
"Hi Mas Yahya! Kita ketemu lagi! " Layla berjalan mendekat memberikan senyum menawannya. Lesung terlihat menghiasi kedua pipinya.
"Jadi kalian sudah pernah bertemu ya? Bagus dong! Berarti sudah akrab? " Hajjah Aisyah pura-pura tidak tau. Ia menarik sebuah kursi untuk Layla duduk.
"Sudah, tapi mas Yahya nya dingin banget Mi. Kaya es kutub! Susah banget mencairnya" Adu Layla. Ia bangkit mendekati Hajjah Aisyah.
"Duh Yahya. Kamu itu harus lebih luwes! Walau lulusan pondok dan tidak pernah melihat wanita, ya jangan kaku banget!" Sahut Hajjah Aisyah dengan dialeg khasnya. Layla berinisiatif mengambil pisau namun terlihat kebingungan harus melakukan apa.
"Mi, apa yang belum dikerjakan? Sini biar Layla bantu! "
Tes. Bagai ditetesi setitik embun pagi, Hajjah Aisyah terharu.
"Masya Allah, kamu memang anak yang rajin dan pengertian! Kamu duduk saja temani Yahya. Ini sudah selesai kok, tinggal di hidang sama mbok Jum! " Sahut Hajjah Aisyah menggiring Layla duduk di dekat Yahya.
"Hmh, Yahya permisi dulu, Mi! Mau panggil dik Ima agar ikut makan bersama!" Yahya bangkit menarik kursi ke belakang. Wajah Layla berubah muram. Hajjah Aisyah gelagapan. Beliau jadi tidak enak pada Layla.
"Nak Yahya, Nak... Tunggu... Iqlima kan lagi belajar di pondok. Jangan menganggu konsentrasi nya dong! Ayo kita makan dulu! "
"Mbok Jum, Mboook... Ayooo makanannya di angkat! Gerakannya agak dipercepat ya Mbok!" Yahya terpaksa kembali duduk.
"Nasi kebuli ini kesukaan nak Yahya, Nak! Resep turun temurun dari nenek buyut terdahulu! Nanti akan Ummi ajarkan. Kalau kau berhasil membuatnya, maka kau berhasil mendapatkan hati Yahya" Terang Hajjah Aisyah menyendokkan nasi kebuli ke piring Layla. Gadis tersebut mengangguk-angguk sembari mulai memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
Shiiiit, ga enak banget! Parah! Bu Nyai bisa masak ga siiih!? Hoooeeekkk. Layla berasa mual. Rasanya ingin sekali ia memuntahkan makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya tersebut. Layla melirik Yahya yang mengunyah makanannya dengan santai.
"Gimana rasanya nak? Enak?! " Tanya Hajjah Aisyah tiba-tiba. Dengan menahan nafas, Layla terpaksa menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
"E... Enak banget Mi, Kalau Ummi buka restauran pasti maju dan banyak yang beli! Hehe" Cengir Layla, ia kembali menyendok makanan masuk ke mulutnya bersusah payah.
Iya, banyak yang beli. Tuyul-tuyul yang akan membelinya! Ini ngerjain gue atau gimana sih konsepnya?! Huh! Gerutu hati Layla.
Selain manusia tanpa pori-pori, ternyata mas Yahya juga manusia tanpa perasaan! Masa makannya bisa santai banget! Tau begini mending Mas Yahya panggil aja tuh pelakor, biar dia rasain gimana buruknya makanan Nyai! Lanjut Layla masih menggerutu. Namun ia tetap berusaha menelan habis makanannya mati-matian.
"Alhamdulillah kalau begitu Nak! Silahkan dimakan yang banyak, dihabiskan... kalau perlu dibawa pulang!" Hajjah Asiyah mengelus pundak Layla. Bahagia.
"Hehe, iya Nyai, eh iya Mi! " Layla memberikan senyum terpaksa.
"Nak Yahya, setelah ini tolong kamu antar Layla ya! "
"Tidak bisa Mi, Yahya mau ke kantor! Banyak dokumen yang harus dibaca! " Tolak Yahya.
"Ah kalau cuma dokumen gampang! Nanti kamu suruh Rusdi antarkan ke rumah! Pokoknya kamu antar Layla, ya! Masa seorang gadis dibiarkan pulang sendiri. Ga etis! " Tukas Hajjah Aisyah.
Hhhh. Yahya hanya bisa mendengus pasrah.
***
__ADS_1
Sreeeggg
Seseorang yang tampaknya termasuk salah satu santriwati Bustanul Jannah memegang tangan Iqlima saat ia tiba di gerbang pesantren lalu memelintirnya.
"Awww Astagfirullah! Lepaskan mbak!" Iqlima mengaduh kesakitan.
"Kamu santri baru kan? Kamu kabur kemana, hah?! Tau tidak, kabur dari asrama pesantren itu termasuk pelanggaran paling berat di sini! " Santriwati tersebut menarik kasar lengan Iqlima untuk masuk ke dalam pesantren. Gadis ini benar-benar kesakitan. Terutama pada bagian paha dalam bagian atas. Setelah bermalam bersama Yahya, jalannya belum terlalu sempurna.
"Nilam, dia kenapa ditarik?! " Teriak salah satu santriwati dari lantai 2. Menjelang siang adalah waktu mereka beristirahat.
"Teman-teman, ini dia santriwati yang kabur dari Ma'had! " Nilam balas berteriak. Sontak semua penghuni asrama berduyun-duyun turun ke bawah. Inilah yang sudah mereka nanti-nanti, yaitu kembalinya santriwati yang kabur dan diberi hukuman berat. Situasi dan kondisi berubah gaduh. Mereka yang telah berkumpul berbisik-bisik.
Itu kan gadis yang kabarnya mengincar Gus Yahya!
Oh iya! Duh, berani-beraninya! Dia pikir Gus Yahya bisa terpedaya dengan kulit putih dan wajah cantiknya? Haha.
Iya bener, si Nilam yang notabene-nya anak juragan apel dari Malang saja ditolak mentah-mentah. Padahal harusnya Nilam dan Gus Yahya sekufu ya!
Laah, bukannya Nilam ngincer Gus Haris? Sepupu yang usianya lebih muda dari Gus Yahya?
Ah, masa? Setauku, Nilam ngincernya Gus Yahya.
Haha. Kalian semua sok tau! Nilam itu ngincer Gus Ilyas, sepupu Gus Yahya yang juga mengajar di sini. Beliau dulu pernah mengajar Fiqh kitab kontemporer milik ulama Yusuf Al Qardhawi yang dari Mesir. Para santriwati terus saja berbisik, sampai tiba-tiba,
"Bawa Iqlima untuk di sidang! " Titah Ustadzah Ayuni. Bersama-sama mereka menggiring Iqlima menuju Mahkamah.
Sebenarnya Aku tau kalau semalam itu kau dibawa sama Mbak Sri entah kemana. Tapi tidak ada salahnya kita semua yang ada di sini bermain-main terlebih dahulu. Nilam mensedekapkan tangannya tersenyum culas.
Brakkkk
Iqlima di dudukkan pada sebuah kursi. Suasana Mahkamah yang ada di Bustanul Jannah memang di rancang layaknya ruang persidangan. Ustadzah Ayuni selaku ustadzah senior, beliau di percayakan menjadi Jaksa Penuntut merangkap sebagai Hakim. Terlihat Ayi yang duduk di jajaran bangku para Asatidzah tersenyum puas.
"Ukhti Iqlima yang dirahmati Allah, semalam kau pergi kemana? " Ustadzah Ayuni bertanya dengan lemah lembut setelah sebelumnya mengeluarkan beberapa kalimat mukadimah.
"Ss.. Saya.. " Iqlima bingung harus menjawab apa. Belum ada izin dari Yahya, jadi tidak mungkin ia membeberkan bahwa semalaman ia berada di kamar suaminya sendiri.
"Apa kau takut dihukum karena terlibat perkelahian bersama ustadzah Ayi? " Iqlima langsung menggeleng.
"Lalu? "
"Ustadzah, aku tidak bisa menceritakan kemana perginya aku semalam karena belum boleh untuk ku-menceritakan-nya! " Sahut Iqlima menunduk.
Huuuuuuuuu Huuuuuuuu
Santriwati di luar ruangan bersorak sorai mengejek.
__ADS_1
"Ustadzah, Aku berani bersumpah bahwa aku tidak melanggar syari'at Islam. Tapi kalau tentang aku telah melanggar peraturan pesantren, maka aku akui memang benar aku melanggar nya! " Lanjut Iqlima penuh kejujuran. Lagi-lagi ia meringis menahan sakit.
"Catat pengakuan nya! " Titah ustadzah Ayuni pada rekan nya yang berada di samping kanan.
"Jadi semalam itu, kau juga yang berbuat ulah? Apa kau memang sengaja memicu perkelahian?! " Lanjut ustadzah Ayuni. Iqlima menggeleng cepat.
"Malam itu aku hanya membela diri! " Sahut Iqlima tegas. Ia menatap wajah Ayi dengan tatapan tajam. Ayi langsung berubah pucat.
" 'Afwan ustadzah, bolehkah saya angkat bicara? " Ayi angkat suara.
"Tafadhdhalii, silahkan ya Ustadzah Fillah! "
"Semalam itu, aku mencium harum menyengat dari tubuhnya! Sangat-sangat menyengat! karena peraturan di pesantren ini tidak boleh menggunakan parfum secara berlebihan, maka aku menegurnya dengan cara ma'ruf! Terakhir, ia yang keras kepala membantah apa yang aku nasehat kan. Terpaksa aku membawanya ke pemandian umum untuk sekedar mengancang-ancang sambil memberikan pelajaran. Di situ aku menjelaskan hukuman apa yang tepat apabila ada santriwati yang melanggar peraturan. Tapi tidak di sangka, ia malah menyerangku dan ustadzah lainnya! Ia sangat bar-bar!" Iqlima tercengang. Penjelasan Ayi diluar dugaannya.
Ayi berbohong. Ayi telah memfitnah. Ayi memutarbalikkan fakta!
"Ustadzah Ayuni lihat sendiri kan bagaimana dia membubuhkan lumut hitam yang kotor lagi menjijikkan ke wajah kami dan dia yang mendorong kami para ustadzah hingga terjatuh ke lantai! " Ayi menunjuk Iqlima dengan satu jarinya.
"Ustadzah Ayuni harus menegakkan hukum. Kalau tidak, kemana wibawa para ustadzah akan diletakkan. Mencoreng wibawa ustadzah, itu artinya mencoreng wibawa agama Islam yang mulia! " Tukas Ayi menohok. Iqlima menoleh.
"Dia berbohong!" Sahut Iqlima lantang. Ia bangkit dari duduknya. Iqlima tidak mempedulikan rasa sakit yang masih menderanya. Mendengar penjelasan Ayi, tiba-tiba ia mati rasa. Kini semua atensi mengarah pada Iqlima.
"Kau belajar dan mengajarkan agama di sini! Kau dipanggil dengan sebutan Ustadzah. Lalu bagaimana bisa kau berbohong?! Kau terlibat dua pasal tiga perkara! Pertama kau memperlakukanku dengan semena-mena! Padahal aku hanyalah seorang santriwati baru. Aku masih terhitung tamu di Ma'had yang Mulia ini! Anggap saja Aku masih tidak mengerti peraturan dan pelanggaran karena ketika itu aku belum menerima satu pelajaran pun di pesantren ini! " Ucap Iqlima dengan vokal yang jelas.
"Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya. (HR. Bukhari). Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah menyerangku dengan brutal! "
"Kedua, Kau memfitnahku! Apa hukum Islam yang tepat untuk sebuah fitnah? Kau pasti lebih tau tentang hal ini! Aku tidak perlu mengajarimu! "
"Ketiga, sekarang kau malah melakukan kebohongan! Orang yang memfitnah orang lain, lalu berbohong kemudian bersikap dzolim, apa kau tidak takut?! Huh. Mana mungkin kau takut, kau hanya takut pada hukuman dunia, takut pada hukuman manusia tapi tidak takut pada hukuman Tuhan dan hari akhir!!! " Tutup Iqlima berapi-api. Kini semua orang bergantian tercengang. Iqlima tampil layaknya seorang ustadzah kondang yang memberi ceramah pada ratusan santri. Ayi gelagapan. Ustadzah Ayuni terpana. Beliau mengangguk-angguk.
Ia gadis cerdas dan berbakat! Gumam Ustadzah Ayuni diam-diam.
"Baiklah, seperti nya aku sudah bisa memutuskan! " Ucap ustadzah Ayuni pada akhirnya.
"Tunggu.....!!!" Tiba-tiba Seorang santri dari arah luar menerobos masuk ke dalam.
"Maaf jika saya lancang. Saya adalah Nilam, santriwati lama di sini! "
"Ada apa ukhti Nilam?! "
"Ustadzah, Aku dan teman-teman bisa memberikan kesaksian bahwa ustadzah Ayi tidak bersalah. Bukankah malam itu kami juga berada di lokasi kejadian? Santriwati baru harus dihukum. Ia keluar diam-diam dari Ma'had dan sebelum nya ia juga menyerang ustadzah Ayuni! Itulah kesalahannya! Kebenaran apalagi yang kita cari selain barang bukti dan kesaksian?! "
Iqlima, kau hanyalah seorang santriwati baru. Jangan pernah berharap menjadi bintang Kejora yang paling bersinar di Ma'had ini! Gumam Nilam menatap Iqlima dengan menaikkan sebelah alisnya ke atas.
***
__ADS_1