Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 94: Pertunjukan Drama


__ADS_3

Cup.


Yahya mengecup bibir orang yang menyerupai Iqlima dengan penuh perasaan. Airmata nya mengalir. Ia merasa begitu sakit, hatinya terluka tapi Ia sama sekali tidak bisa menolak kehadiran wanita tersebut. Siaalnya, tubuhnya benar-benar mengkhianati nya.


"Iqlima... Aku mencintaimu... Sungguh... Tapi jangan khianati aku... Jangan hancurkan aku..." Lirih Yahya. Bagai mimpi... ia terus melakukan tugasnya. Layla terkejut bukan kepalang. Ternyata sedari tadi Yahya membayangkan berc*nta dengan Iqlima.


Ah persetan dengan itu semua! Yang penting malam ini aku harus berhasil mengelabui mas Yahya! Setelahnya aku akan memikirkan bagaimana cara untuk mampu memikat nya!


"Mas, sebentar... minum dulu" Ucap Layla yang telah meracik ramuan kedua dan menyodorkan nya.


"Layla? Kau Layla? " Yahya sedikit tersadar. Ia mengusap mulutnya yang basah.


"Kita minum dulu biar lebih rileks.. Setelah itu kita lanjutkan kenikmatan ini sampai ke puncak" Bisik Layla dengan suara mendayu. Yahya yang berada dalam keadaan tidak normal menuruti permintaan gadis tersebut. Layla tidak tinggal diam, Ia kembali memeluk Yahya setelah pemuda tersebut menghabiskan minumnya. Minuman yang tentu saja telah ia masukkan obat tidur dosis rendah. Tak lama, belum sempat mereka merealisasikan mereguk kenikmatan hingga puncak, Yahya telah lebih dulu tertidur.


Layla dengan gerakan cepat menanggalkan seluruh pakaian nya berikut pakaian Yahya setelah memastikan suaminya tersebut telah terlelap. Ia menutup seluruh tubuh mereka dengan selimut dalam posisi berbaring bersama.


Pertunjukan drama akan segera dimulai... Jantung Layla berdegup kencang.


...****************...


Pukul 17.35 Wib. Iqlima sampai pada tempat yang telah disepakati. Ia merasa kesulitan bernafas. Bayang-bayang masa lalu tak juga enyah dari ingatan. Iqlima memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri. Namun batang hidung Hilman belum terlihat.


Bang Rais dimana? Gumam Iqlima seorang diri dengan keringat yang mengucur. Rina sudah permisi ke kamar mandi dari beberapa menit yang lalu.


Hhhhh. Iqlima mendengus. Berkali-kali ia menghela nafas. Kali ini ingatannya melayang pada Yahya. Ia merasa benar-benar keterlaluan. Iqlima sendiri tidak menyangka ia mampu melakukannya. Menantang dan membantah Yahya, itu seperti bukan dirinya.


Seketika airmata Iqlima merebak. Ia menyesal. Namun ia sendiri tidak bisa meredam gejolak emosi yang tidak pada tempatnya. Betapa pun Yahya tidak bersalah, namun entah mengapa tetap saja Ia merasa marah pada suaminya tersebut. Keistimewaan, kasih sayang dan kemesraan yang Yahya berikan pada Layla membuat hati nya sakit. Sangat sakit.


Egois? Ya. Tepat sekali.


Set


Seseorang tiba-tiba mengulurkan tangan menyodorkan selembar tisu padanya.


"Bang... Ra.. is?" Gumam Iqlima terkejut. Ia menatapnya lekat-lekat. Dulu, Ia tidak pernah benar-benar melihat laki-laki tersebut dan menafikan keberadaannya. Bahkan setelah mereka menikah.


Tidak asing. Aromanya tidak asing. Seperti aroma yang pernah singgah di penciuman. Tapi mengapa aku seperti merasa tidak nyaman? Apa dia benar-benar Bang Rais? Namun mengapa seperti ada yang berbeda? Tapi apa?


"Mengapa kamu menangis, hm? " Tanya Hilman dengan senyum penuh kelembutan. Iqlima tidak menjawab. Ia terlalu terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Ma'af... Sebenarnya aku bukanlah orang yang kamu maksud.... " Ucap Hilman berterus terang. Ia sudah memiliki jurus lain mendekati wanita tersebut tanpa perlu mengaku sebagai Rais.


"Sebenarnya aku bukan Rais... " Lanjut Hilman lagi. Iqlima masih menatapnya tak berkedip.


"Sebenarnya aku... "


"Bagaimana rasanya bersembunyi selama bertahun-tahun? Apa bang Rais baik-baik saja?" Tanya Iqlima dengan air mata yang kembali merebak. Ia benar-benar mengkondisikan lisan agar tidak ada yang mendengar selain mereka berdua. Hilman sedikit terperangah dengan apa yang ia dengar. Itu artinya Iqlima tetap menganggapnya sebagai Rais.


"Aku... "

__ADS_1


"Ah, aku terlalu tidak berperasaan menanyakan begitu... Maaf... " Ucap Iqlima menyesal. Kali ini ia memilih untuk menunduk. Hilman berpikir sejenak.


"Aku..." Hilman dan Iqlima sama-sama bersuara.


"Ladies first... " Ucap Hilman dengan gentleman mempersilahkan Iqlima untuk berbicara.


"Aku tidak bermaksud mengenang hal pahit. Namun tujuanku menemui bang Rais adalah untuk menerangkan semua... " Ucap Iqlima. Ia melihat Rina yang sudah selesai dari toilet duduk dengan jarak yang lumayan jauh dari tempat mereka berada. Tak lupa ia melirik jam tangannya.


Iqlima mulai menceritakan kronologi kejadian masa lalu kepada Hilman secara detail dengan tidak ada yang ia tutupi. Bagaimana kesehatan fisik, mental serta psikisnya terpuruk. Bagaimana ia berjuang melalui masa-masa sulit setelah mendengar kabar bahwa suaminya tewas mengenaskan di hutan. Bagaimana ia harus menjalani terapi bersama seorang psikiater. Juga bagaimana ia dijebak, dipermalukan dimuka umum lalu kemudian dipaksa menikah.


Hilman terpaku. Ia hanya bisa menelan saliva mendengarkan cerita tersebut. Seumpama cerita bergenre thriller bercampur horror, Hilman bergidik ngeri. Ia tidak tau ternyata Iqlima sebegitu terpuruknya.


"Aku tidak akan membuatmu menderita lagi... " Ucap Hilman bersungguh-sungguh. Ia ingin menebus semua dosa di masa lalu. Ia hendak menyentuh tangan Iqlima namun wanita tersebut langsung menghindar.


"Maaf... Kini aku sudah menikah... Aku seorang istri dari laki-laki lain sekarang... Ikatan pernikahan kita sudah putus! Faktanya sekarang kita bukan lagi suami istri..." Ucap Iqlima tegas.


"Tapi kau tidak bahagia... Pernikahan kalian adalah pernikahan konyol! Pernikahan terpaksa yang kalian jalani, tidak akan pernah membawa kebahagiaan! " Ucap Hilman memojokkan. Iqlima memejamkan mata. Dalam hati ia membenarkan semua yang Hilman katakan.


"Kembalilah padaku Iqlima... Aku bersumpah dengan jiwa dan raga akan membuatmu bahagia... Aku akan membahagiakan mu, menjadikanmu satu-satunya wanita yang ada dihidupku... Nyawapun rela kuserahkan padamu" Tawar Hilman berkaca-kaca. Entah mengapa ia menangis. Ini sama sekali bukan seperti dirinya. Di depan Iqlima, ia persis seperti batu es yang meleleh di teriknya matahari senja.


"Hari sudah petang, untuk terakhir.... Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih banyak untuk semua cinta dan pengorbanan yang begitu besar yang telah bang Rais berikan padaku. Sungguh aku tidak akan pernah bisa membalasnya. Tidak akan pernah..." Iqlima mengusap air matanya. Ia mengabaikan tawaran Hilman secara halus.


"Selama ini aku masih berkomunikasi dengan ibu dan adik-adik. Aku bisa memaklumi kalau bang Rais memilih untuk bersembunyi. Tapi jangan khawatir, penjahat busuk itu telah mendekam di penjara!! " Lanjut Iqlima dengan nada tinggi. Terpancar sinar kemarahan di kedua sorot bola matanya. Hilman menelan saliva bersusah payah.


"Mungkin hukuman yang diterima penjahat itu tidak sebanding dengan apa yang telah ia lakukan pada kita... Namun aku yakin, hukuman akhirat adalah hukuman yang paling adil" Kali ini Iqlima tersenyum. Senyum wanita yang ada dihadapannya membuat Hilman merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak.


"Karena mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita, Maka aku ingin mengucapkan salam perpisahan... " Ucap Iqlima sedikit membungkuk.


Iqlima berbalik arah lalu menggeleng. Ia menegaskan pada dirinya untuk tidak membuka celah pada laki-laki lain sekalipun orang tersebut adalah Rais.


"Kenapa? Apa aku terlalu buruk untuk sekedar jadi temanmu? Bukankah ini hal biasa? Apalagi suamimu adalah rekan bisnisku... " Ucap Hilman.


"Suamiku pencemburu, aku pun begitu... Jadi... "


"Jadi dia yang pencemburu itu boleh berpoligami dan kau tidak boleh berteman dengan laki-laki manapun. Begitu?! " Sarkas Hilman pada akhirnya. Iqlima terbelalak.


"Jangan heran, aku hadir di acara pernikahan mewahnya! " Ucapan Hilman membuat hati Iqlima serasa diremas.


"Iqlima... Sudah lama kita berpisah... Apa kau tidak ingin memberikanku sedikit saja kesempatan? " Tanya Hilman memelas.


Tap Tap Tap


"Nona, sudah waktunya kembali ke hotel... " Mang Shaleh berlari ke arah Iqlima memberikan peringatan.


"Baik Mang... " Sahut Iqlima.


Ciiiitttt


Disaat bersamaan sebuah mobil Jimny berhenti. Pria berpakaian serba hitam dengan tampang sangar mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Tuan besar sudah menunggu anda! "


Deg


Wajah Hilman berubah pucat.


"Sayang, aku tidak tau kapan lagi bisa bertemu dengan mu! " Ucap Hilman menangis. Pria berpakaian serba hitam yang merupakan anak buah Arya tersebut memegang pundak Hilman yang sedikit memberontak.


"Abang mau dibawa kemana?!" Pekik Iqlima ikut panik.


"Sebentar bodoh!!" Hardik Hilman pada anak buah Arya.


"Ini nomor handphone ku! Hubungi aku... Aku akan menyimpan nomormu..." Titah Hilman menyodorkan sebuah kertas. Iqlima mengangguk. Dengan gemetaran ia menyaksikan pemuda tersebut di bawa dengan kasar masuk ke dalam mobil.


"Aku mencintaimu... Aku mencintaimu.... " Teriak Hilman memenuhi area. Airmata Iqlima jatuh. Ia kembali menangis.


Prok Prok Prok


Tanpa sepengetahuan siapapun, Hj. Aisyah yang sedari tadi membuntuti Iqlima dan berada di lokasi bertepuk tangan elegan. Ia tersenyum dengan menaikkan sebelah alisnya ke atas.


"Pertunjukan drama romantis yang begitu mengharukan... Penuh cinta dan airmata... prok prok prok" Hj. Aisyah kembali bertepuk tangan.


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya Ummi hajjah? " Tanya sang asisten menunggu instruksi. Hajjah Aisyah tersenyum culas.


...****************...


Pukul 21.40 Wib. Yahya terbangun. Perlahan ia membuka mata. Kepalanya terasa pusing. Ia melirik ke arah samping dengan mata berkunang-kunang. Seketika ia tersenyum mengingat kemesraan yang baru saja terjadi.


Samar-sama ia melirik wanita di sampingnya yang duduk menunduk. Selimut di eratkan ke dadanya. Yahya hendak memeluk wanita tersebut. Namun seketika ia membelalakan mata.


"Astaghfirullah...! " Seru Yahya terkejut.


"Hiks hiks... "


"Layla?! " Seketika Yahya terduduk.


"Kenapa kau di sinii?? Dimana Iqlima? Iqlima dimana??" Tanya Yahya memijat kepalanya yang terasa sakit.


"Mas... Mas Yah.. ya telah merenggut kesucianku... Hiks hiks hiks! " Layla menangis tersedu.


"A... Apa?! "


"Mas Yahya sangat kasar padaku.. Hiks hiks... Mas Yahya melakukan nya seolah-olah aku adalah barang pelampiasan... Padahal ini adalah kali pertama bang Yahya melakukannya padaku... Hiks hiks... " Layla terus menangis.


"Layla... Aku tidak bisa mengingatnya... " Lirih Yahya merasa iba. Ia kembali mengingat ingat apa yang telah ia lakukan. Ingatannya hadir. Namun yang ia ingat hanya bermesraan bersama Iqlima. Itu saja. Tidak lebih. Selanjutnya ia tidak ingat apa yang telah ia lakukan.


"Lihatlah tanda ditubuhku ini! " Layla melepaskan selimut, Yahya sontak memalingkan wajahnya.


"Lihatlah semua yang telah mas Yahya lakukan... Lihatlah ini!! " Lanjut Layla lagi. Ia menyingkap selimut lebih banyak. Warna bercak kemerahan menghias seprai yang mereka tempati. Seketika Yahya menyadari kekeliruan nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2