Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 10: Sudah Sejak Lama!


__ADS_3

"Fii Amaanillah Yas! Salam sama Ummi Wirda dan Abah Utsman! " Ucap Yahya ketika Ilyas hendak masuk ke dalam ruang tunggu. Ilyas akan melakukan perjalanan udara domestik untuk kembali ke Jakarta.


"Bukalah lembaran baru! Lupakan Iqlima. Semua memang tidak akan mudah. Tapi aku tau kau mampu!" Lanjut Yahya lagi. Ilyas mengangguk lalu berlalu. Wajah kusutnya masih saja terlihat.


Dari kejauhan, dua pasang mata melihat ke arah mereka.


"Aku paham apa yang kau rasakan..." Bisik Maryam memeluk Iqlima.


"Aku baik-baik saja, Mar! " Iqlima mengusap airmata nya.


"Tapi kau kecewa kan?!" Sambar Maryam. Iqlima terdiam.


Ustadz Ilyas, mungkin ini kali terakhir aku melihatmu. Terima kasih sudah membuat ku pernah berharap. Jangan pernah kembali. Ucap batin Iqlima seraya melihat Ustadz Ilyas yang melangkah pergi tanpa berkedip.


"Setelah ini apa rencana mu?"


"Sementara Aku akan menginap di tempat Nyakwa Nur di Saree, Gunung Seulawah! Aku harus secepatnya pergi dari Krueng Lam Kareung. Tadi pagi kakek sudah lebih dulu berangkat ke sana, beliau menumpang dengan Abu Zainal" Sahut Iqlima.


"Hhhhh... Pergilah! Aku tidak ingin kau kenapa-napa! Mendengar perbuatan keji Hilman padamu, aku tidak akan menahan mu untuk pergi. Walau kau satu-satunya orang yang paling peduli padaku! Iqlima, aku pasti akan sangat merindukanmu" Maryam menunduk. Ia ikut mengusap airmatanya. Iqlima kembali memeluk Maryam.


"Bang Yahyaaaa... " Terdengar teriakan seorang wanita yang suaranya sudah tidak asing di telinga Iqlima. Yahya tampak menoleh. Iqlima hanya bisa mengamati mereka dari jauh tanpa tau apa yang mereka bicarakan. Iqlima menatap Yahya dengan tatapan datar. Hatinya sudah membeku. Ia tidak ingin lagi berharap.


Hah Hah Hah


"Bang, Teungku Ilyas sudah naik pesawat? " Tanya Rani ngos-ngosan.


***


Iqlima dan Maryam turun dari Bus Trans Kutaraja di depan gerbang pasar Aceh. Dengan memikul tas ransel berukuran besar, Iqlima mengajak Maryam ke toko ponsel. Gadis ini melakukan sebuah transaksi di sana.


“Ini satu untukku dan satu untukmu!” Iqlima menyerahkan sebuah handphone android.


“Tidak, aku tidak bisa menerimanya!” Sahut Maryam menggeleng kuat.


“Kita memerlukan ini untuk berkomunikasi!”


“Iqlima, aku sudah memiliki suami, tidak seharusnya aku bergantung dan membebanimu!” Sahut Maryam tak enak hati.


“Kau bersuami tapi seperti tidak memiliki suami. Terima-lah. Karena nantinya kita akan bertukar kabar untuk mengurangi rasa rindu. Merindukan kalian, kamu dan anakmu akan lebih membebaniku dibanding menyerahkan handphone ini padamu!” Ucap Iqlima meyakinkan. Maryam menerimanya dengan tangan bergetar.


“Aku sudah menyimpan nomor kita! Maryam, untuk sementara kita berpisah di sini. Aku akan naik mobil L300 jurusan Saree dan kau kembali dengan Labi-labi ke Krueng Lam Kareung” Maryam melihat Iqlima dengan mata berkaca-kaca.


“Aku akan mencari cara agar kakek betah menetap di rumah Nyakwa Nur selagi aku mencari rumah sewa. Doakan aku aman dan selamat sampai tujuan ya Mar!” Airmata Maryam kembali menetes.


“Yang penting selama di perjalanan kita harus saling berbalas pesan untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja!” Iqlima mengangguk setuju. Mereka kembali berpelukan sebelum berpisah.

__ADS_1


***


"Bang Yahya... Terima kasih untuk tumpangannya" Ucap Rani ketika mereka berada di dalam mobil milik para relawan. Ia ikut pulang bersama Yahya.


"Kamu tau dari mana Ilyas kembali ke Jakarta hari ini? "


"Dari Abu... " Yahya mengangguk-angguk.


"Hmh, Bang... Kalau boleh tau, kapan Teungku Ilyas kembali ke Aceh?" Tanya Rani. Yahya mengangkat kedua bahunya. Mengisyaratkan bahwa ia tidak mengetahui nya dengan pasti.


"Bang... Sebentar bang.... Itu bukannya Iqlima? " Rani menunjuk ke seorang wanita yang tengah menunggu angkutan Umum. Yahya terus melajukan mobil tanpa mempedulikan nya. Namun entah mengapa ketika ekor matanya melihat Iqlima yang kepayahan menenteng banyak bawaan membuat Yahya kembali memundurkan mobilnya dan berhenti tepat di depan gadis tersebut. Ia menurunkan kaca mobilnya.


"Naiklah!" Titah Yahya datar. Ekspresi Iqlima sedikit terkejut. Ia melihat Rani yang tersenyum di sebelah Yahya.


"Terima Kasih, tapi aku tidak pulang ke desa hari ini! " Sahut Iqlima.


"Kamu mau ke mana? " Sambar Rani dengan cepat.


"Hmh... Mau ke.... " Iqlima terlihat kebingungan.


"Baiklah... " Yahya menaikkan kaca mobil nya dan dengan cepat pergi meninggalkan Iqlima yang mematung seorang diri. Gadis tersebut menatap kepergian Yahya dan Rani dengan sendu.


Katanya pengajar al-Qur'an... Apa dibenarkan tidak pulang ke rumah begitu... Memang mau kemana? Apa jangan-jangan.. Pikiran Yahya melayang kemana-mana. Ingatnya kembali pada peristiwa yang ia lihat di pantai.


"Astaghfirullah..." Gumam Yahya lagi. Ia tersenyum masam atas pikiran liarnya.


"Hmh tidak! " Sahut YahyaYahya cepat. Ia kembali fokus menyetir.


***


Sudah 35 menit berlalu. Maryam heran karena Iqlima tidak lagi membalas pesannya. Ia mencoba untuk berfikir positif bahwa mungkin saja Iqlima ketiduran.


Tiiiiiiinn


Di sisi lain, Iqlima terbangun oleh sebuah suara keras klakson yang mobil nya hampir saja bertabrakan. Ia meraba detak jantungnya. Lalu melihat ke kanan dan ke kiri, para penumpang lain sudah turun. Hanya tiggal ia dan seorang ibu-ibu paruh baya.


Iqlima menge-cek jam tangannya. Sudah pukul 4 sore, maghrib masih dua jam setengah lagi. Iqlima masih harus melewati 2 perkampungan untuk bisa sampai di kediaman Nyakwa Nur. Karena melewati gunung dan hutan, maka suasana terlihat begitu gelap. Jalan yang bergelombang membuat suasana jadi tambah menegangkan.


"Mau turun dimana nak? "


"Di saree bu"


"Hati-hati, Nak! Sampai di sana langsung pulang... Malam-malam di luar tidak baik untuk seorang gadis" Nasihat ibu paruh baya yang sedari tadi menatap Iqlima. Lalu ibu tersebut turun di tempat tujuan. Iqlima mengangguk. Entah mengapa tiba-tiba ia jadi tidak enak hati. Hawa dingin dan lembab dari hutan di sekitar membuat kuduknya berdiri. Iqlima merasa tidak aman. Bayang-bayang perbuatan Hilman menari-nari di kepala hingga seakan membuatnya ingin muntah.


Iqlima melihat ke sekeliling. Sepi. Jalanan juga tampak lengang. Kediaman Nyakwa Nur memang agak di pedalaman. Beliau mengasingkan diri dari keramaian dan tidak berniat menikah lagi setelah leher suaminya ditebas oleh oknum tidak bertanggung jawab Di masa konflik pada tahun 2000 lalu.

__ADS_1


“Pak… Turunkan saya di ujung jalan saja ya!” Seru Iqlima pada supir L300. Beliau mengangguk dan menepikan mobilnya.


Iqlima harus berjalan melewati jalan setapak yang jauhnya lebih kurang 500 meter untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Ia melangkah sambil waspada dengan keadaan sekeliling.


Tap Tap Tap


Suara tapak kaki terdengar. Iqlima semakin mempercepat langkahnya ketika ia merasakan ada seseorang yang mengikuti nya. Ia tidak berani untuk menoleh ke belakang.


Laa Haula wa Laa quwwata illaa billaah


Tapp Tapp Tapp


Suara tersebut semakin terdengar jelas hingga Iqlima berjalan setengah berlari dengan bersusah payah akibat barang-barang yang ia bawa. Hampir saja Iqlima terjatuh. Namun tiba-tiba,


Sreeegggg


Seseorang mencengkram lengannya.Membuatkan keseimbangan hingga tubuh Iqlima tidak jadi menyentuh tanah.


"Jangaaaan... Lepas... ku mohon jangaaaan...!! " Pekik Iqlima. Suaranya menggema memenuhi hampir seluruh area hutan. Ia memejamkan mata. Tubuhnya bergetar. Sejak awal Iqlima memang hanya berpura-pura tegar. Keadaan yang memaksanya untuk tidak rapuh. Tapi seketika nyalinya langsung menciut dengan genggaman tangan seseorang yang tidak ia kenal. Iqlima menduga bahwa yang menggenggam tangannya adalah Hilman. Ia terus saja meronta-ronta.


"Ssssstttttt... Iqlima... Ini aku..." Suara yang tidak asing terdengar di telinga. Ia langsung membuka mata dan menoleh.


"Bang Rais...? " Mata Iqlima membola terkejut. Keberadaan Rais yang tidak terduga membuatnya terheran-heran.


"Kita tidak punya banyak waktu! Dengarkan aku baik-baik! " Rais melepaskan cengkraman tangannya.


"Kamu dalam bahaya! Malam ini juga aku akan menikahimu! Maharnya cincin emas ini! Kita akan meminta perlindungan hukum setelahnya!" Ucap Rais tanpa basa basi.


"Ma... Malam ini? "


"Ya! Sekarang kita temui kakekmu! "


"Tttt Tapi.... Aku masih tidak mengerti apa maksud perkataan bang Rais!"


"Hilman... Dia mengejar mu dan telah membuat rencana. Kamu tidak aman! Aku sudah mengetahui nya dengan jelas! Aku tidak ingin kamu kenapa-napa, Hilman itu jenis orang yang sangat berbahaya! Malam ini setelah kita menikah, Aku akan membawamu dan kakek ke luar kota! " Terang Rais. Iqlima menggeleng.


"Aku tidak ingin melibatkan bang Rais dalam masalahku. Aku juga tidak mau bang Rais menikahiku karena terpaksa! " Tukas Iqlima.


"Aku mencintaimu! Aku sudah lama menyukaimu! Aku juga sudah berencana meminangmu sejak dulu. Aku pikir aku akan meminang mu pada bulan maulid ke 2 di bulan depan. Namun karena kejadian ini, aku mempercepat nya. Apa kalimat ini cukup untuk meyakinkan mu, Iqlima? "


"Apa kau ridha jika ternyata aku lah yang menjadi suami mu? " Tanya Rais dengan jiwa bergemuruh. Iqlima yang memikirkan hidupnya sudah terlanjur terombang-ambing, perlahan akhirnya mengangguk.


***


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤

__ADS_1


IG @alana.alisha


***


__ADS_2