
Yahya mengantar dokter Jelita sampai ke parkiran. Dokter muda tersebut harus segera pulang karena sudah memiliki jadwal menemui pembimbing akademik untuk membahas research awal yang harus segera ia submit. Namun dokter Jelita berjanji akan kembali mengunjungi Iqlima ketika waktunya sudah lebih longgar.
“Iqlima begitu merindukanmu, tapi kau memilih pulang secepat ini!” Ucap Yahya.
“Benarkah? Bukannya kepulanganku adalah kebahagiaan untukmu? Ayo berterima kasih!” Dokter Jelita menaik-turunkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah.
“Huh Dasar! Lebih baik kau cepat-cepat memberikanku abang ipar karena hanya dia yang mampu men-steril-kan isi kepalamu!”
“Hey, Itu tugas mu!”
“Tugasku? Hmh, Baiklah. Aku akan memberikan Raafi untuk-mu!”
“Raafi? Siapa dia?!”
“Teman Iqlima”
“No, aku tidak suka anak ingusan!” Sambar dokter Jelita.
“Kalau begitu dengan Ilyas saja! Ya, dia cocok untukmu! ”
“Apa? Ilyas?! Super Big No!! Aku akan menderita karena setiap malam hanya Iqlima saja yang berada dalam bayangannya” Raut wajah Yahya berubah seketika. Dokter Jelita menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia merutuki kecerobohannya dalam bicara.
Duh!
Ciiiiiit.
Suara ban berdecit. Seseorang turun dari mobil tepat di samping mobil yang akan mengantarkan dokter Jelita.
Abah...
Haji Zakaria mendekat. Beliau menepuk pundak Yahya sekilas lalu berlalu masuk ke dalam rumah tanpa sedikitpun berniat menoleh pada dokter Jelita.
“Beliau Abahmu?” Yahya mengangguk.
“Wajahmu benar-benar copyan abahmu ya! Hmh, beliau begitu buru-buru. Padahal aku belum memberikan salam hormat!’’ Dokter Jelita terus memperhatikan punggung haji Zakaria sampai menghilang dibalik tembok.
“Lebih baik tidak usah. Abah sangat menghindari interaksi dengan wanita kecuali keluarganya sendiri! Bahkan sekretaris beliau di kantor saja seorang laki-laki”
“Hah? Benarkah?” Lagi-lagi Yahya mengangguk.
“Kalau begitu carikan aku laki-laki yang sifatnya seperti abahmu saja!” Dokter Jelita berbinar.
“Spec seperti abah sudah sangat langka di muka bumi ini! Kau pilih Ilyas saja” Sahut Yahya asal.
“Kan sudah ku katakan… Kalau Bayang-bayang Iqlima tidak akan lepas dari pikiran Ilyas! "
“Ch, kalau begini caranya memang lebih baik kau segera pulang! Pulanglah sebelum suhu dikepalaku bertambah tinggi! Pak, tolong antarkan dokter ini ke Mars atau Neptunus!” Titah Yahya pada supir pribadinya.
“Huh! Bisa-bisanya…” Gerutu dokter Jelita. Ia hendak masuk ke dalam mobil namun,
“Oh iya.. Sebentar, Satu lagi. Jangan lupa kau aplikasikan obat salep dengan gerakan memutar pada bagian tubuh Iqlima yang sakit. Walau sebenarnya tidak wajib dan hanya ide mendadak dariku saja, tapi itu semua akan sangat membantumu untuk…. ” Belum sempat dokter Jelita menyelesaikan kalimatnya dengan penuh rasa bangga, ia sudah melihat wajah kusut Yahya.
“Oh, Okay.. Okay.. Aku pulang sekarang! Aku benar-benar akan pulang sekarang!” Ucap Dokter Jelita lalu masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya mengangkat kedua tangannya.
Huft, hampir saja aku ditelan mentah-mentah. Dasar permen Sugus! Dokter Jelita mengusap dadanya lega. Mobil pun melesat dengan cepat meninggalkan Yahya seorang diri.
Usianya dua tahun di atasku, tapi kelakuannya seperti remaja minus lima belas. Aku jadi bertanya-tanya, apa dia benar-benar seorang Psikiater? Laki-laki seperti apa yang cocok untuknya? Gumam Yahya menggeleng-gelengkan kepala sambil memijat pelipisnya.
***
__ADS_1
“Mas Yahya… Tunggu!” Panggil Layla dengan ngos-ngosan. Ia berlari mengejar Yahya yang masuk ke dalam rumah hingga berkeringat. Pemuda tersebut menoleh.
“Apa benar mas Yahya mau ke Korea Selatan?” Yahya mengangguk datar.
“Yaaaah, berapa lama?” Layla menunjukkan raut wajah sedih.
“Belum tau” Yahya hendak berbalik menuju kamarnya.
“Eee tunggu… tunggu… Mas Yahya tunggu dong…” Tiba-tiba ekor mata Layla menangkap keberadaan Iqlima yang tengah didorong menggunakan kursi roda. Seketika ide cemerlang mundul di benaknya.
“Mas, mas kok ga ajak aku ke Korea sih? Padahal aku kan calon istri nya Mas Yahya…” Ucap Layla dengan nada manja. Mata Iqlima terbelalak seketika. Ia yang posisinya tak jauh di belakang Yahya bisa mendengar dengan jelas apa yang Layla ucapkan.
Ca… Calon istri bang Yahya? Gadis muda ini? Mata Iqlima langsung mengembun.
“Dengar! Sebaiknya kamu…”
“Ga apa-apa kalau sekarang mas ga ajak aku ke Korea, yang penting nanti abis nikah ajak aku ke Maldives ya! Tempatnya romantis banget.. Hihi!” Belum habis Yahya menjawab, Layla sudah lebih dulu memotong perkataannya.
“Kalau begitu aku permisi dulu, aku mau ke pesantren. Aku mau belajar menjadi istri yang baik tanpa banyak drama! Hihi! Byee mas Yahya! Oleh-olehnya jangan lupaa” Layla berlalu meninggalkan Yahya yang melongo heran. Tak lupa, sebelum pergi ia menyempatkan diri melihat lekat-lekat ke dalam netra Iqlima.
Memang enak?! Haha Biar pelakor munafik itu tau rasa! Bisa-bisanya merebut mas Yahya tapi masih berani menatapku dengan wajah polos tanpa dosa. What the f*ck! Memang sialan banget ya! Layla keluar dengan mengacungkan jari tengahnya. Melihat Iqlima, emosinya naik mengubun-ubun.
Eh... Astaghfirulloh… aku lupa… ukhti-ukhti kan harus anggun… Huh, gara-gara pelakor itu sih. Misiku nyaris gagal. Layla langsung mengubah caranya berjalan menjadi lebih tertata. Ia melangkah dengan menebar senyum ramah. Benar-benar menarik simpati siapa saja yang melihat nya.
Yahya berbalik, Ia terkejut mendapati Iqlima yang sudah berada di hadapannya.
"Maaf Gus, saya mau membawa nona Iqlima ke dalam kamar! " Ucap asisten yang mendorong kursi roda. Yahya mengangguk. Asisten membawa Iqlima ke kamar Yahya.
"Maaf nona, Saya bantu naik ke kasur! "
"Biar aku yang mengangkatnya! Mbak keluar saja! " Titah Yahya.
"Terima kasih Mbak Dewi" Ucap Iqlima tulus.
"Sama-sama nona! " Dewi keluar kamar setelah sebelumnya sempat melayangkan senyuman. Yahya dengan sigap langsung mengangkat Iqlima ke atas kasur. Namun seketika ia menyadari sesuatu.
"Kenapa kamu menangis?" Iqlima menggeleng. Ia menghindari kontak mata dengan melihat ke sembarang arah.
"Lalu kenapa matamu sembab?! " Todong Yahya.
"Hmh... I... Itu... Hmh... AC nya terlalu dingin menusuk hingga anginnya menyebabkan mataku berair! " Sahut Iqlima beralasan. Namun bukannya berhenti, airmata tersebut terus mengalir deras.
"Benar kah?" Yahya mendekatkan wajah untuk melihat lebih jelas. Iqlima gelagapan.
"Dasar cengeng! Kau menangis pasti karena belum mandi kan?! " Tuding Yahya. Iqlima menunduk. Suasana hatinya benar-benar kacau. Airmata nya tidak mau berhenti mengalir. Kedekatan Yahya dan gadis cantik di depan mata membuat hatinya jadi kacau tidak karuan.
Kesalahan apa yang sudah aku perbuat padanya? Mengapa ia menangis? Yahya yang tidak tau harus melakukan apa mengusap tengkuknya. Ia memilih berbaring di samping Iqlima dan mengambil gawainya.
Cara meredakan tangisan wanita. Ketik Yahya pada kolom pencarian lalu menghapusnya.
Cara mengembalikan mood wanita. Alasan mengapa wanita menangis. Yahya menscroll layar handphone nya ke atas dan ke bawah namun semakin ia scroll, maka Yahya semakin kebingungan.
Apa gadis cantik tadi kekasih bang Yahya? Apa bang Yahya mencintainya? Apa mereka memang akan menikah? Iqlima berulang kali mengusap air matanya. Namun gemuruh di hatinya tidak juga mereda. Ia melirik Yahya yang tidur membelakangi nya. Airmata Iqlima kembali mengalir.
"Huh. Kenapa masih menangis?! " Yahya membalikkan tubuhnya. Iqlima sesegukkan. Ujung hidungnya berubah merah. Yahya mencoba membawa Iqlima ke dalam pelukan. Namun wanita tersebut langsung menolaknya.
"Sebenarnya ada apa sih? Apa ada bagian tubuhmu yang masih terasa sakit?" Yahya mencoba menyentuh kaki Iqlima. Namun gadis tersebut memindahkan bagian tubuh nya sebelum sempat Yahya sentuh.
"Hey, Kenapa diam saja?! Ada apa denganmu?!" Hardik Yahya frustasi.
__ADS_1
Wanita benar-benar makhluk aneh!
"A.. Aku.."
"Ya, kau kenapa?"
"Apa sebelum menikah denganku bang Yahya sudah punya kekasih?" Tanya Iqlima berhati-hati. Ia memilin kerudung nya. Iqlima benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa cemburu nya. Yahya ternganga. Akhirnya ia paham apa duduk persoalannya.
"Aku ini anak pondok! Dari kecil sudah dimasukkan ke pondok oleh Abah untuk belajar dari satu Kiayi ke Kiayi yang lain! Jadi jangan berpikir apa yang tidak perlu kau pikirkan! "
"Tapi kak Dara? Terus gadis cantik tadi..." Iqlima menunduk. Jawaban Yahya tidak membuatnya puas.
"Apa kau cemburu? " Todong Yahya.
"Aku tidak cemburu! " Sahut Iqlima mendongakkan kepalanya. Kini Yahya bisa melihat gesture tubuh dan jawaban yang tidak sinkron.
"Kau cemburu! Kalau tidak mana mungkin kau menangis, lalu menolak pelukanku! "
"Sudah ku bilang aku tidak cemburu... A.. Aku hanya... " Iqlima bingung harus menjawab apa. Ia jelas-jelas sudah tertangkap basah.
"Hanya apa? Kalau kau tidak cemburu, harusnya kau tidak menolak pelukanku! Aku jadi penasaran kau cemburu atau tidak! Ayoo! " Yahya kembali merentangkan tangannya. Iqlima terenyak.
"Kenapa diam? Jadi kau benar-benar cemburu kan?! Ah aku sudah menduganya!" Tuding Yahya. Iqlima dengan cepat menghambur ke pelukannya. Ia benar-benar tidak ingin dicap sebagai gadis pencemburu.
Kalau memang cemburu, tinggal akui saja! Kenapa harus gengsi sih? Apa dunia kaum perempuan memang begini? Diam-diam Yahya menyunggingkan senyumnya. Ia memeluk Iqlima erat.
"Aww Pinggangku" Keluh Iqlima.
"Masih sakit? Coba sini ku lihat! "
"Ti... Tidak... Dengan sedikit berbaring semua akan baik-baik! "
"Baiklah. Kalau begitu kau tidur saja. Kau harus cepat sembuh kalau tidak ingin ku tinggal ke Korea!"
"A... Apa? Ko... Korea? "
"Ya, kau akan menemaniku ke Korea! Hanya kau yang kubawa ke sana!"
Bang Yahya membawaku ke Korea? Hanya aku seorang saja? Iqlima terpana. Rasa sedihnya langsung lenyap seketika.
"Jangan senang dulu! Kau belum mandi dan masih bau bensin! Kalau kau tidak mandi, maka aku.... "
"Aku sudah berniat untuk mandi kok! Aku mandi sekarang! Bang Yahya tenang saja!" Ucap Iqlima bersemangat. Ia langsung bangkit.
Ssssss. Iqlima kembali mendesis. Ternyata ia tidak bisa menyembunyikan rasa sakit pada pinggang nya.
"Huh, menyusahkan! Kalau begini caranya terpaksa aku turun tangan untuk memandikanmu! " Iqlima menggeleng kuat.
"Aku bisa mandi sendiri!" Sahut Iqlima namun Yahya tidak menggubrisnya. Dengan sekali gerakan, Yahya langsung mengangkat Iqlima ke kamar mandi dan mendudukkan nya di bathup bersih yang masih kosong. Dengan hati bergetar, perlahan-lahan Yahya melepaskan kancing baju blouse Iqlima satu persatu.
***
Bab kali ini juga lumayan panjang yaaa Man-Teman ❤❤❤
See you in South Korea Guysss!
Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak~
🌻🌻🌻
__ADS_1
***