PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 18. Balik Ke Jakarta


__ADS_3

"Mey hari ini apa kamu mau langsung balik ke rumah kita atau ke rumahnya mama dan papa?" Tanyanya Zaidan sambil membuka kunci pintu mobilnya.


Mey menghentikan kegiatannya sesaat sambil berfikir sejenak apakah akan kemana terlebih dahulu.


"Gimana kalau Abang antar saya dulu ke kosan untuk ambil semua pakaian dan barang-barangku sekalian berpamitan dengan ibu kos dan teman yang lain," imbuhnya Mey.


"Baiklah nyonya Zaidan kemanapun tempat yang kamu ingin datangi dan kunjungi untuk beberapa kedepannya sebelum hari senin insya Allah aku siap kok," ucapnya Zaidan yang memperlihatkan senyuman terindahnya di depan Mey.


Tapi karena di dalam hatinya Mey sudah terpatri sebuah nama pria yang sebelumnya mengikat janji dengannya bernama Bisma, ia hanya melihat senyuman itu senyuman yang tulus dan biasa saja. Padahal semua wanita yang melihat senyuman itu akan jatuh cinta dan klepek-klepek padanya.


Mey terkejut melihat rumah yang baru dibeli Zaidan suaminya itu khusus untuk istrinya tercinta.


"Sebenarnya kerjaanya sebagai apa,kok bisa dan sanggup membeli rumah segede ini? Setahu saya papa mertua pak Rudi kerjanya hanya seorang tentara biasa saja sedangkan mama Bu Ariani hanya kepala bidan di salah satu rumah sakit pemerintah, aku menjadi cukup penasaran dengan kerjanya,"


Mey memperhatikan sekitar rumahnya itu yang sungguh ideal, besar dan cukup mewah. Ia tidak mengeluarkan suaranya jika dia mengagumi rumah pemberian suaminya itu. Karena ia tidak ingin dianggap kampungan dan lebay.


Mey setelah menyiapkan makan malam apa adanya, karena belum sempat belanja bulanan di swalayan sehingga ia hanya pesan makanan online saja.


"Abang maaf yah, mungkin khusus malam ini kita makan makanan dari luar soalnya aku periksa tadi kulkasnya masih kosong melompong," ungkap Mey sembari mendudukkan bokongnya ke atas salah satu kursi yang ada di depannya.

__ADS_1


Zaidan pun ikut duduk di hadapannya Mey yang lebih duluan duduk," tidak apa-apa kok selama kamu yang menyiapkan makanannya saya akan makan dengan lahap," ujarnya Zaidan lagi.


Mey hanya menanggapi dengan biasa saja perkataan dari suaminya itu kemudian mulai menuang nasi ke atas piring kosong tepat di depannya Zaidan.


Mey sesekali menatap ke arah suaminya itu dan membuatnya enggan dan segan untuk berbicara jujur apa yang sudah dipikirkan olehnya beberapa hari belakangan ini.


Zaidan menghentikan kunyahan makanannya itu sambil melihat Mey yang seperti tidak menyukai makanannya itu.


"Kenapa belum makan? Apa kamu enggak suka dengan masakannya yang kamu pesan sendiri?" Tanyanya dengan selidik Zaidan seraya menautkan kedua alisnya melihat Meylani Ramadhani Zulkarnain.


Hemm…


Zaidan berdehem agar melancarkan apa yang akan dikatakannya itu, "Abang maaf sebelumnya saya ingin mengatakan jika pernikahan kita ini hanya sekedar status saja, jadi kita memang satu kamar tidur tapi, tidak boleh ada kontak fisik sedikitpun sebelum aku benar-benar mencintaimu dan hanya namamu di hatiku, jika memang Abang sanggup dalam satu tahun membuatku hanya kamu pria yang aku cintai maka saat itu barulah aku menyerahkan segalanya hidupku untukmu seorang,"


"Abang tidak boleh mengatakan kepada siapapun apa yang terjadi di dalam rumah tangga kita, makannya saya akan pekerjakan pembantu di rumah kita ini hanya paruh waktu saja, yaitu pagi jam 7 sampai jam 5 saja, jika mama atau Ibu datang berkunjung atau siapapun itu bertamu ke rumah, aku mohon perlihatkan kepada mereka jika kita ini pasangan suami istri yang serasi, bahagia dari segi sisi apapun, siapapun orangnya Abang harus pintar berakting agar tidak satupun yang mengetahui kondisi dalam rumah tangga kita,"


"Apa ada lagi mungkin yang mau disampaikan?"


"Jika esok atau kapan pun pacarku datang, saya tidak ingin Abang permasalahkan hubungan kami itu, jadi berlomba-lombalah Abang untuk mendapatkan hatiku," jelasnya Mey panjang lebar yang akhirnya bisa makan makanannya dengan sepuasnya karena serasa beban beratnya sudah menghilang dipundaknya itu.

__ADS_1


"Kalau hanya itu gampang saja, apapun yang kamu katakan akan aku penuhi asalkan kamu ingat kamu itu adalah istriku dan tahu jaga diri dengan baik, dimanapun kamu berada walau kita tidak saling mencintai sebelumnya," timpalnya Zaidan Khaizan Rudiyatmo.


Keduanya segera mengakhiri acara makan malam bersama pertama kalinya malam itu hanya berdua saja.


Zaidan menyimpan dua buah kartu ke atas meja," ini kartu ATM debet dan kredit bisa kamu pakai dan pergunakan untuk keperluan hidupmu, sehari-hari dan untuk mengurus keperluan dan kebutuhan rumah, kalau bisa kamu resign dari tempat kamu bekerja sebelumnya dan mencari pekerjaan lain di dekat sini karena tempat lama kamu itu sangat jauh dari sini," ucap Zai sambil meninggalkan Mey yang masih terdiam terus menatap kedua kartu beda warna itu.


"Iya sih cukup sangat jauh malah jarak dari sini ke tempat kerjaku jika harus bepergian setiap hari dengan jarak tempuh yang sangat jauh pakai banget, tapi pasti akan sangat sedih dan berat jika harus meninggalkan mereka teman kerja yang sudah cukup akrab dan dekat denganku, tapi aku tidak mungkin menentang keputusan dan keinginan suamiku walaupun kami hanya menikah dan menjalin hubungan yang seperti ini, tapi aku juga berharap dapat ridho dari Allah SWT melalui menjalankan tugas sebagai seorang istri,"


Satu minggu kemudian…


Meylani hari ini datang ke tempat kerjanya yang lama,m untuk segera berpamitan dan memberikan surat pengunduran dirinya ke kantor personalia. Jujur saja ia cukup sedih dan berat hatinya untuk meninggalkan beberapa sahabat dekat dan akrabnya.


Mereka saling berpelukan satu sama lainnya, hingga tangis haru dari Mia dan Metty sahabat terbaik selama bekerja di Mall tersebut.


"Mey, pasti kami akan sangat merindukanmu, kamu tahu gak selama kamu pulang kampung kami berdua selalu berharap, agar kamu tidak meminta resign tapi ternyata kamu memilih mengundurkan diri,kami pasti sangat sedih dengan kepergianmu dari sini," ucapnya Mia sambil memeluk tubuhnya Meylani.


Mia melerai pelukannya, sekarang Metty lagi yang memeluk tubuh Meylani, "Iya Mey,jujur saja saya sedih dan kesepian jika kamu pergi dari sini,tapi karena ini sudah jadi keputusannya kamu, kami bisa apa kami hanya bisa menghormati keputusanmu saja yang paling penting adalah dimanapun kamu berada dan bekerja asalkan kau bahagia itu sudah cukup," ucapnya Metty sambil menyeka air matanya yang menetes membasahi pipinya Mey.


"Aku tidak bisa berkata-kata lagi,kalian sungguh luar biasa sebagai sahabat sudah selalu ada disaat bahagia dan sedihku, sungguh berat rasanya hatiku untuk pergi dari sini, tapi aku tidak mungkin menentang keputusan suamiku bestie, jadi mau tidak mau aku harus ikuti kemauannya, semoga saja ini bukan akhir dari perpisahan kita tapi awal dari kebahagiaa kita semua yang nantinya akan menjadi pengerat hubungan diantara kita, semoga tali silaturahmi tidak putus disini saja hingga kelak kita masing-masing punya anak hubungan persaudaraan dan persahabatan kita masih seperti dulu lagi," imbuhnya Meylani.

__ADS_1


Mia dan Metty baru tersadar setelah Meylani meyelesaikan perkataannya yang cukup panjang kali lebar itu.


"Mey! Apa benar kamu sudah menikah?!" Teriak Mia dan Metty bersamaan.


__ADS_2