
Lapangan Terbuka
"Bapak-bapak, ibu-ibu sekalian... ini hunian sementara dari saya untuk kalian semua! Saya akan memikirkan cara untuk merebut kembali hak kalian pada tanah Krueng Lam Kareung! Tanah kalian yang telah di jajah dan dirampas paksa oleh kaphe la'nat 'alaihim!!! " Orasi Hilman yang berapi-api mengaung di lapangan luas. Ia yang telah menyerahkan semua tanah leluhur pada Arya Pranawa langsung memutar otak untuk membalikkan keadaan. Laksana bendera, angin yang berdesau desau mengibarkan blazer panjang menambahkan kewibawaan nya.
(Kaphe\= Kafir (menunjuk Arya, merujuk ke semangat perang fii sabilillah dalam memerangi Belanda di masa lalu, kafir di sini hanya perumpamaan untuk menyebut musuh laknat)
Bagai pribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, begitu lah apa yang kini Hilman lakukan. Berbekal sejumlah uang dan aset milik Cut Buleun, Hilman menyediakan barak-barak hunian sederhana untuk menampung para penduduk desa. Seketika, ia menjelma menjadi malaikat penolong.
"Masya Allah! syedara lôn syurga Allah keu dröeneuh! " Pekik salah satu warga terharu. Setidaknya setelah harta benda mereka dirampas paksa, mereka masih memiliki tempat untuk bernaung.
"Prèh beuh Kaphe paleh!! Menyö perle ta meuprang, ta prang! Kèe hana yö kuh! Adak mate pih syahid Insya Allah!!"
"Prang!!! "
"Hambôoooo!!"
"Sabar... Sabar... Tenang... Tenang..." Hilman menaikkan tangannya ke atas.
"Benar apa yang bapak ibu sekalian katakan... kita bisa saja mengobarkan perang, kalaupun nanti mati, maka akan terhitung mati syahid! Saya tau semangat juang masyarakat Aceh ini tinggi dan tidak pernah gentar laksana Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien! Juga Laksana leluhur abadi, Sultan Iskandar Muda! Tapi sodaraku... kalau hanya mati konyol, untuk apa? Kita harus memakai strategi! Dia pintar, kita harus lebih pintar! Sementara kita tidak bisa melapor ke pemerintahan karena tidak memiliki bukti, maka kita pikirkan cara lain! Saya akan selalu berada di pihak kalian! Bersama-sama kita akan merebut kembali harta pusaka leluhur yang di rampas paksa!! Hidup Krueng Lam Kareung!!! " Teriakan Hilman menggunakan toa tidak hanya memenuhi lapangan, namun juga memenuhi relung-relung hati rakyat. Hilman begitu piawai. Keadaan mendesak membuat otaknya bekerja sempurna.
Sekarang saatnya memikirkan cara bagaimana merebut hati Iqlima! Mengembalikan harta-hartanya! Hidup bahagia berdua bersamanya di pulau terpencil tanpa perlu bekerja keras!
Iqlima sayang, hartamu lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan kita bersama~
Sementara di sisi lain, Arya duduk dengan memegang sebuah teropong besar. Ia memantau pergerakan Hilman dengan tersenyum sinis.
...****************...
Iqlima menyeret tas kopernya perlahan. Ia bersiap pindah ke pesantren untuk menerima berbagai macam pelajaran seperti yang dititahkan oleh Hj. Maharani.
Dengan lesu, Iqlima terus melangkahkan kaki. Namun tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Ia berhenti sejenak. Tak lama, ia kembali melangkah. Ingatan tersebut membuatnya melangkah gontai hingga berlari kecil sampai membuat Rina kesulitan mengejarnya.
"Nona, nona mau kemana?" Panggil Rina was-was.
"Nona.... saya khawatir nanti nyonya hajjah akan menghukum nona lebih berat lagi! " Ucap Rina memberi peringatan. Namun Iqlima tidak menggubrisnya. Dengan pasti ia terus melangkahkan kaki. Dan dengan mengangkat kedua tangan dengan sekali tarikan,
Ceklek
Iqlima membuka pintu ruang kerja Yahya tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Ia sudah bersiap-siap menyampaikan sesuatu yang menurutnya amat sangat penting. Namun alangkah terkejutnya Iqlima karena ternyata Layla juga berada di sana.
Deg.
Iqlima mematung. Seketika Ia seperti kehilangan energi saat melihat tangan Yahya mencengkram pinggang langsing gadis tersebut dengan menatap intens kedua bola mata indahnya. Wajah mereka begitu dekat. Mungkin jika beberapa detik lebih lama Iqlima membuka pintu, mereka telah berpagut mesra.
__ADS_1
Rina yang juga terkejut dengan cepat mundur ke balik tembok. Dengan tangan gemetar Iqlima kembali menutup dua daun pintu yang sebelumnya ia buka begitu antusias dan cepat-cepat melarikan diri. Yahya dan Layla yang terlanjur melihat Iqlima langsung memperbaiki posisi berdiri mereka.
"Layla, lain kali berhati-hati lah! Kalau bertingkah seperti tadi, kau benar-benar akan membentur sudut meja! " Ucap Yahya memperingatkan kecerobohan Layla. Ia langsung bergegas pergi.
"Mas... kemana?!" Tanya Layla dengan nada kesal. Ia yang sudah tau jawabannya tidak bisa untuk tidak bertanya.
Kapan mas berhenti memperhatikan dia?! Aaarghh!!! Layla mengepalkan tangannya erat-erat. Namun tiba-tiba Ia terhuyung. Layla merasa pusing. Ia langsung berpegangan pada sudut meja.
Sepertinya aku pusing karena sudah terlalu muak dengan wanita sialaann itu!! Umpat Layla yang memilih untuk duduk sejenak di kursi. Tidak hanya pusing, tiba-tiba saja ia merasa mual.
Srett
Yahya menarik lengan Iqlima hingga gadis tersebut berbalik menghadapnya.
"Ada apa? " Tanya Yahya datar. Iqlima menitahkan Rina untuk lebih dulu ke pesantren. Pertanyaan Yahya benar-benar membuatnya sedih. Padahal suaminya tersebut mengetahui bahwa mereka akan berpisah. Walau hanya untuk sementara waktu, namun perpisahan mereka tampaknya tidak berarti apa-apa bagi Yahya.
"Maaf menganggu waktu kebersamaan bang Yahya dan Layla! "
"Aku tidak suka berbasa basi, Iqlima! Ada apa kau menemuiku? " Tanya Yahya melirik koper besar di lantai. Iqlima kembali membayangkan adegan yang baru saja terjadi di depan mata. Dadanya kembali bergemuruh.
"Aku terpaksa menemui bang Yahya untuk mengajukan satu permohonan! " Balas Iqlima.
Terpaksa? Yahya memicingkan matanya.
"Saat ini mungkin hanya bang Yahya yang bisa menolong! Bang Yahya lah orangnya. Allah mengirim bang Yahya untuk menjadi penolong! " Ucap Iqlima memilin-milin kerudungnya. Yahya mengerutkan kening tanpa menyahut.
"Itu saja? Hanya itu saja?" Yahya mengangguk-angguk tanpa ekspresi. Ia mencoba bersikap senormal mungkin. Sebenarnya Yahya begitu terbakar mendengar permintaan Iqlima. Padahal tanpa istrinya pinta Ia juga telah lebih dulu berusaha menyelidiki kasus mereka.
"Benar. Ha.. hanya itu saja! Te...rima kasih banyak... A... Aku permisi" Iqlima buru-buru meraih koper pakaiannya.
"Lalu setelah ini, apa kau berniat untuk hidup bersamanya? " Pertanyaan Yahya berhasil membuat langkah kaki Iqlima terhenti.
"Dia lagi. Dia lagi. Laki-laki itu selalu saja merajai pikiran mu! Ragamu berada di sini, tapi pikiran dan jiwamu menggembara begitu bebas padanya! "
"Bang...." Tenggorokan Iqlima tercekat.
"Jangan-jangan setiap kali aku mendatangimu dan kau terpaksa melakukan kewajibanmu, maka yang kau bayangkan adalah sentuhan yang dia berikan! Di matamu, aku adalah dia kan!? Pikiran liarmu menggembara padanya!" Bagai air bah, kata-kata Yahya yang begitu menusuk mengalir begitu saja. Iqlima ternganga tak percaya. Tuduhan Yahya terasa begitu menyakitkan. Jauh lebih menyakitkan dari ketika ia melihat Yahya dan Layla bermesraan.
"Kenapa diam?! Kenapa?!! " Yahya maju. Kali ini ia mencengkram pergelangan tangan Iqlima sekuat tenaga hingga wanita tersebut mengaduh. Yahya berusaha keras mengontrol dirinya. Tapi sungguh Ia tak mampu. Yahya gagal.
"Baik! Kali ini aku akan mengabulkan keinginan mu! Aku sendiri yang akan mengantarkan istriku ke depan wajah laki-laki itu biar kau puas!!! " Ucap Yahya geram. Ia menyeret Iqlima keluar.
"Bang... Jangan... Bang... Hiks hiks... Ampuun..." Iqlima mulai menangis. Yahya tak ubahnya seperti singa yang kuku dan taringnya siap kapan saja menerkam.
__ADS_1
Nilam yang tiba-tiba mendatangi kediaman mereka jadi terkejut dan tercengang. Dengan mengendap-endap sambil terus memperhatikan kemarahan Yahya, Ia membawa amplop surat yang menyasar ke pondok putri untuk dibawa pada Haji Zakaria.
"Mau saya antar ke mana, Gus? " Tanya supir pribadi berhati-hati. Wajah Yahya terlihat begitu kusut.
"Tidak usah. Biar saya yang setir sendiri! "
"Ba... Baik Gus! " Supir tersebut menyerahkan kunci. Mobil langsung melesat cepat.
"Ada apa dengan Gus Yahya dan perem... hmh... dengan nona itu? " Tanya Nilam pada security yang berdiri di depan pintu masuk.
"Huss... mau tau saja urusan Gus! Pamali! Kamu kesini ada keperluan apa hah?! " Sahut security galak.
"ih begitu saja ndak boleh tau! Yowes.. ini ada surat dari haji Amiruddin untuk abah haji. Suratnya menyasar di pondok putri! "
"Yasudah... Nanti saja berikan! Pergi sana! " Usir security. Nilam hanya bisa membuat wajah sewot. Namun setidaknya kini ia punya hotnews yang bisa ia gunakan kapan saja dan dimana saja untuk berbagai kepentingan nya! "
Ciiiiiitttt
Mobil Yahya tiba di bandara. Dengan kasar Ia membuka pintu dan menyeret Iqlima keluar.
"Bang, stop! Kita mau kemana? Hiks hiks" Tak ada pilihan lain kecuali mengikuti gerak langkah Yahya yang terus saja menariknya.
"Kita akan menemui selingkuhan mu di Aceh! " Sambar Yahya. Iqlima memejamkan matanya. Jengah. Yahya benar-benar tidak bisa mengerti dan tidak mau mengertikan kondisinya.
"Kalau begitu..... "
Sret Sret Sret
Yahya terus saja menarik Iqlima. Orang-orang yang berada di bandara melihat mereka dengan wajah heran.
"Ka... Kalau begitu... " Suara Iqlima begitu lemah. Nyaris tak terdengar karena sapuan angin.
"Kalau begitu CERAI kan saja aku! " Teriak Iqlima menutup mata. Namun kini suaranya terdengar begitu nyaring melebihi ekspektasi. Sampai-sampai semua pasang mata yang mendengar menoleh pada mereka. Sontak Yahya menghentikan langkah kakinya. Jam serasa berhenti berdetak. Entah mengapa sebuah kata yang paling Iqlima takutkan meluncur begitu saja dari mulutnya. Tanpa beban. Begitu jelas. Begitu terang. Kini dada Iqlima mulai bergemuruh. Ia pasrah terhadap apapun keputusan Yahya nantinya.
Dari arah berlawanan, dua orang berlainan jenis datang menghampiri mereka.
"Yahya, apa yang kau lakukan terhadap Iqlima?! " Dara dengan sigap memeluknya yang menangis sesegukan. Ilyas yang juga berada di bandara untuk mengantar Dara tersenyum sinis.
"Kau mau menyia-nyiakan nya, hah? Cih! Aku Ilyas... Dengan tangan terbuka, dengan segenap jiwa dan setulus hati akan dengan mudah bisa menerimanya! Dari awal kau memang bukan laki-laki yang bisa diandalkan! " Ucap Ilyas menohok. Ia membuka jaket kulit yang Ia kenalan dan membalutkannya ke tubuh Iqlima.
...****************...
Maaf baru sanggup update sekarang~ Kemarin2 Alana kurang sehat ya... Terima Kasih untuk yang tetap setia dan mendoakan... Jazakumullah Khairan Katsiran... ✨✨✨
__ADS_1
Ig: @alana.alisha
...****************...