Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 41: Connecting Door


__ADS_3

Buug Buug Buug


Yahya masuk ke ruang Latihan tinju dan memukul-mukulkan tangan kosongnya ke samsak gantung. Tangannya memerah. Ia melampiaskan semua perasaan negatif yang bercokol di sana. Keringatnya mengucur deras.


Aaaarghhh!! Teriakan Yahya memenuhi ruangan kedap suara. Ia mengacak kasar rambutnya. Frustasi. Iqlima terang-terangan menolaknya.


Apa Iqlima masih mencintai Rais dan merasa bersalah padanya ketika kusentuh?


Buuuug. Yahya kembali meninju samsak. Seperti ada yang meremas hatinya.


Buuuuugggg.


Masih dari kamar, Iqlima memegang dadanya yang terasa sakit. Tuduhan yang Yahya lontarkan terasa begitu menghujam. Tadi itu, suaminya langsung membanting pintu setelah mengatakan apa yang memenuhi pikirannya.


Bang Yahya kemana? Bang Yahya tidur dimana? Hiks Hiks. Iqlima masih menangis. Ia bergerak memperbaiki letak pakaian yang sudah acak-acakan dan memakai kerudungnya kembali. Gadis ini memutuskan untuk keluar kamar.


Kosong. Sunyi. Hanya ada suara jarum yang berpindah tiap detiknya. Iqlima merapat ke dinding bagian luar. Ia menangis tertahan. Pukul setengah satu dini hari ini suhu udara terasa dingin dan lembab. Gadis ini menyilangkan tangan ke tubuh lalu mengusap-usap lengannya. Ia menunggu kedatangan Yahya.


Ya Allah… Abang höe ka geujak? Inöe Lôn tinggai sidroe, Peu nyang harus lôn peugöet? (Ya Allah… Bang Yahya pergi kemana? Di sini saya sendiri, apa yang harus saya lakukan?) Iqlima mengusap air mata yang mengalir deras. Gadis yang tengah menangis ini merosot ke lantai. Kakinya terasa lemas.


Lima belas menit berlalu, Yahya keluar dari ruang tinju karena tenggorokannya terasa kering. Pemuda ini terkejut mendapati Iqlima yang tertidur di lantai. Ia mendekat. Mata tertutup dengan bulu mata lentik itu terlihat sembab.


Gadis bodoh! Gumam Yahya mengusap-usap puncak kepala Iqlima. Amarah yang tadinya memuncak langsung menguap begitu saja. Pemuda tersebut mengangkat dan membawanya ke kamar ala bridal. Ia merebahkan istrinya perlahan agar tidak terbangun.


Yahya menenggak habis air mineral yang ada di atas nakas dan menurunkan suhu AC ke titik terendah lalu berbaring mendekap Iqlima. Tak lupa sebelumnya Yahya membalutkan tubuh mereka berdua dengan selimut tebal. Tak memerlukan waktu lama, pemuda tersebut ikut terlelap.


***


Hhhh Hhhh Hhhh


Dini hari. Cut Malahayati terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah. Ia seperti baru selesai dari lari marathon. Pasalnya Cut Malahayati mengalami mimpi buruk. Keringat sebesar biji jagung keluar memenuhi permukaan keningnya.


Pertanda apa ini?


Wanita paruh baya tersebut bangkit, ia memilih masuk ke ruangan khusus. Perlahan Cut Malahayati membuka brangkas menggunakan password. Dengan tangan bergetar, ia mengambil sebuah surat yang telah dilaminating dengan baik. Surat wasiat.


Putri-putriku sekalian. Saat aku meninggal nanti, bagikan seluruh harta peninggalanku ini sesuai dengan ilmu fara’id, sesuai dengan hukum islam.


Pembagian kalian disama-ratakan. Jangan lupa pada Cut Afla, Walau aku tidak menyetujui pernikahannya dengan Taufiq, tapi berikan haknya. Bagaimanapun Cut Afla tetap anakku, dan ia memiliki seorang anak perempuan.


Cukup-lah hukuman yang aku berikan padanya sampai aku tiada. Harta turun temurun ini sudah lebih dari cukup untuk menghidupkan kalian semua sampai tujuh turunan tanpa perlu bekerja keras. Namun akan lebih baik jika kalian mau mengembangkannya. Agar anak cucu keturunan Ampon Polem Pasha bisa terus sejahtera.

__ADS_1


TTD


Teuku Banta Pasha


Cut Malahayati memijat pelipisnya berulang-ulang. Airmatanya mengalir. Janji yang dibuatnya dengan seorang laki-laki serakah membuat Cut Malahayati harus mengkhianati adiknya sendiri, Cut Afla. Hingga pada akhirnya, nasib Cut Afla beserta suami berujung tragis.


Mimpi buruk ini pertanda apa? Apa Cut Afla akan menuntut balas? Cut Malahayati menggigit-gigiti kukunya. Cemas. Aku harus bagaimana?


Triiing


Haaaaah. Cut Malahayati terkejut. Sebuah piring hias usang peninggalan leluhur tiba-tiba terjatuh begitu saja tanpa ada yang menyenggol. Piringnya tidak pecah. Karpet permadani yang empuk tebal cukup melindungi piring tersebut. Dengan cepat Cut Malahayati memasukkan surat wasiat kembali ke brangkas lalu ia keluar dari kamar tersebut.


***


Yahya kembali masuk ke dalam kamar setelah pulang menunaikan shalat shubuh berjama’ah di mesjid. Ia mendapati Iqlima yang tengah bersiap-siap akan kembali ke pesantren.


“Telat, Kau akan jadi pusat perhatian kalau kembali sekarang! Harusnya kembali dari sebelum shubuh tadi!” Tukas Yahya dingin sambil melepaskan sorban putihnya.


“Siapa suruh semalam bang Yahya kabur dan tidak membangunkan aku?” Iqlima bersungut.


Aneh, seingatku semalam aku keluar dari kamar ini. Kenapa ketika bangun aku sudah berada di atas kasur ya? Jangan jangan.. Iqlima mengerutkan kening lalu memicingkan matanya menatap Yahya.


“Ti… Tidak!” Iqlima menutup rapat mulutnya. Ia sudah tidak ingin mencari masalah. Nampaknya Yahya sudah melupakan kejadian semalam.


Semoga tempramen bang Yahya hari ini tidak seperti Badai Tornado. Batin Iqlima. Perlahan Yahya berjalan mendekatinya.


Gawat, apalagi ini? Apa bang Yahya mau meminta itu lagi? Tapi apa iya subuh-subuh begini? Ah tidak mungkin, bang Yahya bilang ia sudah tidak berminat. Tapi…. Jantung Iqlima kembali berdetak kencang.


PLetak*


Awwww. Tiba-tiba Yahya menyentil kening Iqlima. Gadis tersebut mengusap-usap keningnya.


“Kau dari kemarin tidak mandi-mandi?!” Yahya berkacak pincang.


“A.. Aku berencana mandi di pesantren nanti!”


“Alasan! Selain bodoh ternyata kau juga malas mandi!” Iqlima mengerucutkan bibirnya.


“Aku ga apa-apa dikata-katain, ga apa-apa kok! Beneran ga apa-apa! Tapi bang Yahya udah ga marah kan?” Iqlima menunduk.


“Hhhhh” Yahya mendengus.

__ADS_1


“Sudah benar aku menempatkanmu di pesantren, kau harus belajar bagaimana hukum menolak suami!” Iqlima menggigit bibirnya. Menyesal.


“Ma.. Maaf, A.. Aku malu karena..”


“Karena apa?”


“Karena aku belum mandi. Bang Yahya tau sendiri tubuhku penuh kotoran. A.. Aku benar-benar malu! Aku takut bang Yahya muntah” Jawab Iqlima menunduk. Ia teringat pada perkataan Yahya tentang aroma tidak sedap.


“Apa?! Ya Allah Iqlimaaaa, kau nyaris membuatku mati karena menahannya. Kau menolakku hanya karena belum mandi?!” Suara Yahya kembali meninggi. Ia mengusap kasar wajahnya mendengar pernyataan konyol sang istri. Iqlima hanya bisa menunduk dalam.


“Ma.. Maafkan aku”


“Kau sangat keterlaluan! Benar-benar keterlaluan! Kau harus diberi hukuman!” Yahya menarik kuat tangan Iqlima.


“Ikut aku!”


“Bang mau membawaku kemana?” Iqlima pasrah mengikuti gerak langkah Yahya. Pemuda tersebut mengambil kunci di laci dan membuka salah satu pintu dari 5 pintu yang ada di kamar besarnya.


“Masuk!” Ketus Yahya. Ia membawa Iqlima memasuki connecting door melewati lorong gelap dan sempit.


“Bang, kita mau kemana?” Suara Iqlima terdengar parau. Yahya hanya diam sambil terus menuntunnya.


“Bang, Abang jangan tinggalkan aku dalam ruangan gelap ini. Aku takuuut!” Iqlima mulai menangis. Semakin mereka berjalan maka ruangan semakin gelap. Sama sekali tidak ada penerangan di sana.


“Bang, jangaaan!” Iqlima kembali memelas. Ia langsung menahan tubuh Yahya menghentikan gerak langkah suaminya. Gadis ini benar-benar ketakutan.


“Cerewet! Di sudut sana ada bayangan putih yang sedang mengamatimu!”


“Aaaaa mana?!” Iqlima menghambur memeluk Yahya erat. Pemuda ini menarik kedua sudut bibirnya membentuk kurva.


“Kau benar-benar takut atau sedang mencuri kesampatan agar dapat memelukku?!”


Deg. Sontak Iqlima melonggarkan pelukannya. Untung ruangan gelap, kalau tidak Yahya sudah bisa melihat wajah Iqlima yang memerah karena menahan malu.


"Huh. Kau benar-benar menyusahkan!" Yahya mengangkat Iqlima dan meletakkan istrinya tersebut ke atas pundak. Sebelah tangan lainnya menyalakan penerangan melalui senter handphone. Yahya mulai menaiki satu persatu anak tangga.


"Bang, sebenarnya kita mau kemana?! Abang tidak berencana membuangku, kan?" Tanya Iqlima. Yahya bisa merasakan detak jantung istrinya yang berdetak kencang karena tubuh mereka yang saling menempel.


"Cerewet! Diamlah! Tubuhmu berat. Jangan sampai kita tergelinding dari tangga hanya karena pernyataan bodohmu itu! " Ketus Yahya. Iqlima bungkam. Diam-diam ia semakin mengeratkan cengkraman tangannya pada jubah Yahya.


***

__ADS_1


__ADS_2