PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 42 OTW Zoo


__ADS_3

Meylani kembali tercengang melihat kedua orang yang berjalan bergandengan di depannya. Karena keduanya sengaja memperlihatkan keromantisan mereka tanpa sungkan ataupun ragu.


"Kenapa mereka begitu santainya melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya mereka perbuat." Gerutu Meylani sambil menutup pintu rumahnya itu dengan rapat.


Meylani segera berjalan cepat agar tidak melihat keduanya memamerkan kemesraannya langsung,tapi ia kembali dibuat terkejut hingga kedua bola matanya membulat sempurna saking terkejutnya.


"Mbak Mey maaf yah katanya mas Zaidan Mbak itu duduknya di belakang bukan di depan," ketusnya Nayla.


Meylani yang sudah memegangi handle pintu mobil segera mengurungku niatnya karena mendengar perkataan dari Nayla.


Meylani menunjuk ke arah dadanya Nayla, "Tapi Abang dia itu hanya temannya Abang bukan istrinya Abang! Apakah lebih pantas dia yang hanya teman tidak jelas duduk di depan sedangkan saya adalah istri sahnya Abang!?" Kesalnya Meylani yang tidak terima harus duduk di kursi jok belakang.


"Ya Allah Abang sampai segitunya mempermainkan dan mengetes apakah Mbak Mey sudah mulai ada rasa padanya atau masih seperti dulu, padahal jujur saja aku merasa geli kalau berdekatan dengan pria, walau Abang kakak sepupuku sendiri,"


Zaidan melepas pegangan tangannya Nayla dari pinggangnya, ia kemudian berbisik di telinganya Mey," kalau kamu memenuhi tanggung jawabmu sebagai istriku pasti aku tidak akan mencari perempuan yang bisa membahagiakanku,"


Zaidan segera meninggalkan Meylani yang berdiri mematung mendengarkan perkataannya suaminya itu. Kedua pasang matanya membelalakkan ketika mendengar kata memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang istri.


"Mbak Mey apa kamu ingin berdiri terus seperti patung Pancoran atau mau ikut bareng kami ke Zoo!" Teriaknya Nayla.


"Nayla Latifah Hanum Salsabiela tidak perlu berteriak juga kali, telingaku masih normal jadi tidak usah berteriak kencang!" Sarkasnya Meilani seraya menghentakkan kakinya ke atas lantai.


Nayla dan Zaydan berusaha untuk menahan gelak tawanya melihat reaksinya Meylani. Keduanya segera terdiam dan kembali ke posisi semula seperti tidak terjadi sesuatu saja.

__ADS_1


"Kali saja budeg Mbak mungkin pengaruh angin kencang tadi jadi sempat nggak kedengaran," tukasnya Nayla yang berusaha sekuat tenaga menahan tawanya.


Prang!!


Brak!!


Bruk..


Suara pintu cukup keras ketika Meylani menutupnya saking kesalnya harus duduk di kursi jok belakang.


"Andaikan saya tau kalau seperti ini jadinya lebih bagus jalan-jalan ke mall atau nonton filmnya fast furious saja," dengusnya Mey sembari membuang nafasnya dengan cukup kasar.


Zaidan hanya tersenyum simpul menanggapi sikapnya Meylani tersebut.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja, bahkan aku akan melakukan segala upaya agar kamu bisa mengatakan padaku aku mencintaimu,"


"Ya Allah aku sudah membayangkan akan melewati hari liburan kami dengan tenang, santai tanpa hambatan dan gangguan ternyata harus melihat muka tebal tidak tahu diri perempuan itu, ih amit-amit deh kalau aku jadi dia pasti aku akan malu sangat mendekati dan bermesraan dengan suami perempuan lain, tapi bisa-bisanya yah ada orang seperti dia yang sama sekali tidak memiliki perasaan dan rasa harga diri dan martabat sebagai seorang wanita,"


Meylani duduk sambil memainkan ponselnya, tetapi perhatiannya malah tertuju pada kedua orang yang duduk di kursi jok depan . Tak henti-hentinya Meylani mengumpat dan mengomel, tapi sayangnya hanya dia yang mampu mendengar amarahnya.


"Abang kalau sampai di sana apa langsung pulang ke rumah atau mau temani aku di hotel nggak?" Tanyanya Nayla sambil memainkan ponselnya itu dengan tersenyum penuh arti.


Zaidan baru saja ingin berbicara menjawab pertanyaan dari Nayla tiba-tiba Meylani menjawab pertanyaan dari Nayla yang membuat keduanya tercengang.

__ADS_1


"Apa!! Nginap di hotel? Hey Nayla yang cantik apa kamu enggak nyadar yah jika pria yang kamu temani sekarang itu adalah suamiku! Mana harga dirimu sebagai seorang perempuan ha!! Heran yah sebagian wanita jaman sekarang, sudah mengetahui jelas status pria tapi masih saja digoda, tidak tahu diri banget jadi perempuan!" Herannya Meylani.


Nayla membelai lembut lengannya Zaidan, "Kamu marah! Kamu cemburu yah!? Tapi ngomong-ngomong suamimu ini tidak pernah dibelai sama istrinya jadi wajar saja kalau mas Zaydan mencari pelampiasan di luar sana melalui tanganku ini," ungkapnya Nayla yang semakin menyulut api emosionalnya Meylani.


Meylani memalingkan wajahnya ke arah samping sambil membalas perkataannya Nayla, "Ihs amit-amit! siapa juga yang cemburuan dan marah! Kalau kalian mau ke hotel silahkan saja, aku enggak keberatan kok," sanggahannya Meylani yang sebenarnya sudah terbakar api amarahnya.


"Kalau begitu ini jalan aku ke hotel barengan dengan mas Zai semakin terbuka lebar, Mas enggak keberatan kan kalau aku ajak nginap di hotel nanti subuh baru balik ke rumah," ucapnya Nayla yang sejujurnya sangat berusaha keras untuk menahan tawanya, bukannya tidak lihai berakting tapi lebih tidak bisa menahan tawanya yang sudah menjadi momok cobaannya satu hari ini.


.Zaidan segera membelokkan arah mobilnya di depan jalan. Nayla pun keheranan kenapa tiba-tiba merubah haluan. Mey yang baru saja menetralkan perasaannya setelah memarahi Nayla terkejut, ia melihat arah jalan yang dilalui oleh mobil yang dikemudikan oleh suaminya itu.


"Abang ini bukan arah jalan ke kebun raya Bogor loh," tampiknya Mey.


Meylani yang memajukan tubuhnya sedikit agar komunikasinya dengan suaminya lebih jelas terdengarnya.


"Meylani Ramadhani Zulkarnain jangan gangguin calon suamiku dong yang nyetir! Apa kamu tidak lihat kalau mas itu lagi serius nyetir mobil!" Dengusnya Nayla.


Meylani tidak mau tinggal diam begitu saja mendengar perkataannya Nayla," Hey! Nayla Latifah Hanum Salsabiela yang namanya panjang amat yang sudah ngalahin panjangnya tol Cipularang, aku itu sedang bicara dengan suamiku, ingat suamiku yah jadi kamu tidak usah repot-repot mencampuri pembicaraan kami berdua! Kamu itu orang luar tidak ada hubungannya dengan kami!" Bentaknya Meylani.


"Asyik ini baru bagus, kenapa baru sekarang keluarin tanduknya, kalau seperti ini kan kamu jelas-jelas sudah masuk perangkap kami, semoga saja Mbak Mey segera mengakui bahwa dia mencintai Abang Zai, aku sudah capek berakting menahan tawaku,"


Nayla tersenyum pahit dengan kenyataan yang begitu membuatnya dilema, tapi demi iming-iming hadiah dan bonus gede dari kakak sepupunya itu, akhirnya Nayla harusnya menjalani perannya untuk beberapa hari kedepannya sebagai pelakor palsu.


"Nayla mas akan menemanimu di kamar hotel saja, daripada harus ke kebun binatang buat capek dan kepanasan saja, bukannya itu lebih mendingan, apalagi kita berduaan aku yakin kamu semakin kepanasan," imbuhnya Zaydan yang mengarahkan wajahnya ke wajah Nayla yang seolah akan berciuman.

__ADS_1


Meylani segera memisahkan keduanya agar tidak berciuman di depannya.


"Abang Zaydan Khaizan Rudiyatmo stop! Kalau Abang masih berhubungan dengan perempuan pelakor ini! Turunkan aku di depan aku tidak ingin melihat kemesraan kalian lagi!" Geramnya Meylani yang sudah muak melihat hubungan palsu mereka.


__ADS_2