Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 84: Malam Yang Syahdu


__ADS_3

Tidak bolehkah seorang gadis rendahan sepertiku berharap… Kalau aku menikah nanti… Maka aku hanya akan menjadi satu-satunya wanita yang dicintai? Satu-satunya orang yang dinikahi sampai aku menghembuskan nafas terakhirku…? Apa keinginanku ini terlalu muluk?


Membaca kalimat demi kalimat yang Iqlima tuliskan membuat Yahya seketika tercenung. Namun ia tidak berhenti hanya sampai di situ, pemuda tersebut kembali membuka lipatan berikutnya.


Aku bertaruh di antara keberanian dan juga rasa malu. Seperti makhluk terkutuk, di sini kami diasingi dan terasing. Suasana semakin tidak menguntungkan sebab kakek tidak juga menyerah. Begitupun denganku yang tetap pada prinsip semula. Keadaan seperti ini terus berlanjut sampai tiba-tiba seorang pria yang sebelumnya tidak pernah kulihat datang mendekat. Ia yang harum dan klimis mengikatkan sapu tangan bersihnya ke kaki kotor hitam kakek yang mengeluarkan darah dan nanah dengan tanpa rasa jijik.


Apa yang selanjutnya terjadi? Sesuai dugaan, kakek malah mengayunkan tongkat kayunya memukul lengan pemuda tersebut dengan kekuatan penuh. Aku rasa seluruh warga yang melihat kejadian itu merasa ngilu. Namun tidak dengannya. Bak seorang dokter yang telah bersumpah dengan tugasnya, Ia tetap dengan aktifitas membalutkan luka kakek hingga tuntas.


Walau terlihat dingin, namun keteduhan wajahnya membuatku sejenak tertegun. Tidak bisa ku pungkiri, aku terpana. Seketika Aku jadi membayang-bayangkan bagaimana rupa malaikat itu? Apakah seperti pemuda yang ada dihadapanku ini?


Pemuda penolong yang walau telah di perlakukan buruk namun tetap bersikap baik. Aku terenyak saat ia membisikkan sesuatu ke telinga kakek. Sesuatu yang membuat kakek menurutinya. Sesuatu yang bahkan aku sebagai cucu kandungnya tidak mampu menggerakkan hatinya. Sesuatu yang membuatku terus penasaran dan bertekad akan menanyakan langsung suatu saat nanti jika ada kesempatan. Demi Allah, aku sangat penasaran apa kalimat istimewa itu~


Pemuda yang entah berasal darimana itu benar-benar membuatku merasakan pertolongan Allah itu nyata adanya. Setelah berhasil membujuk, ia langsung membawa kakek ke puskesmas dan mengurusi segala administrasinya. Aku tidak bisa untuk tidak mengaguminya. Aku tidak bisa untuk tidak menuliskan lembaran istimewa ini di buku bahkan dihatiku. Ini pertama kalinya seorang pria membuat hatiku tergerak. Ini pertama kalinya aku sebagai seorang wanita memikirkannya.


Iqlima menyukaiku? Aku istimewa dihatinya sejak dulu? Wajah Yahya berubah sumringah. Kalimat yang Iqlima tuliskan: Ini pertama kalinya seorang pria membuat hatiku tergerak membuat Yahya begitu bahagia. Lagi-lagi dia adalah orang pertama untuk Iqlima.


Yahya yang nyaris melupakan peristiwa kala itu langsung tersenyum cerah. Jujur saja, pukulan kakek memang cukup keras. Fakta yang sebenarnya tidak orang-orang ketahui adalah Yahya sempat berkunang-kunang dan meringis kesakitan. Ia menumpukan tangannya di tanah hingga tidak terhuyung dan mengelabui banyak orang. Alhasil, Yahya mendapatkan luka memar yang cukup parah. Ia jadi tersenyum geli karena ternyata diam-diam aksi tak terduganya membuat Iqlima terpukau.


Hemm. Yahya berdehem gagah. Ia bertekad akan menggoda Iqlima hingga istrinya tersebut akan mengaku dengan sendirinya.


Namun wajah cerah tersebut berubah meredup ketika Yahya membaca kalimat terakhir yang tertulis di sana.


Tapi wanita sepertiku juga harus membuang perasaan bodohku ini jauh-jauh. Semoga aku berhasil!


Hhhh. Pantas saja! Apa Iqlima telah berhasil membuang perasaannya padaku? Wajah Yahya berubah kusut. Kalimat terakhir yang Iqlima tulis cukup berhasil mengganggu pikirannya.


Tok Tok Tok


“Gus, mobilnya sudah siap! Hari ini ada meeting bersama Tuan Arya” Salah satu asisten kepercayaan Yahya mengingatkan. Diary Iqlima membuatnya lupa.


“Baik. Kita ke kantor sekarang! Siapkan juga mobil untuk nanti malam. Aku dan istriku akan menginap di luar malam ini!” Ucap Yahya kembali memasukkan diary milik Iqlima ke meja kerjanya.


“Baik Gus!”


***


“Ya Allah nona Iqlima… Kenapa cuci piring, Non?” Tini asisten dapur terkejut mendapati Iqlima yang membasuh piring-piring dengan cekatan.


“Tidak apa apa mbak Tini! Sekarang saya juga lagi kosong kok!”

__ADS_1


“Jangan nona! Saya bisa dimarahin Ummi Hajjah!” Sergah Tini. Iqlima tersenyum pahit. Ia tetap melanjutkan aktifitasnya membasuh piring-piring kotor tersebut.


“Sudah ya Non, biar saya yang melanjutkan! Nona bersiap-siap saja! Ini kan sudah sore, apalagi nanti malam Nona dan Gus akan menginap di hotel kan? Pasti butuh tenaga ekstra! Hihihi! Ups maaf non, saya kelepasan!” Ucap Tini dengan wajah memerah.


“Meng… Menginap di hotel? Siapa yang mengatakan demikian mbak?” Aktifitas Iqlima terhenti.


“Supir pribadi nya Gus Yahya, Nona! Jadi tadi saya disuruh bawa kopi, ternyata beliau lagi mempersiapkan mobil pribadi Gus Yahya” Perkataan Tini membuat hati Iqlima mencelos. Ia jadi tidak semangat melanjutkan pekerjaannya. Di saat Iqlima tercenung, Tini mengambil alih spon pencuci piring dari tangan Iqlima setelah sebelumnya meminta maaf terlebih dahulu.


“Saya masuk dulu, Mbak!”


“Ba.. Baik Nona” Tini mengerutkan kening saat melihat perubahan ekspresi wajah Iqlima.


Apa jangan-jangan Gus Yahya menginap di hotel dengan Nona Layla? Astaghfirullah…!


Iqlima dengan cepat masuk ke dalam kamar dan mencari kunci di laci-laci. Setelah ia menemukan apa yang dimaksud, Iqlima langsung naik ke teras atas melalui connecting door. Ia berdiri-diri cemas sambil sebentar-bentar melihat ke arah jam tangannya.


Se jam menunggu dengan mondar mandir Iqlima merasa bosan. Hampir saja ia terduduk di lantai sampai sebuah mobil memasuki halaman parkiran. Yahya baru pulang dari kantor.


Diam-diam menunggui suaminya pulang seperti ini sudah menjadi aktifitas rutin Iqlima sejak sebulanan terakhir. Apalagi sejak dua minggu belakangan ini mereka sudah sangat jarang bertemu. Melihat Yahya dari kejauhan, walau tidak benar-benar mengobati rasa rindunya, namun ini lebih baik dari pada tidak melihat sama sekali.


Seperti biasa, Iqlima memperhatian gerak gerik Yahya. Wajah tampan seriusnya, wajah yang tidak pernah gagal membuatnya terkagum-kagum. Iqlima sumringah. Ia terus saja melihat Yahya sampai suaminya tersebut menghilang di balik pintu. Yahya telah masuk ke dalam rumah melalui pintu utama.


Iqlima sedikit tersentak saat mendengar suara tapak-tapak kaki berjalan di halaman. Ia mengintip ke bawah. Ternyata Yahya keluar kembali. Suaminya tersebut tidak sendiri, Layla mengaitkan tangannya ke lengan Yahya. Dengan mesranya mereka masuk ke dalam mobil yang telah dipersiapkan. Persis seperti ucapan Tini.


Mereka tampak bercakap-cakap. Senyum terpancar di wajah Yahya. Bahkan gigi rapinya terlihat. Suaminya berbicara dengan sesekali menoleh ke wajah Layla dengan tersenyum. Airmata Iqlima kembali jatuh. Semakin lama air tersebut jatuh semakin banyak. Sudah tidak terhitung berapa volume air yang telah terteteskan. Iqlima sesegukkan sendirian. Hatinya terasa sakit. Sangat sakit. Ia cemburu.


***


Hati Layla begitu girang membuncah dan kebahagiaannya bertambah-tambah. Pasalnya, ini adalah kali pertama Yahya begitu perhatian padanya.


Sejak naik ke mobil, sikap Yahya terasa hangat. Kini setelah sampai ke tempat tujuan pun, dengan penuh perhatian dan kelembutan, Yahya mengambil tangannya dan terus menggandengnya hingga mereka masuk ke dalam kamar hotel. Yahya juga dengan sigap merapikan rambutnya yang sedikit menyembul keluar dari kerudung yang ia kenakan.


Perlakuan dan perhatian kecil yang Yahya lakukan sudah sangat membuatnya berbunga-bunga. Hubungan mereka maju pesat dalam waktu singkat. Layla jatuh cinta. Sejak awal, dari sebelum menikah Ia memang sudah menyerahkan sepenuh hatinya pada pemuda berahang kokoh berwajah teduh tersebut.


Klik.


Yahya membuka pintu kamar hotel. Lampu otomatis menyala. Namun tiba-tiba ia mematung.


"Ada apa, Mas? " Tanya Layla heran. Yahya menggeleng lalu tersenyum singkat. Sekelabat bayangan Iqlima kembali menghampiri nya. Memori saat pertama kali bermalam di hotel setelah mereka menikah membuat Yahya terpaku.

__ADS_1


"Kamar pilihanku ini, mas suka tidak?" Tanya Layla memeluk Yahya. Pemuda tersebut mengangguk lalu mengecup puncak kepalanya.


"Aku sangat mencintaimu, Mas!" Ucap Layla bersungguh-sungguh. Yahya mengusap-ngusap pundaknya. Ia membalas pelukan Layla.


"Kita shalat maghrib dulu... " Ucap Yahya.


"Setelah itu? "


"Se... setelah itu..." Yahya kikuk. Ia tidak bisa melanjutkan kalimat nya.


Cup.


Layla mengecup pipi Yahya singkat. Ini pertama kalinya wajah mereka bersentuhan.


"Tingkah Mas benar-benar seperti pengantin baru! " Layla menutup mulutnya manja dan langsung melesat ke kamar mandi.


Yahya berjalan ke arah jendela. Ia membuka gorden lebar-lebar. Pemandangan gedung tinggi kota dengan gemerlap lampu Jakarta terlihat indah. Namun tidak dengan suasana hatinya. Ia mengajak Layla ke sini dengan tujuan agar bisa beribadah dengan lancar. Namun suasana syahdu ini semakin mengkhianati niatnya.


Harum floral yang Layla pilihkan, nuansa serba putih. Persis seperti malam itu. Dengan hati berdegup-degup ia mengecup bibir Iqlima untuk pertama kalinya.


Hhhh. Yahya menghempaskan tubuhnya merapat ke tembok.


Andai Iqlima ada di sini. Aku pasti akan melingkarkan tanganku padanya. Menipis kan jarak kami, Menikmati suasana indah yang menggoda hingga membuat wajahnya memerah seperti Delima Mekah yang Merekah. Lalu dengan sengaja akan ku bisikkan kalimat-kalimat yang membuatnya semakin tersudut malu. Ia akan berpura-pura marah dengan mati-matian mengingkari apa yang aku katakan. Tingkahnya yang begitu membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Sesungguhnya bukan Iqlima yang terlalu tersipu, melainkan aku yang dibuat mabuk kepayang.


Yahya tersenyum. Pikiran liar tentang kebersamaan nya dengan Iqlima semakin menguasainya. Tubuh Yahya bereaksi atas pemikiran nya sendiri. Tak tahan, Ia dengan cepat mengambil handphone. Yahya ingin menghubungi istrinya tersebut. Ia begitu merindukan nya. Nomor yang ia tuju sudah berada di depan layar. Yahya tinggal menekan tombol calling. Namun,


Aarrrghhhh. Hhhh. Yahya memijat pelipis nya yang terasa sakit. Ia tidak mungkin melakukan ini. Malam ini adalah milik Layla. Setidaknya, begitulah yang ia janjikan. Sebelum ke hotel ini Yahya juga sudah bertekad akan berusaha semaksimal dan akan se-profesional mungkin menghadapi Layla. Ia akan memperlakukan gadis tersebut seperti seorang suami memperlakukan istrinya.


Driiiit.


Prankkk.


Suara deritan pintu terdengar bersamaan dengan jatuhnya handphone dari tangan Yahya. Suara pintu yang terbuka membuatnya terkejut.


Di ujung sana, terlihat Layla hanya memakai selembar handuk berdiri dengan kening mengerut. Bagian atas dan kaki jenjangnya terekspos sempurna.


***


Bagi yang namanya tertera di pengumuman event pertama di grup alana alisha, segera kirimkan nomor handphone nya melalui DM ke ig: @alana.alisha ya ✨✨✨

__ADS_1


__ADS_2