Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 66: Aku Marah Tapi Aku Rindu~


__ADS_3

Yahya masih terbaring lemah di rumah sakit. Oleh dokter, Yahya diagnosis salah mengkonsumsi makanan hingga menyebabkan bakteri masuk ke tubuhnya. Semua diperparah dengan geger otak ringan karena salah satu bagian sisi kepala sempat membentur dinding ketika ia mendadak pingsan.


Yahya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Selang infus masih menghiasi pergelangan tangan namun keadaannya sudah jauh lebih baik. Dokter mengatakan jika Yahya tidak lagi mengalami muntah darah, maka dalam waktu 48 jam Yahya sudah diperbolehkan pulang.


Kenapa kau tidak menemuiku? Kenapa kau tidak datang menemaniku di sini? Aku marah, sangat marah… tapi aku rindu…


Sreeegg


Dengan sekali gerakan Yahya mencabut jarum infus di pergelangan tangannya. Dengan cepat ia memakai pakaian ganti dan keluar dari rumah sakit.


Ceklek


Seseorang masuk ke dalam ruangan tempat Yahya dirawat.


Ruangannya Kosong?


"Yahya... Yahyaaa... Nak Yahyaaa!" Panggil Hajjah Aisyah yang baru keluar dari toilet. Beliau panik dan kebingungan melihat Yahya yang sudah tidak berada di atas kasur.


"Mas Yahya kemana Mi? " Tanya Layla yang masuk dua menit berselang setelah masuknya Hajjah Aisyah ke dalam ruangan. Wanita paruh baya tersebut menggeleng.


"Sebentar, Ummi mau menanyakan Yahya pada suster yang bertugas! " Layla mengangguk.


Ddddrrrrtttt Ddddrrrrtttt


"Ya Halo! "


"Maaf Nona, target menghilang! Kami tidak berhasil menculiknya! " Lapor seseorang dari seberang.


"Apa?! Menghilang bagaimana?!!" Tanya Layla memijat pelipisnya. Rencana gadis muda ini terancam gagal.


"Maaf nona, padahal kami sudah menyiapkan obat bius dan bersiap-siap meringkus target! "


"Sialaan!! Papaku sudah membayar kalian mahaal!! Aku tidak mau tau! Pokoknya cari dia sampai dapat!!! Menghandle seorang wanita saja tidak bisa!!" Hardik Layla menutup paksa handphone nya.


Si pelakor tengik kemana? Bagaimana caranya dia bisa lolos?! Kening Layla mengerut heran.


***


"Bang Rafi, Sebaiknya aku turun di sini saja! Biarkan aku naik taksi! " Pinta Iqlima. Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore.


"Aku tidak mungkin menurunkanmu di sini! Lihatlah di luar sana hujan lebat! " Sahut Rafi.


"Kalau hujan nya berhenti, aku mau naik taksi saja! " Lanjut Iqlima memilin-milin kerudungnya. Rafi tersenyum melihat tingkah gadis yang berada disebelahnya.


"Kau cemas?" Iqlima mengangguk.


"Haha, tenang saja.. Aku tidak akan berbuat jahat padamu.. Aku hanya ingin mengantarkan mu, kita pulang setelah shalat ashar!"


"Hm.. Selagi bang Rafi shalat, biarkan aku naik taksi!" Iqlima melanjutkan usahanya.


"Jangan keras kepala! Ini Jakarta bukan Aceh! Angka kriminalitas lebih banyak di sini! Aku hanya khawatir terjadi apa-apa padamu! Kau jauh lebih aman bersamaku!" Terang Rafi. Iqlima bungkam.


"By the way, bukannya kau kuliah di Trisakti ya? "


"A... Aku baru saja pindah"


"Semudah itu? " Kening Rafi mengerut. Iqlima hanya diam. Ia memang lebih banyak diam. Pikirannya melayang memikirkan Yahya. Iqlima cemas jika-jika suaminya itu mencarinya. Berkali-kali ia mencoba menghidupkan ponsel namun sayang ia gagal. Baterai nya habis.

__ADS_1


"Beruntung kita bertemu. Entah mengapa aku tidak bisa menghubungi nomormu! Apakah mungkin kalau ini yang disebut jodoh?" Raafi tersenyum penuh makna. Iqlima menggigit bibir bawahnya melihat ke luar jendela. Ingin rasanya ia mengaku kalau ia sudah menikah, namun pernikahannya dan Yahya masih dirahasiakan dari publik. Hal ini menyebabkan Iqlima lagi-lagi harus bungkam. Ia semakin merasa cemas.


"Tadi itu aku menghadiri pertemuan antara lembaga amal yang menangani anak-anak yatim piatu dengan Badan Ekslusif Mahasiswa milik Universitas Indonesia! Jadi aku mengikuti rapat di sana! " Iqlima mengangguk-angguk. Sesekali ia memaksakan senyumnya mendengar cerita Rafi.


Mobil yang membawa mereka tiba di sebuah yayasan. Hujan lebat telah berganti dengan gerimis. Iqlima memandang ke sekeliling. Penghuni Yayasan yang terdiri dari remaja berusia 12-19 tahun berlalu lalang. Mereka tampak agamis.


"Kenapa kita ke sini? "


"Kita shalat 'ashr dulu!"


“Di sini?” Tanya Iqlima meyakinkan.


“Ya, sekalian aku ingin mengatakan bahwa aku tinggal sekaligus mengajar bahasa Arab di sini!”


“Oh…” Hati Iqlima semakin tidak tenang.


“Kita shalat di mushala itu! Tempat wudhu’ wanita di sebelah sana! Kita akan kembali bertemu di sini lima belas menit lagi!” Iqlima mengangguk. Ia mengikuti instruksi Rafi. Tak menunggu lebih lama, Iqlima langsung melangkah ke tempat yang di tuju.


Dia masih sama seperti pada saat kami sekolah dulu, yang berbeda darinya hanya sedikit lebih pendiam dan hmh... Sekarang ia jauh lebih cantik. Gumam Rafi tersenyum.


Iqlima, aku sudah berusaha melupakanmu dan Aku sudah berhasil melakukannya. Namun semakin aku menghindarimu, entah mengapa semakin Allah menuntun jalanku padamu. Apa ini memang jawaban atas doa ibuku? Bahkan sampai saat ini ibu masih mengharapkanmu. Untuk kedepannya, aku tidak yakin apakah aku akan bisa kembali melupakanmu. Semoga kamu memang jawaban dari apa yang aku semogakan. Rafi menatap sendu punggung Iqlima yang bergerak semakin menjauhinya. Ia pun dengan segera berbalik arah, mengambil wudhu’ dan melakukan shalat ‘ashr.


“Assalamu’alaikum Nak Rafi…” Seseorang menegur Rafi ketika pemuda tersebut menyempatkan diri masuk ke ruang guru mengambil sebuah buku.


“Wa’alaikumsalam… Ummi Hajjah?” Rafi sedikit terkejut. Tidak biasanya pimpinan yayasan tersebut berada di ruang para guru.


“Ummi kebetulan lewat dan melihatmu berbicara dengan seorang gadis, siapa dia nak?”


"Oh itu hanya teman, Mi!”


“Teman? Masa sih? Jangan-jangan calonnya nih!”


“Ayo dibawa masuk ke dalam, minum dulu!”


“Tidak usah Mi, sudah sore.. Insya Allah lain kali! Saya permisi mengantar teman saya dulu!” Ummi Hajjah tersenyum lalu mengangguk. Rafi langsung melesat pergi setelah kembali memberikan salam.


Hmh… Luar biasa! Ummi Hajjah menepuk-nepuk tangan tanpa bersuara. Beliau menyunggingkan senyum misteriusnya.


Rafi kembali menghampiri Iqlima. Bersama-sama mereka menaiki mobil membelah jalanan petang yang begitu padat.


“Bang, Aku turun di sini saja!” Pinta Iqlima saat 150 meter lagi mobil Rafi akan mendekati gerbang utama.


“Beruntung banget kamu bisa tinggal di pesantren besar dan terkenal begini! Gimana ceritanya?” Tanya Rafi penasaran.


“Cerita nya panjang, terima kasih untuk bantuan bang Rafi! Hanya Allah yang bisa membalasnya! Jazakallah Khairal Jaza’!” Ucap Iqlima buru-buru.


“Iqlima, sebentar!” Iqlima kembali menoleh.


“Ini buku untukmu!”


“Buku?” Iqlima mengerutkan keningnya. Dengan keringat dingin ia melihat ke kanan dan ke kiri.


“Buku Ilmiah, hasil riset ku tentang orang-orang Mongolia dan Tibet, Negeri di Atas Awan” Iqlima mematung.


“Ambil-lah!” Rafi menyodorkannya. Dengan ragu Iqlima menerima buku tersebut dan tanpa melihat, langsung ia letakkan ke dalam tas selempangnya.


“Kau masih berhutang cerita kepadaku! Semoga ini bukan pertemuan terakhir kita. Insya Allah akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya!” Ucap Rafi bersemangat.

__ADS_1


"Sekali lagi terimakasih, Aku permisi! " Sahut Iqlima datar. Kali ini ia benar-benar melesat pergi.


Dari jarak beberapa meter Iqlima melihat Sri berpayung di ujung gerbang. Di tengah rintik hujan Gadis tersebut mempercepat jalannya.


"Nona, gawat... Ummi Hajjah dan Gus Yahya telah menanti nona di ruang keluarga! Ummi Hajjah kelihatan nya marah besar!"


Ada bang Yahya? Hati Iqlima terasa sejuk.


"Jadi bang Yahya juga ada di ruang keluarga ya Mbak Sri? " Tanya Iqlima mengikuti langkah Sri masuk ke dalam.


"Iya, tapi apa nona tidak khawatir? "


Deg.


"Ya Rabb... Bagaimana ya mbak Sri? Aku keluar hanya untuk kuliah saja kok! " Iqlima seperti tersadarkan bahwa kini posisinya sebagai terdakwa.


"Kalau hanya kuliah kenapa nona keluar diam-diam? Kalau begini posisi nona akan sulit! Tapi saran saya jelaskan saja bagaimana keadaannya! Ummi Hajjah dan Gus Yahya pasti paham! "


"Duh mbak... Kok saya jadi deg-deg an begini ya? " Iqlima mulai memilin-milin kerudungnya. Cemas.


"Atau......" Sri berbalik arah. Ia menunjukkan raut wajah yang sangat serius.


"Atau apa mbak? " Wajah Iqlima menegang.


"Apa nona mau kabur saja?!"


"Ha?? Ka.... Kabur??" Iqlima terkejut.


"Ssssttttt..." Sri melihat ke kanan dan ke kiri.


"Maaf ya nona, tapi mungkin kabur dari kediaman ini akan lebih baik untuk nona!" Bisik Sri. Iqlima mematung.


Apa kesalahanku sudah begitu besar? Bagaimana ini?


"A... Aku ini seorang istri mbak! Aku tidak mungkin kabur! " Lirih Iqlima.


"Ma'af nona, saya hanya mengkhawatirkan nona, itu saja! Kalau begitu mari saya antarkan nona ke ruang keluarga! " Iqlima mengangguk. Ketakutan yang besar menyelimuti hatinya. Namun kerinduan Iqlima pada Yahya jauh melampaui itu semua.


***


Ceklek.


Iqlima memasuki ruang keluarga. Wajah-wajah tak ramah berada di sana. Iqlima memberanikan diri melirik Yahya yang berwajah pucat. Ternyata pemuda tersebut sudah memperhatikan nya. Menatap dengan tatapan menusuk. Tak tahan melihat tatapan setajam Samurai, Iqlima memilih menunduk. Ia duduk mengambil tempat.


Ada apa ini? Apa keluar rumah merupakan kesalahan besar? Aku sudah mencoba minta izin bang Yahya tapi nomor beliau tidak bisa dihubungi.


"Kemana saja kamu seharian ini?! " Tanya Hajjah Aisyah tanpa basa basi.


"Iqlima masuk kelas. Hari ini hari pertama perkuliahan dimulai! " Sahut Iqlima lancar.


"Cih. Nyalimu besar juga ternyata! "


Sreeeekkkk


Hajjah Aisyah bangkit dan melempar sejumlah foto-foto ke hadapan Iqlima.


"Bukannya menjaga suamimu yang tengah sakit tak berdaya di rumah sakit, tapi kau malah kencan bersama laki-laki lain dibelakangnya! Kau memang wanita tak tau diri! Wanita tak tau di untung!! Wanita Jahiliyah yang tak punya adab!!" Ucap Hajjah Aisyah menohok. Mata Iqlima terbelalak sempurna. Foto-foto nya bersama Rafi di Yayasan sampai ke kediaman Bustanul Jannah.

__ADS_1


***


__ADS_2