
Rumah Sakit Mufid, Kab. Pidie.
Sebuah jarum berisi cairan infus yang telah di suntikkan beberapa obat-obatan menancap di salah satu bagian pergelangan tangan milik Iqlima.
Luka yang terdapat pada bagian lutut juga telah diobati dan diperban. Iqlima berbaring di atas kasurnya. Ia masih berada dalam kesadaran penuh. Hanya psikis-nya yang sedikit mengalami guncangan akibat kejadian tidak mengenakan yang menimpanya secara terus-menerus.
Maryam dengan setia terus berada di sampingnya, sedang Yahya sedari tadi melakukan muraaja’ah beberapa surat al Qur’an di pojokan ruangan se-usai melaksanakan ibadah shalat shubuh di mushala rumah sakit. Sesekali ekor mata nya melirik ke arah Iqlima yang terbaring. Gadis itu terlihat pucat dengan air mata yang memupuk di sudut mata. Ia tengah berbincang dengan Maryam, sahabatnya.
“Bang Rais dimana, Mar? Aku khawatir bang Rais mencariku.. Hiks” Iqlimamenghapus air mata yang mengalir. Maryam mengusap lembut pucuk kepalanya.
“Mar, kamu membantuku. Anakmu bagaimana?” Tanya Iqlima lagi. Sedari tadi gadis ini mengulang-ulang pertanyaan yang sama. Maryam juga sudah menjawab pertanyaan tersebut untuk kesekian kalinya.
Ceklek.
“Permisi, saya mau memberikan obat tidur dengan dosis rendah agar pasien bisa beristirahat!” Ucap seorang perawat yang langsung melaksanakan tugasnya. Seketika Iqlima terlelap dalam damai. Maryam menaikkan selimut menutupi tubuhnya agar tidak kedinginan. Maryam juga memperbaiki letak kerudung Iqlima lalu menghampiri Yahya yang masih berkutat dengan kegiatannya.
“Hmh…” Maryam berdehem. Yahya menghabiskan bacaannya sampai ke tanda waqaf.
“Bang, terima kasih untuk pertolongannya” Ucap Maryam.
“Laa syukra ‘alaa Wajiib. Tidak usah berterima kasih untuk sebuah kewajiban! Lagipula saya juga melaksanakan permintaan teman. Alhamdulillah keberadaan Iqlima bisa kita lacak, berkat ponsel kalian yang saling terhubung” Sahut Yahya diplomatis.
“Hmh, boleh tidak kalau saya repotkan sedikit lebih lama? Hanya sampai nanti sore!”
“Apa itu?”
“Tolong abang temani Iqlima, saya mau balik ke desa mengambil barang-barang. Nanti sore insya Allah saya ajak anak dan ibu saya ke sini” Ucap Maryam sungkan. Namun ia tidak punya pilihan lain. Bagaimanapun ia harus kembali sebab ada balita yang ia tinggal.
“Baik.. Cepatlah kembali!” Sahut Yahya.
“Ini sedikit uang untuk Iqlima, tidak banyak. Tapi mungkin bisa membeli kebutuhannya kalau ia butuh sesuatu” Maryam menyodorkan uang 100 ribu. Uang terakhir yang ia punya. Selebihnya Maryam hanya menyisakan uang untuk ongkos pulangnya saja.
“Tidak usah. Saya bisa membelikannya!” Tolak Yahya.
“Tidak apa-apa bang! Kalau pakai uang abang, Saya khawatir Iqlima sungkan. Katakan ini uang pemberian Maryam!” Yahya pun menerima uang tersebut. Maryam berlalu setelah sedikit berkemas.
***
Jakarta
Pukul 11.30 Wib.
__ADS_1
Keluarga terpandang Arya Pranawa tengah bersiap-siap. Pagi ini dikabarkan keluarga dari Haji Utsman hadir untuk bersilaturrahim. Kedua keluarga ini sudah sama-sama saling mengetahui maksud dan tujuan dari pertemuan ini. Yaitu memperkenalkan kedua anak mereka. Ilyas Al Ghazali Utsman, pewaris dari yayasan besar yang tersebar di seluruh Indonesia hingga Sudan dengan Anindita Gayatri Rumi, putri dari pemilik beberapa hotel berbintang di Indonesia.
“Cahyatiii… Cahyatiii…” Panggil Arya pada istrinya.
“Iya mas…”
“Rumi mana? Sudah kamu perhatikan dandanan-nya? Poles sebagus mungkin!” Titah Arya.
“Sudah mas… Rumi cantik sekali… Insya Allah perjodohan ini akan berjalan lancar”
“Ya harus! Kapan lagi kita dapat menantu keturunan ulama dan berpendidikan?” Sambar Arya. Cahyati mengangguk-angguk.
“Layla mana? Kakaknya mau ada tamu kok dia tidak kelihatan?” Arya mengerutkan kening melihat sekeliling.
“Layla sudah pergi mas! Katanya ada tugas belajar kelompok!”
“Benarkah? Awas saja kalau dia kedapatan pergi lagi dengan pria begajulan itu!! Akan ku stop uang bulanan-nya! Dia itu masih SMP tapi sudah susah di atur!! ” Cerca Arya yang pusing memikirkan Layla Asmarini Ningsih, putri keduanya.
Tok Tok Tok
“Maaf pak, bu… keluarga haji Utsman sudah tiba!” Ucap asisten rumah tangga. Arya sumringah.
“Kamu urus Rumi, aku temui calon besan dulu!” Bisik Arya penuh penghayatan. Ia menepuk-nepuk pundak Cahyati.
“Ilyas, kondisikan dirimu! Ummi tidak ingin kamu memperlihatkan wajah kusut ketika berhadapan dengan Rumi!” Bisik Hajjah Wirda mewanti-wanti anaknya. Namun pikiran Ilyas semakin kacau. Ia terus saja memikirkan Iqlima. Hatinya tidak tenang. Cinta dan benci jaraknya memang sangat-lah tipis.
“Sekarang ini Rumi tidak terlalu sibuk. Seperti biasa, ia hanya memegang proyek kecil. Tipis tipis saja, selagi menunggu diamanahkan memimpin yang lebih besar. Hahahaha” Arya memancing pembicaraan.
“Jadi bagaimana nak Ilyas? Apa rencana mu terhadap Rumi selanjutnya?” Lanjut Arya. Mendengar namanya disebut, Ilyas mendongak.
“Hmh, Saya sudah mendaftar untuk Doctoral Program di Yaman!” Sahut Ilyas tanpa ekspresi. Hajjah Wirda melototkan matanya.
“Hehe walaupun begitu, Ilyas masih bisa melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan Rumi. Apalagi kalau s3 itu kan tidak terlalu kaku, hehe!” Tambah hajjah Wirda yang merasa kecewa atas jawaban Ilyas. Beliau berusaha memperbaiki keadaan.
“Hahahaha,, iya benar!” Arya mengangguk-angguk sumringah.
Di sisi lain, Cahyati menghampiri anaknya untuk bersiap menemui keluarga Ilyas di ruang tamu. Namun Cahyati hanya menemukan Rumi dengan wajah kusut.
"Ayolah nak! Kalau papa-mu melihat keadaan mu yang begini, beliau bisa marah! "
"Tapi Rumi suka nya sama Mas Yahya, Ma! Bukan sama Mas Ilyas! Pokoknya Rumi ga mau menikah kalau bukan sama Mas Yahya!" Rumi mensedekapkan tangannya. Kesal.
__ADS_1
"Abah dan Umminya Yahya akan ke Amerika dalam waktu lama, Nak! Beliau tengah sibuk mengurus warisan milik Haris, harta peninggalan haji Abdurrahman! Entah kapan mereka akan kembali! Jadi menikahkan kamu dengan Ilyas adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Usia kamu juga sudah 23 tahun. Sudah waktunya untuk menikah! Papa dan Mama sudah memutuskan yang terbaik!" Cahyati memberikan Rumi nasehat. Hubungan keluarga mereka, baik dengan keluarga Ilyas maupun dengan keluarga Yahya memang masih memiliki hubungan kerabat. Rumi hanya bisa menunduk lesu dan bersungut.
***
Cahaya yang jatuh tepat ke wajah Iqlima membuat tidur gadis ini terganggu. Sinar tersebut berasal dari gorden jendela yang sengaja Yahya buka lebar karena mereka hanya berdua saja di kamar rawat inap. Perlahan Iqlima membuka matanya.
“Mar… Maryam…” Panggil Iqlima.
“Kamu sudah bangun? Ada yang kamu inginkan?” Tanya Yahya mendekat.
“A.. ku haus..” Sahut Iqlima. Bibirnya terlihat pecah-pecah. Padahal sudah 3 botol cairan infus yang masuk ke tubuhnya. Yahya langsung membantu Iqlima mengambilkan minum.
“Terima kasih…”
“Apa kamu tidak memiliki kerabat selain kakek dan Maryam?” Iqlima menggeleng.
“Terima kasih untuk pertolongan mas Yahya! Lagi-lagi saya merepotkan.. Kalau mas Yahya punya kegiatan, aku tidak apa-apa kalau di tinggal” Lirih Iqlima. Ia melihat ke sekeliling, perasaan was-was masih menyelimuti hatinya. Iqlima takut kalau Hilman mengikutinya sampai ke rumah sakit. Ia pun masih cemas menantikan kehadiran Maryam.
“Aku akan menunggu Maryam. Ia akan kembali sore nanti, setelah itu baru aku pulang!" Sahut Yahya. Ia beranjak duduk di sebuah sofa. Merasa bosan, laki-laki ini menyalakan televisi.
Dini hari tadi, sebuah mobil Toyota Vios hangus terbakar di hutan Seulawah perbatasan Aceh Besar-Pidie.
Yahya mengerutkan kening. Iqlima terenyak. Spontan ia melepas paksa jarum infus yang ada di pergelangan tangannya. Lalu Iqlima mendekat ke arah sumber suara.
Mobil yang membawa dua penumpang ini menghanguskan seorang korban, pemuda asal Aceh Utara yaitu Rais Syuhada. Sedangkan seorang penumpang lainnya yaitu Iqlima Azkia Noor dikabarkan menghilang.
Masih belum diketahui dengan pasti apa penyebab dari musibah ini. Tim penyidik masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Layar televisi menampilkan dua buah KTP yang sedikit terbakar namun masih bisa dikenali. KTP Rais dan Iqlima. Juga puing puing mobil, sisa dari kebakaran.
Yahya menoleh ke wajah Iqlima yang tampak terpukul. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Iqlima tak percaya dengan apa yang menimpa suaminya.
"Ya Allaaah bang Raaaaiiiiisssss..... Hiks Hiks hiks..." Pekik Iqlima. Ia menangis sejadi-jadinya. Yahya dengan sigap menopang tubuh Iqlima yang terhuyung.
"Aaaaaaaa aaaaaaa hiks hiks hiks" Tangisnya semakin pecah. Melihat Iqlima yang histeris, Yahya jadi tidak tega. Ia memutuskan untuk memeluk Iqlima. Yahya berusaha menenangkan dengan mendekapnya sebaik mungkin. Air mata Iqlima berhamburan di dada bidang Yahya. Gadis ini menumpahkan seluruh lara yang serasa sangat menyesakkan-nya.
Yahya memang tidak mengerti apa yang terjadi, namun Yahya seolah bisa merasakan rasa sakit yang Iqlima alami. Tanpa sadar, semakin kencang suara tangis Iqlima, semakin erat pula-lah ia memeluk gadis tersebut.
***
Yuk Dukung karya ini dengan Like, Komen, Vote dan berikan hadiahnya... Terima kasih 😇😇😇
__ADS_1
IG: @alana.alisha
***