Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 44: Pintar Berkata-Kata


__ADS_3

Iqlima sudah selesai mandi ketika mendapati Yahya masih tertidur pulas di kasur. Wanita ini tersenyum. Ia mendekat dan menarik selimut menutupi tubuh suaminya yang sedikit terbuka. Iqlima kembali bersemu ketika mengingat apa yang baru saja terjadi. Seperti mimpi, kini ia sudah benar-benar sempurna menjadi seorang istri. Mahkota yang paling berharga miliknya sudah ia serahkan pada laki-laki yang ia sebut suami.


Walau statusnya kini belum diakui oleh pihak mana-pun baik secara negara maupun secara sosial, namun setidaknya di mata agama ia sudah sah menjadi istri Yahya. Tak ingin berpikir terlalu lama, Iqlima dengan cepat mengambil gawainya lalu mengetik di sana.


Abang, aku kembali ke pesantren ya! Maaf ga bangunkan abang yang masih tertidur pulas, tampaknya abang sangat kelelahan. Aku tinggalkan handphone-ku di sini, aku takut handphone ini nanti di sita oleh para ustadzah.


Hmh, Aku pinjam baju kaos bekas abang pakai tadi ya! Pakaian dalam ku basah karena tadi abang paksa berendam di bak. Semoga abang ga marah, dan aku berjanji nanti bajunya akan ku cuci kembali.


Oh iya, satu lagi. Tolong seprainya jangan diserahkan ke laundry atau ke mbak asisten. Di simpan dulu di tempat yang tidak terjangkau penglihatan. Biar nanti, seprai bernoda itu aku saja yang mencucinya. Pokoknya jangan sampai jatuh ke tangan siapapun ya bang! Awas saja kalau sampai dilihat oleh orang lain! Iqlima mewanti-wanti. Setelah berhasil mengirimkan pesan ke nomor Yahya, wanita tersebut langsung kembali ke pesantren.


Di waktu yang bersamaan, pesawat Hilman mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Dengan langkah pasti ia menuju pintu gerbang setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan mengambil kopernya. Tentu saja, Hilman juga membawa serta baju dan lukisan milik iqlima bersamanya.


“Tuan Hilman, Saya adalah Robby. Asisten kepercayaan tuan Arya Pranawa yang ditugaskan untuk menjemput tuan!” Robby menunjukkan sebuah lencana khusus yang membuktikan bahwa benar ia adalah orang bekerja pada Arya. Tanpa basa basi, Robby langsung mengarahkan Hilman ke parkiran. Ia membawa pemuda asal Aceh itu untuk menemui tuannya.


Ciiiiit


Sebuah mobil mewah menge-rem dan berhenti di depan hotel berbintang bertepatan dengan tibanya Robby dan Hilman yang juga sampai beberapa menit lebih awal ke hotel tersebut. Terlihat Satpam membukakan pintu mobil. Seorang laki-laki paruh baya keluar dengan gagahnya. Ia menggunakan setelan pakaian santai dengan kaca mata hitam melewati orang-orang yang langsung menunduk membentuk gerakan ruku’ ketika berpapasan dengannya sebagai tanda hormat.


“Itu… Tuan Arya kan?” Tanya Hilman memastikan.


“Benar. Beliau adalah pemilik dari hotel mewah ini! Tuan Arya jarang kesini, tapi hari ini beliau meluangkan waktu khusus untuk menemui Tuan Hilman” Sahut Robby tanpa ekspresi. Hilman terkesiap. Setelah menunggu sepuluh menit, Mereka berjalan melewati lobby dan diarahkan untuk masuk ke dalam ruangan khusus.


Asisten membukakan pintu. Hilman berjalan mendekati Arya yang duduk di kursi kebesarannya.


Hmh... Calon boneka yang tampan. Gumam Arya menarik sudut bibirnya.


“Selamat pagi Om Arya!” Sapa Hilman meredam perasaan canggungnya.


“Om? Kamu memanggilku dengan sebutan Om? Ha Ha Hahahhaha… Aku suka keberanianmu!” Arya tertawa terbahak lalu Ia memberikan kode pada para asistennya untuk keluar.


“Kau tentu sudah tau bahwa Din, Ayahmu mengirimkan putranya ke sini dengan tujuan untuk tertentu!”


“Benar Om!” Sahut Hilman menunduk.


“Apa kau tidak berpikir bahwa Ayahmu sengaja membuangmu ke sini?!” Tanya Arya tajam. Hilman terenyak.


“Saya tidak berani berpikir demikian!”


“Lalu?” Arya menghisap cerutunya. Asap membumbung tinggi memenuhi ruangan.


“Saya diserahkan pada Om Arya untuk menimba ilmu!” Sahut Hilman diplomatis. Pemuda ini sekuat tenaga menghalau rasa takutnya.


“Apa Kau butuh ilmu untuk melakukan pembunuhan yang lebih sadis, hm?!” Sarkas Arya. Hilman bungkam.


“Ha ha hahaahahaha…. Rileks anak muda! Kau persis gambaran diriku ketika seusiamu!” Arya bangkit.


“Saya sama sekali tidak berniat membunuh! Ketika itu Saya hanya terjebak oleh keadaan!” Ucap Hilman mengklarifikasi kondisi kejiwaan nya saat itu.

__ADS_1


“Tidak berniat, tapi Kau berbakat! Kau sangat berbakat! Aku suka dengan pemuda berbakat sepertimu! Bakat Psychopath yang aku sukai” Arya mencoba melakukan pendalaman karakter. Entah sudah berapa kali ia bertemu dengan Hilman, mungkin ketika itu pemuda ini masih kecil atau remaja. Namun bagi Arya, ini tetaplah pertemuan pertama mereka.


“Terima kasih untuk pujiannya, Om! Aku anggap pujian tadi sebagai kalimat awal bahwa Om Arya telah menerima ku! "


"Hahahha... Kau memang pintar berkata-kata" Lanjut Arya kembali memuji.


"Karena kita sudah bertemu, maka sebelum aku menjadi orang-nya Om Arya, aku ingin meminta sedikit waktu!”


“Waktu? Seberapa lama? dan Untuk apa?"


“Saya ingin melakukan operasi plastik” Sahut Hilman tanpa ada keraguan.


"Apa?! Operasi plastik?!" Arya mendongak. Kalimat yang Hilman lontarkan membuatnya tertarik.


“Ya. Saya ingin mengubah wajah dan mengubah identitas. Saya ingin lahir sebagai orang baru! Saya sudah tidak ingin menjadi Hilman dengan segala catatan kelamnya! Kalau pun di masa mendatang saya menjadi seorang kriminalis, saya ingin mencapainya dengan cara yang elegan!” Terang Hilman. Kali ini Arya yang tercengang.


Iqlima kekasihku, kau ada di Jakarta kan? Tunggulah kedatanganku. Aku akan menjemputmu, sayang ! Kali ini kupastikan kau tidak akan pernah menolakku!


Untuk beberapa saat ruangan berubah hening.


Prok Prok Prok


“Cerdas! Kau cerdas! Sudah ku katakan kau memang berbakat! Kau sangat totalitas! Nyalimu patut di acungi jempol. Hahahahahaaaa” Arya mengangguk-angguk.


Pemuda ini memiliki visi dan misi tersendiri. Aku harus mengawasinya dengan ketat! Lagi-lagi Arya menaikkan sudut bibirnya ke atas.


“Baiklah! Aku akan mengirimmu ke Korea Selatan untuk mendapatkan hasil yang maksimal!” Ucap Arya perhatian. Pria paruh baya ini langsung menghubungi asistennya mengurus keberangkatan Hilman untuk melakukan operasi plastik.


“Terima Kasih Om. Kebaikan-kebaikan yang Om berikan tidak akan pernah kulupakan” Lagi-lagi Arya mengangguk.


Like Father Like Son, kalimat ini sudah sangat sering ku dengar dari mulut Ampon Din. Jika sudah saatnya, maka semua akan kutagih. Arya kembali menghisap cerutunya.


***


Yahya terbangun dan mendapati Iqlima sudah tidak berada disisinya. Pemuda ini melirik tampilannya, masih seperti semula. Ia teringat belum mandi dan shalat dhuha.


Kemana Iqlima? Apa ia sedang mandi? Mengapa tidak membangunkanku? Pikir Yahya. Pemuda ini bangkit dan mencari Iqlima ke kamar mandi.


Ceklek


Tidak terkunci. Yahya tersenyum dan melangkah masuk. Namun sayang, ternyata Iqlima sudah tidak berada di sana. Bath up juga sudah kering. Gadis itu telah membersihkannya.


Iqlima sudah selesai mandi, kemana ia? Yahya kembali ke kamar, ia mengambil gawai untuk memanggil Iqlima. Namun keningnya berhasil mengerut saat sebuah pesan dari nomor sang istri menghiasi layar handphone-nya. Yahya langsung membuka pesan tersebut.


Huh. Yahya mendengus kecewa saat mengetahui Iqlima memutuskan untuk kembali ke pesantren tanpa membangunkannya. Yahya kembali melihat detail kalimat yang Iqlima kirimkan.


Wait wait… apa katanya? Dia tidak membangunkan-ku karena melihat aku yang tampak sangat kelelahan?! Huh!! Aku HANYA MENGANTUK, MENGANTUK!! BUKAN LELAH! Huft, Sembarangan! Lihat saja kalau bertemu nanti, aku akan menunjukkan kemampuanku yang sesungguhnya! Dia tidak tau saja kalau kemampuanku belum keluar 100 persen! Awas saja! Gerutu Yahya. Entah mengapa Ia menjadi begitu sensitive setelah membaca tudingan Iqlima yang menyatakan bahwa ia kelelahan.

__ADS_1


Namun tak lama Yahya tersenyum saat membaca kalimat-kalimat lanjutan yang Iqlima ketik di sana. Dasar bodoh!


Pemuda ini dengan cepat melesat ke kamar mandi dan kembali ke kamar utamanya menunaikan ibadah shalat dhuha yang waktunya sudah mepet. Yahya kembali mengingat apa yang baru saja Ia dan Iqlima telah lewati bersama. Seketika senyumnya kembali mengembang.


Ting Ting


Seorang asisten yang menghubungi Yahya melalui Intercom wireless membuyarkan lamunan liarnya.


"Ada apa mbak Sri? "


"Gus, Ummi Hajjah mengajak makan siang bersama. Kata beliau hari ini kedatangan tamu spesial! "


Tamu spesial? Yahya mengerutkan keningnya.


"Sekarang Ummi dimana mbak Sri? "


"Lagi masak di dapur, Gus! "


"Baiklah! Aku akan mengunjungi Ummi sekarang! "


"Oh iya, nona Iqlima bagaimana Gus? Apa sudah kembali ke pesantren? Tadi saya menghubungi Gus tapi sepertinya kamar ini kosong"


"Tidak apa-apa mbak Sri, Iqlima sudah kembali ke pesantren. Tolong sekali-kali kamu lihat perkembangan. Nanti kalau situasi sudah kondusif, aku akan mengirimkan asisten khusus untuk membantunya!"


"Baik Gus Yahya, Sri permisi" Yahya kembali memakai jubahnya. Aroma segar peppermint menguar dari tubuhnya.


"Hm hm hm hm hm 🎶🎶🎶🎶" Tanpa sadar Yahya berdendang. Moodnya baik nya naik beberapa kali lipat hari ini.


"Masya Allah, putra Ummi... kelihatan nya kamu lagi bahagia banget! " Ucap Hajjah Aisyah ketika Yahya memeluknya dari arah belakang. Beliau tengah menyiapkan nasi kebuli dengan kari Ayam.


"Apa memang kelihatan begitu, Mi? " Hajjah Aisyah mengangguk.


"Ini pasti karena kamu tau kalau nak Layla mau datang makan siang di sini kan? " Todong Hajjah Aisyah.


"Ha? Layla?! " Yahya melonggarkan pelukannya.


"Iya... nak Layla yang penuh dengan sopan santun dan tata krama... Ummi mengundangnya kemari untuk makan siang bersama" Ucap Hajjah Aisyah tersenyum tak kalah bahagia. Yahya terdiam.


Tap Tap Tap


Di saat bersamaan, suara langkah kaki terdengar. Asisten membuka pintu dapur. Seorang wanita langsung masuk dengan riangnya.


"Assalamu'alaikum Ummiii... Layla sengaja datang ke sini lebih awal untuk membantu Ummi masak! " Ucap Layla tanpa peduli dengan keadaan sekitar. Lalu ia sedikit terkejut sekaligus bahagia ketika mendapati manusia tanpa pori-porinya yang juga sudah berada di dapur.


"Waalaikumsalam... Wah, anak cantik... putri shalih Ummi... Masuk Nak!" Mata Hajjah Aisyah berbinar-binar melihat Layla mengunjungi nya dengan menggunakan kerudung.


"Hi Mas Yahya! Kita ketemu lagi! " Layla berjalan mendekat.

__ADS_1


***


Tinggalkan jejak setelah membaca ya Man Teman ❤


__ADS_2