Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 115: Kembali ke Bustanul Jannah?


__ADS_3

"Kak, aku dapat semua foto kebusukan Iqlima! " Seru Hajjah Aisyah pada Wirda yang tengah di pijat oleh adiknya Fatma. Wanita tersebut buru-buru menghampiri mereka.


Kebusukan Iqlima? Siapa yang yang dimaksud?Apa Ning Iqlima? Fatma terkejut. Wirda dengan santai mengambil apel dan melahapnya. Ia memberi kode pada Hajjah Aisyah agar berhati-hati dalam bicara.


"Ah ada dik Fatma ternyata, apa kabar? " Tanya Hajjah Aisyah berbasa basi.


"Baik kak Hajjah..."


"Ah iya, Haris sebentar lagi sudah mau menikah ya... Apa kau sudah mengabarkan tentang perjodohan nya? "


"Belum kak, mungkin Syaikh Zakaria bisa mengabarkan secara langsung. Saya khawatir Haris akan menolak jika saya yang kabarkan"


"Ah, Haris itu anak berbakti. Insya Allah semua tidak akan sulit.. hehehe"


"Amin semoga saja"


"Kalau begitu kita tunggu sampai Yahya pulang dari Amerika, nanti Haris bisa menghadap langsung! "


"Baik kak, kalau begitu saya permisi pulang"


"Buru-buru sekali"


"Saya dari tadi sudah di sini... Permisi kak Wirda, kak Aisyah... " Ucap Fatma beranjak setelah bersalaman dan berpelukan dengan kedua kakaknya.


"Huft, Fatma itu benar-benar polos dan naif! Jauh berbeda dengan kak Wirda" Komentar Hajjah Aisyah.


"Ya jelas beda level. Fatma itu di pingit di pesantren pelosok. Aku kan lebih internasional" Sahut Wirda asal.


"Makanya aku kurang cocok sama Fatma. Canggung kalau mengobrol. Kurang kerasan. Kurang nyambung! "


"Makanya kau harus lebih berhati-hati dalam bicara. Orang itu Semakin terlihat polos semakin kita tidak tau apa isi hatinya. Kau membicarakan tentang Iqlima di depan si "alim" Fatma? Yang benar saja? Kau memang sudah gila! " Sembur Hajjah Wirda.


"Aku kelepasan. Untung kak Wirda mengingatkan... "


"Sudah, mana bukti-bukti yang kau maksud? Jangan-jangan buktinya malah palsu! " Ucap Hajjah Wirda enteng.


"Tidak. Ini sudah pasti asli! Lihat ini! " Hajjah Aisyah segera menunjukkan gambar-gambar Iqlima.


"Apaaa?? Astaghfirullahalazim......... Gila! Jadi dia keluar untuk bersenang-senang?!" Hajjah Wirda pura-pura terkejut.


"Iqlima memang kur*ang ajaar!!! Anakku dipermainkan nya!!! "


"Aku tidak tau saat ini kau sedang gembira atau marah! Tapi ekspresi mu tidak seperti orang marah! " Sindir Wirda. Wajah berseri-seri Hajjah Aisyah berubah.


"Aku ya sebenarnya marah! Kesel! Tapi untung saja ada foto-foto ini, bisa jadi boomerang untuk Iqlima. Ini kan senjata agar Yahya bisa langsung menceraikannya! Yang bersalah itu Iqlima... Jadi Iqlima tidak akan mendapatkan sepeserpun uang dari Yahya setelah mereka berpisah!"


"Aisyah, kau harus segera mengabarkan ini pada Yahya. Biar Yahya langsung menceraikannya! Yahya memang sudah sangat cocok dengan Layla. Mereka memang ditakdirkan bersama selamanya"


"Sudah pasti, kalau perlu aku akan mengumpulkan keluarga besar biar Iqlima malu! "


"Jangan! Biar Yahya saja yang tau, masa kau akan menyebarkan foto-foto tidak senonoh itu pada keluarga besar! Dimana marwah Bustanul Jannah?! "


"Ah iya, Kak Wirda memang yang paling bisa diandalkan. Aku memang agak linglung. Kerjaan kantor masih sangat banyak. Aku juga harus membenani beberapa CV juga para kontraktor! " Hajjah Aisyah memijat pelipisnya.


"Yang jelas, jangan sampai Indah dan Inggris tau. Kau harus bergerak cepat meyakinkan Yahya! " Ucap Hajjah Wirda dengan mimik wajah serius. Ia membujuk Hajjah Aisyah dengan sedikit menyunggingkan bibirnya ke atas.

__ADS_1


......................


Iqlima membuka matanya perlahan. Ia merasa silau oleh cahaya terang. Pemandangan serba putih adalah ruangan yang ia tempati saat ini.


Apa aku sudah mati?


“Iqlima, kau sudah bangun?” Suara Ilyas mengagetkan nya.


“Us.. tadz Ilyas?” Lirih Iqlima lemah. Selang infus masih terpasang di lengannya.


“Syukurlah kau sudah sadar. Allahu Musta’an! Ma’af aku terpaksa berjaga sendiri di sini. Tapi tadi ada Dara. Dia pulang sebentar...”


“Te.. rima kasih.. Ssss” Ucap Iqlima berdesis nyeri. Ia masih merasakan rasa sakit di kepalanya.


“Kau jangan banyak bicara dan bergerak dulu! Sebentar aku panggilkan dokter!”


Ilyas langsung beranjak keluar. Iqlima bersusah payah untuk bangun. Ia teringat belum menunaikan shalat.


Jam berapa sekarang? Gumam nya mengarahkan pandangan ke dinding. Pukul 23.25 wib. Tenyata sudah hampir tengah malam. Ia pusing. Kepalanya terasa sangat sakit. Iqlima juga merasa tidak bertenaga. Ia memutuskan untuk bertayamum dengan debu jendela yang terletak disebelahnya. Iqlima tengah melakukan takbiratul ihram saat Ilyas dan dokter masuk ke ruangan.


“Seperti nya kondisi pasien sudah sangat baik hingga bisa melakukan shalat!” Ucap dokter takjub. Sekitar 7 menit dokter dan ilyas menunggu sambil sedikit berbincang. Setelahnya dokter kembali memeriksa Iqlima dan memerintahkan perawat untuk menyuntikkan obat-obatan vitamin ke selang infus.


"Besok hasil laboratorium nya bisa saudara ambil besok! " Ucap Dokter pada Ilyas.


Di luar ruangan, Rusdi yang sejak awal sudah berjaga di depan pintu merasa cemas dengan chat balasan Yahya.


Rus, banyak agenda yang harus ku handle hari ini. Tolong jangan menggangguku. Untuk urusan di Jakarta, selama masih bisa kau handle, silahkan kau menanganinya sendiri.


Bagaimana ini ya Rabb... Gus Yahya... Gus Yahya... Istri siapa ini yang harus ku urus? Rusdi memijat pelipisnya. Ia ingin kembali ke rumah, beristirahat dengan tenang dan tidak mempedulikan Iqlima yang memang sudah di tangani oleh Ilyas. Namun rasa hormatnya pada istri pertama Yahya tersebut membuatnya enggan pergi. Walau sekarang sudah di luar waktu kerjanya, Rusdi berharap ia masih bisa bertahan.


“Maaf... Anda, siapa nya pasien?”


“Saya…”


“Maaf, saya tidak bisa menginformasikan keadaan pasien kepada pihak luar” Ucap dokter langsung berlalu. Rusdi dilema. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya memang gatal karena keringat.


"Ustadz Ilyas.... Aku harus segera pergi dari sini" Ucap Iqlima hampir tak terdengar. Suara nya terdengar parau. Namun ia sudah merasa lebih baik.


"Setelah kau pulih. Aku akan membawamu pergi dari sini"


"Aku sudah sangat merepotkan"


"Iqlima, kau kenapa? Ada apa denganmu? Mengapa kau sampai seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya Ilyas bertubi-tubi. Ia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak bertanya.


"Ceritanya sangat panjang... Aku tidak tau harus memulai cerita darimana" Sahut Iqlima mulai menitikkan airmata. Ilyas mengambilkan sapu tangan dari saku celana dan menyerahkan nya.


"Aku baik-baik saja! Ustadz Ilyas tidak perlu mengasihaniku" Ucap Iqlima. Ia melirik ke kanan dan kiri. Walau ruangan tersebut lumayan luas dengan gorden jendela yang terbuka, tetap saja Iqlima merasa tidak nyaman.


"Aku bukan mengasihani mu. Aku menyayangimu..."


"..."


"Mungkin di masa lalu kita pernah punya kisah, namun bisakah kita mengabaikannya dan saling menyadari bahwa kita ini saudara sesama muslim? Bukan kah Muslim yang satu dengan muslim lainnya ibarat tubuh? Jika satu anggota tubuh ada yang sakit, maka anggota lainnya ikut sakit! Begitu pun aku padamu. Aku peduli padamu, Iqlima! " Terang Ilyas. Ada gemuruh di hati Iqlima, ia sedikit tergugah dengan kebaikan Ilyas. Tidak bisa dipungkiri bahwa sedari awal Iqlima melarikan diri, Ilyas termasuk salah satu orang yang paling banyak membantunya.


Tok Tok Tok

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi mereka.


"Assalamu'alaikum, Maaf saya lancang. Bolehkah saya masuk? " Tanya Rusdi di depan pintu. Iqlima sangat terkejut. Wajah Ilyas langsung masam.


Apa Yahya ada di sini? Apa Yahya mencarinya? Wajah Iqlima berubah sedikit cerah. Kehadiran Rusdi membuatnya nyaris melupakan bagaimana menyedihkan keadaannya beberapa hari terakhir.


"Nona Iqlima, saya ingin menjenguk! " Lanjut Rusdi yang permintaan nya tidak digubris. Ilyas memberikan kode agar Iqlima tidak mengizinkannya.


"Sebentar saja nona! " Nekad, Rusdi melangkahkan kakinya mendekat. Iqlima terdiam. Matanya fokus pada daun pintu. Kalau-kalau saja Yahya akan muncul.


"Saya hanya sendirian saja, Nona! " Ucap Rusdi seolah paham apa yang Iqlima khawatirkan. Seketika hati Iqlima mencelos. Yahya tidak di sini. Yahya tidak menjemputnya. Ilyas dengan wajah masamnya terpaksa menepi. Ia enggan keluar ruangan.


"Nona, bagaimana kabar nona? "


"Darimana kau tau aku di sini? " Tanya Iqlima to the point.


"Kembalilah ke kediaman Bustanul Jannah, Nona..."


"Apa mas Yahya menyuruhmu untuk menjemput ku? "


"Gus Yahya tidak berada di sini. Gus Yahya sedang berada di Los Angeles. Ada urusan pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan"


"Lo... Los Angeles? "


Rusdi mengangguk.


"Apa Bang Yahya ke sana bersama Layla? " Todong Iqlima. Ia menyesal pertanyaan tersebut keluar begitu saja dari mulutnya.


"Hmh... Gus Yahya, Hmh... "


"Tidak apa-apa, tidak usah dijawab. Tapi aku tak apa jikapun mas Yahya dan Layla pergi bersama"


"Kunjungan kerja ke LA harus didampingi oleh istri... Jadi... " Ucap Rusdi setengah berbohong. Takut-takut ia melirik ekspresi Iqlima. Wanita dihadapannya tampak tegar. Dari sudut ruangan, Ilyas tersenyum sinis.


"Nona,, "


"Sebenarnya apa keperluan mu menemuiku? "


"Gus Yahya memerintahkan untuk mencari nona"


"Aku tidak ingin kembali! "


"Tapi mengapa nona? Bustanul Jannah adalah rumah nona, Gus Yahya mencari nona ke sana kemari! "


"Aku hanya ingin berpisah dari Bang Yahya! "


"Tidak apa! Tidak masalah! Itu rumah tangga Nona Iqlima dan Gus Yahya. Itu perkara keluarga. Tapi nona, bagaimanapun nona harus melakukan nya dengan cara yang baik. Kalaupun harus berpisah, berpisah lah dengan cara makruf. Kembalilah, ajukan perceraian jika hal tersebut memang lah sebuah solusi "


"Rusdi, kau terlalu ikut campur!! " Sembur Ilyas mendekat.


"Maaf Gus Ilyas, tapi inilah yang terbaik yang bisa saya lakukan sebagai perwakilan dari Gus Yahya! Melarikan diri bukanlah solusi! Setan sangat menyukai pertikaian, kembali lah nona... Kalau memang nona merasa ter dzolimi, saya siap menemani nona untuk pengajuan perceraian" Ucap Rusdi.


Iqlima terhenyak. Apa yang Rusdi katakan memang benar adanya. Iqlima tertunduk lesu. Tapi Yahya tidak mendzolimi nya. Perasaan nya lah yang terlalu rapuh karena Iqlima terlalu mencintai Yahya, namun kebahagiaan Yahya ada pada Layla. Dan Iqlima ingin Yahya bahagia. Walau kebahagiaan Yahya membuat hatinya harus hancur berkeping-keping berkali-kali. Namun mengikhlaskan adalah solusi terbaik.


"Bang Rusdi, Ustadz Ilyas. Terima kasih. Tapi untuk saat ini tolong biarkan aku sendiri" Pinta Iqlima. Rusdi mengangguk dan undur diri. Ia berjanji besok akan kembali untuk menjemput Iqlima. Ilyas juga terpaksa keluar dari ruangan. Selain itu Wirda sudah berkali-kali menelponnya.

__ADS_1


................


__ADS_2