
Perkataan dari mamanya Meylani selalu terngiang-ngiang di telinganya. Meylani duduk di depan meja riasnya menunggu kedatangan make up dari wedding organizer yang dipilih oleh kedua orang tuanya itu.
Tetapi,rasa egois, rasa cinta dan sayangku terhadap Bisma begitu besar sehingga mampu menutupi hatinya untuk memenuhi dengan ikhlas permintaan dari kedua orang tuanya itu.
Bu Santi menyentuh punggung tangannya Meylani, "Putriku apa kamu tidak ingin menyentuh dan melihat keindahannya surga?"
Meylani melongok ke arah mamanya itu sambil terus melanjutkan mencicipi satu persatu gorengan yang ada di depannya.
"Woooo Mama siapa yang enggak mau masuk surga? Aku mau pake banget malah," ucapnya Meylani antusias.
Bu Santi tersenyum simpul sambil menoel bakwan udang buatan adiknya itu.
"Caranya gampang kok, asalkan kamu bersedia mengikuti apa yang Mama katakan,selama ini kamu sudah rajin shalat lima waktu, Sunnah, puasa juga, sedekah, sudah berbakti sama ayah sama mama, kamu juga sudah jaga martabat perempuan iya, umroh juga sudah, walaupun haji belum,tapi masih ada satu yang kurang padahal pekerjaan ini yang paling banyak bisa raih saldo pahalanya," ungkapnya Bu Santi dengan santainya.
"Apaan tuh Ma, pekerjaan yang banyak bisa menghasilkan pahala?' tanyanya penasaran.
"Apa kamu serius ingin mengetahui pekerjaan perempuan yang paling cepat dapat pahalanya dan juga tidak ada putusnya?" Vh Santi tersenyum penuh kemenangan karena Meylani masuk dalam perangkapnya sehingga mampu melupakan sejenak kekasihnya itu.
"Ihh Mama main tebak-tebakan segala lagi, kenapa juga harus muter-muter kan bisa langsung ngomong saja kenapa harus ke Sabang sampai Merauke!" Ketusnya Mey yang mengerucutkan bibirnya itu.
"Putrinya Mama kalau seperti ini sangat manis,tapi paling manis lagi kalau ikutin apa yang aku katakan," ucapnya Bu Santi lagi.
"Karena aku tidak tahu makanya Mama jelaskan apa yang Mama katakan pasti aku akan laksanakan, sumpah deh," tuturnya Mey sembari mengayunkan tangannya ke atas.
"Baiklah, karena kamu sudah janji, caranya sangat mudah yaitu berbakti kepada suami dengan jalan menjalankan kewajiban dan tanggung jawabmu sebagai seorang istri dengan baik dan patuh sesuai dengan yang dianjurkan dalam alquran, sunnah dan sering diajarkan oleh Rasulullah SAW," mudahkan?"
"Bagaimana apa kamu siap memenuhi janji dan sumpahmu?" Bu Santi berucap sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh Meylani yang spontan terdiam.
Bu Santi bangkit dari duduknya dan tidak berniat untuk menganggu apa yang dilakukan oleh anaknya itu.
__ADS_1
"Semoga apa yang Mama katakan bisa kamu terapkan dalam kehidupan rumah tanggamu kelak Nak, semoga pintu hati dan pikiranmu terbuka untuk menerima Zaidan sebagai imam dalam hidupmu," gumam Bu Santi yang berjalan ke arah luar kamarnya Meylani.
Mey terduduk dalam kebisuannya,ia terus tak henti-hentinya memikirkan dan mempertimbangkan perkataan dari mamanya itu dengan baik.
Ada sekitar lima orang masuk ke dalam kamar pengantinnya. Sedangkan sang penghuni kamar sedang menghayal memikirkan pilihan hidup yang harus ditempuhnya itu.
"Assalamualaikum Mbak Mey," sapa seorang perempuan yang kira-kira seumuran dengannya itu menegurnya.
Perempuan itu terus menunggu jawaban dari Mey, sedangkan Mey masih melamun dan tidak goyang sedikit pun. Sehingga kelima perempuan itu saling bertatapan satu sama lainnya.
"Apa kita sentuh saja tangannya agar segera tersadar dari lamunannya itu?" Tanyanya perempuan yang berikat rambut satu itu.
Keempat lainnya segera menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pertanyaan bernada permintaan itu.
"Mbak Meylani!" Ucapnya perempuan itu yang sedikit mengeraskan suaranya agar Meylani tersadar.
"Aahh!! Siapa itu!" Jeritnya Mey yang refleks berdiri dari duduknya itu.
Hampir saja Mey terjatuh dari posisinya yang berdiri tidak sempurna itu. Untungnya Meysa dan Kamil cepat tanggap darurat menolong kakaknya.
Meylani memeluk tubuhnya Kamil," astaghfirullahaladzim, hampir saja terjatuh untungnya ada yang nolongin," tuturnya Mey.
"Kakak juga yang salah sih, orang-orang pada sibuk di luar sana persiapkan pernikahannya kakak, sedangkan kakak di dalam sini lagi asyik-asyiknya melamun!" Dengusnya Meysa.
"Sya, kakak itu terkejut seperti ini kamu malah salahkan Mbak, seharusnya kamu itu ambilkan Mbak segelas air putih dulu, sebelum ngomel-ngomel enggak jelas gini," kesalnya Kamil Manik.
Meysa bergerak cepat mengambil air putih dalam gelas untuk kakaknya itu. Meylani tak henti-hentinya mengelus dadanya itu sambil beristighfar.
"Astaghfirullah aladzim," ucapnya berulang kali.
__ADS_1
"Ini Mbak minum dulu, lain kali jangan seperti ini entar kesurupan sesuatu yang tidak kasat mata lagi," ujarnya Meysa.
Mey segera meneguk minumannya itu dengan sekali tegukan dan menghabiskan minumannya itu dengan tergesa-gesa hingga isinya dalam gelas itu tandas tak bersisa.
"Sudah jangan marah-marah gak enak dilihat dan di dengar orang, ini memang salahnya kakak juga yang melamun disaat seperti ini," imbuhnya Meylani.
"Maafkan kami Mbak Ini semua salah kami juga yang tidak sabaran menyadarkan Mbak jadi berakhir seperti ini," sesalnya perempuan yang memakai hijab ungu itu.
"Tidak apa-apa kok Mbak tidak perlu meminta padaku, gimana kalau Mbak lanjutkan saja dengan pekerjaannya,saya sudah tenang kok,"
"Alhamdulillah kalau seperti itu, Mbak ganti pakaiannya dulu dengan pakaian yang sedikit tipis saja, kami akan mempersiapkan perlengkapan makeup kami," sarannya Mbak Atik.
Meylani segera dimake up setelah siap lahir batin. Meysa dan Kamil duduk tidak jauh dari kakaknya berada. Semua persiapan sudah hampir seratus persen, tersisa makeup pengantinnya Mey dan juga iringan rombongan pengantin.
Zaidan dan keluarganya sudah bersiap dengan berbagai macam jenis seserahan pernikahan. Zaidan berusaha menghubungi keponakannya yang berada di luar negri, tapi sudah berulang kali dihubungi, hasilnya masih sama.
"Ya Allah… kenapa nomor hpnya sudah hampir dua minggu aku berusaha untuk menghubungi nomor hpnya hasilnya selalu berada di luar jangkauan, aku berharap semoga ia baik-baik saja," gumam Zaidan yang sudah siap dengan setelan pakaian pengantinnya dengan pakaian pengantin khas Bugis-Makassar.
"Zaidan apa kamu sudah siap Nak?"
Tanyanya seorang perempuan paruh baya siapa lagi kalau bukan bundanya Zaidan Bu Laura.
Zaidan segera menyimpan hpnya ke dalam saku celananya itu," Alhamdulillah aku sudah siap Bunda, gimana dengan yang lainnya? Apa mereka sudah hadir orang-orang yang mau bantuin kita bawa semua seserahan pernikahanku,"
Bu Laura tersenyum tipis," Alhamdulillah mereka sudah hadir di sini, mereka sangat antusias dan senang hati membantu kita,"
"Baguslah kalau seperti itu, kalau memang sudah siap gimana kalau kita berangkat saja dari sekarang," pintanya Zaidan.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga pernikahan anak bungsuku berjalan lancar ya Allah, semoga saja cucuku di Malaysia segera ditemukan keberadaannya, maafkan kami Nak yang menyembunyikan kenyataan jika keponakanmu putra tunggalnya kakakmu menghilang dari tempat kerjanya," Bu Laura membatin.
__ADS_1