Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 80: Tersimpan Rapat


__ADS_3

Dddrrrrttt Ddddrtttt


Handphone Yahya yang terletak begitu saja di dekat rem tangan di samping mereka bergetar.


Layla.


Yahya dan Iqlima dapat membaca dengan jelas nama yang tertera dilayar kaca. Iqlima kesulitan menelan salivanya. Yahya terpaku.


"Angkat saja" Lirih Iqlima. Layla masih memanggil hingga panggilan tersebut berakhir. Namun ternyata Layla tidak menyerah. Gadis tersebut kembali melayangkan panggilan.


"Mas dimana?" Tanya Layla setelah mengetahui Yahya mengangkat telponnya.


"Di mobil" Sahut Yahya datar. Ia melirik Iqlima yang memandang ke luar jendela tampak acuh.


"Aku kangen... " Lirih Layla manja. Sayup-sayup Iqlima bisa mendengar dengan baik apa yang gadis tersebut ucapkan.


"Nanti malam insya Allah aku akan menemuimu" Iqlima menggigit bibir bawahnya. Walau sudah seharusnya Yahya dan Layla berbulan madu, namun jujur saja ia tetap merasa sakit mendengar jawaban tersebut. Wajah Iqlima berubah muram. Yahya berencana menutup pembicaraan mereka.


"Tunggu mas!" Sergah Layla.


"Janji nanti malam menemuiku?"


"Aku mengingatnya" Sahut Yahya.


"Baiklah, aku menungguuu mas" Ucap Layla berbisik manja. Dada Iqlima semakin bergemuruh. Ia meremas ujung baju blouse-nya.


"Sekarang kita ke apartemen" Ucap Yahya setelah menutup handphone nya. Iqlima tersentak.


"Tidak mau. Aku mau pulang saja" Tolak Iqlima.


"Tidak ada salahnya kita istirahat di apartement. Sebentaaaar saja, hm?" Pinta Yahya lembut. Iqlima menggeleng. Suasana hatinya benar-benar buruk. Ia sudah tidak bersemangat.


Hhhh. Yahta mendengus setelah menatap Iqlima lekat-lekat.


Iqlima, tidak taukah kau bahwa aku begitu merindukanmu~


"Ya sudah. Terserah kau saja!" Cebik Yahya kesal. Ia mulai melajukan mobilnya membelah jalanan raya.


Bang Yahya benar-benar melajukan mobil ke Bustanul Jannah. Katanya ke apartemen... Hhhh. Iqlima benar-benar kecewa.


Di kediaman Haji Zakaria, terlihat dokter Jelita turun dari mobil dan mulai memasuki perkarangan. Karena kesibukannya, sudah sejak lama sebelum Iqlima berangkat ke Korea Selatan mereka tidak pernah lagi bertemu.


Kali terakhir ia dikejutkan oleh tersiarnya kabar tentang pernikahan Yahya yang viral di mana-mana. Putra tunggal pewaris Zakaria Group menikahi putri pesohor yang memang sudah kondang dalam dunia bisnis. Benar-benar pasangan serasi seperti yang semua orang harapkan.


Walau sulitnya meluangkan waktu, Dokter Jelita merasa ia tetap harus menyampatkan diri bertemu qlima dan memastikan keadaannya sekarang.


"Bu, bu..." Sayup sayup terdengar suara orang memanggil.


Ibu? Mungkin satpam. Batin Dokter Jelita. Tapi kenapa harus memanggil ibu sih? Apa aku memang setua ituu?? Huh.


"Hey, kenapa kau memanggilku ibu? Kau pikir aku ibu......" Dokter Jelita berbalik. Baru saja ia akan menyempurnakan kalimat nya. Namun alangkah terkejutnya dokter Jelita ketika melihat haji Zakaria telah berada tepat beberapa meter di belakangnya.

__ADS_1


"Ini, milik anda tadi terjatuh! " Ayah dari Yahya tersebut menyodorkan sebuah name tag dengan wajah tanpa ekspresi. Dokter Jelita menelan salivanya bersusah payah.


"Te.. rima kasih pak!" Haji Zakaria mengangguk tanpa membalasnya. Beliau langsung berbalik arah dan melesat begitu saja.


Huft... Cerobohnya aku! Dokter mengetuk kepalanya. Tapi siapa suruh memanggilku ibu! Menyebalkan! Dokter Jelita yang memang berada dalam masa periode menjadi sedikit sensitif.


Aaarggg... Sudahlah sudahlah... Huft... Untung saja name tag ini ditemui oleh beliau... Kalau tidak aku tidak bisa masuk laboratorium! Alhamdulillah... Di tengah rasa kesalnya Dokter Jelita juga merasa lega.


*Tapi...


Wait... wait...


Wajah beliau terlihat tidak asing*. Dokter Jelita tampak berfikir.


Hmh... Apa jangan jangan beliau adalah Prof. Zakaria yang mengasuh mata kuliah Psikologi Medis pekan depan?? Dokter Jelita sedikit terkejut. Namun lamunannya buyar ketika sebuah mobil mercedes-benz buatan Jerman yang sudah diketahui siapa pemiliknya masuk ke area parkiran.


"Iqlimaaa" Panggil dokter Jelita ketika Iqlima turun dari mobil. Iqlima langsung berlari menghampiri dan tak segan memeluknya, orang yang sudah sangat Iqlima rindukan.


"Bagaimana kabarmu? Hey, kau menangis? " Dokter Jelita menangkup wajah Iqlima.


"Aku sangat merindukan dokter. Aku sangat terharu sampai aku menangis. Terima kasih sudah mengunjungiku! " Iqlima kembali memeluk dokter tersebut.


"Yahya, kau mau kemana? " Tanya dokter Jelita saat ekor matanya menangkap sosok Yahya yang berjalan melewati mereka begitu saja dengan wajah kusut.


"Mandi" Jawab Yahya singkat dengan acuh. Dokter Jelita Menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kita bicara di kamarku! " Ajak Iqlima.


"Sudah pasti ke tempat istri.... " Belum sempat Iqlima menyelesaikan kalimat nya, Layla telah lebih dulu datang menyambut Yahya di depan pintu. Gadis tersebut langsung bergelanyut manja di lengannya. Dokter Jelita benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihat.


"Aku akan menjewer kupingnya! Aku akan memukulnya membabi buta! " Pekik Jelita marah. Wanita yang berprofesi sebagai dokter tersebut sudah mengambil ancang-ancang akan menghampiri Yahya. Namun tangan Iqlima mencegatnya. Iqlima menggeleng kuat.


"Jangan lakukan itu... Bang Yahya tidak bersalah" Ucap Iqlima menggigit bibir bawahnya. Matanya berair menyaksikan kemesraan Yahya dan Layla secara langsung.


"Biarkan aku beristirahat.. Aku sangat lelah! " Ucap Yahya ketika Layla ketika mereka sudah berada di dalam rumah. Layla semakin bergelanyut manja di lengan nya.


"Baiklah mas, mari kita ke kamar! " Ajak Layla.


"Aku akan beristirahat di ruang kerja sembari membaca dokumen setelah itu aku akan menemuimu! " Yahya melepaskan tangan Layla dan mulai berjalan meninggalkannya.


"Mas... " Layla mengejar Yahya


Sreeg


Layla merentangkan tangannya mencegat agar Yahya berhenti berjalan.


"Kenapa mas begini? Kita ini pengantin baru! Kenapa mas Yahya mengabaikanku?? Dan baru saja mas Yahya menemui perempuan itu... sekarang mas Yahya masih mau ke ruang kerja! Mas Yahya suami yang tidak adil! Tadi malam pun mas Yahya tidur di so..." Layla mulai menangis. Lengkingan suaranya memenuhi ruangan. Ia terus mencerca.


"Layla, apa yang kau katakan?" Yahya maju menutup mulut Layla dengan telapak tangannya. Mata Yahya berpendar melihat-lihat kalau ada orang yang melintas.


"Hhmmpffff hmmpppfff" Layla meronta.

__ADS_1


"Kau kekanak-kanakkan! " Hardik Yahya berbisik. Disaat bersamaan Iqlima dan Dokter Jelita masuk ke dalam rumah. Mata Iqlima terbelalak melihat posisi Yahya yang tampak memeluk Layla dan seperti ingin menciumnya. Jantungnya seperti ingin meloncat dari tempat nya. Pasokan oksigen di dalam ruangan seperti berkurang.


"Kalau mau bermesraan, memeluk atau berciuman kenapa tidak di kamar saja? Jomblo sepertiku mual melihat pemandangan dadakan begini! " Ucapan sarkas Dokter Jelita berhasil mengejutkan Yahya. Ia spontan melepaskan dekapan tangannya di mulut Layla dan berbalik arah.


"Iqlima? " Lirih Yahya melihat Iqlima. Bibir istri pertamanya gemetar menahan tangis.


***


"Assalamu'alaikum... " Sapa Haji Zakaria ketika memasuki ruang VIP pada sebuah restaurant. Hari ini beliau ada agenda meeting.


"Waalaikumsalam Besan-ku... Apa kabar?" Sapa Arya hangat.


"Baik Alhamdulillah" Haji Zakaria membalas jabatan tangan Arya diiringi senyuman singkat. Mereka sengaja bertemu untuk membahas kelanjutan kerja sama proyek pembangunan mall besar yang akan diresmikan tahun depan. Arya yang didampingi oleh Osman mengajukan penawaran.


"Maaf, angka yang tertera di sini terlalu besar, Tuan Arya! " Sanggah Haji Zakaria yang membolak-balikan lembaran-lembaran proposal.


"Hmh... Tidak lebih besar dari keuntungan yang akan didapatkan. Dipastikan kita akan memperoleh lebih dari yang diharapkan, InsyaAllah! " Terang Arya masuk akal. Haji Zakaria tampak berpikir. Osman hanya mengamati jalannya rapat khusus antar dua pemuka bisnis. Semakin berjalannya waktu, mereka tidak lagi terlihat seperti besanan melainkan hanya rekanan profesional.


"Baik. Namun saya masih belum bisa mendealkan proposal ini! Akan saya pelajari dulu, beri saya waktu seminggu! " Tukas Haji Zakaria.


"Apa seminggu tidak terlalu lama Tuan Haji? Kita harus memangkas waktu seminim mungkin. Bagaimana jika tiga hari? " Tawar Arya memberi solusi.


"Baiklah. Tiga hari lagi aku akan memberikan kabar! " Arya mengangguk-angguk memberikan senyum misterius nya. Setelah berdiskusi panjang, mereka mulai menyantap makanan dan mengakhiri pertemuan dengan saling merangkul dan mengucapkan salam.


"Apa rencana tuan Arya selanjutnya?" Osman bertanya memberanikan diri.


"Perlahan-lahan Aku akan membuat keluarga mereka terlunta-lunta di jalanan! " Arya mengusap dagunya. Ia menarik sebagian bibir lebih berat di satu sisi hingga membentuk senyuman asimetris.


"Haji Zakaria bukan orang yang mudah" Osman sudah tidak terkejut dengan jalan pemikiran atasannya.


"Tentu saja, maka dari itu aku merasa sangat tertantang! Semakin merasa tertantang semakin aku merasa ingin segera menyingkirkan nya! " Sahut Arya santai.


"Tapi, bagaimana dengan Layla, putri tuan? " Osman mengerutkan keningnya.


"Hellman, come on... Layla tidak akan miskin! Ia adalah pewaris seluruh harta kekayaan dan kejayaanku! Aku berencana menguasai seluruh harta mereka dan menjadikanku raja bisnis yang tidak tertandingi di dunia ini! Hahahaa" Arya terbahak-bahak. Osman ikut tertawa namun sebenarnya ia tidak peduli dengan apa yang akan Arya perbuat.


Dia sangat berbahaya. Tapi terserah! Setidaknya langkah yang ditempuh pria ini akan semakin mendekatkanku pada tujuanku, Yaitu Iqlima. Tunggu saja tanggal mainnya! Osman mengangguk-angguk namun tetap waspada. Bagaimana tidak, demi ambisinya, Arya sama sekali tidak memikirkan perasaan putrinya.


Arya benar-benar tamak!


Aaargh tapi untuk apa aku mempedulikan nya? Osman memilih untuk acuh. Ia sendiri masih menyimpan misi yang masih tersimpan rapat.


"Hellman, coba kau hubungi Ampon Din! Tanyakan perkembangan tanah milik Keuchik Krueng Lam Kareung! " Arya menitahkan sambil menghidupkan cerutunya.


***


💙💙💙


Berikan Komentar Terbaikmu


#event_7

__ADS_1


__ADS_2