
Di halaman belakang pada asrama santriwati, Iqlima membuka matanya perlahan. Tadi Ia tertidur dalam derasnya hujan. Semalam, Iqlima memang kurang tidur karena asik mengobrol bersama Yahya hingga pagi. Kini gamis putih nya menjadi kotor dan kumal terkena rembesan minyak. Wajahnya berubah cemong. Iqlima mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun masih terasa sakit.
Ssssss. Gadis tersebut kembali meringis.
Iqlima mencoba untuk bangkit kembali. Ia menumpukan tangannya pada tanah basah. Gagal. Tangannya terasa kebas. Iqlima tidak menyerah, ia kembali mencoba.
Satu
Dua
Tiga
Bismillah~
Iqlima masih berjuang. Namun mata gadis tersebut berhasil membelalak sempurna ketika melihat keberadaan makhluk kecil bergerak-gerak dengan lincah di tanah dalam jumlah banyak. mereka mengelilinginya. Beberapa sudah menempel di sepatu panshoes kulit milik Iqlima.
I... Itu apa? Iqlima mengerut kan keningnya meneliti. Karena baru bangun tidur, kesadaran nya belum kembali 100 persen. Lekat-lekat Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling mencoba mencerna keadaan dengan baik.
Di tanah basah, sudah terdapat banyak hewan pengisap darah yang sekerabat dengan cacing tanah. Hewan tersebut berbadan langsing mengecil ke depan, berwarna cokelat kekuning-kuningan sampai kehitam-hitaman dengan panjangnya mencapai 50 mm. Pada bagian kepalanya terdapat lima pasang mata dan sebuah alat sebagai pengisap, di ujung belakang terdapat alat sebagai pelekat. Hewan tersebut berjalan seperti ulat jengkol.
Iqlima menyadari hewan apa yang bergerak-gerak tak tentu arah tersebut. Ia gemetaran. Iqlima mengambil ancang-ancang untuk berteriak.
Sedangkan di halaman tengah pada asrama santriwati, Hajjah Aisyah tengah berpidato di hadapan ratusan para santriwati yang mendengarkan dengan penuh khidmat. Beliau memperkenalkan Layla dan Cahyati sebagai orang penting dan spesial.
"Ya Akhawat, Para santri yang sangat Ummi cintai dan Ummi banggakan karena Allah, seperti yang sudah Ummi jelaskan dengan panjang lebar siapa sebenarnya nak Layla ini..."
"Walau Nak Layla sangat spesial di hati kami semua, namun nak Layla tetap ingin diperlakukan sama seperti santriwati biasa lainnya. Ia tetap ingin merasakan bagaimana kehidupan di pesantren. Nak Layla benar-benar tulus ikhlas ingin menuntut ilmu di sini. Ummi harap kalian bisa menjalin hubungan persahabatan bahkan persaudaraan dengan baik! " Tukas Hajjah Aisyah. Layla memberikan senyumnya. Para santriwati terpana.
"Nak... Makna spesial di sini, tentu kalian sudah mengerti apa yang Ummi maksud kan... hehe" Lanjut Hajjah Aisyah mengusap pundak Layla sembari melirik Yahya. Beliau setengah memeluknya.
Ceeesss
Hati para santriwati seketika mencelos. Mereka patah hati. Langit yang mendung menggambarkan suasana hati mereka. Namun mereka mencoba untuk menerima kenyataan, Layla memang pantas bersanding dengan Yahya. Layla merupakan sosok sempurna sebagai seorang wanita.
Hatiku terasa sakit. Ucap salah satu santri pada temannya dengan berbisik. Hari ini mungkin pantas ditetapkan sebagai Hari Patah Hati Se-Bustanul Jannah. Rabbi~
Tes
Tes
__ADS_1
Tes
Airmata tak bisa di bendung, ia mengalir begitu saja. Ayi menangis di dalam deret barisan. Hatinya begitu hancur sehancur-hancurnya. Perkataan tersirat Hajjah Aisyah mengenai kedudukan Layla sudah sangat jelas mengungkapkan kenyataan yang sesungguhnya.
Apa Aku sama sekali tidak memiliki kesempatan? Apa Aku kurang cantik? Bukankah Aku juga anak seorang kiayi yang merangkap sebagai kepala desa? Abi juga memiliki kebun sawit berhektar-hektar. Kenapa mereka menolakku? Kenapa?! Hati Ayi mengeram.
Ayi bisa mengingat dengan jelas ketika keluarga nya mengutus seseorang untuk menjadi utusan sebagai perantara hubungannya dengan Yahya. Namun Hajjah Asiyah menolak kedatangan utusan tersebut mentah-mentah. Ketika itu Mereka berdalih bahwa Yahya belum menyelesaikan kuliahnya. Ayi benar-benar nelangsa. Ia menatap Yahya dengan bercucuran airmata.
Yahya sendiri sedari tadi tidak mendengarkan apa yang Hajjah Aisyah bicarakan. Yahya sama sekali tidak tertarik pada pembahasan yang disampaikan. Ia masih sibuk menelisik satu persatu wajah para santri yang ada di hadapannya. Namun apa yang sedari tadi dicari belum ia temukan.
Layla melihat Yahya yang tampak santai, baginya ekspresi tersebut merupakan suatu pertanda adanya persetujuan. Layla menyunggingkan senyumnya merasa puas. Terlalu mudah baginya untuk memilih laki-laki mana pun yang ia inginkan. Bahkan Yahya sekalipun.
Yahya menghembuskan nafasnya ke udara. Ia tampak kecewa. Yahya sangat kesal saat memastikan bahwa Iqlima tidak berada dalam kerumunan.
Apa Istrinya tertidur? Mengapa Iqlima tidak bangun? Bukankah ada pengumuman bahwa Ia akan masuk ke asrama? Mengapa Iqlima tidak menggubrisnya? Apa bagi Iqlima keberadaan nya sama sekali tidak penting?
Huh lihat saja! Aku akan menghukumnya jika nanti kami bertemu. Berani-beraninya dia tidak mempedulikan kedatangan suami! Nanti Aku akan memberikan pelajaran khusus bagaimana cara seorang istri menyambut suami! Yahya memicingkan mata. Jengah. Rasanya waktunya benar-benar terbuang percuma.
Aaaaaaaaaa.... Tiba-tiba suara jeritan terdengar.
Aaaaaaaaaaa.... Suara tersebut semakin lama terdengar semakin jelas.
Yahya tercenang. Ia tau persis siapa yang berlari. Hajjah Aisyah tak kalah terkejut. Cahyati bertanya-tanya ada apa gerangan dia berlari?
"Iqlima stop! Apa yang kau lakukan?! Ini memalukan!! Apa kau tidak melihat di sini ada Ummi Hajjah, Gus Yahya dan para tamu terhormat?! " Ustadzah Ayuni menegur Iqlima dengan keras. Seketika gadis tersebut tersadar. Ia meraba jantungnya yang masih berdetak.
Hhhhmmmppfff Hhmmmpppfff. Para santriwati menahan tawa melihat penampilan Iqlima yang begitu acak-acakkan.
Mungkin dia gila.
Rugi berwajah cantik tapi idio*t
Dia bahlul.
Sejak awal dia memang trouble maker.
Lihatlah, betapa ia sedang mempermalukan dirinya sendiri!
Para santriwati saling berbisik-bisik merendahkan.
__ADS_1
"Ma... Maaf.... A... aku terjatuh karena tidak sengaja tergelincir oleh minyak bensin yang tumpah ruah di halaman belakang. La... lalu aku terkejut karena banyak nya lintah di sana! " Ucap Iqlima terbata. Ia benar-benar gemetar ketakutan. Bibirnya tampak pucat.
"Bohong! Jangan mengada-ada! Mana mungkin ada bensin di dalam pesantren ini! Kau sedang berhalusinasi!" Sergah Ayuni geram akan ulah Iqlima. Ia sebagai ustadzah senior benar-benar merasa malu karena gagal menertibkan keadaan.
"A..Aku tidak berbohong!" Sahut Iqlima menunduk.
Hajjah Aisyah menggeleng tak percaya. Sesuai dugaan nya. Iqlima memang gadis dibawah rata-rata.
Lihatlah pilihanmu, Yahya! Kau akan benar-benar menyesal jika tidak mendengarkan perkataan Ummi. Aku telah lebih dahulu lahir, aku telah lebih dulu memakan asam garam kehidupan. Hajjah Aisyah menggelengkan kepalanya menatap Iqlima dengan tatapan miris.
"Hmh... Maaf jika saya lancang. Saya tidak berhak berbicara, tapi saya merasa kasihan dengannya. Bagaimana kalau kita bersama-sama ke halaman belakang untuk membuktikan kebenaran nya? Jangan-jangan ini semua hanya sebuah lelucon untuk mencari simpati dari pihak tertentu! " Ucap Layla lembut namun menusuk. Hajjah Aisyah mengangguk-angguk terkesima dengan kedewasaan yang Layla miliki.
Layla memang calon Nyai yang baik di masa depan! Gumam Hajjah Aisyah. Bersama-sama mereka mencari bukti ke halaman belakang.
Tap
Tap
Tap
Gelombang langkah terdengar padat. Para santriwati mengikuti para punggawa pesantren dari arah belakang. Iqlima yang jadi tersangka dan bulan-bulanan pasrah saat digiring. Walau merasa jijik dengan tubuh kotor Iqlima, mereka tetap menggiring nya.
"Dimana bensinnya?! " Tanya Ayuni ketika mereka tiba di lokasi. Mulut Iqlima terganga. Genangan Bensin di atas tanah telah lenyap seketika. Rombongan Lintah juga nyaris raib. Hanya ada satu dua yang tersisa.
Bagaimana bisa? Aku tidak mungkin berhalusinasi!
"A... Aku tidak berbohong! Lihatlah pakaianku! Pakaianku beraroma bensin! " Sahut Iqlima.
"Kau jangan membela diri! Jelas-jelas kau berbohong! Kenapa kau selalu membuat masalah?!"
"Hhhh Pakaian mu memang berbau bensin, itu artinya kau yang membawa masuk bensin ke pesantren ini! Apa kemarin-kemarin kau menghilang karena ingin menyelundupkan bensin hah?! Apa kau ingin membakar pesantren ini?!" Ustadzah Ayuni berang. Ia benar-benar malu karena Iqlima sedikit pun belum bisa terdidik.
"Lagipula kenapa kau ke halaman belakang?! Untuk apa?! Apa yang kau lakukan di sini?!"
Iqlima mendongakkan kepalanya menatap Yahya mencari perlindungan. Netra mereka bertemu beberapa saat. Namun sayang, Yahya hanya menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Iqlima menggigit bibir bawahnya tak percaya. Ia kembali menunduk. Hatinya terasa kebas.
Bagaimana cara ia membela dirinya sekarang?
***
__ADS_1