyanya Perawat perempuan tersebut.
"Benar sus, memangnya ada apa dengan istriku?" Tanyanya balik Zaidan yang segera berdiri dari duduknya yang baru sepersekian detik mendudukkan bokongnya yang baru saja mondar-mandir ke sana kemari.
"Tolong bapak segera ke ruang administrasi untuk menyelesaikan administrasi dari prosedur perawatan istrinya bapak," jelasnya perawat tersebut.
Setelah selesai diurus dengan baik oleh Zaydan, dia segera berjalan kembali ke arah UGD untuk melihat kondisi terkini istrinya.
"Pak Zaidan istrinya ini sudah mau dipindahkan ke kamar perawatan, tapi dokter ingin berbicara dengan bapak terlebih dahulu," ucapnya perawat yang mendorong bangkar ranjang rumah sakit yang diatasnya Meylani yang terbaring lemah tak berdaya.
Beberapa menit kemudian, Zaidan terduduk lesu di atas sofa yang kebetulan ada di dalam kamar rawat inap rumah sakit. Ia mengusap dengan gusar wajahnya setelah pulang dari ruangan praktek dokter.
"Ya Allah jaga dan lindungilah istriku, sembuhkan lah segala macam penyakitnya, aku yang bersalah dan pantas disalahkan karena keegoisanku sendiri sehingga Mey harus menderita seperti ini, aku terlalu bego dan tidak bersabar menjalani pernikahanku,"
Zaidan merebahkan kepalanya ke headboard sofa saking sedih, takut dan pikirannya kacau memikirkan segala kemungkinan besar yang bisa terjadi. Hingga dering telepon seluler yang tergeletak di atas meja sofa membuatnya segera mengalihkan perhatiannya.
Zaidan meraih hpnya tersebut dan memeriksa siapa yang menghubungi nomor ponselnya itu. Ia serba salah apakah berterus terang kepada kedua orang tuanya mengenai kondisinya Meilani ataukah diam saja agar tidak membuat mereka khawatir.
__ADS_1
Zaidan enggan sebenarnya untuk mengangkat telpon dari kedua mertuanya yang ada di Makassar Sulawesi Selatan. Dia tidak ingin ketahuan jika Meylani diopname di rumah sakit gara-gara penyakit lamanya kambuh lagi.
"Assalamualaikum Pa," sapanya Zaidan setelah sambungan telepon tersambung.
"Waalaikum salam, Nak apa Meylani bersamamu? Soalnya papa sudah berulang kali hubungi nomor ponselnya Mey tapi tidak tersambung juga, kalau bisa apa kamu bisa menyampaikan kepadanya kalau kami menelpon," pintanya Pak Zulkarnain papanya Meylani.
"Eh a-nu itu Mey hpnya rusak Pa, makanya papa kesulitan untuk menghubungi nomor hpnya Mey," kilahnya Zaidan yang terpaksa harus berbohong menutupi kenyataannya yang ada.
"Ihh rusak yah nak,tapi kalau boleh tahu Mey dimana apa bisa kami bicara sebentar saja?" Harapnya Pak Zulk lagi.
"Maafkan saya pak, Mey sepertinya sedang sibuk rapat dengan atasannya sehingga tidak boleh diganggu, kalau ada yang ingin disampaikan melalui saya saja insha Allah akan saya sampaikan pesannya," usulnya Zaydan yang masih was-was takutnya salah bicara dan ketahuan dengan apa yang disembunyikannya.
"Oh iya yah maafkan Papa yang melupakan kalau kalian masih di kantor, kalau begitu tolong sampaikan padanya jika hari kamis nanti kami akan ke Jakarta, kebetulan ada teman yang merayakan pernikahan anaknya jadi kami diundang ke acaranya sekalian kami datang berkunjung ke rumahmu juga, kalian tidak keberatan kan kalau kami datang Nak?" Tanyanya Pak Zulk dari seberang telpon.
"Ya Allah tiga hari lagi ibu dan ayah ke sini, bagaimana kalau mereka mengetahui apa yang terjadi kepada Meylani putri sulungnya pasti ujung-ujungnya Papa dan Mama ikut memarahiku," Zaydan semakin dibuat panik dengan keadaan yang mendesaknya.
Ibu Santi Dwi Jayanti yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia mengambil alih telepon genggam milik suaminya.
"Ayah sini ibu yang bicara dengan menantuku," perintahnya Bu Santi yang segera berbicara dengan Zaydan yang tergagap berbicara dari seberang telpon.
"Iya Bu,ada apa?" Tanyanya Zaydan yang menutupi rasa gugupnya.
"Kamu katakan saja kepada Mey kalau kami akan datang Kamil, Meisya juga akan datang hari kamis nanti, tapi kami tidak merepotkan kalian kan Nak?"
"Kalau saya direpotkan juga tidak masalah kok Bu kalian kan orang tuanya istriku jadi itu bagiku tidak masalah kok," tukasnya Zaydan.
Percakapan keduanya berlangsung beberapa menit kemudian hingga Meylani yang sudah siuman pun Zaydan tidak menyadarinya.
__ADS_1