
Meylani tidak mengerti dan tidak menduga jika suaminya ternyata tidur di sampingnya dengan memeluk erat tubuhnya.
"Sejak kapan Abang Zai tidur di sampingku? Apa gara-gara pelukannya sehingga tidurku nyenyak dan bisa bermimpi indah yah," tebaknya Meylani.
Meylani segera menurunkan tangannya suaminya dari atas perutnya, tapi Zaidan malah menaikkan kembali tangannya kembali untuk memeluk tubuhnya Meylani. Berulang kali seperti itu hingga Meylani pun kelelahan dan pasrah saja.
"Astaughfirullahaladzim Abang Zai ish bikin jengkel saja!" Gerutunya Meylani yang langsung di dekat telinganya.
Hingga suara gerutunya Meylani terdengar seperti menggelitik di telinganya Zaidan. Dia semakin mengeratkan pelukannya itu ditubuhnya Meylani.
"Aku mohon sekejap saja seperti ini, tolong jangan banyak gerak aku terlalu merindukan dirimu istriku," lirihnya Zaidan yang memeluk tubuhnya Mey dari arah belakang.
Meylani pun tidak bergerak sedikitpun dan menuruti perkataan suaminya. Zaidan mengendus wangi aroma tubuhnya Meylani dibalik rambut panjangnya Mey yang kebetulan tidak memakai hijab pagi itu.
"Kamu tahu gak demi apa aku berbuat seperti ini? Karena demi cintaku padamu Meylani Ramadhani Zulkarnain," imbuhnya Zaidan.
Tangannya Zaidan mulai bergerilya dan menjalar kemana-mana hingga membuat sekujur tubuhnya Meylani merinding.
"Ugh," cicitnya Meylani yang berusaha untuk menahan serangan demi serangan yang dilakukan oleh Zaidan di atas tubuhnya yang masih berpakaian lengkap itu.
Jari jemarinya menelusup ke arah paling dalam dibalik piyama tidurnya Meylani. Zaidan hanya tersenyum smirk melihat respon tubuhnya Meylani yang diperlihatkan langsung.
Tapi baru saja hendak ingin berbuat lebih, keduanya mendengar suara teriakan dari arah luar. Keduanya pun spontan berhenti dari kegiatan-kegiatannya itu. Zaidan mengerang keras saking kesalnya karena sudah siap untuk memulai aktifitas paginya bersama sang istri terganggu.
"Astauhfirullah aladzim apa yang terjadi Bang?" Tanyanya Meylani yang mulai panik.
Zaidan memukul kasur sebelahnya karena harus kembali gagal melanjutkan pekerjaannya yang sudah sangat didambakannya itu.
"Pakai hijabmu sekarang, kita akan melihat apa sebenarnya yang terjadi di luar sana," pintanya Zaidan.
Dia pun juga segera memakai baju kaos oblongnya dan memperbaiki celana kaosnya yang berwarna biru itu.
Keduanya pasangan suami istri segera berjalan ke arah pintu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumahnya. Sepagi ini sudah terjadi keributan. Keduanya semakin mempercepat laju langkah kakinya setelah mendengar teriakan beberapa orang.
__ADS_1
Hingga Meylani mengerutkan keningnya mendengar salah satu dari mereka berteriak histeris.
"Awas burungnya bang Kamil pengen terbang!" Teriaknya Nayla sembari menutup kedua matanya menggunakan tangannya sendiri.
Sedangkan Bu Ijah,Dara dan Rianti Faruq segera mengalihkan perhatiannya dari kejadian itu. Mereka sungguh sangat malu melihat handuknya Kamil Pasha yang tiba-tiba melorot ketika tanpa sengaja melerai perkelahian antara Jamal Abdillah dan Gunawarman Haerul.
"Burung? Burung apa yang mau terbang, emangnya Kamil adikku pelihara burung yah?" Meylani semakin keheranan dengan perkataan seseorang itu.
Zaidan tidak peduli dengan ucapan keheranan dari istrinya itu. Ia hanya semakin mempercepat langkah kakinya menuju ruangan paling belakang rumahnya dekat kamar-kamar para asisten pembantu rumah tangganya itu.
"Baiklah karena kalian menganggap diri kalian jagoan sehingga tidak ada yang mengindahkan dan mendengarkan peringatanku baiklah saya akan segera menghubungi nomor kantor polisi agar kalian bisa ditangani secepatnya oleh pihak kepolisian!" Ancamnya Pak Rudiyatmo.
Gunawan dan Jamal serta yang lainnya terkejut mendengar ultimatum dari pak Rudy papanya Zaydan. Mereka reflek berhenti dari aktifas berkelahi mereka.
"Apa yang terjadi di dalam sini!?" Tanya Zaidan dengan suara yang cukup menggelegar memenuhi ruangan setiap sudut rumahnya itu.
Mey menutup mulutnya melihat kedua adik sepupunya itu saling baku tumpuk. Gunawan berada di bawah dan Jamal berada di atas tubuhnya Gunawan lebih kecil dari Jamal yang tubuhnya jangkung dan lebih berisi dan berotot.
"Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi, papa dan mama kapan datangnya, Nayla juga dengan gadis cantik itu siapa? Dara juga kenapa terus menerus menangis dan hanya memakai selimut saja," Meylani memijit pelipisnya yang mulai pusing.
"Meylani menantu kesayangannya Mama," ucapnya Bu Liviana yang segera berjalan tergopoh-gopoh ke arah anak menantunya itu.
Meylani pun berjalan ke arah kedatangan ibu mertuanya itu. Meylani meraih punggung tangannya Bu Livia kemudian mengecupnya.
"Mama sudah lama datangnya,kok enggak ngabarin kami kalau Mama mau datang?" Tanyanya Mey yang melupakan sejenak masalah adik sepupunya itu karena gembira melihat mama mertuanya.
"Lupakan masalah alasan kedatangannya mama dan papamu ke sini nak, yang paling utama dan terpenting adalah mengatai masalah anak muda yang sama-sama jagoan itu," tunjuknya Bu Livia menatap ke arah kedua pemuda yang susu berdiri dari posisi baringnya.
Keduanya barusan berguling-guling saling ingin mengalahkan satu sama lainnya. Hingga mereka menjadi tontonan gratis dari orang yang tinggal di dalam rumah itu.
Meylani menutup mulutnya saking terkejutnya melihat wajahnya Gunawarman dan Jamal yang sudah sama-sama babak belur.
"Gun! Jelaskan pada kakak apa yang terjadi? Dan kamu Jamal kenapa Dara sedari tadi tidak berhenti menangis seperti itu!" Bentaknya Meylani yang mulai merasakan kepalanya nyut-nyutan itu.
__ADS_1
Dara yang sudah dibantu berpakaian oleh bi irjawanti segera berjalan terhuyung-huyung ke arah Meylani majikan perempuannya itu. Ia kemudian bersimpuh di hadapan Meylani dengan suara tangisannya yang tidak reda sama sekali.
Pak Rudi tersenyum melihat kedatangan anak menantu dan putra semata wayangnya setelah adegan perkelahian terjadi.
"Nyonya Mey ini semua gara-gara saya, sehingga mereka berkelahi, saya yang menyebabkan seperti ini," ucapnya Dara dengan raut wajah memelasnya itu.
Meylani menatap intens ke arah Jamal dan sudah mengerti sedikit jika permasalahan tersebut adalah bersumber dari hubungan antara Dara Inayah dan Jamal Abdillah.
"Jamal apa kamu tidak mendengarkan perkataannya kakak kemarin malam? Ataukah kamu ingin hidup seperti ini terus? Kalau memang kamu tidak ingin menikahi Dara sebaiknya kamu angkat kaki dari dalam rumahku!" Tegasnya Meylani yang penglihatannya sudah berkunang-kunang seolah apa yang dilihatnya sudah bergoyang-goyang dan berputar-putar dipenglihatannya.
"Nyonya saya setuju menikah dengan Mas Jamal asalkan jangan usir mas Jamal dari sini, saya tidak bisa hidup tanpa mas Jamal," rengeknya Dara yang masih berlutut di hadapannya Meylani.
Bu Livia segera membantu Dara untuk bangkit dari posisi berlututnya,"Dara jangan seperti ini Nak, semuanya butuh waktu dan kesabaran jangan juga kamu mengemis seperti ini lagian Meylani tidak sekejam yang kamu bayangkan," bujuknya Bu Livia penuh kelembutan.
"Kak Mey ini semua salahku yang selalu tidak bisa mengontrol diriku jika bertemu dengan Dara," ungkap Jamal yang tidak berani menatap netra hitam milik Meylani.
Kamil segera cabut dari dalam ruangan itu karena terlalu malu hanya memakai handuk saja. Apalagi tadi handuk berwarna merahnya melorot hingga hanya menyisakan celana under wearnya saja.
Bibi Ijah dan mang Jono terkekeh melihat Kamil yang diam-diam meninggalkan tempat tersebut.
"Jadi apa Nak Jamal Abdillah setuju menikahi Dara?" Tanyanya Pak Rudi.
Zaidan yang melihat Meylani menekan dan mengurut pelipisnya merasakan ada keanehan dan keganjalan yang terjadi pada Meylani. Sehingga ia segera berinisiatif untuk mendekati istrinya itu.
"Kenapa penglihatanku semakin kabur, semuanya jadi hitam," lirihnya Meylani.
Tapi belum mampu Jamal menjawab pertanyaan dari pak Rudy, tubuhnya Meylani sudah terhuyung ke belakang dan ambruk dalam pelukannya Zaidan suaminya sendiri.
"Mey Istriku!"
Jerit Zaidan yang berjalan cepat untuk menolong Meylani yang sudah tidak sadarkan diri.
Semua orang yang melihat Meylani pingsan segera berlari cepat untuk membantu Zaidan.
__ADS_1