
"Sayang kamu disini saja, ingat jangan kemana-mana apapun yang terjadi ingatlah untuk tidak meninggalkan mobil kamu sedang hamil. Usahakan secepatnya hubungi polisi dan juga papa serta Jamal agar mereka segera datang," ultimatum Zaidan sebelum turun dari mobilnya itu.
Zaidan mempercepat langkah kakinya hingga ia sudah berlari karena melihat Dara yang sudah digiring ke dalam mobil minibus berwarna hitam itu.
"Ya Allah lindungilah suamiku, jangan biarkan mereka kenapa-kenapa apalagi Dara sedang hamil anak keduanya," gumamnya Meylani sambil mencari nomor ponselnya pihak kepolisian.
Tangannya yang gemetaran lututnya pun ikut bergetar hebat saking takutnya melihat kondisi yang sudah tidak kondusif.
"Halo Pak polisi tolong cepat ke alamat jalan XX ada penculikan orang dan perkelahian pak, tolong datang secepatnya," pintanya Mey yang sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada polisi untuk berbicara.
"Siap Bu kami akan datang secepatnya ke alamat yang ibu maksud, harap bersabar yah Bu," ucapnya polisi yang mengangkat telponnya Meylani.
"A-ku mohon cepatlah Pak jangan terlalu lama, hiks…" Meylani sudah menangis ketika melihat Dara didorong dengan sangat kuat.
Pembicaraan mereka segera terhenti karena Mey memutuskan sambungan teleponnya ketika melihat suaminya melawan dengan beradu mulut dan argumen terlebih dahulu.
Setelah menghubungi nomor polisi ia pun menelpon Jamal, tapi berulang kali ditelpon Jamal sama sekali tidak mengangkat telponnya itu.
"Ya Allah… Jamal mana kenapa enggak mengangkat telponnya, aku coba nomornya Gun semoga saja tersambung," cicitnya Meylani.
Saking panik dan terburu-burunya, hpnya terjatuh ke atas lantai mobil.
"Ya Allah kenapa juga sempat-sempatnya jatuh," kesalnya Mey.
Dara hendak di dorong ke dalam mobil, tapi segera dihentikan oleh teriakan seseorang yang tidak tega melihat Dara diperlakukan seperti itu padahal Dara sedang hamil.
"Hey!! Stop jika kalian berani bawa perempuan itu maka kalian akan berurusan dengan polisi!" Teriak Zaidan dengan suara yang cukup lantang dan melengking.
Zaidan yang baru datang ke salon pagi itu bersama dengan Meylani melihat apa yang dilakukan oleh Pak Johan Budi terhadap Dara.
"Ahh! Jangan!" Teriaknya Dara ketika berhasil didorong kuat oleh salah satu anak buahnya hingga perutnya yang mulai buncit itu terantuk ke atas job mobil.
Dara mengerang keras kesakitan ketika perutnya terbentur dengan benda yang cukup keras.
"Sakit," keluhnya Dara sambil meremas perutnya yang mulai sakit dirasakannya.
"Astaughfirullahaladzim Dara, aku mohon angkat telponku, kalian kemana semua, hpnya papa juga tidak diangkat, ini juga Gunawan apa yang terjadi pada mereka!" Teriaknya dengan prustasi tapi air matanya terus menetes membasahi pipinya itu.
Meylani akhirnya tersenyum dan bernafas lega ketika Gunawan mengangkat telponnya.
"Gun tolong segera ke jalan XX tepat depan salon, Dara diculik oleh seseorang, aku mohon cepatlah kesini, jangan lupa telpon ambulans juga, cepat!!" Pekik Meylani.
Tut… tut sambungan telpon terputus secara sepihak.
"Ya Allah dalam keadaan genting seperti ini hpku juga lowbet," gerutunya Meylani yang memeriksa hpnya itu.
Semua orang kaget dan terkejut mendengar perkataan dari Meylani yang kebetulan Gunawan mengmbesarkan volume suaranya Meylani.
Loud speaker aktif sehingga semua orang yang berada di dalam ruangan tempat penyelenggaraan acara akad nikahnya Jamal Abdillah dan Dara Inayah yang sedang mendekorasi dan memeriksa segala persiapannya.
"Astaughfirullahaladzim apa yang terjadi dengan anakku Pak?" Tanyanya pak Fuadi yang mulai ikutan panik mendengar kondisi anaknya.
__ADS_1
Jamal yang baru saja selesai mandi, tanpa sengaja mendengar keramaian dan keributan di dalam tempat tersebut segera mempercepat langkahnya.
"Gunawarman apa yang terjadi dengan calon istriku!" Teriak Jamal.
"Dara diculik oleh beberapa preman sepertinya dan kak Meylani bersama bang Zaydan segera menyelamatkan Dara, tapi Dara memintaku untuk segera menghubungi ambulans," jelasnya Gunawan yang tidak bisa menyembunyikan perasaan panik, takut dan bingung dengan apa yang terjadi di sana.
"Apalagi yang kalian tunggu segera telpon ambulans, aku akan segera menyusul mereka,"
Jamal segera meraih kunci mobilnya dan hpnya. Gunawan segera berjalan cepat ke arah garasi rumah. Pak Rudiyatmo segera menghubungi rekan kerjanya dulu ketika menjadi tentara dan juga polisi kenalannya itu.
"Ya Allah apa yang terjadi sebenarnya, putraku, menantuku juga ada di sana," ratapnya Bu Livia yang terduduk di atas sofa.
"Anakku Dara apa yang terjadi padamu Nak," Bu Cahyani langsung tidak sadarkan diri setelah berbicara seperti itu.
"Nenek," teriaknya Aska putra pertamanya Dara.
Semua orang yang hadir didalam sana panik dan tidak berdaya mereka mencemaskan ketiga orang tersebut yang berada di lokasi kejadian.
Sedangkan Zaidan terus berusaha untuk menghalangi anak buahnya Johan untuk membawa Dara dengan secara paksa. Beberapa orang yang kebetulan baru datang ke salon membantu Zaidan untuk melawan beberapa penjahat itu.
"Tuan Zaidan, tolong!" Teriaknya Dara sambil mengayunkan tangannya ke arah Zaidan.
Lokasi tempat kejadian itu masih cukup sepi di jam delapan pagi. Itupun yang melihat langsung kejadian itu, hanyalah orang yang kebetulan lewat saja. Apalagi memang di jalan tersebut bukanlah jalan protokol sehingga terbilang cukup sepi di pagi hari.
Dara semakin kesakitan bersamaan dengan darah segar yang semakin banyak mengucur dan mengalir deras dari arah pahanya hingga ke atas betisnya.
"Ya Allah selamatkan lah Dara dan calon bayinya, aku ingin menolong mereka tapi takutnya malah hanya menambah bebannya Abang Zai," keluhnya Meylani yang tidak berdaya melihat kejadian itu.
"Saya tidak akan mengampuni kalian semua!" Geramnya Zaidan yang mulai tersulut emosinya karena orang-orang itu bukannya takut malah semakin gencar menyerangnya.
"Kalau seperti ini kita akan kalah, apalagi mereka sangat banyak jumlahnya," ujarnya pria berbaju merah yang menolong Zaydan.
"Jangan menyerah pak,bala bantuan akan segera datang," teriaknya dengan keras Zaidan yang membuat Johan semakin mengeraskan tawa jahatnya itu.
"Hahaha, kalian cuma bertiga sedangkan kami ada hampir dua puluh orang, jadi kalian menyerah saja jangan jadi sok pahlawan kesiangan di siang bolong," sarkasnya Johan.
Hingga dua orang yang membantu Zaidan menyelamatkan Dara pun akhirnya tumbang dan jatuh juga ketika mendapatkan masing-masing pukulan dan tendangan di bagian perut keduanya.
"Aahh, augh!!" Teriak mereka bersamaan.
Penglihatan Dara mulai kabur, kepalanya mulai pusing, perutnya semakin sakit yang tidak tertahankan.
"Allahu Akbar, mas Ja-mal," lirihnya Dara sebelum jatuh pingsan.
Meylani celingak-celinguk mencari keberadaan pertolongan yang akan datang membantunya.
"Ya Allah kenapa pihak polisi, papa dan yang lainnya tidak ada yang datang membantu kami, kasihan suamiku yang sudah dikepung oleh penjahat,hiks hiks bang Zaidan aku berjanji tidak akan mendekati ataupun menemui mas Bisma," ratapnya Mey yang semakin tak berdaya saja.
"Dara bertahanlah kami akan menyelamatkanmu," tuturnya Zaidan.
Zaidan yang melihat Dara pingsan kurang waspada sehingga tanpa diketahuinya mendapatkan pukulan dari arah belakang punggungnya Zaidan bersamaan dengan kedatangan sebuah mobil sedan putih.
__ADS_1
"Abang Zaidan!" Jeritnya Meylani yang segera membuka pintu mobilnya dan secepatnya berlari untuk menyelamatkan Zaidan suaminya itu.
Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Jamal, Gunawan dan papa mertuanya datang. Zaidan tersungkur ke atas aspal setelah mendapatkan pukulan yang cukup keras di tengkuk lehernya dan juga kepalanya itu.
"Tidak!! Suamiku!!" Jerit Meylani lagi yang segera tubuhnya dipeluk oleh adiknya Kamil Pasha.
"Kak Mey, Stop! Jangan pergi! Disana tidak aman!" Cegah Kamil yang memeluk erat tubuhnya Meylani kakaknya agar tidak lepas.
Tubuhnya ambruk seketika ke atas aspal setelah Zaidan mendapatkan pukulan dua kali sekaligus bersama kedatangan beberapa mobil bala bantuan. Yaitu pihak polisi dan beberapa anggota tentara TNI republik Indonesia.
"Putraku!" Teriak Pak Rudi sambil berusaha untuk menendang pria yang memukul Zaydan dari arah belakang.
Bugh…
Bug..
Plak…
Suara pukulan semakin terdengar jelas ketika semua orang menghadapi penjahat tersebut. Pak Johan mulai terdesak ketika melihat beberapa anggota kepolisian dan TNI menyerbu dan mengepung tempat lokasi kejadian tersebut.
"Jangan ada yang berani kabur dari sini! Jika tidak pihak kami tidak akan segan-segan untuk menembak kalian!" Ancamnya Pak komandan kepolisian.
Pak Johan tidak mungkin tinggal diam saja apalagi melihat anak buahnya sudah tidak berdaya mengahadapi serangan bertubi-tubi prajurit terlatih itu.
"Kamil le-pas-kan tanganmu,apa kamu tidak melihat suamiku terkapar di sana! Pasti dia sangat membutuhkan kehadiranku," ujarnya Meylani yang masih berusaha untuk melepaskan pegangan tangannya Kamil.
"Kak tenanglah Abang akan selamat, lihatlah polisi dan rekannya pak Rudy juga sudah datang, aku mohon bersabarlah," bujuknya Kamil.
Dorr…
Door!
Suara tembakan dua kali itu terdengar cukup nyaring dan membahana memenuhi lokasi salon yang baru saja dipenuhi oleh banyak orang karena sudah jam sepuluh pagi. Semua orang ketakutan sekaligus tercengang melihat kejadian naas tersebut.
"Tangkap mereka jangan biarkan ada yang meloloskan diri dari sini dalam keadaan hidup-hidup jika mereka melawan!" Perintah letnan kolonel Sugiono sahabatnya Pak Rudi.
Dua orang penjahat terkena tembakan timah panas mengenai dikaki masing-masing penjahat yang ingin meloloskan diri termasuk Johan sang pemimpin gembong mafia.
Meylani akhirnya lolos juga setelah Kamil Pasha melonggarkan pelukannya itu, ia secepatnya berlari ke arah Zaidan untuk memangku kepalanya Zaidan. Jamal pun berlari cepat ke arah Dara yang sudah tidak berdaya.
"Dara! Bangunlah, sadarlah mas sudah datang, maafin mas harus terlambat datang menolongmu," lirih Jamal yang langsung menggendong tubuhnya Dara yang tubuhnya bagian bawah penuh darah.
"Abang ini Mey, aku mohon bertahanlah kita akan segera ke rumah sakit, Kamil mana ambulans nya! Tolong cepat panggil kesini!" Meylani memangku tubuhnya Zaidan
Suara sirine ambulan pun berbunyi, Mey menatap dari kejauhan mobil ambulance itu. Hingga telapak tangannya terasa basah dan mengangkatnya. Betapa terkejutnya melihat banyak darah yang menetes dari lehernya Zaydan.
"Abang aku mohon bertahanlah demi anak kita," cicitnya Mey yang semakin ketakutan setelah melihat banyak darah.
Zaidan berusaha untuk menyentuh pipinya istrinya itu," sa-yang istriku maafkan A-bang," lirihnya Zaidan sebelum memejamkan matanya.
"Tidak!!!" Pekiknya Meylani di tengah-tengah kerumunan orang-orang.
__ADS_1