Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 49: Pemilik Taman Surga?


__ADS_3

Vrooooooom~


Motor yang membawa Yahya dan Iqlima melaju dalam gerimis yang turun tipis-tipis. Mereka terus melaju dalam mendung yang syahdu. Sesekali kilat terlihat menyambar. Iqlima mengeratkan pelukannya. Khawatir terjatuh. Ia bersandar pada punggung lebar Yahya.


“Kita makan dulu, aku lapar!” Yahya bisa merasakan anggukan Iqlima. Ia memutar motor memarkirkannya pada sebuah restoran. Tepat waktu, hujan langsung turun tumpah ruah dengan derasnya.


“Aku membawamu keluar dari pesantren karena ada hal yang harus kita bicarakan” Ucap Yahya membuka percakapan setelah pesanan makanan mereka tiba. Iqlima mengangguk sambil menyendok makanan nya dengan lahap.


Gaya makan wanita tersebut terlihat begitu menarik hingga mampu Yahya terpaku. Ia sendiri belum menyentuh makanannya. Pemuda ini hanya mengamati gerak Iqlima tanpa ada yang luput dari penglihatannya.


“Bang, kenapa makanannya tidak dimakan?”


“Eh, hmh. Aku tengah terlena mengamati gaya makanmu yang begitu berantakan! Seperti orang kerasukan dan sudah tidak pernah makan setahun!” Sahut Yahya mulai menyendokkan makanannya ke mulut. Mendengar perkataan tersebut, Iqlima langsung meletakkan sendok. Ia mengelap mulutnya.


Seburuk itukah? Rabbi... Kenapa aku lupa berakting makan dengan baik seperti ketika di kamar bang Yahya pada waktu itu! Padahal dokter Jelita sudah mengajariku makan dengan gaya elegan! Duh, nilaiku pasti berkurang di mata bang Yahya! Bagaimana ini? Iqlima mengetuk kepala merutuki kecerobohannya. Ia menunduk sedih.


“Makan yang habis, jangan mubadzir. Aku membayar mahal untuk ini semua!” Tukas Yahya lagi. Iqlima bersungut. Dengan mempoutkan bibir, ia kembali menyendok makanannya. Namun kali ini lebih hati-hati dan dibuat dengan gaya se-anggun mungkin.


Hmmpppfffff Hmmpppffff . Yahya menahan diri untuk tidak tertawa melihat tingkat Iqlima yang menggemaskan.


“Aku akan ke Korea Selatan dalam waktu dekat” Iqlima terenyak. Ia berhenti menguyah. Raut wajahnya berubah.


“Setelah aku kembali ke Indonesia dan melakukan konferensi pers, pernikahan siri yang kita jalani ini akan diurus untuk kemudian diresmikan oleh negara. Kau pasti menginginkan status yang lebih baik” Lanjutnya lagi.


“Berapa lama bang Yahya ke luar negri? Bersama siapa?” Selidik Iqlima. Pembahasan Yahya yang akan meninggalkan Indonesia lebih menyita perhatian nya daripada membahas status pernikahan siri mereka.


“Seminggu. Bersama asisten”


“Perempuan?”


“Tidak tau. Karena Ummi yang mengaturnya” Sahut Yahya cuek.


“Ow…” Iqlima menunduk dalam.


Bagaimana kalau ternyata asisten bang Yahya adalah perempuan? Lalu Aku bagaimana? Tanpa sadar Iqlima mengacak-acak makanan yang ada dipiringnya. Entah mengapa begitu banyak kekhawatiran menyelimuti hatinya.


“Tapi Aku akan meminta asisten laki-laki untuk menemaniku ke sana” Lanjut Yahya lagi. Mendengar kalimat tersebut, Iqlima mendongakkan kepala. Hanya butuh sepersekian detik saja, wajahnya langsung berubah sumringah. Ia dengan semangat kembali menyendokkan makanannya ke mulut.


Dasar!! Yahya menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Di luar hujan masih turun dengan derasnya. Yahya kembali memesan makanan untuk mengulur waktu.


“Bang Yahya…”


“Hm…”


“Bang Yahya suka wanita yang bagaimana?” Tanya Iqlima hati-hati. Pemuda tersebut tersentak.

__ADS_1


“Yang menggemaskan” Sahut Yahya.


“Lalu?”


“Wanita bodoh pencemburu" Yahya mengunyah santai.


"Lalu? "


"Dia bodoh namun disaat bersamaan dia juga bisa membuat orang terpukau dengan dalamnya pengetahuan dan kepiawaian nya ketika berkata-kata. Dia bodoh di satu sisi namun cerdas di sisi berbeda. Wanita yang jika dia mengerucutkan bibirnya terlihat sangat menggemaskan" Lanjut Yahya melihat ke sembarang arah dengan tersenyum. Iqlima terdiam. Ia tampak berfikir.


Memangnya di dunia ini ada jenis wanita begitu?! Kok selera bang Yahya aneh banget? Iqlima mengerutkan keningnya. Angan-angan untuk membuat Yahya bisa meliriknya luruh seketika.


Dddrrrrttt Ddddrrrrtttt


Handphone Iqlima yang masih Yahya simpan bergetar. Pertanda sebuah pesan masuk.


Siapa? Penasaran, Yahya langsung membukanya.


Oh Mbak Asih.


Nona Iqlima, mengenai pakaian dalam yang nona titip untuk saya belikan beberapa hari lalu. Ukuran nya ukuran berapa ya? Saya lagi di pusat perbelanjaan membeli bahan obat, biar sekalian. Nanti saya antar ke pesantren.


Mata Yahya sontak melihat tubuh bagian depan Iqlima yang tertutup rapat. U.. Ukuran? Pikiran Yahya melayang pada peristiwa yang terjadi di salah satu ruangan pada connecting door beberapa waktu lalu. Ia bisa mengingat dengan jelas apa yang sudah mereka lakukan. Pemuda ini kesulitan menelan salivanya.


"Bang... Bang Yahya... " Panggil Iqlima melambai-lambaikan tangan melihat Yahya yang melamun.


Deg.


Sebuah pertanyaan lolos begitu saja dari mulut Yahya. Iqlima mengerutkan keningnya.


"Ti... tidak usah disebutkan! " Ralat Yahya gugup.


"36 cm" Sahut Iqlima gamblang. Tidak ada kecanggungan di sana. Malah Yahya yang berubah kikuk.


Hmh, mungkin bang Yahya mau membelikanku sepatu. Pikir Iqlima. Ia melirik ke arah sepatunya yang masih terlihat bagus.


"Owh... O.. Okay... Nice!" Yahya mengusap tengkuknya. Ia tiba-tiba merasa gerah. Padahal hujan masih turun dengan deras di luar sana.


Demi Allah, Asih berhasil membuat Yahya tidak bisa konsentrasi terhadap apapun saat ini. Diam-diam Ia mencuri pandang pada Iqlima yang masih bisa dengan santai menghabiskan hidangan penutup nya.


Tap Tap Tap


Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat. Yahya menoleh.


"Iqlima Noor Azkiya..... Kamu-kah itu?! " Iqlima berhenti mengunyah.

__ADS_1


***


Hajjah Aisyah tengah berada di kantornya saat Layla tiba-tiba menelpon. Beliau melirik jam tangannya. Kurang dari satu jam lagi Hajjah Aisyah akan kembali ke pesantren.


"Masya Allah... Calon menantu kesayangan Ummi menelpon. Ada apa, Nak?"


"Ummi.... Hiks hiks" Suara Layla terdengar parau.


"Kau menangis nak? Ada apa? "


"Layla tiba-tiba memikirkan mas Yahya dan istrinya. Apa lebih baik Layla mundur saja? Apa Layla berhenti saja memperjuangkan mas Yahya, Mi?" Layla menghubungi Hajjah Aisyah di sela-sela menunggu Razil untuk menjemputnya. Suara Layla terdengar begitu sedih. Hajjah Aisyah berubah menjadi tak enak hati.


"Astaghfirullah... Kenapa menyerah nak? Kamu tenang saja, Yahya akan segera menceraikan wanita udik itu dan menikahi mu. Bersabarlah karena Kamu akan menjadi satu-satunya menantu Ummi dan satu-satunya wanita yang akan bertahta di hati Yahya. Kelas kalian berbeda. Kamu dan dia tidak selevel. Jadi Kamu jangan khawatir ya!" Sahut Hajjah Aisyah meyakinkan.


"Kalau mas Yahya tidak mau menceraikan wanita licik itu, Layla bagaimana Mi?" Desak Layla lagi.


"Mereka bercerai atau tidak. Yahya memang tetap harus menikahimu, Nak! "


"Ma... Maksud Ummi? " Layla pura-pura terkejut.


"Yahya membutuhkan seorang pewaris. Istri kampungan dan kolotnya itu tidak akan pernah bisa memberikan Yahya keturunan!" Sahut Hajjah Aisyah dengan senyum menyeringai.


"Benarkah?"


Kenapa bisa begitu? Kenapa mama mas Yahya begitu yakin?


"Ka.... Kalau begitu bolehkah jika Layla mengajukan sebuah permohonan pada Ummi? " Layla berlagak sesegukkan.


"Tentu saja. Katakan apa yang kamu inginkan, Nak! "


"Bolehkah jika Layla menjadi salah satu santri di pondok pesantren Bustanul Jannah? Layla sudah selesai ujian akhir. Daripada Layla masuk ke SMA yang tidak jelas, bukankah lebih baik Layla menuntut Ilmu agama? Akhlak baik dengan pengetahuan agama yang memadai akan menjadi poin plus untuk menjadi istri bang Yahya kan, Mi? " Tanya Layla dengan lemah lembut.


Mendengar kalimat yang Layla lontarkan membuat Hajjah Aisyah terbuai. Beliau tidak bisa berkata-kata. Mata yang berkaca-kaca penuh haru menggambarkan kebahagiaan nya yang membuncah.


"Mi... Ummi.. " Panggi Layla.


"Ummi benar-benar tidak salah memilih calon menantu. Kamu hebat, Nak! Walau kamu berasal dari keluarga terpandang dengan kekayaan melimpah ruah tapi tidak membuatmu sombong. Tidak membuatmu congkak akan memewahan. Kalau mau, padahal kau bisa memanggil ustadzah ternama ke rumahmu. Tapi Kau malah lebih memilih menuntut Ilmu di pesantren dengan segala fasilitas yang terbatas. Masya Allah... Ummi mendukung mu 1000 persen. Namun kamu tetap harus meminta pendapat kedua orang tua mu ya, Nak! " Hajjah Aisyah terus menyanjung Layla dengan sepenuh hati. Layla benar-benar calon menantu sempurna.


Hai pelakor tengik, See You Soon di Bustanul Jannah! Kau Tau? Taman Surga itu milikku~ Bukan milikmu~ Diam-diam Layla tersenyum culas.


***


Setelah membaca jangan lupa tinggalkan jejak yaa mommieeesss ❤


IG: @alana.alisha

__ADS_1


***


__ADS_2