
Hilman mendekatkan wajah sangarnya ke telinga Iqlima. Ia mempercepat aksi. Suasana sepi menjadi sangat menguntungkan baginya. Jujur saja, laki-laki ini sedikit khawatir perbuatannya diketahui oleh Wilayatul Hisbah atau dikenal dengan sebutan WH (Polisi Syariah Islam di Provinsi Aceh). Jika perbuatannya diketahui, sudah pasti ia akan dikenakan sanksi berat sesuai peraturan hukum Islam. Hilman pun mulai membisikkan sesuatu di telinga Iqlima.
"Aku akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya. Menjadi selir dari seorang Teuku Hilman sepertinya cocok untuk wanita sok suci sepertimu! Wanita yang telah menolakku mentah-mentah! Aku akan membuatmu mengiba-ngiba untuk kunikahkan persis seperti apa yang kakekmu lakukan! "
Mata Iqlima membulat sempurna. Pergerakan yang Laki-laki itu lakukan bersamaan dengan netra mata Yahya yang menangkap basah keduanya. Pemuda jebolan pondok pesantren itu terkejut bukan kepalang. Dari sebelah sudut pandang nya, Yahya seperti melihat dua manusia yang tengah melakukan ciuman bibir. Yahya bisa melihat kedua mata bening seorang gadis yang terbuka lebar.
Astagfirullah... Bukankah it... itu Iqlima calon istri nya Ilyas? Mereka melakukan perbuatan tidak senonoh di tempat sepi? Ya Rabb...Gumam Yahya kesulitan menelan saliva nya. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Laki-laki tampan berdarah Yaman ini terhuyung. Ia bergerak mundur. Namun sebelum nya Yahya menyempatkan diri menjepret gambar mereka yang menurut nya tengah berkhalwat dan ber-asyik masyuk di tempat sepi.
Yahya dengan cepat menjauh. Ia kembali ke tempat peserta rihlah dengan pikiran penuh beban. Yahya bisa melihat wajah ceria Ilyas yang tengah membagikan peserta didik makanan dan minuman. Hatinya mencelos, Yahya merasa kasihan. Sepupunya itu salah memilih calon istri.
"Bro...! " Panggil Ilyas yang melemparkan sebotol minuman mineral. Yahya menyambutnya. Ilyas mengedarkan pandangan matanya ke kanan dan kekiri mencari keberadaan Iqlima yang sedari tadi tidak ia lihat. Namun Pemuda ini masih belum menemukan-nya.
***
"Hahaha... " Tawa Hilman menggelegar. Ia menatap wajah ketakutan Iqlima dengan penuh hasrat. Setelah membisikkan kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk diucapkan, Hilman langsung menarik kerudung gadis yang ada di hadapannya. Kerudung yang dicampakkan ke tanah seketika terbang ditiupkan angin. Rambut panjang Iqlima langsung tergerai menjuntai-juntai ke bawah. Angin pantai yang kencang menyambut rambut tersebut lalu membuatnya melayang-layang di udara. Tangis Iqlima pecah. Tubuhnya bergetar. Leher jenjangnya menyita atensi Hilman. Pemuda berkulit sawo matang tersebut kesulitan menelan saliva-nya.
"Sudah pernah kukatakan jangan banyak tingkah! Beruntung seorang pengusaha kilang padi sepertiku sudi meminang gadis miskin seperti mu! Harusnya kau bersyukur!" Hilman semakin kuat mencengkram pergelangan tangan Iqlima.
"Hhhmmppp Hhhmmppp" Iqlima meronta-ronta. Hilman mendekat kan wajahnya ke arah leher. Iqlima menutup erat kedua matanya. Hembusan nafas laki-laki yang berada di bawah pengaruh narkotika jenis ganja tersebut terasa di kulit. Mata Iqlima kembali terbuka. Dengan mengucapkan Bismillah dan kekuatan penuh,
Buuuuuugghhh
Gadis pemberani tersebut melayangkan kakinya tepat ke sel*ngkangan Hilman. Untuk beberapa saat, dunia Hilman terasa jungkir balik. Berputar. Spontan Laki-laki itu melepaskan cengkraman tangannya dan mengaduh kesakitan. Kesempatan ini tentu tidak Iqlima sia-siakan. Dengan nafas yang tersengal, ia berlari cepat. Namun sebelum nya gadis tersebut menyempatkan diri mengambil kerudung yang sudah diterbangkan oleh angin. Ikatan rambut yang terlepas entah kemana itu ia abaikan. Untuk melindungi auratnya, Iqlima memasukkan rambut panjang nya ke dalam kerah baju luar. Ia buru-buru memakai kerudung sambil berlari menuju ke bahu jalan raya.
"Sial!! " Hilman mengepalkan tangannya. Marah. Ia terduduk di atas pasir masih meringis kesakitan. Kepala nya terlalu berat terasa untuk bisa mengejar Iqlima. Rasa sakit karena tendangan, kurang tidur dan kelelahan membuat energinya terkuras habis. Namun Hilman berjanji akan memberikan Iqlima perhitungan. Setelah ini ia tidak akan melepaskan gadis tersebut.
Hah Hah Hah
Iqlima langsung menyetop sebuah labi-labi (sebutan angkutan umum daerah Aceh). Ia mengusap keringat dan air mata yang masih berlinang-linang. Bangku duduk yang saling berhadapan menyebabkan penumpang lain bisa melihat wajah sembab nya. Gadis ini tertunduk malu. Tangannya masih gemetaran.
"Turun dimana, Dik? " Tanya kernet Labi-labi yang berdiri di depan pintu. Tangannya terulur menagih ongkos bayaran.
__ADS_1
Deg.
Iqlima terenyak. Ia lupa kalau tasnya ia titipkan pada Maryam sebelum pergi ke toilet umum. Iqlima merogoh saku bajunya. 10 ribu rupiah.
Alhamdulillah. Masih ada uang yang tersisa.
"Sss... saya turun di depan Mesjid Raya Baiturrahman, Pintu Selatan" Sahut Iqlima. Ia sendiri masih kebingungan. Kawasan Mesjid Raya Baiturrahman adalah pos pemberhentian terakhir untuk angkutan Labi-labi. Setelahnya Iqlima harus melanjutkan mencari angkutan umum lainnya untuk menuju Kecamatan Indrapuri. Kini uang nya sudah habis total.
***
"Yas, Mau kemana?" Tanya Yahya yang melihat Ilyas tampak panik.
"Bentar, aku mau cari Iqlima. Kata Maryam, Calon istriku menitipkan tas padanya untuk ke toilet umum. Bagaimana pun ini sudah terlalu lama"
Calon istri? Cih. Batin Yahya tersenyum masam.
"Ga usah dicari" Lirih Yahya.
"Kenapa? " Ilyas mengerutkan keningnya.
"Hmh... Aku ikut denganmu. Kita menyusul Iqlima bersama"
Ilyas mengangguk setuju.
Yahya mengarahkan jalan ke tempat tadi ia memergoki Iqlima dengan tujuan agar Ilyas bisa melihat sendiri perbuatan tidak senonoh calon istrinya tersebut. Semoga mereka masih berada di sana. Batin Yahya lagi. Pemuda ini ingin agar Ilyas bisa membuka matanya dan membatalkan niat menikahi gadis yang begitu ia elu-elukan tersebut.
Pikiran Yahya melayang pada peristiwa kegaduhan Iqlima dan kakeknya di kediaman Ampon Din. Wajar saja banyak orang yang terlihat membenci mereka. Wajar Ampon Din menolak menjadikan Iqlima sebagai menantunya. Belum menikah saja wanita tersebut tidak bisa menjaga marwahnya. Konon setelah menikah?
Ya Rabb, jika kelak Engkau memberikan hamba kesempatan untuk menikah, nikahkan lah hamba dengan gadis shaliha. Hati Yahya berdo'a.
Astaghfirullah. Hufttt. Yahya Ber-istighfar, lalu mengusap wajahnya. Ia memohon ampun pada Allah akan pikiran liarnya yang sudah terlalu jauh menilai.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengarahkan ke babah tiga? Di sana sepi dan ombak pantainya besar. Babah tiga biasanya untuk surfing pemuda di hari sabtu-minggu. Tidak mungkin Iqlima ke sana" Sergah Ilyas keberatan.
"Aku tadi baru dari sana. Ada ayunan. Mungkin saja Iqlima mencobanya setelah dari toilet. Who knows? kita harus melihat ke segala penjuru" Ucap Yahya meyakinkan.
Mereka masih menyusuri pepasiran dengan mata Ilyas yang melanglang ke sekeliling. Sepi. Tiada siapapun di sana. Ayunan terlihat kosong.
Sreg Sreg Sreg.
Yahya bergerak cepat melampaui Ilyas menuju semak-semak setelah mendengar suara seperti dedaunan kering yang diinjak oleh kaki. Ia ingin memastikan Iqlima masih berada di sana.
Yahya memiringkan wajahnya mengintip dari balik pepohonan. Namun ternyata bunyi suara tersebut berasal dari seekor kucing liar. Dua orang yang tengah berkhalwat tadi sudah tidak berada di sana.
"Yahya, Iqlima tidak ada di sini! Kita sudah mencarinya ke banyak titik. Kemana ia? " Ilyas mengusap wajahnya mulai cemas. Adzan Zuhur sudah terdengar melalui corong-corong mesjid.
Apa mereka sudah pergi dari pantai ini? Yahya berpikir keras.
***
Angkutan Labi-labi menurunkan Iqlima tepat di depan pintu bagian selatan mesjid Raya Baiturrahman. Matahari terasa membakar di atas kulit. Tenggorokan nya terasa kering. Iqlima masih merinding dengan apa yang baru saja ia alami. Gadis ini merasa keamanan nya terancam. Hilman pasti juga tidak akan membiarkan nya tenang setelah apa yang ia perbuat. Hati Iqlima nelangsa.
"Nyak... Abu... Hiks Hiks" Lirih Iqlima memanggil kedua orang-tua nya yang telah tiada dengan mata yang kembali berair. Pandangannya nanar. Gadis muda ini bingung harus melangkah kemana. Ia juga sudah tidak memiliki uang sepeser pun.
Allahu Akbar Allahu Akbar~
Kumandang Adzan Zuhur yang dilantunkan oleh Muadzin membuat Iqlima memutuskan untuk masuk ke area mesjid. Namun baru beberapa langkah ia bergerak,
Tukkkkkk
Tali sandalnya putus.
...***...
__ADS_1
...**Terima kasih untuk dukungannya Teman-Teman...
...🦋🦋🦋**...