
Meylani tak henti-hentinya mengucap syukur kepada sang maha pencipta atas sadarnya Zaidan Khaizan Rudiyatmo suaminya yang sudah lebih sebulan lebih tidak sadarkan diri.
Semua orang berjalan tergesa-gesa ke arah dalam ICU khusus untuk merawat Zaydan suaminya. Meylani sudah meminta kepada Nayla untuk menghubungi kedua mertuanya serta kakak iparnya untuk segera datang ke rumah sakit.
Aku melihat begitu bahagianya Mbak Mey, semua perempuan yang berstatus istri pasti akan bahagia jika mengetahui suaminya sadar dari komanya.
Makasih banyak ya Allah karena Engkau masih memberikan kesempatan kepada Abang Zaidan untuk hidup kembali, semoga setelah ini Mbak Mey tidak akan sedih lagi kami sangat prihatin melihatnya apalagi dalam keadaan hamil muda.
Kakak Mey kamu harus hidup lebih baik lagi dan tolong bersihkan hati kakak dari pria brengsek yang bernama Bisma Attalarik dari dalam hatinya kakak, pria seperti dia sangat tidak layak dan pantas untuk dicintai oleh siapapun di dunia ini.
Bagiku ini adalah kesempatan yang baik untuk kembali memulai kehidupan baru kakak Mey, lupakan masa lalu dan buka lembaran baru bersama Abang Zaidan.
Semua orang merasa gembira ketika mendengar kabar bahagia jika Zaydan akhirnya tersadar juga setelah mengalami masa-masa kritisnya.
Meylani masuk ke dalam ruangan ICU dan melihat suaminya tidak berada lagi di atas bangkar rumah sakit.
Meylani nampak panik ketika melihat kamar ICU kosong melompong, "suster suaami saya ada dimana? kenapa ruangannya sudah kosong dan rapi seperti ini?" Tanyanya Meylani yang semakin kebingungan, panik dan takut tidak melihat keberadaan Zaidan.
Semua orang melongok tak percaya setelah melihat kamar icu sudah bersih dan rapi. Tubuhnya Zaidan yang lemah tak berdaya sudah tidak terbaring lagi Du atas sana.
"Ibu tenang dulu bapak Alhamdulillah sudah dipindahkan ke ruangan perawatan biasa di kamar VVIP plamboyan Bu, alhamdulilah kondisinya sudah stabil jadi Anda tidak perlu ketakutan seperti ini," jelasnya suster itu.
Semuanya baru bisa bernafas lega mendengar penjelasan dari perawat tersebut.
"Sukur alhamdulilah kalau seperti itu sus, makasih banyak kami permisi dulu," ucapnya Kamil Pasha.
Semua orang segera berjalan menuju ke lantai delapan dimana ruangan VIP berada.
__ADS_1
"Nayla tolong hubungi Tante Liviana katakan padanya jika Abang Zai sudah dipindahkan ke ruangan perawatan, takutnya mereka akan kebingungan dan juga takut sekaligus bertanya-tanya kemana perginya Abang Zaidan," pintanya Meylani.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan ruangan VIP kamarnya Zaidan. Semua orang berbondong-bondong masuk kedalam dan melihat Zaidan yang sudah duduk bersandar ke headboard ranjang perawatannya.
"Assalamualaikum Bang?" Sapanya Meylani yang kedua matanya sudah berkaca-kaca yang berusaha keras untuk menahan air matanya itu.
Zaydan tersenyum simpul melihat kedatangan istrinya," Mey istriku," lirihnya Zaidan yang berusaha untuk bangun dari baringnya itu.
"Abang tidak perlu banyak gerak dulu, Abang itu baru saja sadar dari komanya Abang, lagian Abang duduk seperti ini apa nyaman seperti ini?" Tanyanya Meylani yang memeriksa sekujur tubuhnya Zaidan.
"Iya bang kalau masih sakit atau tidak enak sebaiknya jangan bangun dulu rebahan saja mana enak yang Abang rasakan," ucapnya Nayla Latifah.
Zaidan hanya terkekeh menanggapi sikapnya semua orang," insha Allah aku baik-baik saja kok, apalagi aku sudah melihat istriku di depan mataku aku semakin sehat," cicitnya Zaydan yang masih lemah jika berbicara.
Meylani membantu suaminya itu yang belum bisa bergerak bebas dan leluasa. Semua tersenyum melihat senyumannya Zaidan pria tiga puluh dua tahun itu.
Zaidan menatap ke sekelilingnya sebelum menjawab pertanyaan suaminya itu. Semua orang menunggu apa yang akan dikatakan oleh Zaidan, karena orang yang ditanya bukannya menjawab pertanyaan dari Meylani malahan menatap intens ke semua orang.
Zaidan tersenyum sambil memberikan kode kepada istrinya itu agar lebih mendekat ke arahnya. Meylani yang melihat dan mengerti kode itu segera mendekat. Hingga jarak mereka hanya tersisa sejengkal saja.
Zaidan segera mengecup pipi sebelah kanannya Meylani dengan penuh kasih sayang.
"Abang sangat merindukanmu sayang, dan yang Abang inginkan adalah berada terus di sampingmu," balasnya Zaidan dengan sedikit lemah ketika berbicara.
Meylani mengira jika akan diperintahkan oleh suaminya untuk melakukan sesuatu, tapi ternyata Zaydan malah mengecup pipinya dengan penuh kelembutan di depan orang banyak.
Walaupun orang itu adalah anggota keluarganya sendiri. Apa yang dilakukan oleh Zaydan membuat Meylani merona hingga wajahnya memerah seperti buah apel merah saja.
__ADS_1
"Sepertinya kita sebaiknya pulang dulu, besok datang lagi. Nayla kamu hubungi secepatnya nomor ponselnya Tante Livia katakan padanya untuk tidak datang ke sini dulu. Ijinkan kedua pasangan suami istri ini untuk menghabiskan waktunya bersama jangan ada yang menganggu mereka khusus malam ini," ujarnya Kamil.
"Betul sekali apa yang kamu katakan, kasihan satu bulan lebih terpisah mungkin ingin kangen-kangenan mungkin," candanya Nayla.
"Alhamdulillah kalian sangat mengerti dengan peduli kehidupan kami yang lumayan lama berpisah," tukasnya Zaidan yang masih berbicara dengan suara yang lemah.
Sedangkan Meylani malahan menundukkan kepalanya saking malunya karena digodain oleh semua orang.
"Kalian tidak perlu pulang, lagian selain mengecup pipinya Meylani saya belum berdaya dan kuat untuk melakukan hal lebih, asalkan kalian semuanya ingin menonton kemesraan kami enggak masalah sih bagi kami," kelakarnya Zaydan.
"Ya Allah kalau seperti ini kalian sama saja melarang kami tinggal disini dan mengusir kami untuk pulang, benar kan?" Ujarnya Jamal.
"Kalau gitu lebih baik aku balik pulang ke rumah ngorok daripada melihat mereka, aku ini jomblo jadi kasihan aku yang belum menikah," timpalnya Gunawarman Haerul.
"Emangnya kamu saja yang jomblo disini, saya juga masih single kok tapi, tidak karatan sih," candanya Kamil.
Zaidan menatap ke arah Jamal," Jam, bagaimana dengan Dara Inayah apa kalian sudah menikah?" Tanyanya Zaidan yang baru teringat dengan kisah heroik penyelamatan Dara yang menyebabkan ia terkena pukulan di kepalanya itu.
Jamal dan yang lainnya langsung terdiam karena menatap iba ke arah Jamal. Sedangkan yang ditatap hanya mampu menghela nafasnya dengan cukup keras.
"Dara meninggal dunia Bang bersama calon anak kami," jawabnya Jamal Abdillah yang berusaha untuk tegar menghadapi kerasnya kehidupan dan cobaan yang dihadapinya.
Kamil dan Gunawan menepuk pundak sepupunya itu, Jamal hanya memaksakan diri untuk tersenyum walau hatinya sangat berat untuk melakukannya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, alfatihah untuk Dara semoga Almarhumah tenang di alam sana, kamu sabar yah Jamal, maafkan Abang tidak sanggup menjaga dan menyelamatkan calon istrimu," sesalnya Zaidan.
"Abang ini bukan salahnya Abang kok, semua ini sudah menjadi takdir dan kehendaknya Allah SWT, kita sebagai manusia cepat atau lambat pasti akan mengalami yang namanya kematian, seharusnya saya yang meminta maaf kepada Abang karena gara-gara menyelamatkan calon Istriku dan kesalahanku sehingga semua ini terjadi," ucapnya Jamal yang berusaha untuk tegar dan kuat mengahadapi kehidupannya yang penuh dengan cobaan.
__ADS_1