PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 74. Alhamdulillah


__ADS_3

Tapi belum mampu Jamal menjawab pertanyaan dari pak Rudy, tubuhnya Meylani sudah terhuyung ke belakang dan ambruk dalam pelukannya Zaidan suaminya sendiri.


"Mey Istriku!"


Jerit Zaidan yang berjalan cepat untuk menolong Meylani yang sudah tidak sadarkan diri.


Meylani tak sadarkan diri dalam pelukannya Zaidan. Sang suami segera cepat tanggap darurat dengan menggendong tubuhnya Shaira ke arah dalam kamarnya.


"Bu Ijah cepat telpon Dokter Rahayu untuk segera datang ke sini!" Perintahnya Zaidan yang berteriak saking takutnya melihat kondisi dari perempuan yang sangat dicintainya itu.


"Baik Tuan Muda," balasnya Bu irjawanti yang segera menjalankan perintahnya Zaidan.


Kepanikan dan kehebohan semakin bertambah saja setelah Meylani ambruk ke dalam pelukannya suaminya sendiri.


"Ya Allah apa yang terjadi dengan menantuku, Meylani sadarlah Nak," ucapnya Bu Liviana yang ikut mempercepat langkah kakinya menuju kamar yang terdekat dari tempat mereka.


"Zai cepat rebahkan tubuhnya Meylani, Dara ambil bantal itu susun lebih tinggi agar Meylani lebih nyaman," pintanya pak Rudiyatmo.


Semua nampak panik dan ketakutan melihat kondisi dari Meylani yang raut wajahnya sudah pucat pasi itu.


Jamal Abdillah, Kamil Pasha, Gunawarman Haerul, Nayla Latifah dan Raina Alifia temannya Nayla segera mengikuti langkah kakinya Zaydan menuju kamar tidur.


Mereka semua harap-harap cemas melihat kondisi terakhir Meylani yang belum sadarkan diri itu. Nampak jelas terlihat dari raut wajahnya Meylani yang pucat pasi itu. Bulir keringat mengucur dari keningnya.


"Tolong yang lainnya mundur sedikit, karena sepertinya ruangannya jadi pengap dan panas karena kalian berkerumun," ucap Bu Livia yang sudah mengolesi tengkuk leher dan hidungnya Meylani.


Semuanya segera mundur beberapa langkah dan duduk di atas sofa yang di sudut ruangan kamar tersebut. Nayla segera bertindak cepat untuk mencari kotak p3k untuk membantu mengobati wajahnya dan beberapa luka lebam yang mereka miliki.


"Dara tolong siapkan beberapa makanan untuk menantuku, takutnya ketika bangun ia lapar dan pengen makan," perintah Bu Livia yang melihat Dara linglung dan terbengong masih memikirkan apa yang terjadi pagi hari itu.


"Iya Nyonya Besar," jawabnya Dara yang segera berjalan terburu-buru karena ia juga ingin mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum memasak.


Suasana kembali hening, mereka masih menunggu kedatangan dokter Rahayu Purwaningsih yang sampai detik ini belum muncul juga.


"Rain bisa kamu bantuin saya untuk obati lukanya Gunawan gak? Karena saya akan membantu Jamal untuk mengobati seluruh wajahnya yang penuh dengan luka," pinta Nayla yang sudah duduk di sampingnya Jamal.

__ADS_1


Raina Alifia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis seraya meraih kotak p3k yang diberikan oleh sahabatnya itu Nayla Latifah.


"Dek kamu tidak perlu mengobatiku, insha Allah aku masih sanggup sendiri kok," cegahnya Gunawan yang menolak bantuan dari Raina.


"Tidak apa-apa kok kak, saya juga tidak ada kerjaan jadi membantu kakak bukan hal yang sulit dan tidak membebaniku juga," tampiknya Raina yang tangannya tanpa sengaja menyentuh tangannya Gunawan.


Keduanya saling bertatapan satu sama lainnya karena tanpa sengaja mereka saling bersentuhan tangannya.


"Ehh maaf aku tidak sengaja memegangi tanganmu," ujarnya Gunawan yang menyesal karena sudah lancang.


"Nggak apa-apa kok Kak Gun," tukasnya Raina yang muncul semburat rona merah dikedua sisi pipinya.


"Kamu sungguh lucu, baru aku tau pegangan seperti itu,kamu sudah tersipu malu, sungguh lucu, menarik dan aku menyukai wajahmu yang seperti ini,"


Gunawarman segera menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri karena sudah berfikiran yang tidak-tidak tentang gadis yang tangannya gmetaran menyentuh hidung, pelipisnya dan juga bibirnya itu.


"Ya Allah apa yang terjadi padaku, kenapa tiba-tiba detak jantungku berdegup kencang? Hanya melihat senyumnya mampu membuat hatiku kacau balau seperti ini, apakah ini pertanda aku sudah jatuh cinta pada perempuan ini," Gunawan sesekali menghela nafasnya karena grogi dengan apa yang terjadi saat itu.


"Kenapa kak Gun menatapku seperti ini, kalau aku ditatap seperti ini terus-menerus bisa-bisa aku tidak bisa bekerja dengan baik mengobatinya," Raina semakin grogi,nerfes hingga sesekali tangannya gemetaran.


Dengan telaten Raina mengobati lukanya Gunawan. Keduanya sesekali saling bertatapan satu sama lainnya. Terkadang tersenyum kikuk dan salah tingkah.


Hingga wajah keduanya memerah saking malunya dengan apa yang mereka lakukan. Padahal hanya mengobati saja tidak ada yang lain.


Nayla tersenyum lebar melihat reaksi kedua orang yang duduk tidak jauh dari tempatnya itu.


"Akhirnya pawang dari Gunawan ketemu juga, kalau seperti ini aku ada alasan yang tepat untuk bertemu dengan mas Kamil Pasha kalau Raina bisa dekat dan menjalin hubungan dengan Gunawan, hemm ini ide cemerlang dan paling jitu agar bisa bersatu dengan Bang Kamil i love you Bang hatiku hanya untukmu seorang," Nayla tersenyum tipis menanggapi sikapnya sendiri.


Berselang beberapa menit kemudian, dokter Rahayu pun datang juga.


"Maafkan saya pak Zaydan saya terlambat datang karena kondisi ban mobilku yang sempat bocor, jadi mampir ke bengkel dulu," imbuhnya Dokter Rahayu yang sangat menyesali karena harus sampai lebih lama dari biasanya.


"Tidak apa-apa kok Bu dokter, tolong cepat periksa kondisi istriku, saya sangat khawatir dengan keadaannya," ucap Zaidan yang tidak pernah melepaskan pegangan tangannya dari genggaman tangannya Meylani.


Meylani segera diperiksa oleh dokter Rahayu tanpa menimpali pembicaraannya Zaidan. Dokter Rahayu malah tersenyum ketika sedang memeriksa kondisi dari perempuan yang terbaring lemah tak berdaya dihadapannya.

__ADS_1


Semua orang yang memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh dokter Rahayu mengerutkan keningnya karena terheran-heran melihat sikapnya dokter pribadi yang sering dipanggil oleh Zaidan sejak mereka menikah.


"Dokter apa yang terjadi kepada menantuku, apakah dia baik-baik saja? Karena tadi tiba-tiba jatuh pingsan tak sadarkan diri. Untungnya ada suaminya yang segera menolongnya," tuturnya Bu Liviana mamanya Zaidan.


Dokter Rahayu terlebih dahulu menyimpan perlengkapan kedokterannya itu sebelum menjawab keresahan hatinya Bu Livia, "Nyonya Livia tidak perlu takut, khawatir atau mencemaskan keadaannya,"


"Maksudnya gimana dokter? Bagaimana kami tidak mencemaskan dan mengkhawatirkan kondisi dari istriku kalau sudah mampir sejam belum sadarkan diri juga," tegasnya Zaidan yang nampak tegang.


Dokter Rahayu kembali tersenyum ramah dengan tatapan teduhnya itu, dokter yang masih kelihatan cantik dan awet muda diusianya sudah menginjak lima puluhan.


"Alhamdulillah setelah saya memeriksa secara keseluruhan kondisi dari Nyonya Meylani, tidak ada masalah sedikitpun dengan kesehatannya…"


Dokter Rahayu menjeda sementara waktu perkataannya itu, dan mengedarkan pandangannya ke arah semua orang yang menunggu hasil pemeriksaan medis dari Meylani.


Dokter Rahayu bukannya menjawab pertanyaan dari semua orang yang sudah memperlihatkan wajah seriusnya. Malah tersenyum sambil menjabat tangannya Zaidan. Sedangkan Zaidan yang keheranan itu spontan membalas menjabat tangannya dokter Rahayu.


"Selamat pak Zaidan Anda akan segera memiliki seorang anak," ucapnya dokter Rahayu.


Zaidan membelalakkan matanya saking terkejutnya mendengar jika istrinya akhirnya hamil juga. Mereka telah dikarunia calon bayi.


"Dokter Rahayu apa yang Anda katakan benar adanya jika menantuku ini hamil calon cucu kami!?" Tanyanya Pak Rudi yang sangat antusias dengan berita gembira itu.


"Iya dokter apa benar kakakku hamil calon anak pertamanya?" Timpalnya Kamil yang tidak mau ketinggalan percakapan mereka.


"Iya benar sekali apa yang kalian katakan, Bu Mey hamil calon anaknya, usia kandungannya sudah masuk tiga bulan Pak Rudi," jelas Dokter Rahayu.


Zaidan yang tadi berdiri reflek ketika mendengar perkataan dari dokter Rahayu segera bersujud syukur alhamdulilah atas berkah, karunia dan rezeki yang tidak terduga yang diberikan oleh Allah SWT kepada keluarga kecilnya.


"Syukur alhamdulilah akhirnya menantu kesayanganku hamil juga, ini berita yang sangat menggembirakan saya harus mengabarkan kepada semua anggota keluargaku," ujar Bu Livia yang sangat bahagia sembari memeluk tubuh putra semata wayangnya itu.


Air matanya menetes membasahi pipinya saking bahagianya dengan berita gembira itu yang di dengarnya. Semua orang tak henti-hentinya mengucap syukur alhamdulilah atas karunia yang Allah SWT berikan kepada mereka semua.


Sedangkan Mey sama sekali tidak terusik dengan apa yang mereka lakukan. Padahal suasana dalam kamar itu cukup bising, ribut dari gaduh tapi tidak membuat Meylani sadarkan diri.


"Tapi dokter, kenapa Mbak Mey belum siuman padahal sudah satu jam tidak bangun-bangun?" Tanyanya Naila yang takut juga jika ada orang yang pingsan tapi belum sadar juga.

__ADS_1


"Kalian tenang saja dan tidak perlu cemas berlebihan, karena Nyonya Mey hanya tertidur pulas kok karena tubuhnya terlalu lemah sehingga ia belum bangun," ungkap dokter Rahayu S,pOG.


"Alhamdulillah," jawab semuanya yang akhirnya mulai bisa tenang juga tanpa banyak pikir yang macam-macam lagi.


__ADS_2