PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 82. Indahnya Pernikahan


__ADS_3

Persiapan Ijab kabul antara Dara Inayah dan Jamal Abdillah hampir selesai. Semua persiapan dilakukan oleh keluarga dari belah pihak Meylani dan tentunya dari Zaidan. Berkat bantuannya dari kedua mertuanya Meylani sehingga semuanya berjalan lancar.


Sekitar jam sepuluh malam, kedua orang Dara Inayah datang dari kampung bersama dengan kedua adiknya Dara dan juga seorang anak kecil laki-laki yang berusia sekitar tiga tahun itu.


"Assalamualaikum, selamat datang Bu Cahyani dan pak Fuadi di rumah kami yang sederhana ini," ucapnya Bu Livia yang menyambut kedatangan rombongan keluarga besar Dara dari kabupeten M itu.


"Makasih banyak atas sambutannya Bu kami sungguh terharu dan tersanjung dengan keramahan kalian," pungkas Pak Fuadi.


"Nyonya Besar terlalu merendah, rumah yang cukup besar seperti bak istana saja disangka sederhana Nyonya," balasnya Bu Cahyani dengan tersenyum ramah.


"Kalau gitu mari silahkan masuk pak,Bu dan yang lainnya kamar kalian sudah kami persiapkan jadi kalian langsung beristirahat saja. pasti kalian sangat capek dengan menempuh perjalanan yang cukup jauh dari kabupaten M ke kota Jakarta," ujarnya Bu Livia sambil merangkul ibunya Dara seperti sanak saudaranya sendiri yang datang.


"Pak Jono tolong diturunkan barang-barang bawaan kami ada beberapa sedikit oleh-oleh dari kampung,maaf hanya sedikit Bu semoga bermanfaat untuk kalian semua yang ala kadarnya," ucap Pak Fuadi yang memerintahkan kepada supir pribadinya Meylani untuk menurunkan sayur dan buah segar yang langsung dibawa sendiri langsung dari hasil kebunnya bapaknya Dara.


"Alhamdulillah, Masya Allah kalian sungguh berhati mulia sudah menyempatkan waktu untuk membawakan kami oleh-oleh yang sungguh banyak, entah apa kami sanggup membalas kebaikan kalian," tukasnya Bu Livia lagi.


"Ibu tidak perlu berkata seperti itu, malahan kami yang seharusnya berkata seperti itu, karena berkat keluarga ibu alhamdulillahnya Dara bisa menjadi wanita yang lebih baik dan jasa-jasa kalianlah yang sungguh berjasa dan menjadikan anak kami lebih baik dari sebelumnya," tampiknya Bu Cahyani yang berjalan beriringan dengan suaminya serta yang lainnya.


Perbincangan mereka semua berlanjut ke dalam ruang tengah. Semua orang bersyukur karena kondisi Meylani sudah kembali pulih dan membaik seperti sediakala sehingga pagi esok sudah bisa balik ke rumah untuk menyaksikan langsung akad nikahnya Jamal Abdillah adik sepupunya itu.


Sedangkan di rumah sakit, Meylani nampak gelisah. Ia kesulitan malam ini untuk memejamkan kedua pasang matanya.


"Astaughfirullahaladzim, maafkan aku yah Allah sudah salah melangkah dan memberikan jalan dan harapan kepada Mas Bisma padahal itu tidak mungkin kami bersatu kembali karena saya sudah menikah dan bahagia bersama bang Zaidan. Apalagi kami akan segera memiliki anak." Mey membalik tubuhnya ke arah kanan.

__ADS_1


Sedangkan Kabir tertidur di atas sofa yang tidak sanggup juga tertidur pulas karena ia masih khawatir dengan keadaannya Meylani dan juga calon bayinya.


"Esok jika saya bertemu kembali dengan mas Bisma saya harus segera mengatakan dan menjelaskan kepadanya, jika hubungan kami sudah lama kandas ditengah jalan, tidak ada gunanya mengungkit masa lalu, hanya akan saling menyakiti saja, jika tidak segera diakhiri secepatnya kekeliruan ini," tekadnya Meylani.


Meylani berusaha untuk bangun andaikan bisa balik ke rumahnya dalam kondisi seperti itu dan bisa pulang kapan saja keinginannya pasti ia sudah balik ke rumahnya.


Zaidan tanpa sengaja sudut ekor matanya melihat istrinya sudah terduduk di atas ranjang dengan kedua kakinya saling terlipat duduk sila di atas ranjang bangkar rumah sakit.


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Kenapa meski terduduk seperti ini, kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Zaidan yang sangat mencemaskan keadaan dan kondisi istrinya itu.


Meylani hanya melihat dan menatap intens ke arah suaminya itu," ya Allah kenapa aku merasa sangat berdosa telah berpelukan dengan mas Bisma, tapi entah kenapa aku perhatikan rasa khawatir berlebihan yang dirasakan oleh bang Zai, aku tidak melihat perasaan itu dari raut wajahnya Bisma, sedikitpun rasa cemas itu nggak ada,"


Zaidan memeriksa kondisi seluruh tubuhnya Meylani sedangkan Meylani hanya terkekeh melihat sikapnya Zaidan yang menurutnya sangat lucu.


"Kenapa kau tertawa, apa ada yang lucu?" Tanyanya Zaidan yang kebingungan melihat sikapnya Meylani.


Zaidan menangkupkan tangannya dibawah dagunya Mey," kamu inginkan apa sayang, insha Allah kalau Abang sanggup memenuhi keinginan kamu pasti akan aku penuhi apapun itu, selama aku mampu kenapa enggak," tampiknya Zaidan.


Meylani mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk karena cukup sungkan, segan dan malu jika ia mengungkapkan secara langsung keinginannya.


"Ya Allah Mey kamu kenapa harus malu seperti ini sih, tahu enggak kalau reaksi dan raut wajahnya seperti ini membuatku ingin menerkam kamu loh dan melakukannya langsung, tapi masalahnya kamu lagi hamil muda jadi tidak mungkin aku lakukan itu walau aku sangat…" ucapannya Zaidan terpotong.


Kedua pasang matanya Zaidan terbelalak saking terkejutnya, kaget dengan apa yang dilakukan oleh Meylani.

__ADS_1


Meylani menekan tengkuk leher suaminya itu kemudian memiringkan sedikit kepalanya untuk memudahkan melakukan kegiatannya. Zaidan yang mendapatkan serangan langsung yang sungguh sejak tadi diinginkannya segera membalas luuu maaa taan demi ciuman dari bibir seksi istrinya yang merah merona itu.


Zaydan tersenyum penuh kemenangan karena Meylani sendiri yang langsung berinisiatif untuk melakukan kewajibannya tersebut sebagai seorang istri. Zaydan segera menghentikan kecupannya ketika nafas keduanya ngos-ngosan seolah pasokan udara di sekitar rongga hidungnya sudah semakin menipis


Zaidan menyeka ujung sudut bibirnya Meylani," sayang kamu itu lagi hamil muda, sebaiknya kita tidak boleh melakukan hal ini dulu sementara waktu karena takutnya dede bayi belum kuat untuk bertemu dengan ayahnya," ucapnya Zaidan yang berusaha untuk menahan haaas raaat nya sendiri yang sudah menggebu-gebu hingga tidak tertahankan dan terkontrol lagi.


Zaidan sesekali membuang nafasnya dengan cukup keras karena ia berusaha keras untuk menahan dan membuang keinginannya itu yang sudah bergelora di dalam dadanya.


Meylani sama sekali tidak mengindahkan peringatan dan larangannya Zaidan malah mendekatkan wajahnya ke telinganya Zaidan," abang kan bisa melakukannya dengan perlahan dan sangat pelan aku yakin dede bayinya tidak masalah,kalau menurut bundanya katanya tidak apa-apa kok ayah,"


Meylani segera merebahkan tubuhnya ke atas bangkar ranjangnya dan menarik tubuhnya Zaidan hingga Zaidan jatuh tepat di atas tubuhnya Mey. Tapi, Zaidan sangat berhati-hati dan menjejakkan tangannya di sampingnya Meylani.


Sang istri semakin berani saja menggoda suaminya itu dengan memulai pekerjaannya seolah ia yang akan menuntun suaminya itu untuk berbuat lebih atas dirinya di tengah malam.


Gluk… gluk…


Suara lehernya Zaidan yang tidak mampu dan kesusahan menelan air liurnya sendiri lagi menahan rasa nikmat yang tidak tertahankan.


Perlahan-lahan Zaidan mampu melakukan tugasnya dengan baik sehingga lenguhan kecil dan panjang meluncur dari bibir mungilnya Meylani yang merah merona tanpa polesan make up seperti gincu sedikitpun.


"Hemph Abang, aahh!" Teriaknya Mey yang segera mengigit kecil ujung bibirnya karena malu jika terlalu mengeraskan suaranya itu.


Kedua pipinya Meylani memerah karena sungguh malu dilihat langsung oleh Zaidan dengan sikapnya yang manja itu. Padahal bukan pertama kali atau kedu kalinya juga. Mereka sudah sering kali berbuat seperti itu juga.

__ADS_1


"Tidak usah seperti itu sayang kasihan bibirnya kalau harus sampai lecet," cegahnya Zaidan Khaizan Rudiyatmo yang tersenyum penuh kegembiraan.


Wajib baca like dan komentar setiap bab dan setiap hari yah jika ingin mendapatkan give away bonus untuk reader paling setia yah. tunggu akhir bulan akan meluncur.


__ADS_2