Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 8: Tangis Yang Tertahan


__ADS_3

"Iqlimaaaa dimana kamu? Iqlimaaa" Teriak Ilyas mulai panik. Suara yang keluar pecah diterbangkan oleh angin. Ia melangkah cepat mengitari tiap sudut pantai. Relawan yang lain juga sudah dihubungi via telepon. Mereka juga berpencar melakukan pencarian.


Yahya yang sedari tadi sudah mengetahui Iqlima bersama siapa hanya bisa diam melihat kepanikan Ilyas. Ia menyandar di sebuah pohon cemara sembari menyedekapkan tangan. Tak tahan, ia pun menghampiri.


"Yass... " Panggil Yahya.


"Hmh... Tentang Iqlima... Kamu ga usah.... " Yahya menjeda kalimatnya melihat tatapan penuh harap dari Ilyas. Ia jadi merasa tidak enak hati.


"Iqlima kenapa? " Ilyas mengerutkan keningnya menanti jawaban.


Hah Hah Hah.


"Maaf Teungku... " Tiba-tiba seseorang menyapa mereka dengan nafas tersengal dari arah belakang.


"Ada apa? "


"Menurut pemilik kios kecil di ujung jalan sana, Ia melihat seorang wanita berkerudung biru laut naik ke dalam angkutan umum labi-labi" Ucap salah seorang relawan.


"Dari ciri-ciri yang beliau sebutkan, kemungkinan besar orang tersebut adalah Iqlima" Lanjutnya lagi.


Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa wanita itu pergi setelah melakukan perbuatan tidak senonoh. Yahya berpikir keras.


Apa Iqlima merasa tidak nyaman? Apa ia memutuskan untuk pulang karena sesuatu terjadi? Batin Ilyas.


"Tolong katakan pada relawan dan juga para peserta bahwa kita terpaksa mengakhiri kegiatan rihlah lebih cepat dari waktunya! " Titah Ilyas dengan wajah muram. Jujur saja, saat ini ia sangat mengkhawatirkan keadaan Iqlima. Relawan tersebut memganggukkan kepala.


"Yas... Tunggu..." Panggil Yahya ketika melihat Ilyas kebingungan.


"Sebenarnya... "


"Yahya, sebenarnya ada apa? Katakanlah! " Titah Ilyas.


"Maaf, mungkin ini tidak menyenangkan untukmu. Tapi demi kemaslahatan, aku harus mengatakannya. Sebenarnya tadi aku sempat melihat Iqlima di sana" Yahya menunjuk pantai babah tiga. Ia mengeluarkan handphone dari saku celananya.


"Maaf juga... Aku tidak ingin berbasa-basi. Lihat lah ini... " Ucap Yahya menyodorkan foto Iqlima yang tengah berciuman dengan seorang pria. Mata Ilyas terbelalak sempurna melihatnya.


"Yahya, I.. ini tidak benar kan? " Tanya Ilyas masih menahan amarahnya. Bukti sudah berada di depan mata. Sepupu shalih nya tidak mungkin berbohong. Yahya hanya bisa mematung. Wajahnya menunjukkan rasa simpati. Angin melambai-lambaikan ujung kemeja nya. Dunia Ilyas seakan terhenti. Hancur. Itulah yang ia rasakan. Matanya memerah. Ia melesat mendekati pohon cemara yang batangnya berurat kasar.


Buuuuuggghhh


Kepalan tangan kekar pemuda asal Solo itu mendarat di sana. Darah segar mengalir dan menetes-netes dari buku-buku jari.


"Yas!!! " Panggil Yahya terkejut. Ia terlambat menghentikan pergerakan Ilyas sepersekian detik.


"Kenapa kamu melakukan ini? Me-mudharatan-kan diri sendiri Haram hukumnya! " Hardik Yahya memegang pundak Ilyas.


Rani yang melihat dari kejauhan tergesa-gesa datang menghampiri.

__ADS_1


"Astaghfirullah... Ada apa ini bang?? Ustadz Ilyas kenapa?" Tanya Rani cemas.


"Sebentar aku ambilkan kotak P3K di mobil! " Rani yang memang kuliah di keperawatan langsung mengerti apa yang harus ia lakukan. Wanita ini membawa kotak P3K ke hadapan Ilyas.


"Maaf Ustadz... " Rani menyiram sedikit cairan alkohol ke tangan Ilyas agar tidak infeksi. Laki-laki itu sedikit meringis.


Deg Deg Deg.


Berada dalam posisi yang begitu dekat dengan Ilyas membuat jantung Rani berdetak lebih kencang. Ia mencuri-curi pandang ke wajah Ilyas. Alis mata tebal yang ujung nya menyatu semakin membuat wanita ini terpesona. Ia merasa gugup.


Rani adalah seorang perawat. Sudah banyak orang yang dirawat oleh nya. Namun menghadapi pasien yang satu ini tetap saja membuat ia terbawa perasaan.


Salah tingkah Rani tidak lepas dari tatapan mata Yahya. Ia berharap siapa pun itu semoga ada wanita yang bisa menggantikan posisi Iqlima di hati Ilyas.


***


Hhhhhh. Iqlima mendengus. Bisa-bisa nya sandal yang baru ia beli bulan lalu putus dengan mudah. Padahal ia harus bersusah-payah memangkas uang jajannya untuk membeli sandal tersebut.


Dengan berjalan terseok, Iqlima segera memasuki gerbang Mesjid Baiturrahman. Kawasan yang keseluruhan halaman nya sudah berlantai Marmer itu membuat Iqlima merasa sedikit lega. Namun gadis ini tetap menempatkan santal putusnya pada tempat penitipan.


Iqlima menuju ke tempat wudhu' sembari memikirkan strategi berikutnya. Sepertinya ia harus berjalan kaki ke rumah teman dekatnya yang berjarak 3 kilo meter guna meminjam uang demi ongkos pulang. Padahal sebenarnya, kediaman kerabat ibu Iqlima yang kaya raya berada begitu dekat dari kawasan mesjid. Namun ia memilih untuk tidak ke sana.


Iqlima mengusap peluhnya. Tubuhnya terasa lengket karena keringat yang terus menerus mengucur. Di tempat wudhu, gadis ini mengguyur wajahnya dengan air. Tangannya ditopangkan ke tembok. Ia menangis tertahan. Tenggorokan nya sudah sangat terasa kering. Gadis ini tidak bisa mentolerirnya lagi. Di tampungnya air keran yang mengalir dengan kedua telapak tangan yang dirapatkan. Lalu ia meminum sedikit air tampungan tersebut. Iqlima berharap setelah ini perutnya akan tetap aman.


Allahu Akbar Allahu Akbar


***


Awan mendung datang. Langit tampak berkilat-kilat. Seperti nya hujan akan segera turun. Iqlima mengenadahkan wajahnya ke langit. Cemas. Tiba-tiba ia teringat pada Ilyas dan peserta rihlah. Saat ini mereka pasti tengah gaduh mencari keberadaan nya. Iqlima merutuki kebodohan nya. Kepanikan membuat ia tidak bisa berpikir jernih. Kabur dari area pantai yang membuatnya trauma adalah jalan kilat yang bisa ia pikirkan saat itu.


Iqlima bergegas berjalan keluar. Bermodalkan kaus kaki tipis ia menapak dengan cepat. Takut sebelum sampai ke rumah sahabatnya, hujan lebih dulu turun menyapa. Ia sudah tidak memikirkan sandal putus yang tadi ia titipkan itu. Iqlima mulai keluar dari area mesjid.


Pinggiran trotoar yang terbuat dari semen berbatu ternyata tak membuat perjalanannya mulus. Tapak kakinya terinjak batu kerikil runcing. Kaki kiri berdarah. Padahal perjalanan masih 2800 meter lagi. Iqlima sudah merasa kepayahan. Berharap sahabat nya Mala berada di rumah. Jadi semua kesulitan yang ia lakukan tidaklah sia-sia. Dengan berjalan tertatih dan air mata yang terus mengalir ia bertekad melanjutkan perjalanan nya.


Baru setelah itu ia akan mengajak kakek untuk mengungsi dari kampung. Syukur-syukur kalau Ilyas mau segera menikahinya. Berada di satu desa dengan Hilman tidak akan membuatnya merasa tenang. Mau melaporkan perbuatan laki-laki itu juga percuma. Selain tidak memiliki bukti, siapalah ia dibanding kedudukan Ampon Din, Ayah Hilman yang sangat memiliki pengaruh di seantero desa.


Iqlima terus saja berjalan, sesekali ia menepi ke tembok. Sudah jam setengah 3. Mau tidak mau ia kembali melanjutkan perjalanannya. Darah semakin deras mengucur. Tiba-tiba seseorang menghentikan mobil tepat di samping Iqlima hingga membuatnya terperangah.


"Bang Rais? "


"Kamu sedang apa di situ? Naiklah! " Titah Rais. Iqlima menggeleng. Ia melihat ke arah kakinya yang kotor. Rais sedikit mengangkat tubuhnya melihat ke arah gerak kepala Iqlima, seketika ia paham apa yang terjadi.


"Naiklah! Nanti kita beli obat merah! Atau sekalian ke rumah sakit terdekat! Naik aja! Jangan sungkan! " Titah Rais lagi. Masih terseok, Iqlima pun menaiki mobil.


"Kita ke rumah sakit ya? " Tanya Rais tanpa basa basi.


"Ga usah bang! Ini cuma kena batu" Lirih Iqlima. Rais menghentikan mobil nya di depan sebuah Apotek. Ia membeli kain kasa, obat merah serta tissue basah. Tak lupa ia membeli kaos kaki baru di market yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


"Bersihkan dan balutlah lukamu! " Rais kembali memberikan perintah. Ia terus melajukan mobil tanpa banyak bertanya.


"Tadi Abang yang mengimani shalat Zuhur di Mesjid Raya kan? " Tanya Iqlima memecah keheningan.


"Ya, Imam besar tiba-tiba memintaku menggantikan beliau. Sebentar ya! " Rais kembali menepikan mobil. Kali ini di depan toko sepatu.


"Kakimu ukuran berapa? " Tanya Rais. Iqlima sangat merasa sungkan. Tak menunggu jawaban Iqlima ia langsung melesat ke dalam toko. Rais membelikan sebuah sepatu sport dan dan pan shoes.


"Pakailah! " Iqlima melihat ukuran sepatu yang Rais belikan. 37 cm.


"Abang kenapa bisa tau ukuran sepatu dengan tepat? "


"Alhamdulillah kalau ukuran nya pas! " Rais memberikan senyumnya.


"Aku akan membayar uang sepatu nya nanti!" Ucap Iqlima.


"Tidak usah! Itu untukmu, Dik! Aku akan marah jika kau mengembalikan nya! " Iqlima terdiam. Merasa berhutang budi selalu membuat nya merasa sungkan.


"Kamu mau aku antarkan aku ke mana? Mau pulang kan? "


"Desa Iqlima kan jauh! Masih sejam-an lagi. Turunkan saja aku di tempat pemberhentian labi-labi! " Sahut Iqlima.


"Tidak. Aku akan tetap mengantarkan mu, jangan sungkan! Sudah lama juga aku tidak menyapa kakek! " Sahut Rais. Ia terus melajukan mobilnya.


***


Mobil Rais memasuki desa Krueng Lam Kareung. Ia menepikan mobilnya tepat di samping rumah Iqlima yang memiliki halaman luas. Rais dan Iqlima turun secara bersamaan.


Bertepatan dengan itu, mobil relawan yang di kendarai oleh Ilyas dan Yahya juga tiba. Mereka melihat Iqlima dan Rais. Ilyas spontan menghentikan mobilnya beberapa meter tidak jauh dari mereka.


"Aku tau kondisi mu lagi tidak fit saat ini! Terlihat dari mata sembab mu! Nanti aku akan menagih cerita mengapa engkau berada di jalanan dengan kaki yang terluka! Untuk saat ini sampai di sini dulu. Insya Allah kali kedua aku akan mengunjungi kakek ketika keadaan mu sudah lebih baik! " Ucap Rais.


"Ini vitamin untukmu yang tadi sempat aku beli di Apotik! Jangan lupa diminum! Aku permisi! " Rais menyerahkan beberapa Vitamin untuk Iqlima. Lalu bergerak hendak masuk ke dalam mobil.


"Bang, tunggu...! "


"Ya? "


"Terima kasih untuk pertolongan yang sudah abang berikan. Hanya Allah yang mampu membalasnya. Iqlima ucapkan Terima kasih! " Iqlima menangkup kan kedua tangan nya di dada. Rais berlalu pergi setelah memberikan senyumnya.


Ilyas yang menatap dari jarak yang tidak terlalu jauh itu hatinya terasa semakin sakit. Cemburu, marah, benci bercampur menjadi satu.


***


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤


IG @alana.alisha

__ADS_1


***


__ADS_2