Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 63: Harga Diri Yang Tercabik


__ADS_3

Yahya berdiam diri di sebuah ruangan. Ia memilih menepi menghindari keramaian. Perasaannya hancur berantakan. Yahya sudah melakukan shalat dan tadarus berulang-ulang untuk menentramkan kekeruhan dihatinya. Namun kalimat-kalimat yang Iqlima lontarkan terasa sangat menyakitkan. Kalimat-kalimat tersebut membuat harapannya pupus.


Hhhh Pada kenyataannya, Iqlima memang sangat mencintai Rais. Ya, mereka menikah atas dasar perasaan. Sedangkan aku menikahnya karena sebuah keadaan. Yahya tersenyum pahit.


Bang Yahya tau apa? Akulah istrinya! Aku tau persis bagaimana rupa bang Rais! Bahkan letak tahi lalat dan garis rahangnya pun sama!! Beliau memang bang Rais!!


Tes.


Airmata Yahya mengalir. Bagai rekaman yang diputar berulang-ulang, perkataan Iqlima terus saja terngiang-ngiang diingatannya. Perkataan yang berhasil mencabik harga dirinya sebagai seorang suami.


Drrrttt Drrrttt


“Ya?” Yahya mengangkat telepon dengan mengusap sisa air di sudut matanya.


“Gus, Nona Iqlima sudah saya antarkan ke hotel! Sekarang beliau sedang menuju kamar!” Hati Yahya kembali mencelos.


“Oh iya Gus, Ummi Hajjah menitahkan bahwa Gus Yahya harus segera kembali ke Indonesia sebab ada hal penting yang harus disampaikan dan tidak bisa dibicarakan melalui telepon!” Ucap Rusdi mengabarkan.


Ceklek


Disela-sela pembicaraan, Yahya bisa mendengar suara pintu yang sengaja dibuka. Pertanda Iqlima telah kembali.


“Kau urus saja semuanya! Aku lagi tidak berminat membicarakan pekerjaan kantor di hari weekend!” Yahya langsung memutuskan pembicaraan sepihak, meninggalkan Rusdi yang kebingungan sebab ia merasa sedang tidak membicarakan tentang pekerjaan kantor.


“Bang Yahya…” Lirih Iqlima menyapa dengan menunduk.


“Apa urusanmu dengan suamimu di luar sana sudah selesai?” Sindir Yahya.


“Aku minta maaf karena telah mengeluarkan suara dengan nada tinggi, aku sungguh tidak bermaksud demikian. Itu semua terjadi secara spontan dan aku sangat menyesal!” Iqlima mengusap airmatanya. Yahya menghela nafas yang terasa berat.


“Tadi itu aku kehilangan jejak bang Rais tapi aku akan tetap mencarinya karena aku yakin kalau bang Rais masih hidup! Aku akan menghubungi keluarga beliau. Jika aku diberi kesempatan bertemu bang Rais maka aku ingin menguc…” Iqlima mencoba menjelaskan.


Sreeggg


Belum sempat Iqlima menyelesaikan kalimatnya, Yahya sudah menggenggam kuat pergelangan tangannya. Kalimat yang Iqlima lontarkan membuat ubun-ubun Yahya serasa mendidih.


“Aaww sakiit!” Iqlima merintih kesakitan.


“Apa kau tidak sadar kalau sekarang kau sudah menjadi milikku?! Apa kau tidak sadar, Hah?!!” Hardik Yahya.


“Bang, lepaskan!” Iqlima meronta menahan rasa sakit.


“Awww sakit bang… Ku mohon lepaskan!” Air mata Iqlima mengalir. Tangan kekar Yahya kian menyakitinya.


“Bang,, Bang Yahya… Ku mohon...” Iqlima masih mengiba. Yahya seperti tersadar, seketika ia melepaskan genggaman tangan nya. Namun tiba-tiba,

__ADS_1


Prankkk


Yahya menghempas telepon yang ada di atas nakas ke lantai.


Buuuggg


Kreekk


Dengan kekuatan penuh, ia juga melayangkan kepalan tangannya ke dinding. Suara retakan terdengar. Iqlima menutup kedua kuping dan matanya.


“Kau sama sekali tidak menghargai kedudukanku sebagai seorang suami!” Tuding Yahya tanpa membuka lebar mulutnya namun ia berkata dengan penuh penekanan. Matanya berkilat-kilat.


“Seharusnya kau paham bahwa setelah aku menghalalkanmu dengan bersumpah pada Allah melalui akad, kau sudah sepenuhnya menjadi milikku! Tidak hanya raga-mu tetapi juga hatimu!” Lanjut Yahya menunjuk Iqlima dengan telunjuk nya. Seketika gadis tersebut terenyak. Setelah menyelesaikan kalimatnya, Pemuda tersebut keluar kamar membanting pintu dengan keras. Iqlima terduduk lemas.


***


Jakarta, Indonesia


Layla tiba di Bandara Soekarno Hatta bersamaan dengan mendaratnya pesawat yang ditumpangi oleh Yahya dan Iqlima. Senyumnya mengembang ketika sosok yang sudah sangat ia rindukan hadir di hadapan mata. Bahkan sosok Razil atau Ridho sekalipun tidak bisa membuat hatinya se-antusias saat ia melihat Yahya. Namun senyumnya seketika meredup saat sosok Iqlima juga hadir di sana mengikuti kemanapun kaki Yahya melangkah.


“Mas, Layla disuruh Ummi untuk menjemput mas. Ummi sedang ada meeting!” Ucap Layla dengan suara dibuat semerdu mungkin. Aroma vanilla yang kuat menguar. Rambut tergerai dengan dress berwarna peach menghiasi penampilannya. Rusdi yang ikut bersama mereka tidak bisa untuk tidak terpana melihat kecantikan Layla. Bagai tersihir, Rusdi tidak berkedip.


Dengan wajah kusut Yahya mengangguk. Ingin rasanya ia protes dengan mengatakan mengapa tidak di jemput oleh supir saja? , namun pemuda tersebut benar-benar dalam kondisi tidak mood untuk berbicara apalagi ia sedang berada dalam kondisi yang tidak fit. Selain dalam dua hari kemarin Yahya tidak bisa tidur, tangannya juga masih sakit karena sempat menghantam dinding batu yang keras.


“Biarkan saja Rusdi yang menyetir!” Pinta Yahya.


“Bagaimana suasana di Korea sekarang, Mas?” Tanya Layla berbasa-basi.


“Ya begitulah” Sahut Yahya datar tidak menoleh.


“Haha, begitu bagaimana? Tidak membosankan kan?” Lanjut Layla sembari melirik Iqlima melalui kaca spion belakang.


“Biasa saja!” Sahut Yahya lagi. Mendengar percakapan mereka, Iqlima memilin-milin kerudungnya. Entah mengapa keakraban mereka membuat dadanya terasa sesak. Layla berkali-kali tertawa lepas menanggapi jawaban sederhana Yahya, pesona nya bertambah berkali lipat. Lesung pipi yang menawan, tawa renyahnya, aroma parfum yang menggairahkan, hati Iqlima tidak bisa untuk tidak khawatir. Ia terus mengawasi gerak gerik Yahya.


Mobil mereka memasuki kawasan pesantren. Layla mengambil cardigan juga kerudung lalu dengan cepat memakainya. Tampak Nilam sudah berdiri di pintu gerbang dengan tatapan yang mengawasi setajam elang. Layla mengedipkan sebelah matanya lalu disambut dengan senyuman dan anggukan oleh gadis bintang asrama tersebut.


Ya Rabb, sekarang aku harus bagaimana? Apa aku harus masuk ke asrama pesantren atau mengikuti bang Yahya masuk ke dalam rumah? Bagaimana ini? Sudah beberapa hari ini bang Yahya enggan melihat dan berbicara padaku! Aku harus apa? Gumam Iqlima. Ia merasa cemas, jujur saja Iqlima belum menemukan kenyamanan sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di Bustanul Jannah.


“Mas, tungguuu!” Panggil Layla mengikuti Yahya yang langsung melesat ke dalam.


“Mas, sebentar!” Panggil Layla lagi. Yahya berhenti. Ia melihat Sri yang baru keluar dari kamar Hajjah Aisyah.


“Sri, tolong bawa Iqlima beristirahat di kamar!” Pinta Yahya. Sri mengangguk. Tanpa menggubris keberadaan Layla, Yahya melangkahkan kakinya menuju kamar berbeda. Kamar kedua nya yang berada di belakang, dekat dengan tangga.


Mas Yahya kenapa masuk ke kamar belakang? Apa mereka sedang pisah ranjang? Hmh, Tidak mungkin mereka pisah ranjang kalau bukan tengah bertengkar hebat bukan? Layla mengerutkan keningnya menganalisis.

__ADS_1


Oh iya, daritadi aku tidak mendengar mas Yahya mengajak si pelakor bicara. Mata si wanita kampung itu juga terlihat sembab. Hmh… Harapannya bisa bulan madu di Korea malah jadi bulan racun bagi hubungan mereka! Hahaha, kasihan! Orang kampung sih! Di negara orang pasti bikin mas Yahya malu! Memang enak dicuekin? Hahahaha.


Bruukkk.


Awwwww. Sakiiit.


Layla tergelincir karena melonjak terlalu girang. Ia merasa kesakitan terduduk di lantai licin yang baru saja selesai di pel. Rasa sakit tersebut tidak sadar membuat nya mengeluarkan air mata.


Sialaan! Perbuatan siapa ini?! Awas saja, akan aku pecat kalian semua kalau aku sudah jadi nyonya di rumah ini!! Huh!! Umpat Layla mengepalkan tangannya geram.


Duuuh, sakiiit banget!! Layla memegang pinggangnya dengan berjalan terseok-seok.


"Eh eh, tunggu!! Siniii sebentar!! " Panggil Layla ketika melihat Rusdi yang baru saja tiba. Ia masih memegang pinggangnya yang terasa sakit.


"A... Ada apa nona? " Tanya Rusdi gugup.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu tentang kejadian di Korea, kita harus bicara! " Bisik Layla sembari melihat keadaan disekeliling dengan berhati-hati.


Deg Deg Deg


Rusdi tidak bisa mengkondisikan detak jantung nya yang berpacu kencang.


***


Siapa yang Iqlima lihat di rumah sakit? Apa dia benar-benar Rais? Pikir Yahya. Pertanyaan ini sudah berulang kali ia kaji dengan akal sehatnya namun tetap saja pertanyaan tersebut kembali hadir menghiasi pikirannya.


Apa Rais selamat dari kebakaran lalu mengalami luka bakar dan menjalani operasi plastik di Korea?


Lalu ia bersembunyi dengan identitas lain karena takut sang pembunuh kembali mengincarnya... Namun ia tengah menunggu waktu yang tepat untuk membongkar identitasnya kemudian mengajak Iqlima kembali dalam pelukannya?!


Arrrrrgggg


Buuuggg


Yahya menendang bantal guling dengan kekuatan penuh.


Praaaankkk


Bantal tersebut melayang. Lampu gantung pecah dan terburai di lantai.


Tidak mungkin. Mustahil. Ini konyol! Yahya meremas rambutnya yang mulai memanjang. Rasa marah, cemburu, merasa tidak dihargai, namun juga tidak bisa menjauhi Iqlima membuatnya benar-benar merasa frustasi. Pikiran-pikiran negatif hinggap dalam benaknya hingga Yahya kelelahan dan ketiduran.


Tok Tok Tok


“Maaf Gus, Ummi Hajjah dan Abah Haji sudah menunggu Gus Yahya di ruang pertemuan! Ummi Hajjah ingin membicarakan hal yang sangat penting”

__ADS_1


***


__ADS_2