Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 18: Tidak Pernah Memimpikannya!


__ADS_3

Tok tok tok


“Kemana Yahya?” Hajjah Aisyah mengetuk pintu kamar. Sudah hampir seharian anaknya tidak terlihat.


“Sri… Yahya mana?” Tanya hajjah Aisyah pada asisten pribadinya.


“Gus Yahya tidak kelihatan sejak kemarin… Oh iya, Ummi Hajjah… Gus Yahya sudah lama tidak menempati kamar ini, beliau biasa tidur di kamar dekat tangga” Sahut Sri.


“Kamar dekat tangga? Itu kan kamar yang sempit. Kenapa harus tidur di sana?!” Hajjah Aisyah mengerutkan keningnya. Heran.


“Tolong ambilkan kunci pintu cadangan! Aku akan membersihkan kamar ini!”


Ceklek


Pintu terbuka. Alangkah terkejutnya Hajjah Aisyah bahwa kamar utama yang seharusnya Yahya tempati itu kini penuh dengan barang-barang. Ada lukisan dan beraneka ragam rajutan!


“Ya Allaaah Sriiii… Berantakan sekali! Benda-benda ini darimana datangnya?!” Pekik Hajjah Aisyah.


“Benda-benda ini sepertinya Gus Yahya pesankan khusus Mi.. Tapi saya tidak tau darimana asalnya. Benda-benda ini datang hampir tiap minggu dan selalu beliau susun rapi seperti ini!” Sahut Sri.


“Rapi darimana?! Lama-lama kamar ini bisa jadi Gudang sampah! Suruh Pak Saleh membawa keluar semua benda-benda ini ke Gudang bawah! Kalau perlu dibakar saja! dan titahkan pada Maya untuk membersihkan kamar ini seperti sedia kala!” Titah Hajjah Aisyah. Beliau berlalu dengan memijat pelipisnya.


"Ba.. Baik Ummi Hajjah"


***


Iqlima membawa sebaki minuman ke ruang tamu. Teh hangat berserta cemilan. Ia meletakkan gelas-gelas berisi minuman tersebut ke hadapan dokter Jelita dan dua pemuda yang mengunjunginya. Gerakan jemari lentik iqlima kala menyuguhkan minuman tidak lepas dari mata Ilyas. Kemana jari tersebut berayun, kesitu pula-lah netra nya bergerak.


Astaghfirullah. Ilyas memejamkan mata beristighfar di dalam hati. Wajah bersih Iqlima tampak sendu dan sedikit pucat. Tatapan Ilyas beralih ke Yahya. Ia mengkode-kan sesuatu.


“Hemm…” Yahya berdehem.


“Dokter Jelita, ada yang ingin aku bicarakan”


“Ya?”


“Bisa kita keluar sebentar?” Pinta Yahya.


“Ah okay” Dokter Jelita menatap Iqlima. Ada ketidaknyamanan di sana.


“Bagaimana kabar mu enam bulan terakhir ini? Apa kau melaluinya dengan penuh kesulitan?” Tanya Ilyas membuka percakapan. Iqlima menunduk. Ia tidak ingin menatap Ilyas. Iqlima khawatir airmata nya akan kembali berhamburan. Ia memainkan jari jemari nya.


“Aku sudah menjawabnya tadi” Iqlima menjawab tegas namun dengan suara bergetar.


“Kau marah padaku, hm?” Tanya Ilyas lagi. Andai mereka halal, rasanya ingin sekali ia menenggelamkan gadis manis yang ada di hadapannya tersebut ke dalam pelukan.


Di luar, Yahya menendang-nendang tanah berbatu yang ada dihadapannya dengan mensedekapkan tangan. Bukan hanya sekali. Sudah berulang kali ia melakukannya. Matanya dari tadi melihat ke arah pintu yang terbuka lebar. Berharap Iqlima segera keluar dari sana.


“Kau mencemaskannya…” Tuding Dokter Jelita yang sedari tadi diam melihat tingkah Yahya.


“Kau tak rela mereka bersama di sana”


“Hhhhh memang sudah seharusnya mereka menyelesaikan masalah” Sahut Yahya. Matanya tetap mengarah ke pintu.


Di ruang tamu, Iqlima lebih banyak diam. Ia hanya bisa menunduk. Kepalanya terasa pusing memikirkan jawaban dari pertanyaan Ilyas yang ia sendiri sebenarnya muak untuk menjawab.

__ADS_1


“Iqlima, bukan keinginanku untuk melukaimu. Disinipun… dalam hal ini aku juga terluka” Ucap Ilyas pada akhirnya setelah melayangkan bertubi-tubi pertanyaan.


“Enam bulan terakhir ini… Aku harus memulihkan rasa sakit di hati padahal sebenarnya aku telah salam paham. Aku salah menilaimu” Sebutir air langsung menetes dari sudut mata Iqlima.


“Aku menemuimu untuk meminta maaf. Aku minta maaf atas hubungan masa lalu kita yang pahit. Aku menganggapnya kita sama-sama bermimpi buruk karena kesalahpahaman” Diam-diam Iqlima tersenyum pahit.


“Apa kau mau memaafkanku?” Tenggorokan Iqlima lagi-lagi tercekat.


“Dalam 6 bulan lalu, banyak peristiwa yang aku alami. Jujur saja aku sudah bertunangan dengan gadis yang dipilihkan oleh abah dan ummi. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi diantara kita” Tatapan Iqlima beralih ke cincin yang melingkar di jari manis Ilyas.


“Tapi…. Aku tetap…”


“Ya… Aku juga tidak pernah berharap kau kembali!” Sahut Iqlima tiba-tiba. Ia mengerti kemana arah dan tujuan dari pembicaraan Ilyas. Pemuda tersebut mendongakkan kepalanya. Tercengang.


“Dan… peristiwa hari ini, pertemuan denganmu… aku sama sekali tidak pernah memimpikannya!” Lanjut Iqlima. Ia bangkit dan beranjak menuju pintu.


“I…Iqlima, kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!”


Melihat Iqlima yang sudah ada di depan pintu, Yahya dengan sigap langsung menghampiri gadis tersebut.


“Iqlimaa… aku belum selesai bicara…” Ucap Ilyas yang sudah berdiri dibelakangnya.


“Bang Yahya, bang Yahya ke sini untuk penuhi janji bawa Iqlima ke hutan Seulawah, kan?” Tanya Iqlima sendu. Wajahnya penuh harap. Lagi-lagi netra coklat itu membius.


“I.. iya.. Kita akan ke hutan seulawah. Aku akan membawamu ke sana…”


***


Pengadilan Tinggi, Banda Aceh.


“Dengan bukti-bukti yang ada, saya menyatakan bahwa Teuku Hilman beserta anggota yang terlibat dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan biaya kompensasi sebesar 300 juta rupiah! Tuk tuk tuk” Hakim ketua mengetuk palu.


“Abang sudah tenang, Mak… Abang sudah berkumpul bersama ayah di surga. Kita harus ikhlas… Abang mendapatkan pahala syahid… Abang sudah tenang…” Ibu mengangguk namun tangisnya semakin pecah. Sesak dan sakit. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan kondisi hati mereka 6 bulan terakhir ini.


“Rais anakku… Hiks hiks hiks… Ummi ikhlas nak… maafkan ummi… Maafkan ummi yang masih saja menangis” Lirih Ibunda Rais yang tampak kurus dengan wajah yang semakin cekung.


Di sisi lain, keluarga Hilman meradang. Rahang Ampon Din mengeras. Matanya berurat merah. Beliau mengikuti sidang yang sudah berbulan-bulan digelar namun baru hari ini menemui ketuk palunya. Hukuman ini jauh lebih ringan dari tuntutan semula Jaksa Penuntut Umum, yaitu hukuman penjara seumur hidup.


“10 tahun?! Mau jadi apa Hilman di dalam penjara?! Ini semua salah mu tidak becus mendidik anak!!” Tuding Ampon Din pada istrinya. Beliau mengepalkan tangan.


“Panggil pengacara paling tersohor di seluruh tanah Rencong! Kita ajukan banding! Kalau perlu datangkan dari ibukota! Apa sudah habis pengacara di negeri ini?!” Titah Ampon Din pada asistennya. Beliau keluar dari persidangan dengan wajah kusut.


Dua istri Hilman menangis sesugukan. 4 anak yang masih kecil hanya diam sebab tidak mengerti permasalahan apa yang tengah orang tua mereka hadapi.


“Mak…” Anak tertua yang berusia 7 tahun mengusap airmata ibunya. Walau tidak mengerti, si sulung tetap mencoba untuk menenangkan.


Hilman dipindahkan ke ruang tahanan resmi negara. Ia langsung dijebloskan setelah mendengar putusan sidang. Hukumannya terhitung mulai dari hari ini.


“Wah.. ada anggota baru!” Para tahanan saling melirik. Hilman duduk memejamkan mata. Pikirannya jalan. Ia tengah memikirkan bagaimana menghabiskan waktu dengan efektif di ruangan sempit dan pengap ini. Jangan sampai ia benar-benar mendekam selama 10 tahun seperti yang disebutkan.


“Hey, anak baru… Sini kau!” Seorang tahanan bertubuh besar membuyarkan konsentrasi Hilman.


“Lelah baru sidang!” Jawab Hilman santai. Ia menguap sambil merenggangkan tulang punggungnya.


“Sial! Jangan banyak tingkah! Sini kau!! Aku senior di sini!!!” Tahanan tersebut menyiapkan kepalan tinjunya.

__ADS_1


“Memang kalian mau apa?” Hilman jengah. Ia bangkit berdiri lalu bergidik melihat kepalan tinju yang besarnya 3 kali lipat dari kepalannya.


“Hmh… Sabar.. Sabar..! Begini saja, kita klasifikasikan kehebatan dari tingkat kejahatan yang dilakukan. Kau…. Iya, kau yang duduk di sudut sana, apa kejahatanmu?!” Lanjut Hilman menunjuk ke arah tahanan yang paling kurus. Ia mengangkat dagunya ke atas.


“Aku hanya mencuri beberapa ekor kambing”


“Ck… boleh juga kemampuanmu!”


“Kalau kau?!”


“Aku memperk*sa istri orang”


“Hahaha.. Seleramu juga okay. Good!” Hilman terbahak-bahak menutupi rasa gugup.


“Kalau kau?”


“Aku membunuh istriku dengan linggis karena ia berselingkuh” Ucap tahanan yang berwajah muram. Pria jangkung tersebut tampak terpukul.


“Sadis juga... Kalau kau senior? Kau yang paling gagah di sini!”


“Hahaha kau tanya aku? Jangan terkejut… Aku mencuri di toko emas dan membobol mesin atm. Biasanya tidak pernah ketahuan, entah mengapa kali itu aku naas” Sahut tahanan senior bangga.


Sial. Ternyata dia yang mencuri emas di toko Abu. Tunggu pembalasanku. Batin Hilman.


“Hey, dari tadi kau menanyakan kejahatan kami. Memang kau sendiri melakukan apa, Hah?! Kalau hanya mencuri ayam, lebih baik kau mundur dari gaya pongahmu!”


“Aku…? Cuma kejahatan biasa…”


“Apa itu? Jangan banyak basa basi! Cepat katakan!!”


“Aku….. menyilet le..her seseorang tepat di urat nadinya. Lalu Aku membakar orang tersebut beserta mobilnya” Sahut Hilman dengan wajah dibuat sesangar mungkin. Ruangan mendadak hening. Para tahanan kesulitan menelan ludah. Beberapa dari mereka beringsut mundur.


“Tidak ku sangka.. Ternyata kau Master Iblis!!!” Sahut tahanan yang membunuh istrinya.


“Master,,,! "


"Tolong Jadikan kami muridmu!!!” Pinta tahanan senior dengan mata berbinar.


***


Yahya menyetir mobil yang telah Iqlima sewa. Gadis ini mengeluarkan uang dari hasil penjualan karya lukisan dan rajutan guna membiayai perjalanan mereka. Tentu, Yahya-lah salah satu pembeli yang hampir membeli semua karya-karya miliknya. Selain karya tersebut juga ia marketkan di pasaran.


Iqlima duduk di sebelah Yahya yang menyetir. Mereka tiba diperbatasan Sumatera Utara-Aceh. Mereka harus menempuh 11 jam lagi perjalanan untuk bisa sampai di tempat tujuan. Ilyas mengamati Iqlima yang sedari tadi asik mengobrol bersama Yahya sambil memeluk lukisan.


“Hebat, jadi ini lukisanmu yang ke 67?” Yahya melirik coretan tulisan 67 yang ada di samping bingkai.


“Sama sekali tidak hebat. Aku sudah membuat banyak lukisan. Banyak sekali! Entah sudah berapa banyak pencil yang teraut, cat watercolour, acrylic dan kertas juga waktu yang terbuang….”Sahut Iqlima mengenang masa masa sulitnya membuat lukisan untuk menyambung hidup.


“Lukisan ini adalah lukisan ke 67 yang menurutku lumayan berhasil. 66 lain nya sudah laku terjual. Aku bermimpi suatu saat aku bisa memiliki galeri lukisan” Sahut Iqlima berbicara menatap Yahya. Melihat binar mata Iqlima, Ilyas yang duduk dikursi belakang terasa terbakar.


66 lukisan. Bersamaku sudah ada lebih dari 35 lukisan miliknya. Berarti selebihnya sudah laku terjual. Wow. Gumam hati Yahya ikut bahagia.


"Mimpi bisa menjadi kenyataan, tapi ada rahasianya. Mereka diwujudkan melalui keajaiban ketekunan, tekad, komitmen, semangat, latihan, fokus, dan kerja keras. Mereka terjadi selangkah demi selangkah, terwujud selama berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun. Dan yang paling cintai apa yang kau lakukan. Insya Allah kau akan menuju pada kesuksesan mu!" Sahut Yahya tersenyum. Iqlima terpana. Ia bahagia mendapat dukungan dari Yahya.


"Stooppp!" Ucap Ilyas tiba-tiba.

__ADS_1


"Yahya... Stooppp!! Berhenti! Aku akan menyetir menggantikan mu! Kau melajukan mobil ini dengan begitu sembarangan!!" Tukas Ilyas dengan nada marah.


***


__ADS_2