
Delapan Belas Bulan Kemudian~
Cerutu dihidupkan. Asap mengepul-ngepul memenuhi ruangan. Seseorang duduk menikmati tembakau sembari menatap ke arah langit yang mendung menghitam. Sepertinya tidak lama lagi hujan deras akan turun.
Tok Tok Tok
Ceklek
"Tuan Osman, acara pernikahan nona Layla dan tuan Yahya akan segera dimulai!" Hilman yang sudah mengganti identitas menjadi Osman mengangguk.
Osman melangkah seperti tak bersemangat. Pasalnya sudah lebih dari setahun ia merantau ke Jakarta namun belum juga berhasil menemukan pujaan hatinya. Bahkan perihal asmara, kini putri belia dari atasannya tersebut sudah lebih dulu mendahuluinya.
Osman merasa semua upaya dan kerja kerasnya selama ini terasa sia-sia. Sudah beberapa kali ia mengganti pesuruh bayaran. Sudah berapa banyak pundi-pundi yang ia keluarkan. Belum lagi, ia harus bolak balik Jakarta-Seoul agar tampilan bekas operasi nya senantiasa paripurna. Namun semua usahanya belum juga membuahkan hasil.
Dengan tidak bergairah Osman mulai memasuki Mesjid Bustanul Jannah. Terlihat Layla dengan kecantikan paling menonjol di antara yang lain tengah berada dalam barisan para jama'ah wanita. Osman juga melirik Yahya. Pemuda yang sudah siap mengucapkan ijab kabul tersebut memakai jubah putih yang tampak mewah.
"Ternyata selera rekan bisnis tuan Arya boleh juga! " Gumam Osman pada asistennya.
"Ya, apalagi kabar yang beredar menyebutkan bahwa ini adalah pernikahan kedua beliau!"
"Ck. Ternyata laki-laki dimana-mana sama saja! "
"Tapi Nona Layla-lah wanita yang dicintai oleh beliau, Tuan! Pernikahan dengan istri pertama adalah pernikahan terpaksa. Tuan Yahya menyelamatkan istri pertama dari rumah bordil. Kabar yang beredar, Istri pertama nya adalah seorang pelac*r!" Osman mengangguk-angguk mengusap dagu. Pikirannya melayang pada Mawar dan Melati. Wanita malam yang dinikahinya.
"Asisten brengs*k! Kita lagi di mesjid! Jaga ucapanmu!!" Sembur Osman setengah berbisik.
"Maa.. Maaf tuan"
Saya terima nikah dan kawinnya Layla Asmarini Ningsih binti Arya Pranawa Mahesa dengan mahar cincin berlian seberat 5 karat dibayar tunai.
Bacaan akad nikah lantang dan tegas yang di lafalkan oleh Yahya menggema dari corong masjid Bustanul Jannah. Suara yang memecah alam menggema di seantero kawasan. Tidak bisa dicegah, suara tersebut juga masuk ke dalam kamar utama milik Yahya dan Iqlima.
Braaaakkk
Praaankkk
"Nona.... apa yang nona lakukan???!!" Teriak Sri menjatuhkan baki minuman saat melihat Iqlima mengamati lekat-lekat pisau yang ada di dalam genggaman tangannya.
Menantu pertama dari majikannya tersebut tampak menyedihkan. Tubuhnya menjadi lebih kurus dari biasanya. Matanya terlihat bengkak karena tidak berhenti menangis. Sudah lebih dari setahun ini Iqlima mengalami tekanan batin dan hari ini ia menemui puncaknya.
"Nona, saya mohon jangan begini... " Sri menangis sembari mengamankan pisau yang Iqlima pegang. Ia tidak segan memeluk wanita yang ada dihadapannya dan membiarkan wanita tersebut menangis dalam bahu mungilnya.
__ADS_1
"A... Aku tidak apa-apa, Mbak! A... Aku baik-baik saja! " Ucap Iqlima tersedan. Air mata Sri mengalir semakin deras.
"Mbak Sri sebaiknya jangan kesini..." Lirih Iqlima sendu. Wanita ini tampaknya trauma dengan pemecatan Asih setengah tahun lalu karena dituduh melakukan pencurian di Bustanul Jannah. Padahal sejatinya Iqlima mengetahui bahwa Asih dijebak karena selalu membelanya. Malang, Iqlima tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan orang berhati tulus tersebut.
"Saya akan tetap berada di sini... Saya tidak akan membiarkan nona menjalani hari-hari sulit dengan hati yang terluka sendirian... " Ucap Sri menggenggam tangan Iqlima dan menatap manik matanya lekat-lekat. Iqlima terharu.
"Aku kuat... Aku tidak apa-apa... Sungguh! Pernikahan mereka, akulah yang menginginkan nya!" Ucap Iqlima mengusap air mata Sri.
"Aku berharap, semoga cinta bang Yahya dan La... Layla langgeng sampai maut memisahkan mereka" Bagai ditusuk sembilu, hati Iqlima terasa perih. Namun ia tetap berusaha tegar dan memberikan harapan tulus untuk pernikahan kedua suaminya.
***
"Yahya... Kamu mau kemana?!" Yahya menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuh menghadap sumber suara dengan gerakan malas.
"Apalagi mi? Apalagi yang harus Yahya lakukan setelah ini semua?! Apa Ummi belum puas??" Tanya Yahya dengan suara meninggi dan jiwa bergemuruh.
"Kenapa kamu jadi marah?! Istrimu yang memaksamu menikah, bukan Ummi! Dia juga sadar diri karena tidak bisa memberikanmu keturunan!" Yahya menghela nafas beratnya.
"Dengarkan Ummi... Kau sudah menikahi Layla... istrimu itu sudah menunggumu di kamar! Ini adalah malam penga... "
"Yahya mau menemui Iqlima" Ketus Yahya.
"Yahya! Ini malam pengantinmu bersama Layla! Bagaimana kau bisa tega tidak menjaga perasaan nya sedangkan kalian baru saja menikah?! Beribu malam sudah kau lalui bersama Iqlima! Tidak bisakah jika malam spesial ini kau hanya melihat Layla saja?! Dia istri sah-mu! Jangan kecewakan dia! " Sembur Hajjah Aisyah. Yahya kembali menghela nafasnya.
Ceklek
Aroma parfum mahal menyeruak menghampiri penciuman Yahya. Semerbak harum-haruman tersebut sedikit mengganggunya. Yahya menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Kamar terlihat gelap. Seperti tidak ada tanda-tanda adanya kehidupan di sana.
Klik
Yahya menghidupkan lampu utama. Seketika ruangan gelap pekat berubah menjadi terang benderang. Kamar berdebu yang sudah jarang ia tempati benar-benar di sulap menjadi seperti kamar hotel berbintang. Taburan kelopak bunga mawar bertebaran dimana-mana.
Astaghfirullah! Tiba-tiba Yahya memalingkan wajah. Alangkah terkejutnya ia melihat seorang wanita yang berdiri di dekat kasur tersenyum menyambut nya dengan tampilan yang begitu terbuka.
"Suamiku... Kemarilah... Ayo bacakan doa pengantin ke ubun-ubunku... Doa yang biasa dibacakan oleh Salafush Shalih di malam pengantin mereka! " Suara halus Layla terdengar mendayu-dayu. Sepertinya ia sudah banyak menerima pelajaran agama di Bustanul Jannah. Yahya seketika tersadarkan bahwa ia sudah menikahi gadis bernama Layla. Ia pun perlahan membawa wajahnya menatap istri barunya yang hanya mengenakan Lingerie berwarna merah menyala. Layla tampak begitu ranum dalam balutan pakaian yang benar-benar gagal menutupi tubuh indahnya.
***
Iqlima membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur. Wanita tersebut tidak bisa tidur. Berulang kali ia melirik ke arah pintu. Berkali-kali pula hatinya mencelos. Ia mengharapkan sesuatu yang sudah ia ketahui dengan pasti jawabannya.
Mana mungkin bang Yahya datang. Apa yang aku harapkan?! Iqlima tersenyum pahit. Air matanya kembali menetes. Wanita tersebut menggigit-gigiti kukunya merasa cemas. Pasalnya, malam ini adalah malam pengantin suami dan madunya. Baru tadi mereka menikah dengan menggelar pesta hajatan yang super mewah. Mana mungkin Yahya akan menghampiri nya.
__ADS_1
Iqlima hanya bisa menatap sendu ke arah bungkusan kado yang sudah ia persiapkan untuk pernikahan Yahya dan Layla. Namun sayang, Iqlima masih tidak mampu menyerahkannya. Walau berulang kali menyakinkan diri bahwa ia kuat dan tegar. Berulang kali pula-lah pertahanannya runtuh. Hancur, luruh berdebu.
Dengan tubuh gemetar Iqlima memaksakan diri untuk bangkit berdiri. Rasa sakit yang menggerogoti jiwanya sudah tak tertahankan lagi. Perlahan wanita tersebut berjalan ke arah jendela dan membukanya. Tak ada sinar rembulan atau bintang gemintang di langit sana. Hanya ada udara yang terasa lembab karena hujan baru saja berhenti.
Malam ini bang Yahya pasti sangat bahagia.. Bang Yahya tengah menikmati malam dengan wanita yang sejatinya beliau cintai... Bang Yahya telah meletakkan tangannya ke atas wanita cantik itu...
Tes Tes Tes~
Iqlima tidak bisa membendung air matanya yang jatuh tertumpah ruah. Pun ia yang mati-matian memaksa Yahya untuk menikah lagi, tetap saja kenyataan yang sebenarnya terjadi adalah Iqlima merasa sangat tersiksa. Perasaan cemburu, sakit, frustasi namun harus merelakan bercampur aduk tak terperi. Iqlima merosot ke lantai. Angin dingin yang mendesau-desau tak juga membuat perasaannya membaik.
Tap Tap Tap
Kreeekkk Kreeekkk
Tiba-tiba terdengar suara tapak kaki dan dedaunan kering yang terpijak. Perhatian Iqlima teralihkan.
Ia menghentikan tangisnya.
Sepertinya suara kucing. Pikir Iqlima. Ia hendak bangkit berdiri. Namun suara jejak kaki yang bukan seperti dugaannya dan menyerupai langkah kaki manusia semakin terdengar jelas.
***
Yahya mematung di tempat. Layla benar-benar menjelma bak supermodel majalah dewasa di hadapannya. Lipstik merah menyala. Rambut yang tergerai bergelombang. Blush on merona di wajah halusnya. Ia tidak tampak seperti gadis berusia 18 tahun. Layla benar-benar piawai dalam berdandan. Laki-laki mana yang tidak tergoda?
Perlahan Yahya berjalan mendekatinya. Layla masih berdiri dengan senyum menawannya. Ia merasa menang. Pemuda tersebut meletakkan telapak tangannya ke atas puncak kepala Layla dan melafazhkan sebuah doa yang entah doa apa.
Gadis muda tersebut ikut mengaminkan dengan perasaan haru. Ia benar-benar bahagia. Impiannya diperistri oleh Yahya akhirnya terwujud. Yahya menyentuhnya. Pria dingin tersebut menyentuhnya. Walau baru menyentuh ubun-ubunnya, namun Layla serasa sudah berhasil menembus kayangan.
Yahya menarik tangannya. Hampir saja Layla bergerak memeluk pemuda tersebut namun tiba-tiba Yahya terlebih dahulu bergerak mundur.
"Aku mau ke kamar mandi dulu... " Ucap Yahya berbalik arah. Layla mengernyitkan keningnya. Ia tidak tinggal diam. Layla langsung memeluk Yahya dari belakang.
"Ke kamar mandi kenapa menuju ke arah pintu? Kamar mandi nya ada di belakangku! Ayolah mas... Ini malam spesial, ini malam pengantin kita! Aku milikmu.... se..utuh..nya...!" Bisik Layla mende.sah manja. Lagi-lagi Yahya mematung. Namun tak lama setelahnya ia meletakkan tangannya di atas tangan Layla. Gadis tersebut tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Tapi tiba-tiba,
"Besok saja ya! Aku lelah... " Ucap Yahya diplomatis. Ia langsung melepas tangan Layla yang melingkar di pinggangnya. Pemuda tersebut melangkah cepat ke arah pintu dan keluar dari kamar meninggalkan Layla dengan mulut ternganga.
***
#Berikan Komentar Terbaikmu
#event_4
__ADS_1
#IG: @alana.alisha