
Pintu terbuka lebar dari arah luar, Meylani yang hendak menjawab pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh Zaidan sejak dulu. Tetapi kedatangan kedua mertuanya membuatnya mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan yang diharapkan dan dinanti-nantikan oleh Zaydan selama pernikahannya yang hampir setahun itu.
"Mama," sapanya Meylani.
Zaidan segera turun dari ranjangnya Mey yang tadi posisinya sedang duduk memeluk tubuh istrinya. Sedangkan Mey segera memperbaiki penampilannya dan perasaannya yang baru saja menangis.
Meylani hanya menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Bertujuan untuk menetralkan perasaannya agar tidak ketahuan jika ia baru saja menangis.
Bu Livia berjalan tergesa-gesa ke arah bangkar ranjangnya Meylani dan terlebih dahulu, sebelumnya menaruh beberapa barang-barang bawaannya itu ke atas Bu Livia menaruh parcel buah, makanan kesukaannya Meylani yaitu gudeg dan sate kambing di atas meja nakas.
"Astaughfirullahaladzim Zaidan apa yang terjadi pada menantu kesayanganku? Apa karena saking sibuknya kamu bekerja sampai-sampai tidak perduli dengan kesehatan istrimu kalau seperti ini kapan Mama punya cucu," cercanya Bu Liviana.
Meylani hanya tersenyum simpul menanggapi perkataannya ibu mertuanya itu, dia segera meraih punggung tangan kanannya ibu mertuanya. Tetapi, di dalam hatinya merasa sedih dan tidak enak hati ketika ibu mertuanya berbicara mengenai tentang masalah cucu.
"Ya Allah… gimana caranya kami punya anak, kalau istriku tidak ingin disentuh dan belum mau memenuhi tanggung jawabnya selayaknya seorang istri seperti perempuan kebanyakan di luar sana," raut wajahnya Zaydan berubah sendu.
__ADS_1
Meylani diam-diam memperhatikan perubahan mimik wajahnya Zaidan," aku yakin Abang pasti sedih dan kecewa ketika Mama Livia berbicara mengenai masalah cucu, ya Allah mantapkanlah hatiku ini untuk menyerahkan seutuhnya hidupku untuk Abang,"
Pak Rudi ikut berjalan mengekor di belakang istrinya itu, "Zaidan putraku apa yang terjadi pada Mey istrimu? Kenapa bisa jatuh sakit seperti ini, gimana kalau ibunya Mey Santi dan ayahnya Zulkarnain mengetahui jika putri sulungnya masuk rumah sakit dan diopname," imbuhnya pak Rudiyatmo.
Meylani melirik sekilas ke arah suaminya itu sebelum menjawab perkataan dari kedua mertuanya, "Ini semua salahku sendiri ma, pa bukan salahnya abang, aku yang keluar dari rumah disaat hujan sehingga harus seperti ini," tempiknya Meylani yang memang kenyataannya seperti itu adanya.
Bu Livia menatap tajam ke arah anak bungsunya itu, "Berarti kalau seperti ini putraku yang sudah lalai menjagamu, Zaidan Khaizan ingat mulai hari ini Mama tidak ingin mendengar jika menantu kesayangannya Mama ini sakit gara-gara kamu, jika tidak kalian harus tinggal bersama dengan kami di rumah utama," ancamnya Bu Livia yang mengultimatum anak bungsunya itu satu-satunya anak lelakinya.
Bu Livia menunjuk ke arah meja nakas yang berisi banyak benda beraneka ragam bawaan dari Bu Livia.
"Zai bawa ke sini nak paper bag itu, mama beliin makanan spesial untuk menantuku, semuanya ada di dalam sana," pintanya Bu Livia yang menarik kursi untuk didudukinya karena tidak mungkin dia duduk di sebelahnya Meylani.
Bu Livia tersenyum teduh ke arah Meylani," Tidak apa-apa kok sayang selama mama masih sanggup kenapa tidak melakukan semuanya untuk kalian berdua, kamu itu amanah untuk mama dan papa serta Zaidan jadi kami akan menyayangimu seperti anak kandungnya Mama sendiri," ucapnya Bu Livia sembari memegangi punggung tangan Meylani.
"Tapi Ma, saya sebagai istrinya bang Zai merasa sudah merepotkan makanya saya meminta kepada Abang untuk menyembunyikan berita jika saya di rumah sakit, lagian enak kok makanan buatan koki rumah sakit jadi Mama tidak usah repot-repot membawa segala makanan untuk saya," tukasnya Meylani.
__ADS_1
"Meylani Ramadhani Zulkarnain yang cantik satu-satunya menantu perempuan di keluarga besarnya Pak Rudiyatmo kamu tidak perlu melarang atau mencegah mama, semua masakan yang dimasak di dapur rumah sakit itu mana ada rasanya, tidak pakai penyedap rasa, garamnya secuil bahkan rasanya sangat hambar makanya Mama belikan kamu gudeg dan sate kambing juga," ujarnya Bu Livina.
Meylani tersenyum bahagia dan sangat bersyukur karena mendapatkan kasih sayang yang tulus dari kedua mertuanya itu. Mey merasa menyesal dengan pilihannya sendiri selama ini yang harus hidup berumah tangga tanpa cinta.
"Saya patut bersyukur karena mendapatkan mertua yang baik tidak seperti mertuanya otor yang, sudahlah urusannya othor itu mana mau campuri urusannya hehe,"
"Alhamdulillah Mama dan papa tidak terlalu memaksa kami untuk segera punya anak,semoga saja kedepannya seperti ini karena gimana caranya saya punya anak dan keturunan ya Allah jika berciuman saja baru sekali saja sedangkan melakukan hal-hal yang lebih dari sekedar kecupan tidak pernah kami lakukan, tapi saya berharap semoga saja Meylani segera digerakkan dan dibuka pintu hatinya agar segera memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri yang baik,"
"Inikan gudeg ma, kok mama bisa tau kalau aku doyang dan suka banget makan gudeg sama sate kambing?" Tanyanya Meylani yang segera mengambil alih piring yang sudah berisi beberapa macam jenis makanan yang kebetulan sengaja dibeli oleh Bu Livia spesial untuk anaknya itu.
Mey hanya terkekeh mendengar perkataan dari Mama mertuanya itu," benar sih apa yang Mama katakan,serasa kita ini makan makanan khusus penderita tekanan darah tinggi saja, bahkan Abang Zai ngomong tadi katanya gimana mau sehat kalau seperti ini menu makanan yang tanpa rasa," candanya Mey.
Semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dan candaannya Meylani tersebut. Mereka kembali berbincang-bincang santai sambil menikmati berbagai makanan ringan yang dibeli oleh Bu Livia sewaktu di jalan.
"Mey sayang kamu tidak perlu buang-buang waktu untuk melarang mama, karena Mama itu orangnya keras kepala jika sudah menginginkan apapun siapapun tidak akan bisa mencegahnya, lagian kamu itu patut dan wajar saja mendapatkan perhatian dari Mama dan papa kamu kan istriku," sanggah Zaidan yang ikut nimbrung bersama dengan kedua perempuan yang paling disayangi, dicintai dan dihormatinya itu dalam kehidupannya.
__ADS_1
"Betul apa yang dikatakan suamimu nak Mey, kalau kami kembali mengingat jasa-jasa kakek kamu dulu sama keluarga kami, apa yang kami berikan padamu bukan apa-apa bahkan tidak ada artinya nak, saking banyaknya kebaikan yang diberikan oleh kakekmu padaku dan keluargaku semasa muda dulu," ungkap Pak Rudi yang tidak mau ketinggalan percakapan dari ketiga orang tersebut.
Berselang beberapa menit kemudian, dokter pun datang. Tibalah gilirannya Mey untuk diperiksa. Semua orang berharap agar kimeui kesehatan Meylani baik-baik saja dan sudah bisa balik ke rumah.