PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 6. Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

"Mey, Zaidan adalah pria yang baik, sholeh, bertanggung jawab, punya kerjaan yang bagus dan Mama yakin dia akan membahagiakan kamu, bukannya itu tipe pria yang dicari oleh perempuan,lagian papanya Zaidan sudah berjanji sejak dua puluh tahun lalu akan menikahkan dan menjodohkan anak-anak mereka kelak, kalian berdua adalah janji mereka," jelasnya Bu Santi.


Mey hanya terdiam mendengarkan mamanya itu, Mey hendak ingin mengejar ayahnya, tapi segera dicegah oleh Bu Santi.


"Tapi Ma, gimana caranya saya menikah dengan pria yang sama sekali aku tidak kenali dan sukai, bagaimana masa depan rumah tangga kami kedepannya, jika tidak ada cinta diantara kami," ujarnya Mey yang tidak ingin mengalah dengan keadaan.


"Mey, stop Nak kamu tahu ayahmu bagaimana sifat dan karakternya, jika sudah memutuskan sesuatu hal pantang baginya untuk merubahnya, tapi sepertinya ayahmu ingin memberikan kesempatan kepada laki-laki yang kamu bilang akan datang melamar, jadi Mama harap kamu manfaatkan kesempatan ini nak," bujuknya Bu Santi.


"Tapi ma, Mas Bisma itu berada di luar negri di Malaysia sudah dua tahun lebih dan janjinya akan balik tahun depan, Mama aku mohon bantu aku bujuk dan rayu ayah agar membatalkan pernikahanku," Mey berlutut di hadapan mamanya itu.


Bu Santi membantu anaknya untuk bangkit dari posisinya itu," putriku jangan seperti ini Nak, kamu tidak pantas berlutut di hadapannya mama, lagian mama tidak mungkin bisa menggoyahkan komitmen yang sudah diputuskan oleh ayahmu, kamu mengertilah dan berdamai dengan keadaan, jangan menyiksa dirimu sendiri, satu hal yang perlu kamu ketahui pacaran berapa lama pun kalau tidak ada jodoh pasti ada-ada saja masalah yang terjadi untuk memisahkan cinta kalian, begitupun sebaliknya nak, Mama pinta padamu shalat istikharah lah nak dan meminta lah kepada Allah SWT yang terbaik untuk kehidupanmu," nasehatnya Bu Santi yang berasa iba melihat ketidakberdayaan putrinya.


Meylani terduduk pasrah di atas sofa ruang tamu rumahnya. Air matanya terus menerus membasahi pipinya itu. Dia tidak menyangka jika kepulangannya kali ini adalah untuk menghadiri acara pernikahannya sendiri.


Meylani menatap palpon rumahnya itu dengan sesekali menyeka air matanya," ya Allah… apa yang harus aku perbuat, aku tidak mungkin menang melawan kehendak ayah dan mama, aku tahu sifat mereka gimana, ya Allah… aku sudah janji kepada Mas Bisma hingga dia balik ke Jakarta, aku sangat mencintai Mas Bisma ya Allah," air matanya tak henti-hentinya menetes membasahi pipinya itu ia terpuruk dalam tangisnya.


Meysa dan Kamil yang melihat kakak sulungnya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja hanya mampu menjadi pendengar dan penonton setia saja, tanpa ada niatan untuk menimpali percakapan mereka.

__ADS_1


"Kak kasihan yah dengan kak Meylani, harus menjalani pernikahan tanpa cinta, tapi kita tidak punya pilihan lain untuk mengikuti dan menuruti keputusan ayah, lagian selama ini ayah yang selalu mengikuti apapun keinginan kita, jadi menurut kakak sebaiknya kak Mey menerima pernikahannya agar kedepannya keluarga besar kita aman dan damai seperti sediakala, saya tidak suka jika ada pertengkaran apapun dalam rumah kita," ujarnya Kamil yang segera berlalu meninggalkan adik bungsunya itu.


Meysa masih berdiri di ujung tangga memperhatikan apa yang diperbuat oleh kakaknya itu.


"Apa yang dikatakan oleh kak Kamil memang benar adanya, tapi kan bukan ayah dan mama yang jalani pernikahan tapi,kak Mey tapi entahlah bagaimana aku kan masih kecil otakku belum sanggup untuk memikirkan masalah pelit seperti ini," gumamnya Meysa.


Meylani menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjangnya yang baru sekitar empat bulan tidak ditempatinya.


Pak Zulkarnain dan Bu Santi berbincang-bincang dalam kamar pribadinya sedangkan beberapa anggota keluarga, kerabat dan tetangganya sudah balik ke rumah masing-masing.


Bu Santi naik ke atas ranjangnya dan bersandar ke headboard tepat di sampingnya Pak Zulkarnain, "Ayah bagaimana kalau pria yang katanya pacaran dengan Mey benar-benar datang dan menggagalkan rencana pernikahannya dengan Nak Zaidan, apa yang harus kita katakan kepada calon besan?" Bu Santi mulai khawatir dengan keputusan suaminya itu.


Pak Zulkarnain menghentikan kegiatannya yang sedang memainkan ponselnya itu sambil membuka kacamata hitamnya yang sedari tadi bertengger di atas hidungnya.


Meylani menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjangnya yang baru sekitar empat bulan tidak ditempatinya.


Pak Zulkarnain dan Bu Santi berbincang-bincang dalam kamar pribadinya sedangkan beberapa anggota keluarga, kerabat dan tetangganya sudah balik ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Bu Santi naik ke atas ranjangnya dan bersandar ke headboard tepat di sampingnya Pak Zulkarnain, "Ayah bagaimana kalau pria yang katanya pacaran dengan Mey benar-benar datang dan menggagalkan rencana pernikahannya dengan Nak Zaidan, apa yang harus kita katakan kepada calon besan?" Bu Santi mulai khawatir dengan keputusan suaminya itu.


Pak Zulkarnain menghentikan kegiatannya yang sedang memainkan ponselnya itu sambil membuka kacamata hitamnya yang sedari tadi bertengger di atas hidungnya. Kacamata baca yang selalu menemaninya jika membaca sesuatu.


Pak Zulk tersenyum seraya memeluk tubuh istrinya itu," kamu tidak perlu takut, cemas yang berlebihan mengenai keputusanku itu, coba kamu pikirkan apa pria yang dianggap pacarnya Mey akan datang besok? Perjalanan dari Malaysia Kuala Lumpur ke Indonesia tepatnya di Makassar bukan hanya sehari, ini luar negeri bukan Indonesia yang main langsung balik saja kalau ingin, tidak segampang itu jika ingin pulang pasti banyak surat-surat yang meski diurusnya apalagi dia itu TKI," jelasnya Pak Zulk.


Bu Santi baru bisa bersikap tenang dan lega mendengar penjelasan dari mulut suaminya itu.


"Saya terlalu takut ayah, gimana kalau keputusan ayah bisa membuat kita sekeluarga malu dan tidak punya muka di depan keluarga besan, mereka sudah jauh-jauh dari Jakarta untuk melamar putriku, persiapan pun sudah hampir seratus persen, kalau tidak jadi aku tidak tahu harus berbuat apa," ucapnya sendu Bu Santi.


Pak Zulkarnain juga awalnya memutuskan itu ragu-ragu dan ketakutan awalnya, tapi setelah mencari tahu informasi yang akurat, beliau baru bisa tenang dan bernafas lega.


"Besok kita tunggu saja Mey pasti akan tunduk dan menuruti permintaan kita semua, Nak Zaidan anak yang baik ayah yakin bisa membimbing Meylani untuk menjadi istri yang baik, sholeha dan menjadi penghuni surga kelak, bukannya ayah egois menjodohkan mereka, tapi demi kebahagiaan putriku Bu saya menerima pinangannya Mas Hadi Rudyatmo," ujarnya Pak Zulkarnain.


"Ibu juga beranggapan seperti itu, lagian masa kecilnya Zaidan hingga dewasa pernah kita lihat langsung bagaimana didikan kedua orang tuanya, makanya Ibu terima dan setuju Mey menikah dengan Zai itulah alasannya," ungkap Bu Santi.


"Benar sekali apa yang kamu katakan istriku Mas Rudi mendidik anak-anaknya sangat baik, saya yakin Zaidan juga seperti itu,"

__ADS_1


__ADS_2