
"Aku kesini untuk memperingatkan mu! Jangan pernah sekali-kali kau menyebut Iqlima dengan kata-kata keji seperti tadi! Jangan pernah mengulanginya! " Ucap Yahya.
"Tttt... Tapi dia selingkuh!"
"Apa yang terjadi di antara kami, itu tidak ada hubungannya denganmu! "
"Tapi dia menamparku, Mas!!! "
"Berhentilah berakting menjadi wanita lemah, Layla! Kelakuan seperti ini hanya membuatku mual" Sarkas Yahya. Layla menggeleng.
"Juga.... " Yahya menjeda kalimat nya.
"Berhentilah menyampaikan kabar yang bukan urusanmu pada Ummi! "
"Aku menghormati dan akan menyayangimu sebagai istriku, aku akan penuhi hak hak mu! Tapi jangan pernah melampaui batasmu! "
"Sekarang, apa kau mengerti?! " Tanya Yahya penuh penekanan. Layla terpaksa mengangguk.
Sreegg
Gadis tersebut kembali memeluk Yahya.
"Aku paham apa yang mas rasakan saat ini, maaf... Aku tidak bisa membantu apapun... Aku hanya bisa mendekap seperti ini semoga bisa mengurangi beban di hati mas" Lirih Layla berlagak sebijak mungkin. Yahya hanya diam sampai suara bel terdengar berulang kali berdering nyaring. Layla merenggangkan pelukannya sambil dalam hati menggerutu.
Iqlima menundukkan pandangan melihat Layla setengah mendekap lengan Yahya saat pintu kamar terbuka.
"Iqlima? "
"Ma... Maaf menganggu kalian... A.. Aku hanya ingin minta izin untuk keluar sebentar"
"Kemana? Kau mau kemana? " Yahya melepas pegangan tangan Layla dan maju mencengkram pergelangan tangan Iqlima. Wanita tersebut melirik Layla merasa tak nyaman untuk menjelaskan. Pasalnya ia ingin menemui Rais untuk terakhir kali, mengucapkan terima kasih dan menjelaskan semuanya.
"Aku akan mengantarmu! "
"Tidak usah bang! Ini daerah kampung halamanku, aku hafal seluk beluknya.. Aku bisa pergi sendiri" Tolak Iqlima yang tidak ingin menganggu kebersamaan Yahya dan Layla.
"Kau sudah bersalah, mengapa masih bersikap seenakmu? " Cebik Yahya kesal. Iqlima mendongak.
"Apa kau sama sekali tidak merasa bersalah dan menyesali perbuatanmu, hah?! "
"A... Aku... "
"Karena sudah di kampung halamanmu, mengapa tidak kau bawa kami sekalian ke rumahmu? "Tanya Hj. Aisyah yang muncul secara tiba-tiba.
Deg.
"Ah iya ummi benar, ide yang bagus! Kami akan ikut kemana kau pergi.. Setelah urusanmu selesai, kita akan ke rumahmu! Begitu kan ummi?" Timpal Layla.
"Bagaimana Iqlima? Kau mengizinkan kami ke rumah mu kan? Hitung-hitung sekalian menjagamu, kalau kalau saja ternyata kau malah mau menemui kekasihmu di luar sana! " Sarkas Hj. Aisyah terang-terangan menyindir. Iqlima menggigit bibir bawahnya tak nyaman.
"Bang Yahya, aku mau bicara... Sebentar saja... Ki... Kita berdua, boleh? " Tanya Iqlima berhati-hati. Tidak ada pilihan selain memberanikan diri di saat mendesak seperti ini.
"Tidak sopan! Kau anggap kami apa?! Bukannya menjawab tapi kau memilih mengabaikanku! Apa kau tidak melihat keberadaan kami?!" Pekik Hj. Aisyah geram. Rasanya ingin sekali beliau menelan Iqlima bulat-bulat.
"Ma... Maaf Ummi... Bukan begitu... "
Drrrrtttt Ddrrrrttt
__ADS_1
Handphone Hj. Aisyah bergetar. Nama Haji Zakaria menghias di sana.
"Kita ngobrol di kamar" Ucap Yahya menarik cepat lengan Iqlima sebelum wanita tersebut menyelesaikan kalimatnya.
"Kau lihat nak? Betapa sombongnya Dia! Huh! " Keluh Hj. Aisyah ketika melihat handphone nya berhenti memanggil.
"Apa mas Yahya akan luluh dengan rayuan wanita pelakor itu ya Mi? "
"Dia tak akan berkutik kali ini! Kita akan mengulitinya, membuka kebusukannya hingga membuat Yahya ilfeel dan muak padanya! " Ucap Hj. Aisyah membesarkan hati Layla. Mata mereka tak lepas dari menatap Yahya dan Iqlima yang berjalan melewati lorong menuju kamar.
Drrrrtttt Drrrrtttt
Handphone Hj. Aisyah kembali bergetar.
...****************...
Yahya menatap Iqlima lekat-lekat. Mereka duduk saling berhadapan tanpa sepatah katapun. Tenggorokan Iqlima terasa tercekat. Ia kesulitan mengutarakan keinginannya.
"Apa kau mengajak ku menepi hanya untuk saling berpandangan dan melirik seperti ini? " Tanya Yahya akhirnya membuka pembicaraan. Jujur saja, ia masih sangat kecewa pada Iqlima.
"Sebelumnya aku ingin menegaskan bahwa aku tidak selingkuh. Tidak berniat apalagi merealisasikan nya! Sama sekali tidak! " Ucap Iqlima. Yahya mendengar dengan malas sambil melihat random ke kanan dan ke kiri.
"Karena aku tidak punya banyak waktu, jadi aku ingin menyingkatnya" Iqlima melirik ke arah jam tangannya.
"Seperti yang sudah ku jelaskan, kemarin malam itu aku tidak sengaja melihat bang Rais di bandara..."
"Aku bosan mendengar kalimat yang sama berulang-ulang" Potong Yahya.
"Kami bertemu hanya sebentar. Seperti nya beliau buru-buru. Aku melihat banyak bekas luka bahkan di kedua lengan beliau, hal ini benar-benar membuat ku yakin kalau beliau memang bang Rais" Terang Iqlima. Yahya sekuat tenaga menahan gejolak emosi yang sedari tadi sudah bergemuruh dan ingin ia luapkan.
Sreegg
Yahya bangkit dengan menyeret kasar kursi yang ia duduki ke belakang.
"Malam itu kau mau pergi ke kota lain kan?! Kau ingin menghilang dari kota ini seolah tidak ada hari esok! Tapi dengan mudahnya kau mengubah rencana mu hanya karena bertemu dengan mantan suamimu yang belum jelas apakah mereka benar-benar orang yang sama!" Sembur Yahya.
"Kau pikir Aku akan mengizinkan mu? Aku tidak mengizinkan mu pergi kemanapun! " Lanjut Yahya dengan rahang mengeras dan gigi yang ia rapatkan. Pelan namun penuh penekanan. Ia benar-benar sudah kehabisan kata-kata menghadapi Iqlima.
Yahya mulai melangkah ke arah pintu keluar.
"Aku tetap akan pergi dengan atau tanpa izin dari bang Yahya. Aku tetap akan pergi!" Sahut Iqlima frustasi. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih. Waktu semakin mepet. Ia khawatir Rais tidak bisa menunggu nya. Iqlima tidak tau kapan lagi ia bisa bertemu dengan laki-laki yang berjasa besar dalam hidupnya tersebut.
Langkah kaki Yahya terhenti.
"Aku bisa memaklumi semua hal... tapi tidak untuk pengkhianatan... Walau kau tidak mencintaiku, setidaknya hormati aku! Hormati aku sebagaimana aku memperlakukan mu dengan sepenuh HATI! "
"Aku bisa bersumpah 1000 kali atas nama Allah kalau aku tidak berkhianat... Tapi kali ini izinkan aku pergi... Ku mohon..." Iqlima mengiba. Tubuh Yahya seolah membeku. Ingin menawar mengantarkan nya kembalipun rasanya tak sudah tak mampu.
Iqlima kembali melirik jam yang ada dipergelangan tangannya.
"Aku pergi.... " Ucap Iqlima melewati Yahya begitu saja. Pikirannya benar-benar kalut. Waktu seolah terhenti.
Laki-laki itu lebih berharga daripada aku. Kau bilang... Kau bisa bersumpah 1000 kali atas nama Allah, tapi pada hakikatnya... Kau melakukan itu karena dia. Bukan karena aku... Sepenting itu pertemuan kalian... Sedikitpun kau tidak menghormati aku... Sama sekali tidak...
Di tengah rasa kecewa yang teramat sangat, Yahya mengambil gawainya.
"Mang, tolong bawa Iqlima... Antar kemana dia pergi... Setelahnya, bawa dia pulang kembali ke hotel"
__ADS_1
"Baik Gus, apa perlu saya videokan kegiatan nona Iqlima? "
"Tidak usah. Aku tidak ingin tau apapun! " Lirih Yahya. Ia khawatir tidak akan mampu melihat video-video kedekatan Iqlima dengan laki-laki lain.
"Baik Gus..."
Yahya menutup pembicaraan sepihak dan mulai menghubungi asisten lainnya.
"Jaga Iqlima dengan baik, awasi dia. Kita masih tidak tau identitas asli dari laki-laki yang Iqlima temui. Awasi jangan sampai istriku disentuh seujung kukupun! Jangan sampai Iqlima kenapa-napa... Aku tidak akan memaafkan mu jika itu terjadi! "
...****************...
Yahya keluar dari ruang kamar hotel dengan tatapan kosong. Pembangkangan yang Iqlima lakukan demi laki-laki lain membuat hatinya terasa hancur. Harga dirinya tercabik-cabik. Bahkan Iqlima sama sekali tidak merasa bersalah dan menyesal atas apa yang sudah dilakukannya.
Aku meninggalkan Jakarta dan menelantarkan segalanya karena mu, tapi kau sama sekali tidak menggubrisku.
Yahya terus berjalan dengan sesekali tersenyum pahit. Ia benar-benar merasa lelah. Emosi Yahya benar-benar terkuras dan ia sudah tidak bisa mengepresikannya dalam bentuk apapun.
"Mas, mas kenapa? " Tanya Layla yang menunggu Yahya di depan pintu. Pemuda tersebut hanya diam dengan tatapan datar.
"Ini mas, mas minum dulu biar lebih lega. ..." Layla menyodorkan minuman yang telah dipersiapkan sebelum nya. Yahya tanpa sadar mengikuti arahan Layla dengan terus memikirkan Iqlima. Baginya sangkalan terhadap pengkhianatan yang dilakukan namun perbuatan yang berbanding terbalik dari ucapan merupakan pengkhianatan itu sendiri.
Layla yang telah memantau perginya Iqlima seorang diri merasa di awang-awang. Kemenangan terasa melambai indah di depan matanya.
"Mas, aku ke kamar mandi dulu... " Ucap Layla. Yahya tetap tak menggubris sampai lima belas menit kemudian ia merasakan keanehan pada tubuh nya. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya kecuali pada Iqlima. Tubuhnya terasa meledak ledak.
Driiiit
Layla membuka pintu kamar mandi. Ia sudah siap menyambut Yahya dengan tangan terbuka.
"Mas... Kenapa mas membuka baju?! " Pekik Layla berpura-pura. Ia yang sudah memberikan ramuan perangs*ng dengan efek halusinasi sudah sangat paham apa yang terjadi pada diri Yahya.
"Aku merasa sangat gerah! Gerah sekali... " Sahut Yahya tanpa melihat Layla. Kepalanya terasa pusing. Ia butuh Iqlima. Yahya mencengkram kuat rambutnya.
Layla mendekat. Ia langsung memeluk Yahya dari belakang dan mengalungkan lengannya.
"A... Aku... Aku sedang tidak ingin... " Ucap Yahya mencoba menolak. Hatinya masih hancur. Namun reaksi tubuh nya begitu berlebihan.
"Ayolah mas... lihatlah aku... aku istri sahnya mas! Aku juga berhak diperlakukan sama" Layla terus merayu Yahya dengan tangan yang terus bekerja memaksimalkan fungsi ramuan. Yahya mendongak.
Iqlima? Kau kembali? Yahya membesar kecilkan matanya memastikan. Entah mengapa wajah Iqlima berada dalam pandangannya. Yahya membawa Layla menghadap nya.
Cup.
Yahya mengecup bibir orang yang menyerupai Iqlima dengan penuh perasaan. Airmata nya mengalir. Ia merasa begitu sakit, hatinya terluka tapi Ia sama sekali tidak bisa menolak wanita tersebut. Siaalnya, tubuhnya benar-benar mengkhianati nya.
"Iqlima... Aku mencintaimu... Sungguh... Tapi jangan khianati aku... Jangan hancurkan aku" Lirih Yahya. Bagai mimpi... ia terus melakukan tugasnya. Layla terkejut bukan kepalang. Ternyata sedari tadi Yahya membayangkan berc*nta dengan Iqlima.
Ah persetan dengan itu semua! Yang penting malam ini aku harus berhasil mengelabui mas Yahya! Setelahnya aku akan memikirkan bagaimana cara untuk mampu memikat nya!
"Mas, sebentar... minum dulu" Ucap Layla yang telah mempersiapkan ramuan kedua.
"Layla? Kau Layla? " Yahya sedikit tersadar. Ia mengusap mulutnya yang basah.
"Kita minum dulu biar lebih rileks.. Setelah itu kita lanjutkan kenikmatan ini sampai ke puncak" Bisik Layla dengan suara mendayu. Yahya yang berada dalam keadaan tidak normal menuruti permintaan gadis tersebut. Layla tidak tinggal diam, Ia kembali memeluk Yahya setelah pemuda tersebut menghabiskan minumnya. Namun belum sempat mereka merealisasikan untuk mereguk kenikmatan hingga puncak, Yahya telah lebih dulu tertidur.
...****************...
__ADS_1